LOGINWajah Arabella terlihat masih kelelahan saat ia baru saja masuk dalam rumah. Ia ingin cepat-cepat untuk membersihkan badannya dari sisa semalam. Saat ia menaiki tangga, tiba-tiba suara Kyle terdengar dari arah dapur.
“Darimana saja kamu?” Pria itu sudah berdiri berkacak pinggang di ruang tengah. Mendengar suaranya, Arabella langsung teringat kejadian semalam, dimana ia memergoki suaminya tengah berselingkuh dan itu membuat dadanya kembali sesak. Arabella berbalik malas, lalu menatap wajah Kyle yang terlihat tidak senang. “Bukan urusanmu,” jawabnya datar. Pria itu langsung berjalan mendekat dan berdiri di depannya. Ekspresinya terlihat menahan emosi, namun Arabella terlihat tidak peduli. “Apa kau ingin balas dendam padaku karena telah selingkuh di belakangmu? Asal kau tahu, aku tidak pernah mencintaimu dan…” Mendadak kalimat Kyle terpotong saat Arabella langsung menyelanya. “Iya, iya… pernikahan kita hanyalah sebuah bisnis. Kau mencintai wanita lain dan hanya menganggapku istri yang tidak berguna,” potong Arabella cepat. Mimik wajahnya sudah terlihat jengah. Mendengar jawaban istrinya, rahang Kyle mengeras. Ia mendecih kesal. “Ingat! Kau itu tidak punya kuasa apapun dalam pernikahan ini. Jadi jangan sekali coba-coba untuk melawanku dan jadilah istri yang penurut!” Kyle mencoba memberi intimidasi. Namun Arabella sudah muak. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan yang terus-terusan mencoreng janji suci mereka adalah Kyle, bukan dirinya. Sorot mata Arabella terlihat dingin. Dan itu membuat dada Kyle berdesir sejenak. Karena baru kali ini saat ia melayangkan ancaman pada istrinya malah dibalas dengan tatapan yang tak memperlihatkan ketakutan sama sekali. “Sudah bicaranya? Aku lelah, ingin istirahat. Bukankah kau harus segera ke kantor? Pergilah. Lakukan semua yang kamu mau. Sekarang aku sudah tidak peduli.” Arabella segera menaiki anak tangga menuju kamarnya. Kyle mengepalkan tangannya. Baru kali ini Arabella menunjukan sikap yang dingin. Biasanya wanita itu selalu menuruti setiap ucapannya bahkan langsung menangis setiap kali ia mengancamnya sedikit. “Arabella! Cepat kemari!” teriaknya keras. Namun sang istri tak mengindahkan perintahnya. Arabella terus naik menuju lantai dua dan terdengar suara pintu tertutup keras dari bawah. Sejenak Kyle langsung terdiam. Ia tertegun memikirkan bagaimana Arabella langsung berubah dalam waktu semalam? “Apa tadi malam aku benar-benar menyakiti hatinya?” gumamnya lirih. Di dalam kamar Arabella langsung duduk di lantai dan bersandar di pintu setelah sesaat mendengar teriakan Kyle. Dadanya kembali sesak mengingat kejadian semalam tentang perselingkuhan Kyle yang masih segar dalam ingatannya. Arabella perlahan memukuli dadanya yang makin sakit. Ia menahan suara isak tangis miliknya agar tidak terdengar siapapun. Namun satu atau dua isakan itu lolos karena dirinya tak mampu mengendalikan emosi lebih lama lagi. “Kenapa hidupku harus seperti ini?” suaranya parau di sela tangisannya. Dia sadar jika dirinya sangat mencintai Kyle. Pria yang sudah menjadi crush saat ia masih kecil. Sejak kecil wanita itu selalu bermimpi untuk menjadi istri seorang Kyle Adisurya dan mimpi itu terwujud juga. Namun dalam satu tahun pernikahannya dengan sang pujaan hati, sama sekali tak berjalan harmonis. Semuanya tak pernah Kyle hargai. Mendadak ada satu panggilan masuk di ponselnya. Arabella melihat nomor tak dikenal, namun ia segera mengangkatnya. “Halo… ini siapa?” ucapnya pelan sambil