LOGINDi mata semua orang, Arabella Adisurya adalah wanita paling beruntung di Jakarta. Menikah dengan Kyle Leonard Adisurya, pengusaha muda kaya raya yang namanya memenuhi majalah bisnis membuat hidupnya terlihat sempurna. Rumah mewah. Mobil mahal. Perhiasan tanpa batas. Namun tidak ada yang tahu, di balik pintu mansion megah itu, Arabella hanyalah istri pajangan yang tidak pernah dicintai suaminya. Satu tahun pernikahan mereka berjalan dingin tanpa sentuhan. Kyle lebih memilih menghabiskan malam bersama sekretaris pribadinya dibanding pulang menemui istrinya sendiri. Hingga pada suatu malam, rasa sepi membawa Arabella bertemu dengan seorang pria bernama Ren Arka. Pria itu tampan, tenang, dan terlalu berbahaya untuk disentuh. Ren adalah pria penghibur kelas atas. Seorang gigolo yang terbiasa menjual perhatian, kehangatan, bahkan cinta palsu kepada wanita-wanita kesepian kalangan elite. Awalnya Arabella hanya ingin ditemani. Namun tatapan Ren yang lembut perlahan menghancurkan pertahanannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arabella merasa dianggap sebagai seorang wanita… bukan sekadar simbol status. Tanpa mereka sadari, hubungan terlarang itu berubah menjadi cinta yang nyata. Tetapi di dunia penuh uang, kekuasaan, dan pengkhianatan, cinta tidak pernah datang tanpa harga. Saat Kyle mulai curiga, rahasia demi rahasia terbongkar. Dan ketika Arabella mengetahui alasan sebenarnya Ren memilih kehidupan kelam itu, ia dipaksa untuk memilih Tetap menjadi istri terhormat yang hidup tanpa cinta atau mempertaruhkan segalanya demi pria yang bahkan tidak seharusnya ia cintai. “Dalam dunia yang membeli cinta dengan uang, siapa yang paling terluka saat perasaan itu menjadi nyata?”
View More“Aahhh… Pak Kyle, kamu sangat nakal.” Suara desahan seorang wanita membuat Arabella membeku di depan pintu ruang kerja Kyle, suaminya sendiri.
Pintu itu tak tertutup rapat, menyisakan celah sempit yang mampu membuat siapapun bisa mengintip ke dalam. Mata Arabella seketika membelalak, nafasnya tercekat ketika melihat suaminya tengah bercumbu dengan wanita lain. Dadanya berdesir, seolah jantungnya ingin meledak saat itu juga. Dengan amarah yang memuncak, dia langsung menendang pintu sekuat tenaga hingga membuat dua orang yang tengah memadu kasih terkejut dan saling melepaskan pelukan satu sama lain. “Kyle!” teriak Arabella keras. Kedua tangannya saling mengepal kencang. Satu tangan yang membawa box kue langsung melempar ke arah Kyle hingga kue di dalamnya pecah berhamburan keluar mengotori lantai. Kue yang dibelinya untuk memberikan kejutan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama, kini sudah tak berbentuk lagi. Tapi pria itu tidak terlihat panik ketika istrinya memergoki perselingkuhan mereka. Kyle justru terlihat kesal karena Arabella mengganggu. “Bukankah aku sudah bilang jangan datang ke kantor?!” Kyle membentak balik Arabella sambil merapikan ikat pinggangnya yang sudah terbuka. Sedangkan selingkuhan Kyle masih terdiam sambil merapikan bajunya seolah tak terjadi apa-apa. Hati Arabella makin sakit. Ia berjalan cepat dan langsung menampar wajah wanita yang berada di samping Kyle. Plak! Tamparan keras Arabella membuat wanita itu terdiam sesaat. Rasa panas di pipinya membuatnya meringis kesakitan. Kyle langsung mendorong Arabella hingga membuatnya hampir terjatuh. Ia langsung memeriksa kondisi kekasih gelapnya.. “Vanessa, kau tidak apa-apa?” Wajah panik Kyle menyeruak begitu saja sambil mengelus pipi Vanessa yang mulai kemerahan. Kyle berbalik, menatap tajam pada istrinya. “Apa yang kau lakukan?!” Kyle menghampiri Arabella dan balik menamparnya. Tamparan Kyle begitu panas, hingga air mata yang ditahannya sejak tadi langsung menetes begitu saja. Kyle hanya diam dengan ekspresi yang menyeramkan. Pria itu sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah maupun penyesalan karena telah menamparnya. Arabella menatap pria itu dengan mata bergetar. Pipinya masih terasa panas akibat tamparan yang baru saja mendarat beberapa detik lalu. Namun rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan nyeri di dadanya. “Kau bertanya apa yang aku lakukan?” suara Arabella pecah. “Aku memergoki suamiku berciuman dengan wanita lain di kantor, Kyle!” Vanessa masih berdiri di belakang Kyle sambil memegangi pipinya yang merah. Wanita itu terlihat seperti korban, padahal dialah perebut suami orang. “Pak Kyle… aku takut,” ucap Vanessa lirih sambil berpura-pura gemetar. Kyle langsung menarik Vanessa ke belakang tubuhnya seolah melindunginya dari Arabella. “Sudah cukup, Arabella.” “Cukup?” Arabella tertawa miris. Air matanya perlahan jatuh tanpa bisa ditahan. “Hari ini ulang tahun pernikahan kita yang pertama, Kyle. Aku datang membawa kue untuk merayakannya bersama kamu, tapi kau malah…” Arabella tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Tatapannya jatuh ke lantai. Melihat kue yang tadi ia bawa kini hancur berantakan. Krim putih bercampur buah stroberi mengotori lantai ruang kerja itu. Sama seperti pernikahannya yang kini terasa menjijikkan. Kyle mendecih pelan. “Jangan membuat keributan di kantorku.” Kyle langsung memotong ucapan Arabella. “Kantormu?” ulangnya lirih. “Tapi aku ini istrimu…” Kyle mengusap wajahnya kasar, seolah sudah lelah menghadapi semua ini. “Dengar baik-baik, Arabella.” Suara pria itu berubah dingin. Sangat dingin hingga membuat tubuh Arabella membeku di tempat. “Pernikahan kita sejak awal hanyalah pernikahan bisnis. Kau tahu itu.” Arabella menatapnya tak percaya. “Aku tahu kita dijodohkan…” suaranya bergetar. “Tapi aku pikir seiring waktu…” Lagi-lagi kalimatnya tak terselesaikan. “Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini.” Kalimat itu menghantam Arabella begitu telak. Kyle melanjutkan tanpa belas kasihan sedikit pun. “Ayahku memaksaku menikah denganmu demi kerja sama perusahaan keluarga kita. Kalau bukan karena itu, aku tidak akan pernah melirikmu!” Suara Kyle seperti pisau tajam yang menghujam jantungnya. Nafas Arabella tercekat. “Apa maksudmu?” Kyle menatapnya datar. “Tak ada satu haripun aku pernah mencintaimu.” Sunyi. Ruangan itu tiba-tiba terasa sesak. Arabella merasa seperti kehilangan pijakan. Tubuhnya limbung beberapa langkah ke belakang. Air matanya jatuh semakin deras. Selama setahun penuh ia berusaha menjadi istri sempurna. Bangun pagi untuk menyiapkan sarapan Kyle. Menunggu pria itu pulang meski larut malam. Menghafal kopi favoritnya. Menemani acara bisnis membosankan hanya agar Kyle tidak sendirian. Dan selama satu tahun pria itu tidak pernah mencintainya. Sama sekali tidak pernah. “Kalau begitu…” bibir Arabella bergetar hebat. “Kenapa kau menikahiku?” Kyle tersenyum tipis penuh ejekan. “Aku sudah menjawabnya. Karena bisnis.” Jawaban itu menghancurkan sisa pertahanan Arabella sepenuhnya. Vanessa yang berdiri di belakang Kyle bahkan terlihat menang. Tatapan wanita itu penuh sindiran seolah berkata bahwa Arabella hanyalah istri resmi yang menyedihkan. Arabella mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga kukunya menusuk telapaknya sendiri. “Aku membencimu…” lirihnya. Kyle tidak bereaksi. Pria itu bahkan terlihat tidak peduli. Dan itu jauh lebih menyakitkan. Dengan langkah gemetar, Arabella akhirnya berbalik pergi. Ia keluar dari ruang kerja itu tanpa menoleh lagi. “Arabella!” suara Kyle terdengar memanggil. Namun wanita itu tidak berhenti. “Aku bilang jangan membuat masalah di luar sana!” Arabella tertawa kecil di tengah tangisnya. Ternyata setelah menghancurkan hatinya, yang dipikirkan Kyle hanyalah reputasi. Malam itu hujan turun deras membasahi jalanan kota. Arabella duduk diam di dalam mobilnya dengan tatapan kosong. Tangannya masih gemetar di atas kemudi. Bayangan Kyle dan Vanessa terus terulang di kepalanya. “Aku tidak pernah mencintaimu.” Kalimat itu seperti kutukan yang terus menggema tanpa henti. Air matanya jatuh lagi. Dadanya terasa begitu sakit sampai sulit bernafas. Ia menyalakan mobil dan melaju tanpa arah. Hingga akhirnya lampu neon berwarna merah biru menarik perhatiannya. Sebuah diskotik mewah yang ramai dipenuhi orang. Musik menghentak terdengar bahkan dari luar bangunan. Arabella menatap tempat itu selama beberapa detik sebelum akhirnya keluar dari mobil. Mungkin, malam ini ia hanya ingin melupakan semuanya. Meski hanya sebentar. Suasana diskotik begitu bising dan penuh aroma alkohol. Lampu-lampu berputar menyilaukan mata. Arabella duduk di bar sendirian sambil menenggak gelas demi gelas alkohol. “Tambahkan lagi,” katanya pelan pada bartender. Ini pertama kalinya ia mabuk separah ini. Namun semakin banyak alkohol yang masuk, wajah Kyle justru semakin jelas di pikirannya. Arabella tertawa kecil sambil mengusap air mata yang kembali jatuh. “Bodoh…” gumamnya pada diri sendiri. “Aku benar-benar bodoh…” Di sela tangisannya seseorang datang menghampiri. “Kalau wanita secantik kamu menangis sendirian di tempat seperti ini… para pria bisa salah paham.” Suara rendah seorang pria tiba-tiba terdengar di sampingnya. Arabella menoleh perlahan. Dan untuk sesaat nafasnya tercekat. Pria itu sangat tampan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, matanya tajam namun malas, sementara senyum tipis di bibirnya terlihat begitu berbahaya. Ia mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang tegas. Pria itu duduk santai di samping Arabella sambil menatapnya lekat. “Boleh aku duduk di sini?” tanya pria itu. Arabella mengernyit samar karena efek alkohol. “Kamu siapa?” Pria itu tersenyum kecil. “Ren.” Ia mengambil gelas Arabella, lalu meminumnya sedikit tanpa izin. “Dan malam ini, aku rasa kamu membutuhkan seseorang untuk melupakan rasa sakitmu.” Ren tersenyum tipis seperti serigala siap memangsa. “Bisakah kau melakukannya?” tanya Arabella lemah. “Tentu…” Ren mendekatkan bibirnya ke telinga Arabella kemudian berbisik, “Aku bisa membuatmu melupakan semuanya dengan kenikmatan yang kuberikan padamu.”“Kau pernah bilang ingin tidur denganku kan? Ayo kita lakukan sekarang. Aku akan membuatmu melupakan segalanya, termasuk pria busuk itu.”Sebelum Arabella sempat membalas dengan satu kata pun untuk protes, Kyle sudah lebih dulu menyergapnya. Kali ini, ciumannya tidak sekasar tadi. Ada kelembutan yang menuntut dan rasa frustasi di sana, seolah Kyle sedang berusaha keras menghapus jejak pria lain yang mungkin tertinggal di tubuh istrinya."Kyle... mmhhh…lepaskan..." Arabella melenguh lirih, mencoba mendorong dada bidang Kyle saat ciuman itu turun ke lehernya.Namun, sentuhan Kyle di pinggangnya justru semakin mengunci pergerakannya. Arabella masih meronta, berharap bisa melepaskan diri.“Jika kau menjadi gadis yang baik untuk sekarang, mungkin aku bisa menjadi suami yang lebih memperhatikanmu, Ara…” Kyle kembali menciumi garis rahang Arabella hingga ke telinga.Mendengar kalimat itu, bukannya luluh, Arabella justru merasa harga dirinya diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Ia merasa Ky
