LOGINEthan Winchester, CEO Winchester Corporation, memiliki istri yang dikenal pendiam, patuh, dan penakut. Namun setelah kecelakaan yang membuatnya kehilangan ingatan, istri sang presdir berubah drastis. Kini, perempuan itu jadi berani, lantang … dan tidak lagi takut pada siapa pun, termasuk suaminya sendiri.
View MoreIris bertanya dengan tatapan matanya yang mengunci tatapan Declan. Declan menatap Iris lurus-lurus. Seolah jarak profesional di antara mereka sudah hangus terbakar. “Tidak.” Iris mengangguk kecil. Sudut bibirnya terangkat tipis, penuh kepuasan yang dingin. “Kalau begitu, aku juga.” Setelah itu, Iris kembali menunduk membaca dokumennya dengan tenang. Declan juga kembali merapikan berkas di samping meja dengan gerakan yang sama. Di dalam ruangan yang sepi itu, mereka tidak mengucapkan kata-kata manis yang lembut dan penuh rayuan. Apalagi sebuah pelukan atau ciuman yang panas. Tapi mereka berdua tahu, sesuatu yang gelap di antara mereka telah mengikat hidup satu sama lain. Dan mereka sangat sadar akan hal itu, terutama Iris. *** Seminggu setelah malam itu, hujan badai melanda Alden sejak sore. Listrik di gedung Winchester Corporation sempat berkedip dua kali sebelum akhirnya generator cadangan menyala, menyisakan lampu kuning yang remang di ruangan Iris. Iris sedang memotong beb
Iris berpikir sebentar. Memastikan sekali lagi bahwa hidupnya memang sedang diambil alih, tapi ia tidak merasa terganggu sama sekali.“Tidak. Lanjutkan saja.”Declan mengangguk. “Baiklah.”Iris sadar ia telah menyerahkan kendali hidupnya pada Declan. Dan ia jelas paham konsekuensi dari tindakannya itu.***Sore hari ketika menyusuri lorong kantor, Iris dihampiri oleh seorang direktur senior yang sudah lama menjadi rekan kerja Ethan.“Miss Winchester.”Iris menghentikan langkahnya. “Ya?”“Maaf mengganggu. Tadi pagi saya sempat bertemu beberapa kolega lama ayah Anda.”Iris menunggu. Sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. “Mereka kembali menanyakan Anda,” jelas pria paruh baya itu.“Untuk apa?” Iris pun sebenarnya sudah bosan dengan pertanyaannya ini.Pria itu tersenyum tipis. “Mereka masih berharap hubungan kedua keluarga bisa berlanjut. Katanya ... kalau suatu hari Anda berubah pikiran, mereka ingin menjadi orang pertama yang mengetahuinya.”Iris tidak menunjukkan rea
Iris terdiam sebentar. Ia mencari kata yang tepat. “Berdiri di depan orang lain.”Declan tidak langsung menjawab, lalu perlahan membuka mulut. “Kalau itu memang diperlukan.”“Karena itu tugasmu?” Kedua alis Iris sedikit terangkat.“Sebagian.” Singkat dan datar jawabannya.Kali ini Iris mengerutkan kening. “Lalu … sebagian yang lain?”Declan balas menatap Iris. Tidak lama, tapi tetap membuat Iris menunggu.“Karena saya tidak suka melihat orang terluka di depan saya.”Iris masih menatap wajah Declan. “Kau … seperti itu pada semua orang?” Ada nada penasaran yang samar.Suasana menjadi hening.“Tidak,” jawab Declan tenang.Iris mengangkat alis kembali. Ada sesuatu dalam hatinya yang terus mendorong untuk mendapatkan jawaban. “Lalu?”Declan menarik napas pendek. “Hanya pada seseorang yang menjadi tanggung jawab saya.”Iris tidak langsung merespons. Ia menatap mata Declan, mencoba mencari kebohongan, tapi sepertinya tidak ada. Akhirnya Iris mengangguk. “Kalau begitu ... jangan sampai kau m
“Kecepatan langkah Anda ternyata punya arti tertentu.”Iris mengernyit, namun tidak membalas ucapan Declan.Lift tertutup.Dan Iris menilai, suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibandingkan sejak pagi tadi.***Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran semi outdoor yang cukup teduh di sudut utara Alden.Udara siang terasa sejuk karena banyaknya pohon besar yang menaungi area makan terbuka itu.Begitu duduk, Iris langsung mengambil menu.“Aku pesan sup jamur dan pasta lemon.”Pelayan mengangguk lalu menoleh ke Declan.“Saya ikut yang paling cepat selesai saja.”Iris langsung mengangkat kepala dari menu. “Kau makan untuk hidup atau sedang dihukum?”Declan terlihat sedikit terdiam sebelum akhirnya menjawab, “Saya tidak terlalu memikirkan makanan.”“Itu menyedihkan.” Iris mengangkat alis. “Begitu ya, Miss?” Declan tampak berpikir.Iris menutup menu. “Makanan yang buruk bisa merusak suasana hati seharian.”“Dan makanan bagus?” tanya Declan, serius. Seakan sela
Setelah kepulangan rombongan Harrington termasuk Isla dan Kairos, mansion Ethan kini terasa sunyi.Ivy tidak ingin Ethan menemaninya terus di mana pun di sudut mansion ini. Ia meminta sang suami segera membereskan urusan Winchester Corporation yang rasanya sudah cukup lama dibiarkan ditangani oleh
Ivy masih terpaku, matanya mengerjap seolah sedang berusaha memproses suara yang baru saja masuk ke indra pendengarannya.Selama ini, Ethan telah memberikan segalanya. Pria itu memberikan perlindungan, kekayaan, pengabdian, bahkan mengorbankan apa pun demi dirinya. Tidak ada yang tidak Ethan berika
“Maafkan aku, menantuku. Semua yang telah terjadi adalah kesalahanku yang tidak bisa dimaafkan. Rasa bersalah ini akan kubawa sampai mati ...” lirihnya parau, menatap kosong ke batu nisan, “maafkan aku juga karena baru sekarang membiarkan nama keluarga kita tersemat di belakang namamu.”Ivy dan Is
Ketika Ivy membuka pintu, sosok sang ibu mertua tampak anggun dengan gaun sutranya, namun tatapannya tidak seangkuh dulu.Tubuhnya sedikit lebih kurus, tapi sorot tajam matanya dan ekspresinya masih sama—dingin sekaligus datar saat menatapnya.“Biarkan aku masuk,” pintanya pelan, tidak bernada mema












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore