Share

073 Ramalan

Author: AgamYupi02
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-21 13:06:09

Suara langkah kaki Andini telah sepenuhnya menghilang di ujung lorong. Retin masih terpaku di kursinya, matanya terpaku pada ambang pintu yang kosong.

Kelegaan di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh ketajaman yang menelisik. Atmosfer di dalam kamar perlahan mendingin.

Ada pola perilaku putrinya yang mengganggu pikirannya. Keterikatan emosional pada sebuah rahasia, keraguan untuk berbicara, dan kilat antusiasme yang berlebihan.

'Mungkinkah cairan spiritual ini berasal dari seorang pria?'

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Petani Terkuat   074 Majikan yang Tak Terukur

    "Bukankah ini cairan spiritual yang sama seperti kemarin?!"Suara Jeanne memecah keheningan sore, mengalahkan gemerisik dedaunan di sekitar sumur. Rosa dan Selia seketika menghentikan langkah mereka, otot tubuh ketiganya secara instingtif menegang selama sekian milidetik, sebuah kebiasaan lama yang tertanam kuat."Tidak, konsentrasi energi spiritual di dalam air itu jauh lebih rendah daripada yang ada di dalam botol kaca."Suara bariton yang tenang itu menyela. Bukan dari Selia, bukan pula dari Rosa.Tiga pasang mata langsung berbalik. Entah sejak kapan, Jaka telah berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Postur tubuhnya rileks, tanpa sedikit pun memancarkan niat atau suara langkah kaki yang bisa dideteksi oleh ketajaman insting pembunuh profesional yang mereka miliki.Jeanne menelan ludah, menatap ember kayu di depannya lalu menatap hamparan kebun yang luas. "Hmm? Jika air ini yang dipakai di sini... apa mungkin tanaman-tanaman itu—""Benar. Sayur dan buah itu disiram menggunakan

  • Petani Terkuat   073 Ramalan

    Suara langkah kaki Andini telah sepenuhnya menghilang di ujung lorong. Retin masih terpaku di kursinya, matanya terpaku pada ambang pintu yang kosong. Kelegaan di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh ketajaman yang menelisik. Atmosfer di dalam kamar perlahan mendingin.Ada pola perilaku putrinya yang mengganggu pikirannya. Keterikatan emosional pada sebuah rahasia, keraguan untuk berbicara, dan kilat antusiasme yang berlebihan.'Mungkinkah cairan spiritual ini berasal dari seorang pria?'Jari-jari Retin mengetuk pelan sandaran tangan kursi roda. Ketukannya berirama lambat, mengikuti alur logikanya yang terus berputar. 'Kalau benar begitu, aku harus ekstra hati-hati. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memanfaatkan kepolosan putriku hanya demi sebuah keuntungan atau hutang budi.'Dengan rahang mengeras, Retin meletakkan kedua telapak tangannya di sisi roda. Ia memusatkan beban tubuhnya pada kedua lengan, lalu perlahan mendorong tubuhnya ke atas. Sepasang kakinya yang selama ini

  • Petani Terkuat   072 Efek

    Tutup botol kaca itu terbuka dengan bunyi derik pelan yang memecah keheningan kamar. Tanpa menunda sedetik pun, Retin menengadahkan kepala, membiarkan tetes demi tetes cairan kental di dalamnya mengalir melewati kerongkongannya. Tidak ada rasa perih atau tajam yang menyengat. Sebaliknya, sensasi sejuk yang ganjil meluncur turun, sebelum tiba-tiba meledak menjadi gelombang kehangatan luar biasa di pusat perutnya.Suhu di sekitar kursi roda yang didudukinya seakan melonjak perlahan. Bersamaan dengan itu, pendar cahaya keemasan tipis merembes keluar dari pori-pori kulit pria paruh baya tersebut. Pendaran itu menerangi sudut-sudut redup ruangan, menelan bayangan gelap dan mengusir aroma tajam obat-obatan yang selama bertahun-tahun mengendap di udara. Di balik kemejanya, otot-otot yang menegang mulai mengendur. Rasa ngilu konstan yang biasanya menggerogoti tulang rusuk dan menekan paru-parunya kini memudar perlahan, digantikan oleh ritme pernapasan yang jauh lebih panjang dan ringan. S