“Kita sudah sampai,” ucap Kyle lembut, memecah keheningan sembari menoleh pada Arabella.Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit yang diiringi keheningan mencekam, Kyle akhirnya membelokkan mobilnya memasuki gerbang sebuah rumah mewah bergaya modern klasik.Rumah yang seharusnya menjadi tempat yang hangat bagi sepasang suami istri, namun bagi Arabella, tempat ini tidak lebih dari sekedar penjara yang sunyi. Kyle mematikan mesin mobil. Di luar, langit pagi mulai bergradasi dari biru gelap menjadi jingga yang samar.Arabella tidak merespons ucapan Kyle. Ia langsung melepas sabuk pengamannya dengan gerakan cepat, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar tanpa menunggu suaminya. Tubuhnya yang terasa pegal akibat luapan gairah semalam bersama Ren kian terasa berat karena beban pikiran yang terus menumpuk.“Kau masih tidak ingin bicara padaku?” Kyle berdiri disamping mobil menatap Arabella yang masuk lebih dulu.Begitu pintu utama rumah terbuka, Arabella segera melangkah l
“Laki-laki bajingan? Bukankah dirimu yang bajingan? Sudah punya istri, tapi masih berselingkuh dengan wanita murahan yang levelnya saja jauh dibawah Arabella.” Ren tersenyum sinis menatap kedua orang di depannya. Sedangkan tangannya masih mencengkram erat pinggang Arabella seolah tak ingin melepaskannya.Arabella langsung menatap Ren. Dirinya tak menyangka jika lelaki yang tengah memeluknya bisa mengeluarkan kata-kata setajam ini.“Lepaskan tanganmu dari pinggang istriku,” ancam Kyle. Suaranya pelan, namun penuh penekanan.Melihat reaksi Kyle yang mulai terpancing, Ren tersenyum makin lebar. Dia sangat menikmati momen seperti ini, dimana suami dari clientnya merasa cemburu oleh kedekatan mereka.Ren memang sudah terbiasa dengan situasi semacam ini. Karena dia sudah sering beradu argumen dengan para lelaki yang mana wanita mereka memakai jasanya. Kali ini pun sama, Ren terlihat lebih santai.“Melepaskan pinggang wanita secantik ini? Bukankah itu sebuah kerugian? Lagipula wanita cantik
“Sial, aku melakukannya lagi.” Arabella menghela nafas saat melihat tubuhnya hanya ditutupi selimut bersama Ren yang masih tertidur pulas di sampingnya.Ia perlahan mengangkat tangan Ren yang tergeletak di atas tubuhnya. Wajah pulas Ren terlihat sangat tenang. Pria itu sepertinya kelelahan setelah permainan panas mereka.Arabella tersenyum tipis. Dengan hati-hati, dirinya beranjak dari ranjang ukuran king size itu dan memunguti bajunya yang di lantai. Jam menunjukkan pukul empat pagi. Sekarang ia harus pulang.Setelah selesai memakai bajunya lagi, Arabella menulis sebuah surat yang ditujukan pada Ren yang ia letakkan di atas bantal. Akhirnya ia pergi meninggalkan pria itu sendirian.“Ugh… pinggangku rasanya mau patah. Semalam Ren benar-benar berubah menjadi serigala,” gerutunya di dalam lift sambil memijat-mijat pinggangnya pelan.Pintu lift terbuka. Arabella langsung keluar untuk segera pulang. Ia tak mau melihat wajah suaminya saat ia di rumah nanti, karena seharian ini dia berencan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews