LOGINBima tak menyangka, jika seorang gadis yang dia tolong seminggu yang lalu akan menjadi ibu susu anaknya. Dia adalah Jenny, seorang gadis cantik berusia 18 tahun yang masih berstatus pelajar SMA. Namun, entah alasan apa, diumurnya yang masih terbilang muda gadis itu sudah mengandung. Apa mungkin karena salah pergaulan? Atau justru memang dia sudah menikah? Semakin lama dilihat, Jenny semakin mempesona. Hingga membuat seorang Bima Pradipta yang masih berstatus suami orang menyukainya. Dan suatu ketika, sebuah insiden kesalahan pahaman membuat keduanya terpaksa menikah dan menjadikan Jenny istri kedua Bima. Akankah pernikahan mereka abadi? Lalu, bagaimana dengan Soraya istri pertama Bima? Akankah dia terima dengan pernikahan kedua Bima? Atau justru dialah yang terlengserkan? “Setelah kita menikah, aku akan menceraikan Raya, Jen!” Bima~ “Kalau begitu Bapak jahat namanya, masa Bu Raya diceraikan? Aku dan dia sama-sama perempuan, aku nggak mau menyakitinya!” Jenny~ Yuk ikuti kisahnya sekarang juga!
View More***
Kulihat pakaian mulai menggunung, kerena takut meletus, segera kudekati tumpukan baju tersebut dan tanganku mulai mulai merogohi sakunya. Saat memeriksa semua saku pakaian memastikan tidak ada uang, flashdisk dan yang lainnya yang biasanya sering tercuci.
Sekarang tanganku mulai memeriksa saku kemeja putih Mas Arga, begitu membalik baju itu, ada warna merah di tangan bajunya seprti lipstik, keningku mulai menyergit sesekali tanganku mengusap-usap warna itu.
Rasa curigaku muncul, aku langsung ke meja riasku memastikan warna lipstik tersebut, namun aku sama sekali tidak punya lipstik warna merah, aku hanya punya dua lipstik warna pink dan orange.
'Lipstik siapa ini?' batinku mulai bertanya-tanya, kurogoh saku kemejanya dan kudapati tisu basah, tapi anehnya lengket ke baju membuatku jijik.
"Sejak kapan Mas Arga mempunyai tisu basah dan ini apa? Kok lengket," gumamku bertanya-tanya.
"Mungkin Mas Arga pilek kali," lanjutku berusaha berprasangka baik pada suamiku selama 7 tahun ini.
***
Dua hari kemudian, suamiku pulang dinas. Aku dan anak-anakku sedang menunggunya di teras untuk menyambutnya.
Tidak berapa lama kemudian, mobil masuk ke pekarangan rumah. Begitu ia keluar dari dalam mobil, anak-anak langsung berlarian memeluknya.
"Ayah punya hadiah untuk kalian berdua," ucapnya lalu memberikan kotak berisi mainan pada mereka berdua, membuat Hana dan Dani sangat girang sambil melompat-lompat.
Aku langsung menghampirinya dan menyalam tangannya, ia mencium keningku lalu memelukku. Saat aku berada dalam pelukannya ada yang aneh dari biasanya, tercium jelas olehku aroma parfum yang dia pakai seperti wangi parfum perempuan.
Apa Mas Arga salah pilih parfum? Ku rasa hidungnya masih bisa membedakan parfum perempuan dan laki-laki. Tapi, kali ini malah seperti ini, kecurigaan keduaku setelah tisu basah dan noda merah di kemejanya.
'Awas kau Mas, sepertinya aku akan jadi detektif gratis untukmu,' batinku dalam pelukannya sambil kuelus-elus perut atletisnya itu.
Aku melepas pelukannya, ingin rasanya kutanyakan banyak hal padanya, namun kuurungkan niatku kala melihat dia sangat lelah.
"Kamu kangen ya sama Mas, tapi Mas capek banget, malam aja ya," bisiknya menggoda di telingaku, aku hanya mengangguk membiarkannya istirahat.
