Mag-log inSeharian ini Wang Yichen tidak tenang. Dia bolak-balik melihat ke luar jendela kamarnya yang tidak jauh dari paviliun neneknya. Langkahnya mondar-mandir di atas lantai kayu, menciptakan suara berdecit yang mengganggu ketenangan ruangan."Kak, kau kenapa?" tanya Liu Meiling dari kursi di sudut ruangan, matanya mengamati tunangannya dengan cermat.Wang Yichen berhenti sejenak, lalu kembali melangkah. "Tidak. Aku tidak kenapa-napa."Liu Meiling mengerutkan kening. Dia bangkit dan berjalan mendekat. "Kak, kau yakin tidak kenapa-napa? Kau terlihat gelisah. Dari tadi pagi kau bolak-balik melihat ke luar jendela seperti sedang menunggu sesuatu."Wang Yichen menghela napas. Di satu sisi, ada keyakinan keras dalam dirinya bahwa Ning Yuan pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar hari ini untuk membatalkan prosesi pengangkatannya sebagai anak keluarga Wang. Itu pasti! "Tidak mungkin gadis keras kepala itu tiba-tiba menyerah begitu saja. Pasti ada akal-akalan di balik semua ini." Batin Wang Y
Sesampainya di paviliun Nyonya Tua Wang, Ning Yuan langsung disambut oleh suasana yang hangat. Nyonya Tua sedang duduk di kursi goyangnya, menikmati teh sambil mengipasi dirinya dengan kipas sutra."Nenek," sapa Nyonya Wang dengan hormat. "Hari ini aku membawa Yuan untuk menyampaikan sesuatu."Nyonya Tua Wang mengangkat alisnya. Matanya yang keriput menatap Ning Yuan. "Ada apa, Yuan? Kau jarang datang ke paviliunku."Ning Yuan membungkuk sopan. "Nenek, aku ingin meminta izin..."Dengan hati-hati, Ning Yuan menyampaikan niatnya. Dia menjelaskan keinginannya untuk menetap di kota ini, membuka toko, dan menjadi anak angkat keluarga Wang.Nyonya Tua Wang mendengarkan dengan saksama. Setelah Ning Yuan selesai bicara, wanita tua itu terdiam beberapa saat. Lalu, perlahan, senyum mengembang di wajahnya yang keriput."Aku setuju," kata Nyonya Tua dengan suara mantap.Ning Yuan terkejut. "Nenek—""Tidak hanya setuju," potong Nyonya Tua, matanya berkilat. "Aku bahkan ingin mencatat namamu dalam
Ning Yuan menarik napas dalam-dalam di depan pintu kamar Nyonya Wang. Keputusannya sudah bulat. Dia mengetuk pintu dengan mantap."Masuk," suara Nyonya Wang terdengar dari dalam.Ning Yuan membuka pintu dan melangkah masuk. Nyonya Wang sedang duduk di depan meja rias, merapikan sanggulnya. Begitu melihat Ning Yuan, wajahnya langsung berseri."Yuan! Kau datang. Ada apa, sayang?" sapa Nyonya Wang dengan nada lembut.Ning Yuan menunduk sopan. "Bibi, aku ingin bicara sesuatu yang penting.""Tentu, duduklah." Nyonya Wang menepuk kursi di sampingnya.Ning Yuan duduk, tangannya menggenggam erat ujung kain bajunya. "Bibi, aku sudah berpikir dengan matang... Aku memutuskan untuk menetap di kota ini."Nyonya Wang mengerjap, lalu tersenyum. "Benarkah? Itu kabar baik, Yuan! Aku sangat senang mendengarnya.""Ya, Bibi." Ning Yuan mengangguk. "Aku sudah survey beberapa lokasi dan sepertinya prospek di sini bagus. Aku berencana membuka beberapa toko di kota ini." Dia berhenti sejenak, menelan ludah.
Ning Yuan merasakan ada yang berbeda dari cara Wang Yichen bertanya kali ini. Biasanya, jika bertemu dengannya, nada suara Wang Yichen selalu penuh tuduhan—seperti "Kau mengikuti kami, ya?" atau "Apa kau sengaja mencari perhatianku lagi?" Tapi kali ini berbeda. Nada suaranya lebih rendah, lebih serius. Matanya tidak melotot dengan kebencian, tapi justru menyipit curiga."Ada apa dengan pria ini?" batin Ning Yuan, sedikit terkejut."Biasanya dia akan langsung menuduhku menguntitnya?"Ning Yuan," panggil Wang Yichen lagi, melangkah mendekat. "Apa yang kau lakukan di sini?"Ning Yuan segera memasang ekspresi datar. Bukan urusanmu. Dan yang pasti aku di sini bukan karena aku bisa meramal kalian akan lewat di sini." Sarkasme meluncur dari bibirnya dengan mudah. "Dunia tidak berputar di sekitar kalian berdua, kau tahu?"Liu Meiling mendengus kecil, tapi Ning Yuan bisa melihat ada kilatan kegusaran di matanya. Namun anehnya, gadis itu tidak langsung melancarkan serangan verbal seperti biasany
Sudah dua hari.Ning Yuan berdiri di bawah pohon willow di seberang penginapan, jari-jarinya tanpa sadar memilin ujung kain lengan bajunya. Dua hari sejak malam itu. Dua hari sejak sentuhan hangat yang membuat jantungnya berdesir tak terkendali."Aku tidak mengerti," gumamnya pelan, matanya menatap pintu penginapan yang tertutup rapat. "Saat aku ingin berjumpa dengannya, dia menolak. Tapi dua hari yang lalu dia muncul begitu saja dan membantuku."Qinlan yang berdiri di sampingnya mendengus. "Nona, sudah dua hari kita di sini. Dua hari! Dan pengawal itu selalu bilang tuan mudanya tidak bisa diganggu." Gadis pelayan itu melipat tangannya di dada. "Mungkin pria itu memang tidak ingin bertemu dengan Nona. Sudahlah, kita pulang.""Tidak." Ning Yuan menggeleng tegas. "Aku akan menunggunya, aku yakin dia pasti akan keluar." Di dalam hati, Ning Yuan tahu jika apa yang Qinlan katakan benar. Dua hari ini entah sudah berapa kali dia meminta agar bisa bertemu dengan pria bernama Lou Yu itu. Tapi
"CEPAT SUJUD DAN MINTA MAAF!" teriak Wang Yichen lagi, suaranya semakin keras dan penuh amarah. Matanya melotot ke arah Ning Yuan, tidak peduli dengan kehadiran pria bertopeng diantara mereka. "KAU! CEPAT PAKSA DIA!" perintahnya pada pengawal.Pengawal itu melangkah maju, tangannya terulur hendak menarik Ning Yuan. Namun sebelum jari-jari kasar itu menyentuh pakaian Ning Yuan, sebuah kipas bambu berwarna hitam pekat tiba-tiba menghantam pergelangan tangan pengawal dengan gerakan cepat dan presisi."KRAK!" suara benturan kering terdengar. Pengawal itu meringis kesakitan, menarik tangannya dengan cepat sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah."Kenapa dia harus sujud dan minta maaf?" suara pria bertopeng itu terdengar tenang, tapi ada nada dingin yang menusuk di balik kata-katanya. "Memangnya dosa besar apa yang telah dia perbuat?"Qinlan, yang dari tadi hanya bisa menahan napas karena takut, tiba-tiba mendapat keberanian. Dengan langkah mantap, gadis pelayan itu maju ke depa