  • Petani Terkuat   071 Sang Raja yang Bangkit

    Andini menarik napas dalam-dalam, menahan rongga dadanya sejenak, membiarkan udara dingin ruangan mengisi penuh paru-parunya sebelum ia menatap tepat ke manik mata ayahnya. Gestur tubuhnya berubah kaku, tegang, dan sangat defensif. "Ayah, dengarkan aku baik-baik," suaranya kini tidak lagi bergetar penuh keraguan, melainkan berganti dengan intonasi rendah yang sangat teguh. "Dan tolong, aku minta jangan pernah sela perkataanku sedikit pun sebelum aku benar-benar selesai menjelaskan semuanya."Melihat perubahan drastis pada postur putrinya, pria itu terdiam bungkam. Andini menunjukkan tingkat keseriusan mutlak yang sangat jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, ia perlihatkan secara langsung di depan ayahnya sendiri. Ini bukan lagi sekadar percakapan keluarga biasa, melainkan sebuah negosiasi tentang peluang hidup dan mati.Jakun pria paruh baya itu naik turun saat ia menelan ludah. "Glek! Oke," ucapnya, suaranya melunak tanda menyerah. "Akan aku dengarkan dengan baik."Andini tidak

  • Petani Terkuat   070 Di Balik Pintu

    Ratusan kilometer dari teriknya matahari ladang, Andini menyusuri koridor marmer hitam yang membentang panjang dan luas di dalam rumah utama keluarganya di Jakarta. Suara ketukan hak sepatu tingginya bergema konstan, memantul keras di dinding-dinding pualam tinggi yang dihiasi berbagai lukisan klasik bernilai fantastis. Udara dari sistem pendingin ruangan terasa menggigit permukaan kulit lengannya, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar perlahan di telapak tangannya yang berkeringat dingin. Jantungnya berdebar dengan ritme melompat-lompat yang tidak menentu. Setiap langkah yang ia ambil di lorong sepi ini terasa sangat berat, seolah gravitasi di bawah kakinya ditarik berkali-kali lipat lebih kuat oleh kecemasan.Langkahnya akhirnya berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati raksasa setinggi lima meter. Ukiran rumit meliuk di seluruh permukaannya, memancarkan aura otoritas absolut dari sosok yang berada di baliknya. Andini memejamkan mata sejenak. Ia menarik udara dalam

  • Petani Terkuat   069 Tetesan Harapan di Ufuk Timur

    Kabut tipis berwarna kelabu masih menggantung rendah, menyelimuti permukaan tanah merah ladang yang lembap. Udara pagi sedingin es menyusup tanpa ampun dari balik kerah kemeja lusuh Jaka, menembus langsung ke pori-porinya. Ujung sepatu botnya berderit tertahan setiap kali menginjak ranting kering, melangkah dengan penuh perhitungan untuk memecah keheningan fajar. Ia sangat berhati-hati agar tak ada satu pun anggota keluarganya yang terbangun oleh aktivitas rahasianya ini. Di telapak tangannya yang kapalan, sebuah wadah berlapis kaca tebal memancarkan pendar redup.Begitu tiba di tepi sumur tua berlumut, Jaka menghentikan langkah. Hembusan napasnya di udara dingin membentuk kepulan uap putih. Dengan gerakan sangat perlahan seolah memegang benda paling rapuh, ia memiringkan wadah tersebut di atas lubang sumur. Satu tetes cairan spiritual pekat keemasan meluncur turun. Tetesan itu membelah udara, lalu jatuh menghantam air di dasar sumur. Riak kecil menyebar seketika, memancarkan bias

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status