Aku mengambil tas di tangannya karena aku tahu itu isinya pakaian kotor, langsung ku bawa ke kamar mandi dan kukeluarkan semuanya, lagi-lagi aku menemukan lipstik merah, tapi kali ini di kaos kesayangannya, kusipitkan mataku kerena melihat warna yang sama lagi.
'Kamu mulai main-main dengan ku Mas, kita lihat saja siapa yang akan menang,' hatiku mulai memanas. Setalah selesai menyuci pakaiannya aku langsung ke kamar, kulihat ia sudah tidur dengan nyenyak.
Kuambil gawainya yang ditaruh di dekatnya, mungkin dia takut aku mengetahui isinya, sampai-sampai tidur pun di bawa, nggak sekalian ini ponsel di ikat di lehermu saja, Mas.
Aku membawanya keluar kamar, kulihat anak-anak sedang asik bermain dengan maianan mereka. Aku duduk di samping mereka lalu membuka youtube bagaiamana cara menghubungkan ponsel suamiku ke ponselku.
Kutemukan dua cara, yang pertama dengan memasang w******p web dan yang kedua pakai gps untuk melacak perjalanannya, bibirku tersenyum licik.
Kupakai kedua cara tersebut, setelah terhubung ke kembalikan ponsel ke tempat semulanya di dekat guling.
Saat aku keluar, tiba-tiba ada pesan masuk di ponselku, segera kubuka ternyata dari perempuan, suamiku memberi nama Mita chubby, seketika keningku menyergit membaca nama itu.
Ingin rasanya kuganti nama itu menjadi Mita gendut, tapi sudahlah demi misi aku harus serba kuat. Ku buka pesannya.
[Sayang besok kita ke mall ya, bosen tau kita si hotel terus, aku pengen refreshing, setelahnya aku bakalan nurutin semua keinginan kamu, tapi jangan lupa pakai pengaman] tulisnya di sertai emot love.
Entah apa yang terjadi padaku, mataku mulai memanas membacanya, sudah berapa lama mereka selingkuh? Sudah berapa kali mereka ke hotel? Apa yang mereka lakukan? Pertanyaan itu muncul di kepalaku dan aku yakin akan selalu menghantuiku.
"Belum apa-apa, nangis. Ini masih awal, Hanin," gumamku lalu menghapus air mataku dengan kasar.
'Liat aja kamu, Mas,' batinku, aku merasa hatiku sekarang aku sudah seperti singa mengamuk.
Keesokan harinya; Mas Arga berangkat kerja seperti biasanya. Setelah ia pergi langsung ku buka ponselku mencari tahu kemana dia sebenarnya. Awalnya kulihat masih di lokasi kantor, tapi sekitar jam 10 sudah menuju mall.
"Sayang kita jalan-jalan ke pantai, yuk," rengek Mita sambil bergelayut manja di tangan Mas Arga, sedangkan Mas Arga yang melihat itu langsung gemas dan mencubit pipi Mita.
"Apa sih sayang yang nggak buat kamu, apapun yang kamu inginkan, aku siap," jawab Mas Arga dengan romantis lalu mereka keluar dari mall.
Tanpa membuang waktu, Mas Arga dan Mita langsung meluncur ke Pantai terdekat, sepanjang jalan Mita begitu senang sambil bergelayut manja di tangan Mas Arga.
Segera kupinjam mobil sahabatku Sinta dan kubawa anak-anakku, sebenarnya aku tidak sepolos yang Mas Arga pikiran, hanya saja di depannya aku selalu bertingkah polos. Kuikuti mereka dengan gps, aku melihat arah tujuannya ke pantai.
"Bunda kita mau kemana?" tanya Hana putri sulungku.
"Kita mau kepantai sayang, kita liburan," jawabku girang membuat Hana dan Dani bersorak riang. Karena mobilku di belakang otomatis mereka duluan sampai.
Sampai di pantai,kulihat mereka berdua sedang asyik bermain air sambil tertawa lepas. Air mataku hampir saja terjun, tapi langsung ku tepis cengengku, sekarang bukan waktu yang tepat.
Suami yang selama ini kupercaya tanpa ada keraguan sedikitpun, ternyata sanggup melakukan ini tanpa memikirkanku dan kedua anak-anaknya. Baiklah, kita nikmati permainan ini, Mas.
Kujemput kedua anakku dari dalam mobil dan kubawa mereka ke bibir pantai. Sekarang mereka berdua sedang berlari-lari, tawa riang sambil dorong-dorongan itulah yang mereka lakukan, aku tersenyum melihat mereka, tapi tidak dengan dua sejoli yang lumayan jauh dari kami.
Sengaja aku menghadapkan badanku ke arah mereka, seperti sedang menyaksikan adengan romantis. Bagus sekali akting kalian berdua artis dan aktor India kalah dengan keromantisan kalian yang tiada duanya.
Begitu Mas Arga menoleh ke samping, kulihat matanya melotot dan sesekali ia memicingkan matanya, mungkin ia merasa matanya mulai katarak sekarang.
Kuperhatikan perempuan yang sedang memegang lengan Mas Arga, aku teringat dengan lipstik yang selalu kutemukan di baju suamiku serta wangi parfumnya yang seperti parfum perempuan.
'Berapa kali sudah kalian melakukan hubungan haram itu?' batinku terus bertanya-tanya.
"Kenapa, Mas?" tanya Mita.
"Sayang coba lihat kesana, bener nggak itu, Hanin?" Mas Arga balik bertanya sambil menunjuk ke arahku.
"What! Ngapain istri kucelmu itu kesini sayang?" kesal Mita tidak percaya.
"Aku juga bingung sayang kenapa dia ada di sini juga, sepertinya istri sepolos dia tidak mungkin bisa melacakku," jawab Mas Arga masih bingung dan terus menatapku.
"Bunda disana ada Ayah!" teriak anak bungsuku sambil menunjuk ke arah Mas Arga.
Mata Mas Arga kembali terbelalak melihat kedua anakku yang sedang bermain air sama sepertinya dan pelakor itu, sedangkan aku hanya tersenyum miring padanya seolah-olah mengejeknya.
Mas Arga berjalan ke arahku, terlihat jelas dimatanya memancarkan kemarahan. Sampai di depanku, aku langsung melipat tanganku seperti sedang menantang.
"Apa yang kamu lakukan disini?!" bentaknya, namun sama sekali tidak membuatku kaget atau shock.
"Bermain, aku sedang bermain dengan anak-anakku, Mas," jawabku santai, kulihat rahangnya mengeras mendengar jawabanku.
"Aku tanya sekali lagi, ngapain kamu disini, Hanin?!" suaranya semakin meninggi, kulirik ke arah Mita yang tersenyum puas melihat aku di bentak suamiku, emang dasar pelakor yang diciptakan hanya untuk merusuh rumah tangga orang.
"Ayah jahat, Dek," terdengar jelas olehku Hana berbicara dengan Dani adiknya sambil merangkul pundak Dani.
Aku berjalan lebih dekat ke depan Mas Arga, kudekatkan mulutku ke telinga.
"Jika kamu bermain maka aku bertindak, bukan 'kah itu adil?" bisikku penuh penekanan lalu aku menjauhkan tubuhku darinya.
"Beraninya kau!" bentaknya sambil mengangkat tangannya, jari telunjukku langsung menantang tegas di depan wajahnya.
"Sekali saja kamu kasar kepadaku, maka hilanglah semua warisanmu," ancamku lembut, tapi penuh penekanan. Kulihat ia menurunkan tangannya dengan kasar, tapi sorot matanya tetap tajam.
"Jangan berani mengancamku, Hanin," kali ini nada bicaranya sedikit turun.
