MasukHailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seakan seperti dirinya berada di dalam mobil jenazah—begitu mencekam dan menyesakkan.
Dia berada di dalam mobil Range Rover Sentinel warna hitam metalik bersama Mathias. Sopir melajukan mobil, dan Hailey bersama Mathias duduk di kursi penumpang. Sebenarnya. aroma interior kulit mewah dan pengharum maskulin khas Mathias melebur menjadi satu membuat indra penciuman sadar bahwa berada di kemewahan, tapi sayangnya aroma itu terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-paru Hailey.
Hailey tak bisa tenang di kala selesai sarapan harus menuruti Mathias. Entah ke mana pria itu pergi membawanya. Ingin rasanya dia bertanya lagi, tapi dia tak berani. Mengingat tadi saat sarapan, pria itu menjawabnya dengan sangat dingin, seakan dirinya bukan orang yang layak untuk banyak mengajukan pertanyaan.
Sesekali, wanita itu melirik Mathias yang hanya menatap lurus ke depan tak melihat ke arahnya sama sekali. Dia duduk di samping pria itu tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Bahkan sopir saja melajukan mobil dengan serius tanpa ada suara—seakan sang sopir sudah banyak paham tentang keinginan Mathias.
Hailey memilih untuk melihat ke luar jendela, akibat merasa bingung harus melakukan apa. Bertanya tak bisa, membuka ponsel saja dia tak berani. Raut wajah Mathias benar-benar serius, seolah sedang ingin membawanya ke suatu tempat yang mengancam nyawa.
Saat kegelisahan dan rasa cemas melebur, mobil yang membawa Hailey akhirnya memasuki gedung pencakar langit di kawasan Tribeca, New York Mobil itu itu terparkir di lobi, dan petugas valet sigap untuk membukakan pintu.
Hailey bergeming di kala pintu sudah terbuka. Dia masih bingung kenapa Mathias membawanya ke gedung apartemen? Entah, dia tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran pria itu. Ingin bertanya pun dia tak bisa.
“Pintu sudah dibukakan, dan kau masih duduk di situ?” Mathias memberikan teguran seraya melayangkan mata birunya yang tajam.
Hailey gelagapan panik mendapatkan teguran keras dari Mathias. Buru-buru, dia turun dari mobil, dan tak lupa dia berterima kasih pada petugas valet yang sigap membukakan pintu mobil untuknya.
Mathias melangkahkan kaki masuk ke lobi, menuju lift unjung. Pria tampan itu memiliki tubuh yang tinggi dan gagah, membuatnya hanya melangkah satu saja sudah seperti Hailey sedang berlari kecil. Lihat saja sekarang Hailey menyusul Mathias bukan hanya berjalan biasa, tapi wanita itu sampai agak berlari agar bisa menghampiri pria itu.
Lift sensor sidik jari terbuka. Mathias masuk ke dalam lift, bersamaan dengan Hailey yang juga masuk ke dalam. Lagi, keheningan membentang, dan tak ada suara apa pun. Mathias melihat lurus ke depan, dengan aura wajah dingin dan menyeramkan. Sementara Hailey berdiri sambil memainkan kukunya.
Denting lift terdengar begitu tiba di lantai paling atas. Mathias lebih dulu keluar dari lift, dan Hailey segera menyusul. Ya, detik di mana pintu lift terbuka, raut wajah Hailey langsung berubah di kala Mathias membawanya ke penthouse yang memiliki desain elegan dan maskulin.
Tanpa harus banyak bertanya, orang bisa tahu bahwa pemilik penthouse ini adalah orang yang perfectionist, tegas, dominan, dan penuh arogan. Desaan warna hitam dengan abu-abu tua bercampur dengan silver dan ada beberapa pajangan warna merah menyala, membuat penthouse ini memiliki nilai sempurna.
Bulu kuduk Hailey agak meremang di kala memasuki penthouse itu. Ada pelayan menyambut, membungkukkan kepala ke hadapannya dan Mathias, tapi sambutan itu tak ditanggapi ramah oleh Mathias. Pria itu malah menggerakkan tangannya mengusir para pelayan seakan tak ingin diganggu.
“Kau duduk di sana,” tegas Mathias seraya melirik kursi di meja kaca panjang yang ada di ruang tengah.