menghapus air mata. “Halo tuan putri. Padahal kita baru saja berpisah, tapi aku sudah mulai merindukanmu.” Suara itu tidak asing di telinga Arabella. Suara pria asing yang sudah merebut keperawanannya semalam. “Ren?” “Hahaha… ternyata kau langsung tahu ya.” Suara Ren terdengar santai dari seberang sana. Bahkan hanya dengan mendengar tawanya saja, Arabella langsung teringat bagaimana pria itu memeluknya semalaman. Entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Ada apa menelponku?” tanya Arabella pelan sambil berusaha menormalkan suaranya. Ren bersandar santai di balkon apartemennya sambil memainkan korek api di tangan. “Tidak boleh?” Arabella terdiam sesaat. Tidak pernah ada seseorang yang mencarinya hanya karena ingin mendengar suaranya. Kyle bahkan jarang meneleponnya kecuali ada urusan penting. “Aku hanya heran,” jawab Arabella jujur. Ren tersenyum kecil. “Kalau begitu mulai sekarang kau harus membiasakannya.” Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Arabella terasa hangat. Namun sedetik kemudian ia langsung mengingat status mereka. Ren hanyalah pria penghibur. Dan dirinya hanyalah pelanggan yang mabuk semalam. Arabella menunduk pelan. “Ren… tentang semalam…” Kalimatnya terhenti. “Aku tidak menyesalinya,” potong Ren tiba-tiba. Arabella membeku. Ren melanjutkan dengan suara rendah yang terdengar begitu serius. “Aku harap kau tidak menyesalinya.” Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan. Jika dipikir-pikir, ia seharusnya merasa bersalah. Namun anehnya saat bersama Ren semalam, untuk pertama kalinya ia merasa diinginkan. Merasa diperhatikan. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama menikah dengan Kyle. “Aku tidak tahu harus merasa bagaimana,” bisik Arabella jujur. Ren tersenyum tipis mendengar kejujuran itu. “Kalau begitu jangan dipikirkan dulu.” “Semudah itu?” “Hm.” Ren menatap langit siang di depan apartemennya. “Kadang manusia terlalu sibuk memikirkan benar atau salah sampai lupa caranya bahagia," lanjutnya. Arabella terdiam. Pria ini terdengar sangat santai, namun setiap kata-katanya selalu berhasil mengusik pikirannya. “Dan lagi…” suara Ren kembali terdengar menggoda. “Aku cukup yakin semalam kau menikmatinya.” Wajah Arabella langsung memanas. “Ren!” Tawa pria itu langsung pecah. “Nah, itu lebih baik. Setidaknya sekarang kau terdengar tidak sedang menangis.” Arabella baru sadar sedari tadi Ren terus mencoba mengalihkan suasana hatinya. Dadanya kembali terasa aneh. “Tuan putri.” “Hm?” “Apa suamimu ada di rumah?” Pertanyaan itu membuat Arabella refleks membuka pintu kamarnya sedikit. Ia teringat Kyle yang tadi berdiri dengan wajah penuh amarah di bawah. “Ada,” jawabnya pelan. Ren mendecih kecil. “Kalau begitu jangan menangis lagi karena pria tidak tahu diri itu.” Arabella menunduk sambil menggenggam ponselnya erat. “Aku tidak bisa semudah itu melupakan seseorang yang sudah aku cintai sejak kecil,” suara Arabella terdengar lirih. Untuk beberapa detik, Ren terdiam. Lalu ia terkekeh pelan. “Kalau begitu aku harus bekerja lebih keras.” Arabella mengernyit bingung. “Bekerja keras apa?” “Membuatmu melupakan dia.” Kemudian terdengar suara renyah dari ujung sana. Jantung Arabella kembali berdebar. Pria itu terlalu pandai bermain dengan kata-kata. “Ren…” Arabella menghela nafas kecil. “Kau selalu bicara seperti itu pada semua wanita ya?” “Tidak.” “Bohong.” “Hm… baiklah.” Ren tertawa kecil. “Mungkin aku memang sering menggoda wanita.” “Nah kan.” Mendadak Arabella manyun. “Tapi aku tidak pernah menelepon mereka setelah semalaman bersama.” Arabella langsung terdiam kembali. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Ren terdengar jujur. Dan itu justru membuatnya semakin bingung. Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari luar kamar. “Arabella! Buka pintunya!” Suara Kyle terdengar dingin dari balik pintu. Tubuh Arabella langsung menegang. Ren yang mendengar suara samar itu langsung menyipitkan matanya. “Itu suamimu?” Arabella tidak menjawab. Ketukan di pintu kembali terdengar lebih keras. “Aku tahu kau ada di dalam!” Nafas Arabella mulai memburu. Entah kenapa ia merasa takut jika Kyle mengetahui dirinya mengobrol dengan pria lain. Arabella memejamkan mata sesaat sambil mencoba mengatur nafasnya. Namun sebelum ia sempat berbicara lagi, suara Ren kembali terdengar rendah di telinganya. “Ara… kalau suatu hari nanti kau benar-benar lelah dengan pernikahanmu… datang padaku lagi,” bisiknya pelan. Kemudian panggilan mereka langsung terputus.“Sial! Apa yang baru saja aku katakan?!”Kyle termangu di ruang tengah. Sedangkan, di dalam kamar yang terkunci rapat, Arabella duduk di tepi ranjang dengan dada yang masih berguncang pelan. Usai menyapu sisa air matanya, ia meraih ponsel di atas meja dan mencari kontak pengacara kepercayaan keluarganya. Tanpa ragu sedikitpun, Arabella mendial nomor tersebut.“Halo, Pak Baskara,” sapa Arabella, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin meski sedikit serak.“Selamat siang, Nona Arabella. Ada yang bisa saya bantu?” sahut suara di ujung telepon dengan nada profesional dan hangat.“Soal dokumen gugatan perceraian yang saya minta kemarin… apakah sudah selesai dibuat?”“Sudah, Nona. Semua draf dokumen dan berkas pendukungnya sudah selesai disiapkan sejak kemarin sore. Tinggal menunggu tanda tangan dari Nona Arabella saja.”Arabella menghela nafas lega, seolah beban berat di pundaknya sedikit terangkat. “Terima kasih, Pak Baskara. Bisakah kita bertemu besok pagi di kantor B
“Siapa yang kau bilang pemilik kafe kecil ini? Kau disini cuma pemegang saham ya!” Suara seorang pria langsung membuat Ren berbalik.“Hahaha… Aku hanya bercanda. Lagipula, fakta aku pemilik sebagian kafe ini benar adanya kan.” Ren menepuk pria itu dan langsung mengambil apron karyawan dan memakainya.Pria yang pemilik kafe sebenarnya hanya bisa menggelengkan kepala.Di sisi lain, mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di depan pekarangan rumah mewah keluarga Adisurya. Belum sempat mesin mobil mati sepenuhnya, Arabella langsung membuka pintu belakang dan melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia ingin segera menjauh dari atmosfer mencekam yang menghimpit dada sejak di kafe tadi.“Arabella, tunggu!” pekik Kyle murka.Pria itu bergegas menyusul, menjejaki langkah kaki istrinya yang bergerak cepat menuju pintu utama. Begitu Arabella berhasil melangkah masuk ke dalam ruang tamu, Kyle langsung menyambar pergelangan tangan wanita itu dan membanting pintu utama dengan sangat kera
”Kyle? Kok bisa dia ada di sini? Apa... apa diam-diam dia mengikutiku sejak dari rumah tadi?”Arabella melangkah mendekat dengan cepat, memecah ketegangan yang menggantung di udara. Menerobos kerumunan kecil karyawan kafe yang masih memegangi Kyle, ia langsung berdiri di tengah-tengah mereka."Tolong lepaskan dia! Dia suamiku," tegas Arabella pada para karyawan.Para karyawan yang mendengarnya seketika membelalakkan mata kaget, lalu perlahan melepaskan cengkraman mereka dari tubuh Kyle. Sementara Kyle mendengus kesal dan segera merapikan jasnya yang kusut dengan nafas memburu. Matanya menyipit tajam, langsung mengunci pandangan pada istrinya, Arabella."Apa yang kau lakukan disini, Arabella?!" bentak Kyle, suaranya dipenuhi amarah yang tertahan. "Kau bilang ingin mengambil mobil di bengkel, heh? Tapi nyatanya kau malah berduaan dengan pria lain. Kau membohongiku hanya untuk menemui pria bajingan itu di lantai atas, kan?! Kau sudah berselingkuh dibelakangku!" Suara Kyle langsung
“Brengsek!”Setelah melihat Arabella dibawa masuk ke lantai atas oleh pria itu, semua ketenangan Kyle yang tersisa langsung hilang begitu saja. Nafasnya mendadak memburu, dipenuhi oleh emosi yang membakar seluruh nalar dan logikanya. Tanpa sepatah katapun, tangan Kyle langsung meraih tuas pintu mobil untuk bersiap turun."Pak Kyle, tunggu!" cegah sang supir dengan panik dari kursi kemudi. Ia reflek menoleh ke belakang, mencoba menahan Kyle agar tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa merusak reputasi besarnya. "Tolong tahan diri Anda, Pak. Ini tempat umum. Kalau Bapak langsung melabrak ke dalam, nama baik Anda bisa menjadi taruhannya. Biarkan saya saja yang maju, Pak!"Kyle menepis tangan supirnya dengan sekali hentakan kasar. Sorot matanya sangat mengerikan, dingin dan penuh dengan hasrat ingin membunuh."Jangan menghalangiku. Diam di sini!" desis Kyle dengan suara tertahan yang sarat akan ancaman.Brak!Kyle membanting pintu mobilnya dengan sangat keras. Langkah kakinya ya
“Ikuti dia dan jangan sampai ketahuan,” perintah Kyle.“Baik, pak.”Taksi online yang ditumpangi Arabella akhirnya menepi tepat di depan halaman cafe Nuansa Senja. Dengan langkah yang terburu-buru dan hati yang berdegup kencang, Arabella turun dari mobil, sesekali merapikan blus bagian lehernya untuk memastikan bekas luka semalam tidak terekspos.Ia melangkah masuk ke dalam kafe yang pagi itu masih tampak lengang. Matanya menyapu ruangan, hingga akhirnya menangkap sosok Ren yang duduk santai di area outdoor pojok, tempat yang sama seperti kemarin sore. Pria itu tampak menawan dengan kemeja kasual yang kancing atasnya sengaja dibuka, sedang menyesap cangkir kopinya sembari menatap kedatangan Arabella dengan senyuman miring yang begitu memikat.Sementara itu, beberapa meter di seberang jalan cafe, mobil hitam milik Kyle perlahan berhenti di bawah rindang pohon. Dari balik kaca mobil yang gelap, mata elang Kyle langsung mengunci pergerakan istrinya yang melangkah menghampiri meja Ren.
“Nggak usah, Kyle. Biar aku saja yang mengurusnya. Aku tahu kamu pasti sibuk. Jadi kamu tidak perlu repot-repot,” tolak Arabella cepat dengan nada sedatar mungkin.Kyle hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali menyunggingkan senyum miring yang penuh arti. “Begitu ya? Ya sudah kalau memang tidak mau diantar.”Begitu sarapan yang terasa mencekam itu selesai, Arabella langsung bergegas bangkit dari kursinya. Ia melangkah cepat menuju kamar di lantai dua dengan dalih untuk bersiap memeriksa keadaan mobilnya.Begitu pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, napas Arabella memburu hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang karena kepanikan.Tanpa membuang waktu, ia segera merogoh ponsel dari saku pakaiannya dan langsung mencari kontak Ren. Begitu nada sambung terhubung, Arabella menempelkan ponselnya ke telinga dengan tangan yang sedikit gemetar.Tut... Tut…“Halo, Kelinci Kecil. Ternyata kau sudah merindukanku lagi







