Home / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

Share

Bab¹⁵⁸—Barang bukti#2

Author: Na_Vya
last update publish date: 2026-07-22 21:13:34

Penyidik Ardi menutup album perlahan. "Lalu kami menemukan ini." Dia mengambil salah satu bingkai foto.

Di dalamnya terdapat foto Mauren seorang diri. Masih muda. Masih tersenyum. Masih terlihat begitu bahagia.

"Awalnya kami mengira hanya foto biasa. Tapi saat tim identifikasi memeriksa bingkai ini... Kami menemukan sesuatu."

Bagian belakang bingkai dibuka perlahan. Dari balik lapisan karton tipis, Penyidik Ardi mengeluarkan selembar kertas tua yang telah menguning.

Lipatannya masih utu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁴—Kejutan#3

    Begitu keluar dari toko perlengkapan bayi, Rachel masih beberapa kali menoleh ke belakang. Tatapannya seolah belum rela meninggalkan deretan pakaian mungil yang tadi sempat mereka lihat. Bagas yang berjalan di sampingnya tersenyum dan bertanya, "Kepikiran?" Rachel mengangguk kecil. "Iya." Bagas melirik sekilas ke arah Rachel. "Pengen beli?" Rachel langsung menggeleng cepat. "Enggak." "Kenapa?" Rachel mengusap pelan perutnya. "Masih lama, Mas. Baru empat bulan. Lagian... " Dia tersenyum malu. "...jenis kelaminnya aja belum pasti." Bagas mengangguk setuju."Iya juga." Mereka lantas kembali berjalan menyusuri lorong pusat perbelanjaan. Suasana sore itu mulai semakin ramai. Beberapa toko sudah menyalakan lampu-lampu etalase. Musik instrumental terdengar mengalun pelan dari pengeras suara. Rachel tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah toko aksesoris. "Mas." "Hm?" Lihat deh." Bagas menoleh. Di balik kaca etalase tampak deretan gantungan kunci berbentuk berbagai macam

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶³—Kejutan#2

    Mobil Bagas akhirnya berhenti di pelataran sebuah pusat perbelanjaan. Begitu mesin dimatikan, Rachel langsung menoleh heran."Mas...""Hm?""Kita gak salah belok?" Bagas membuka sabuk pengamannya.."Enggak. "Katanya mau makan.""Iya."Rachel kembali melihat bangunan besar di depannya. "Terus kenapa ke sini?"Bagas hanya tersenyum kecil. "Ikut aja. Ayo."Rachel mengembuskan napas pelan. "Bikin penasaran aja."Bagas terkekeh pelan. "Sabar. Sekali-kali boleh 'kan?"Rachel akhirnya mengangguk pasrah. "Yaudah."---Begitu memasuki pusat perbelanjaan, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut mereka.Suasana siang itu cukup ramai. Beberapa keluarga tampak berjalan santai. Anak-anak kecil berlarian sambil menggenggam balon. Sesekali terdengar suara tawa memenuhi lorong. Rachel tanpa sadar memperhatikan sepasang suami istri yang sedang mendorong stroller bayi. Dia ersenyum kecil lalu refleks mengusap perutnya.Bagas yang melihat itu ikut tersenyum. "Ada apa?" Rachel menggeleng.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶²—Kejutan#1

    Bagas masih menatap lembar hasil USG yang berada di tangannya. Sudah hampir lima menit sejak mereka keluar dari ruang praktik dr. Yoshi.Namun, tatapannya tak juga beralih dari foto hitam putih berukuran kecil itu.Sesekali dia tersenyum sendiri, lalu menggeleng pelan. Kemudian kembali melihatnya lagi.Rachel yang berjalan di sampingnya hanya bisa menahan tawa. "Mas ….""Hm?""Itu fotonya nanti juga dibawa pulang.""Iya.""Terus kenapa dilihatin terus?"Bagas tersenyum kecil. "Soalnya lucu."Rachel mengangkat sebelah alis. "Lucu?""Iya. Padahal masih kecil begini." Bagas menunjuk gambar di foto itu. "Ini hidungnya."Rachel langsung melongok. "Yang mana?""Nah... ini."Rachel menyipitkan mata. "Mas, itu kayaknya tangan."Bagas terdiam beberapa detik. "Hah?"Rachel tak lagi mampu menahan tawanya. "Kmu juga sebenernya gak tau, kan?"Bagas langsung ikut tertawa. "Sedikit.""Sedikit apanya?""Sedikit bingung."Rachel menggeleng geli. "Papa baru.""Iya." Bagas mengakui tanpa malu. "Belajar.