Hailey mengangguk patuh, tanpa membantah sedikit pun. Dia duduk dengan tenang serta hati-hati di kursi yang ditunjuk oleh Mathias. Sementara Mathias masuk ke dalam ruangan yang entah ke mana arah maksud pria itu sebenarnya.
Saat Mathias tidak ada, rasa penasaran Hailey membentang. Dia kini berdiri melihat lukisan terpasang di dinding. Namun, bukan lukisan pemandangan seperti banyak orang. Lukisan yang terpajang ada beberapa gambar pria menancapkan pisau ke dada wanita. Ada juga lukisan wanita yang telanjang dan bagian payudara ditutupi oleh kedua tangan.
Napas Hailey sampai memberat, lukisan Mathias benar-benar membuat bulu kuduknya merinding. Pria itu sangat aneh. Tepatnya, dia bahkan tak bisa menebak isi kepala pria itu.
“Aku memintamu untuk duduk, kenapa kau malah melihat-lihat lukisanku?” Suara berat Mathias menyentak Hailey, sontak membuat wanita itu menoleh sambil menyentuh dadanya.
“K-kau menyejutkanku, Mathias,” ucap Hailey panik.
Mathias melangkah mendekat, dengan sorot mata dingin dan tegas. “Jiwa penasaranmu terlalu tinggi, Hailey,” balasnya lagi tajam.
Hailey menelan salivanya susah payah. “A-aku hanya melihat-lihat saja. L-lukisanmu bagus. Jadi, a-aku tertarik untuk melihatnya.”
Mathias tak menanggapi pujian Hailey terhadap lukisannya itu. “Duduk, dan baca ini,” ucapnya sambil menyerahkan dokumen berwarna cream.
Hailey mengerutkan kening, duduk perlahan seraya menatap sebuah dokumen yang tergeletak di atas meja. “I-ini apa?” tanyanya penasaran.
“Buka dan baca sendiri,” tegas Mathias sambil duduk di hadapan Hailey.
Perlahan Hailey mulai membuka dokumen itu dengan tangan agak gemetar. Bukan tanpa sebab, dia gemetar karena merasa ada sesuatu. Bayangkan saja jantungnya sekarang bahkan berdebar tak karuan.
Saat dokumen sudah dibuka, mata cokelat terang wanita cantik itu mulai terbelalak terkejut melihat selembar perjanjia. Dia sampai agak meremas kertas itu akibat keterkejutan nyata yang tak bisa dia bantah.
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN
Pihak Pertama : Mathias Cameron
Pihak Kedua : Hailey Brantley
Pasal 1: Kepatuhan Mutlak
Pihak Kedua wajib mematuhi seluruh perintah, instruksi, dan keinginan Pihak Pertama tanpa bantahan, baik dalam urusan sosial, maupun pribadi. Segala bentuk pembangkangan akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak yang akan berujung mendapatkan hukuman yang hanya bisa ditentukan Pihak Pertama.
Pasal 2: Hak Ceraikan
Pihak Kedua tidak memiliki hak untuk mengajukan gugatan cerai atau pemisahan ranjang dalam kondisi apa pun. Hak untuk mengakhiri pernikahan ini sepenuhnya dan secara eksklusif berada di tangan Pihak Pertama. Waktu pernikahan ini berada di dalam tangan Pihak Pertama. Pihak kedua tidak akan pernah bisa mengatur apa pun.
Pasal 3: Hak Asuh dan Reproduksi
Apabila Pihak Pertama suatu saat menuntut adanya ahli waris, Pihak Kedua wajib menjalani prosedur kehamilan tanpa keberatan. Pun jika di masa depan Pihak Pertama ingin mengakhiri pernikahan di momen di mana sudah memiliki keturunan, maka hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan Pihak Pertama.
Pasal 4: Kompensasi
Jika Pihak Pertama memerintahkan Pihak Kedua untuk pergi, Pihak Kedua akan menerima uang kompensasi sebesar $50,000,000 (Lima Puluh Juta Dolar AS). Setelah dana diterima, Pihak Kedua wajib menghilang dari kehidupan Pihak Pertama selamanya, dan dilarang muncul kembali di hadapan Pihak Pertama atau keturunannya.
Pasokan oksigen di tubuh Hailey benar-benar seakan lenyap di kala membaca isi perjanjian pernikahan gila itu. Kepalanya mendadak pusing luar biasa. Dia merasa dunia seolah berputar hebat. Kertas di tangannya pun terasa sangat berat, seakan tiap kata di sana adalah rantai yang mengikat lehernya.
“A-apa maksud semua ini, Mathias?” tanya Hailey dengan nada agak tercekat.
“Aku yakin kau sudah membaca dengan baik perjanjian di tanganmu,” jawab Mathias dingin.
Mata Hailey memanas, nyaris mengeluarkan air mata. Namun, mati-matian wanita itu menahan air mata agar tak tumpah. Otaknya berusaha mencerna bahwa ada sisi positif dari surat perjanjian yang tertulis, tapi sayang makin dia mencoba mencari sisi positif, yang dia dapatkan adalah sisi negatif bahkan sisi di mana yang seolah ingin menghancurkannya.
“Sebenarnya kau anggap apa aku ini, Mathias?” tanya Hailey dengan nada bergetar.
“Kau istriku. Itu fakta yang tidak bisa dibantah,” jawab Mathias sambil mengetukkan jemari kokohnya ke meja.
Hailey mencoba tenang, menatap Mathias dengan tatapan agak tajam. “Kontrak ini tidak akan pernah aku tanda tangani. Aku bukan pelacur yang bisa dengan mudah kau perilakukan sesukamu!” jawabnya dengan nada lantang. Entah, dia tak mengerti keberanian dari mana dia bisa berkata seperti ini.
Mathias tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Hailey. Pria tampan itu kini bangkit berdiri, melangkah mendekat, dan seketika bayangan tubuhnya yang tinggi besar menyelimuti tubuh langsing Hailey. Dia mencengkeram dagu Hailey, memaksa wanita itu menatap mata biru gelapnya yang tidak menunjukkan setitik pun empati.
“Ayahmu saja sudah menjualmu padaku, kenapa kau bisa-bisanya mengatakan tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, hm?” desis Mathias tajam, dan menusuk.
Air mata mulai jatuh di pipi Hailey, kata-kata Mathias seperti belati yang menusuk jantungnya. Dia menatap mata biru pria itu dengan tatapan rapuh, dan tatapan yang menunjukkan dia berusaha tegar. Cengkeraman tangan Mathias di dagunya cukup kuat, tapi dia tak merasakan sakit di fisik. Hal yang membuatnya sakit adalah surat perjanjian yang diberikan pria itu.
“Bagaimana kalau aku tetap tidak mau?” balas Hailey menahan pedih di dada.
Mathias melepaskan cengkeraman itu, dan menatap sinis Hailey. “Kau tahu? Ayahmu memiliki banyak utang padaku. Jika kau tidak menuruti apa yang aku inginkan, aku dengan mudah membuat keluargamu mati kelaparan atau bahkan aku bisa membuat kedua orang tuamu membusuk di penjara. Hailey, kejahatan ayahmu untuk menambah kekayaannya ada di tanganku. Kartu ayahmu berada di genggamanku. Kau tinggal pilih, kau ingin patuh, atau kau melihat keluargamu berada di ambang kehancuran?”
Air mata terus berlinang membasahi pipi Hailey. Perkataan Mathias seperti api yang berhasil membelenggunya. Andai saja dia bisa, dia ingin lari sekencang mungkin, tapi dia sadar bahwa dia tak bisa berlari. Dia sudah berada di sangkar emas yang menjeratnya.
“Kau benar-benar monster,” ucap Hailey lirih sambil menyeka air matanya susah payah.
Mathias menyeringai puas, sambil mengangguk tanpa ragu. “You’re right. Even though I’m a monster, one thing remains true—you are mine. You can’t escape. And if you try to run, I will find you… and make sure you never run again.”
Hailey tertunduk dengan kerapuhan di wajahnya. Pertama kali dalam hidup dia bertemu dengan monster seperti Mathias Cameron. Orang bilang fisik Mathis buruk rupa, tapi fakta yang ada pria itu memiliki paras ketampanan seperti Dewa Yunani, dan hati yang sama dengan iblis.
Dalam keadaan hati yang hancur berkeping-keping, Hailey melihat pena tergeletak di atas meja. Dia tidak punya pilihan. Perlahan dia mulai mengambil pena itu, dan mulai membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian.
“Kau puas, Tuan Cameron? Kemauanmu sudah aku turuti. Dan, ya, kau benar, kau memilikiku. Aku seperti barang atau bahkan peliharan yang mungkin berharga sekarang, dan tidak bernilai di masa depan,” ucap Hailey dengan mata yang kembali berkaca-kaca, menatap Mathias. “Satu hal yang harus kau tahu, jika ada kehidupan lagi di dunia ini, aku dengan sujud memohon pada semesta untuk tidak mempertemukanku dengan pria sekejam dirimu. Kau lebih dari monster. Kau bahkan melebihi iblis.”
Perjanjian itu diletakan kembali di atas meja bersamaan dengan pena. Tanda tangan telah dibubuhkan menandakan bahwa Hailey telah setuju. Air mata terus berlinang, tapi Hailey terus menyeka air matanya.
Mathias mengambil perjanjian itu, menatap jelas Hailey telah membubuhkan tanda tangan. Seringai di wajahnya terlukis, menunjukkan betapa puas dirinya mendapatkan apa pun yang dia inginkan.
“Harus kau tahu, jika ada kehidupan lagi di dunia ini, aku bahkan tidak tertarik bergabung. Cukup satu kali, dan aku pastikan semua yang aku mau aku dapatkan,” jawab Mathias sambil bangkit berdiri, dan melangkah pergi meninggalkan Hailey yang masih bergeming di tempatnya.
Mata Hailey terus menatap punggung Mathias yang mulai lenyap dari pandangannya. Tatapannya tersirat kosong, bayanganya penuh dengan terkaan. Faktanya Hailey masih bisa bernapas, tapi sebenarnya jiwanya benar-benar seakan mati. Menikah dengan pria seperti Mathias, tak pernah ada di daftar impiannya. Ini adalah mimpi buruk, yang ingin sekali Hailey akhiri. Sayangnya, dia telah terjerat ke dalam mimpi buruk itu.
Suara berat, dingin, dan penuh nada intimidasi itu memotong kalimat Hailey secara mendadak, sukses membuat wanita itu melonjak terkejut.“Mathias?”Hailey terperanjat hebat saat mendapati Mathias sudah berdiri tak jauh di belakangnya. Langkah kaki pria itu bahkan tak terdengar sama sekali saat mendekati area dapur, seolah ia bergerak bagai bayangan yang mengintai tanpa suara. Detik di mana melihat kemunculan Mathias yang tiba-tiba, insting panik Hailey menyala hebat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menutup panggilan telepon itu secara sepihak dan menyembunyikan ponselnya rapat-rapat di belakang tubuh, tak ingin memancing masalah yang lebih besar.Mathias sudah berdiri bergeming di sana. Pria tampan itu kini telah berganti pakaian, mengenakan kemeja santai berwarna gelap dengan dua kancing atas yang terbiar terbuka serta bagian lengan yang digulung asal hingga siku. Potongan kemeja itu memperlihatkan dengan jelas ukiran tato tebal berwarna gelap yang menjalar liar di sepanjang kuli
Hailey mengembuskan napas kasar seraya meremas pinggiran meja kitchen island dengan kedua tangannya yang gemetar. Kulit jemarinya memucat akibat tekanan kuat pada permukaan marmer yang dingin. Dada wanita itu kempas-kempis, berusaha menyuplai oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa sempit dan menggebu. Pijakan kaki terasa tidak kokoh, seolah seluruh tenaganya baru saja dikuras habis dari kejadian di area kolam renang tadi.Tiap kali dia mencoba mengenyahkan ingatan di tepi kolam tadi, memori itu justru makin tercetak jelas di benaknya seakan sengaja menghantuinya. Dada basah Mathias yang hangat membuai, aroma parfum maskulin berpadu air kolam yang mencengkeram indranya, hingga sentuhan telapak tangan yang begitu mendominasi di pinggangnya—semua itu seperti sidik jari gaib yang membakar kulitnya.Hal yang paling membuat Hailey benci pada dirinya sendiri bukan cuma fakta bahwa mereka tertangkap basah oleh Nash, melainkan reaksi tubuhnya sendiri. Tatapan mata biru pria menyebalkan i
“Tuan ….”Nash menundukkan kepala saat menyambut Mathias yang baru saja menjejakkan kaki di ruang kerja bernuansa gelap tersebut. Sudah sejak tadi Nash berdiri menunggu di sana dengan sabar. Tepat saat tuannya memberi perintah singkat di tepi kolam renang tadi, dia langsung bergerak cepat tanpa banyak bertanya—paham betul bahwa perintah sang tuan tak bisa diabaikan begitu saja.Mathias melangkah masuk dengan aura dingin yang masih menempel rapat pada tubuhnya. Aura dominasi yang pekat seolah memenuhi setiap sudut ruangan bernuansa kayu mahoni gelap itu. Pria itu berjalan santai menuju lemari penyimpanan alkohol di sudut ruangan, meraih sebuah botol wine berlabel elegan, lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kosong. Suara wine yang mengalir ke dalam gelas kristal terdengar jelas di tengah heningnya ruangan, sebelum Mathias menyesap perlahan, menikmati rasa pekat yang membakar tenggorokannya.“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Mathias tanpa berbasa-basi, tatapan mata birunya yang
Sebelum tubuh Hailey benar-benar jatuh, sebuah tangan kekar bergerak dengan kecepatan kilat. Tangan Mathias mencengkeram pinggang Hailey dengan erat, menghentikan kejatuhan dan menarik tubuh wanita itu secara instan ke dalam pelukannya.Duk.Dada telanjang Mathias yang basah tapi memancarkan suhu hangat menempel rapat pada dada Hailey. Aroma parfum maskulin yang berpadu dengan wangi kesegaran air seketika memadati indra penciuman Hailey. Tangan basah pria itu meremas pinggangnya, mengunci posisinya hingga tak ada jarak sedikit pun yang tersisa. Hailey dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar tak terkontrol, beradu dengan napas tenang Mathias tepat di atas kepalanya.“M-Mathias, lepaskan aku,” ucap Hailey panik di kala tubuhnya dipeluk erat.“Kau memintaku melepaskanmu setelah aku membantumu? Jika bukan karena aku, tubuhmu sudah pasti menghantam lantai,” jawab Mathias dingin.Hailey menelan salivanya lagi. Sungguh, dia membenci momen seperti ini. Maksud hati ingin ke
Hailey bangun lebih awal dari biasanya. Dia terbangun dari tidur yang cukup nyenyak—paling tidak, tidurnya jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Walau tentu saja, setiap kali pagi menyapa, pikirannya selalu mendadak dipenuhi banyak hal.“Lapar sekali. Hmm, sepertinya makan roti selai cokelat enak,” gumam Hailey pelan.Wanita itu menyibak selimut, lalu memutuskan menggosok gigi dan mencuci muka lebih dulu. Rasa malas rupanya masih menyergap, membuat Hailey belum ingin mandi. Dalam balutan piyama warna cream, dia melangkah keluar kamar dengan mengenakan sandal kamarnya. Niat awalnya sederhana yaitu menuju dapur, mengambil roti, lalu kembali bersembunyi di kamar.Namun, belum sampai ke dapur, telinganya menangkap kecipak suara air dari arah ruang kolam renang. Langkah wanita itu terhenti. Harusnya dia tidak peduli, tetapi kakinya malah berkhianat, melangkah mendekati area kolam renang seolah dituntun rasa penasaran yang tinggi.Hal pertama yang Hailey lihat di dalam area kolam renan
Atmosfer di kediaman mewah keluarga Brantley sama sekali tidak diselimuti oleh ketenangan ataupun kedamaian. Malam yang kian larut itu justru menghadirkan ketegangan mencekam yang melingkupi seluruh sudut ruang kerja pribadi Preston Brantley. Pria paruh baya itu tampak berjalan mondar-mandir tanpa henti, mengikis karpet tebal ruangan itu dengan derap langkah yang tak beraturan. Raut wajahnya diliputi kegelisahan luar biasa; dahi berkerut dalam, rahang mengeras, dan pelipisnya terus dibasahi keringat dingin. Sepasang matanya tak henti-hentinya menyambar layar ponsel yang tergeletak di atas meja, menantikan pemberitahuan email masuk berupa laporan darurat dari asisten pribadinya. Untuk menekan rasa pusing menusuk yang seakan meremukkan kepalanya, Preston terus-menerus mengucurkan cairan amber dan menenggak gelas demi gelas whisky tajam. Dia berharap sensasi panas terbakar dari alkohol bisa menenangkan saraf-sarafnya yang tegang—padahal seberapa banyak pun alkohol yang dia telan, kenyata
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b
Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan







