LOGIN"Ditha!" Aluna berteriak.
Si keriting terjatuh ketika tubuhnya tak sengaja tertabrak oleh pria berbadan besar. Bukannya menangis, Ditha bangkit berdiri dan ingin berlari lagi. Namun untung saja langkahnya tertahan saat pria dewasa itu menahan tubuhnya. "Mau kemana?" Tanya pria itu menahan Ditha. Ditha terkejut. Mata kecil itu langsung membulat ketakutan. Bibir itu mengerucut seakan ingin menangis. Sontak anak ini baru teringat ibuDari jauh Fiona menatap kemesraan putranya dengan dua cucunya dari jauh. Wanita itu menangis. Rasa cemas tadi berganti dengan rasa haru luar biasa. Akhirnya, dia bisa melihat Arkan tertawa lagi. Bersama dua anaknya yang bermain di pangkuan, Arkan terlihat menikmati harinya sebagai ayah. Di hadapannya ada Aluna yang ikut memandang ayah dan anak ini dengan penuh senyuman. Farah yang tersadar jika kakaknya datang langsung menegur. "Mbak Fiona!" Semua orang menoleh pada wanita paruh baya yang baru saja tiba. Termasuk Arkan dan Aluna. Fiona berjalan mendekat sembari tersenyum. Si kembar turun dari pangkuan ayahnya. Mereka berlarian menuju Fiona yang baru saja datang. "Oma!" Ditha datang terlebih dahulu dan memeluk omanya. Fiona menangis terharu. Ia pun memeluk kedua cucunya dengan erat. Abi pun tak bersikap canggung lagi padanya. Senyum mengembang dari wajah Arkan. S
Arkan mendelik ke arah wanita yang baru saja masuk. Sementara sorot wajah Aluna langsung berubah."Tante Farah sedang apa disini?""Tadi Adelina hubungin tante katanya kamu diserang perempuan gila. Astaga, apa yang terjadi?""Bukan masalah besar. Tante tidak memberitahu mama, kan?""Sudah tante beritahu. Mamamu akan kesini sebentar lagi." Pandangan Farah beralih pada wanita berhijab yang berdiri di tepi pembaringan Arkan. "Ehem.. Aluna."Aluna menatap Farah dengan tatapan yang sulit diartikan. Selamat tinggal diucapkan pada wanita lemah yang sering ditindas oleh mertuanya. Sekarang, Farah bahkan merasa terintimidasi oleh tatapan Aluna saja."Dimana lukamu? Parah, nggak?" Farah mengalihkan perhatian."Nggak. Cuma dua jahitan.""Itu banyak sekali! Astaga! Kita harus menuntut wanita itu."Aluna berdeham. "Aku keluar dulu, mas. Mau cari mas Aamir."Arkan ikut bangkit dari duduknya."Mari k
Acara syukuran bubar karena kericuhan yang terjadi. Langit segera membuat laporan ke kantor polisi. Mantan istrinya itu akan terjerat kasus penganiayaan.Lengkap sudah! Kali ini dia sudah tak bisa mengelak lagi. Terlebih ada bukti cctv yang mendukung.Adelina menjaga si kembar di warung makan. Sementara, Aluna dan Aamir membawa Arkan ke rumah sakit.Di IGD, Arkan langsung diberikan tindakan. Lengannya yang terluka sudah dibersihkan."Ini harus dijahit. Ada lukanya yang dalam." Ujar dokter jaga pria itu.Aluna menggangguk setuju. "Iya, dokter. Jahit saja.""Sakit nggak kira-kira, dok?" Tanya Arkan."Sakit. Namanya juga ditusuk jarum. Tapi akan saya berikan obat bius."Dokter tersebut meminta perawat untuk menyiapkan alat jahit luka. Yang terkejut sekarang Aamir, perawat yang muncul ternyata wanita yang sangat dikenalnya. Sinar."Sinar!" Tegur Aluna lega. "Ternyata kamu kerja.."Sinar menghela na
Adelina tak hanya memukul wanita berambut pirang itu. Tapi juga rambutnya yang penuh cat itu juga ditarik hingga membuat Ria menjerit.Siapa suruh menghina Adelina? Wanita ini anak Farah. Salah satu nyonya cerewet di dunia. Jelas Adelina menjadi tangguh seperti ibunya.Langit dan Aamir sampai kewalahan melepaskan mereka karena Adelina yang tak mau melepaskan tangannya."Mas, bawa anak-anak ke ruang kerja Langit." Perintah Aluna pada mantan suaminya."Dimana?""Itu." Aluna menunjuk sebuah ruangan yang tertutup.Arkan mengangguk dan membawa dua anaknya ke ruangan yang dimaksud. Sedangkan, Aluna pergi ke depan untuk melerai perkelahian dua macan wanita."Lepaskan Adel!" Ujar Aluna. Ia membantu Ria melepaskan cengkraman tangan Adelina dari rambutnya."Ah, sial!" Umpat Ria setelah lepas dari Adelina. "Wanita brengsek! Apa kamu pikir aku takut padaku?""Apa? Masih mau lagi?" Tantang Adelina tanpa takut.
"Si-Sinar.. Tunggu!"Aamir mencoba menghadang Sinar dengan tubuhnya. Tapi Sinar tak perduli. Ia tetap melajukan motornya dan berlalu dari hadapan pria itu. Melihat itu, Aluna menjadi curiga. Rasanya pertemuan mereka terakhir terjadi di rumah sewa Aluna. Ketika si kembar saat itu tepat berusia tiga tahun. Sinar sangat senang ketika melihat Aamir kala itu. Dia bahkan rela menunggu Aamir yang berjanji akan berkunjung kembali.Tapi.. kenapa Aluna merasa seperti ada benang tak kasat mata yang terbentang antara hubungan Aamir dan Sinar? Keduanya terlihat canggung. Apalagi Sinar yang menjaga jarak. Wanita itu seperti menghindari Aamir. Apa mungkin pria yang dikagumi Sinar adalah Aamir? Ya, bisa jadi.Pas sekali ketika Sinar keluar ada sebuah mobil yang masuk. Seorang ayah dan dua anak kembar turun dari mobil dengan tersenyum cerah."Sayang!" Seru Aluna tersenyum lebar. "Kok cepet banget mainnya?"Abi dan Ditha berlari memeluk ibunya.
Setelah peresmian, sekarang dilanjutkan dengan acara makan siang bersama. Sepasang kekasih ini tak mau berpisah. Mereka bahkan duduk berdampingan dengan Langit yang sangat perhatian. Di hadapan mereka ada Aluna dan Aamir yang memperhatikan. Aamir sampai terperangah melihat perlakuan Langit pada adik kesayangannya. Pantas saja jika Adelina bisa takluk. Ternyata Langit bisa bersikap manis juga. "Hey, mau kemana??!" Tegur Langit setelah melihat adik wanitanya berjalan menjauh. "Mau ke belakang." Jawab Sinar tak mau membalas pandangan. Di tangannya terdapat sebuah piring berisi makanan. "Ke belakang??" Dahi Langit sampai mengkerut. "Ngapain makan di dapur. Orang pada ngumpul semua disini!" Sinar menggeleng. Saat dia ingin membuka suara lagi Aluna ikut bersuara. "Makan disini saja, Sinar. Sama kami." Aluna menepuk kursi sebelahnya. "Ayo, Sinar. Kita juga belum berken
Masih jelas dalam ingatan Aluna, siapa pria itu. Pria yang memberinya keteduhan pada Aluna yang tengah berkuyup sedih.Aluna yang menangis karena baru saja kehilangan orang tuanya di sebuah masjid yang ada di kota ini. Padahal, Aluna baru saja hijrah untuk meniti karir disini. Tapi kabar yang ia te
Arkan sedang duduk di kursi kerjanya. Termenung menghadapi laporan yang tercipta di layar komputer pintarnya. "Ada apa denganku?" Arkan mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah beberapa bulan ini performa kinerjanya menurun hingga membuat manajernya sering menegur. Fiona mengatakan jika Arkan ku
Tak terasa sudah satu minggu Aluna berada di kotanya sendiri. Sejak pulang dari Bali, tak sekalipun suaminya mengabarinya. Padahal, Aluna sudah memberikan spam pesan. Namun balasannya hanya singkat saja. Seperti enggan menanyakan balik kabar dirinya.Hari yang ditunggu tiba, Arkan dan ibunya akhirn
"Nindi.."Aluna melihat nama dari pengirim pesan tersebut dan tersenyum kecil. Ternyata, Arkanlah yang mengiriminya pesan terlebih dahulu. Wanita yang menjadi mantan terindah bagi suaminya.[ "Aku baik. Bagaimana kabarmu?" ] balas wanita itu.Aluna kembali menggeser pesan milik Nindi. Ternyata ini