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶¹—Jenis Kelamin Anak Pertama~

    Mobil Bagas melaju membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi kendaraan. Sesekali Rachel menoleh ke luar jendela. Sudah cukup lama dia tidak benar-benar menikmati suasana kota.Selama beberapa bulan terakhir, hidupnya seolah berhenti. Kesedihan karena kehilangan Roy. Kasus hukum Maudy. Kehamilan yang datang di saat tak pernah diduga.Semua itu membuat dunianya hanya berkisar antara rumah, rumah sakit, dan kantor polisi.Hari ini... Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rachel merasa sedikit lebih ringan.Entah karena mualnya mulai berkurang. Atau... Karena sejak tadi Bagas tak berhenti membuatnya tersenyum."Mas." Rachel menoleh ke arah Bagas. "Hm?""Kamu beneran lupa jadwal kontrol?"Bagas menggaruk tengkuknya. "Iya."Rachel terkekeh. "Parah.""Sorry." "Kalau aku gak nelepon?"Bagas melirik sekilas ke arah Rachel, dan. menyahut, "Mungkin baru inget malam."Rachel tertawa sampai memegangi perutnya. "Untung anak kita belum bisa ngomong," celetuknya. "Loh?""Nanti dia nga

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁶⁰—Kontrol~

    Tiga hari telah berlalu sejak Bagas memenuhi panggilan penyidik. Selama tiga hari itu pula, dia berusaha menjalani rutinitas seperti biasa—mengurus beberapa pekerjaan yang sempat tertunda, dan menyempatkan diri ke kelab untuk berpamitan kepada Mami Kumala. Biar bagaimanapun perempuan itu sudah sangat baik padanya selama ini. Mami Kumala sudah sangat banyak membantunya. Beliau juga turut senang karena akhirnya Maudy mendapat ganjaran. Bagas juga sesekali menemui Marco untuk membahas perkembangan kasus Maudy.Namun, sesibuk apa pun dirinya, pikirannya tetap saja kembali pada surat milik Roy Darmawan yang kini tersimpan sebagai barang bukti di ruang penyimpanan Polres.Kalimat pembukanya terus terngiang di kepalanya. "Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayangi..."Bagas mengembuskan napas pelan. Dia menatap secangkir kopi yang sejak tadi mulai mendingin di atas meja. Semalam dia bahkan sulit memejamkan mata. Bukan karena memikirkan persidangan. Melainkan memikirkan bagaim

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁵⁹—Janji Bagas~

    Langkah Bagas terdengar pelan saat keluar dari ruang penyidik. Pintu kayu itu menutup di belakangnya dengan bunyi lirih. Namun, pikirannya masih tertinggal di dalam. Lebih tepatnya, pada selembar surat tua yang kini kembali disimpan dalam plastik barang bukti. —Untuk Rachel, putri kecil Papi yang paling Papi sayang— Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Entah sudah berapa kali. Bagas mengusap wajahnya kasar. Dia merasa napasnya mendadak lebih berat. Padahal, dia bukan orang yang dituju dalam surat itu. Bukan pula orang yang berhak membacanya. Akan tetapi hanya dengan membaca beberapa kalimat pembuka saja, dadanya sudah dipenuhi sesak yang sulit dijelaskan. Apalagi Rachel nanti. Bagaimana reaksi perempuan itu ketika mengetahui ayah yang begitu dicintainya ternyata menyimpan rahasia sebesar itu? Bagas mengembuskan napas panjang. Dia melangkah melewati lorong Polres yang mulai ramai oleh para penyidik dan masyarakat yang datang silih berganti. Beberapa wartawan ma

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁵—Iseng nawarin pulang~

    Gila! Katakan jika saat ini seorang Bagaskara sedang mengambil kesempatan. Oh … tidak! Bagas hanya mengikuti permintaan gadis ABG cantik ini. Kalo kata Bagas "Rejeki gak boleh ditolak." Anggap saja ini rejeki nomplok! Bagas tak hanya mengajari caranya ciuman yang benar. Dia juga sudah m

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab⁴—Dapet ciuman mendadak~

    Setelah dari hotel, Bagas langsung menuju ke kelab. Daripada suntuk di apartemen sendirian, lebih baik dia di sini. Lagi pula, Bagas tidak bisa libur walau sehari, karena mami Kumala—pemilik kelab yang merangkap sebagai germo itu sudah mewanti-wanti. Ya... Walaupun tubuhnya lelah lantaran dia suda

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab³—Tante Cindy~

    Sore itu pilihan Bagas jatuh pada kafe yang letaknya tidak terlalu jauh dengan gedung tempatnya tinggal. Perutnya sedari tadi sudah memberi sinyal, meminta diisi amunisi. Terakhir kali makan, waktu sarapan di hotel. Setelah itu Bagas tidak ada lagi memakan apa pun selain minum soda dan ngasap. Su

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab²—Informan~

    "Nikah sama Tante?" Bagas pura-pura bertanya polos, dan Maudy segera mengangguk cepat. Diusapnya bibir Maudy dengan ibu jari. "terus, suami Tante gimana?" tanyanya, seolah dia sedikit keberatan dengan status Maudy yang masih bersuami. "Kamu tenang aja, Lingga," ucap Maudy, mengecup bibir Bagas sek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status