"Husss!! Jangan ngomong kayak gitu!" Bima menasehati dengan suara yang lembut, namun penuh ketegasan. Tangannya mengusap dahi Jenny dengan penuh kasih, mencoba menghapus ketakutan yang menghantui pikirannya. "Lebih baik kita berdo'a sama Allah, dan berpikir positif. Aku sendiri yakin... semuanya akan baik-baik saja." Dengan kata-kata Bima, Jenny menemukan sedikit ketenangan. Dia mengangguk, menerima saran Bima untuk terus berdoa dan memelihara pikiran positif. Mereka bersama-sama memohon kepada Allah, berharap dan percaya bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Selama kehamilan kedua ini, Jenny hampir tidak pernah absen dari kontrol kehamilan. Bima, dengan kepeduliannya yang tak pernah surut, selalu mengingatkan dan bahkan sering kali lebih bersemangat dari Jenny sendiri untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Wajar begitu, Bima sendiri merasa sangat bahagia dan bersyukur karena diberikan kesempatan untuk menjadi seorang Ayah dari darah dagingnya sendiri. Kabar te
"Ya sudah, kalian hati-hati dijalan, ya? Semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Eka seraya mengusap pipi anaknya lalu memeluk tubuh Jenny sebentar."Amin, Bun," jawab Bima lalu mencium tangan Eka, kemudian disusul oleh Jenny. "Ya udah, kami berangkat. Assalamualaikum.""Walaikum salam."**Setelah datang ke kantor polisi dan memberikan keterangan, Jenny langsung diarahkan ke rumah sakit untuk melakukan visum.Pihak polisi mengajukan, selain itu Bima juga sempat memintanya. Semua itu demi membuktikan, apakah Jenny sempat diperk*sa dalam keadaan tidak sadar atau tidak. Karena jika bertanya langsung kepada Lukman, itu akan sia-sia saja.Seperti pepatah mengatakan, mana ada maling ngaku. Kalau ada, penjara akan penuh.Setelah selesai dengan urusan polisi, keduanya pulang ke rumah kemudian berlanjut pergi ke mall bersama Eka, Kaila dan juga Weni.*Hari ini terasa sangat melelahkan bagi Jenny, na
'Dia masih belum tidur, kenapa ya?' pikiran itu berkecamuk dalam benak Bima, membuatnya merasa bingung dengan perilaku Jenny. Dalam kebingungan itu, dia memutuskan untuk memejamkan mata, berharap dengan begitu, Jenny akan tergoda untuk segera tidur. "Zzzzz ...." Hanya dalam hitungan menit, suara dengkuran halus dan ritmis itu mengisi udara malam, memecah keheningan yang sebelumnya memenuhi ruangan. Jenny, yang sebelumnya menahan diri, kini membuka mata kembali. Matanya menatap Bima, yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. "Ish!!" Gumamnya pelan, rasa sebal memenuhi hatinya. Melihat Bima yang dengan mudahnya memasuki dunia mimpi, sementara dirinya masih terjaga, membuat Jenny merasa frustrasi. Bagaimana bisa pria itu lebih dulu terlelap ketimbang dirinya, padahal Jenny tengah berjuang melawan hasrat dalam dirinya yang begitu kuat dan mendalam.***Keesokan harinya, Bima terbangun perlahan-lahan dan terhanyut oleh aroma wangi sabun yan
Pak Polisi yang sebelumnya menginterogasi Lukman mengambil sikap tegas. Dia menatap Lukman yang terlihat putus asa. "Meskipun Anda mengelak, itu akan sia-sia, Pak. Bukti yang ada sangat kuat menunjukkan bahwa Anda bersalah. Kita hanya perlu menunggu keterangan dari saudari Jenny, dan setelah itu Anda akan ditahan sebagai tahanan di sini." Lukman menolak dengan cepat, menggelengkan kepalanya. "Enggak! Aku nggak mau, Pak! Aku nggak bersalah, ngapain dipenjara? Aku di sini hanya ingin membantu Jenny, menyelamatkan hidupnya dari kebahagiaan palsu dengan Bima. Karena hanya aku yang bisa membuatnya bahagia!" Lukman berteriak dengan putus asa. Dia terlihat kehilangan akal sehatnya, bahkan melawan saat dua polisi menyeretnya keluar dari ruangan. "Lepas!! Lepaskan akuuuu!! Lily sayaaaang, tolong selamatkan aku!!" Lukman berteriak sembari berusaha melepaskan diri, meskipun terlihat sia-sia. "Jangan penjarakan akuuu!! Aku nggak bersalaaahhh!!" Lukman sudah meninggalkan ruangan, tapi suaranya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore