Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 305: Malam Darah di Ruko Ujung Jalan

Share

Bab 305: Malam Darah di Ruko Ujung Jalan

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-08-03 02:49:27

​Kejayaan pusat oleh-oleh "Lopis Sakti Nusantara" yang mulai berdiri megah ternyata tidak hanya mendatangkan kekaguman, tetapi juga menyulut kembali bara dendam kesumat dari masa lalu. Kelompok preman sisa-sisa sindikat Badri yang belum sepenuhnya tumpas tidak terima melihat kekaisaran bisnis Bono berkembang pesat di luar kendali mereka.

​Malam itu, ketika kabut tebal turun menyelimuti desa dan suasana di sekitar ruko kelontong Madun mulai sunyi, gerombolan orang tak dikenal berjumlah belasan o
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 307: Kejutan di Balik Tumpukan Dokumen Lama

    ​Beberapa minggu setelah insiden berdarah yang membersihkan desa dari teror sindikat Badri, kehidupan di sekitar ruko kelontong Madun kembali berjalan normal, bahkan jauh lebih tenang dan makmur. Kedai "Lopis Sakti" milik Bono kebanjiran pesanan setiap hari, menjadikannya salah satu sentra kuliner paling populer di wilayah kecamatan.​Pagi itu, matahari bersinar cerah menghangatkan teras ruko. Sarah berdiri anggun di ambang pintu, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena udara pagi yang menyegarkan. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, sedang merapikan beberapa berkas administrasi lama di atas meja kayu.​Di tengah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 306: Gempar di Ujung Desa

    ​Fajar keesokan harinya merekah membawa teror yang jauh lebih mengerikan daripada malam sebelumnya. Ketika warga desa mulai beraktivitas dan melewati pelataran ruko kelontong Madun, pemandangan mengerikan langsung menghentikan langkah mereka. Berita itu menyebar bagai kobaran api di tengah ilalang kering, membuat seluruh penjuru desa gempar seketika.​Puluhan warga berkerumun di balik garis pembatas darurat yang dibuat oleh aparat kepolisian sektor setempat. Bisikan-bisikan tegang, jeritan kaget, serta rasa ngeri mendominasi udara pagi. Garis polisi membentang di depan ruko Madun dan Kedai "Lopis Sakti" yang kini tampak lengang dan menyeramkan.​Sarah berdiri di dalam ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa trauma mendalam. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di tengah ruangan yang masih menyisakan bau amis darah segar.​Madun berdi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 305: Malam Darah di Ruko Ujung Jalan

    ​Kejayaan pusat oleh-oleh "Lopis Sakti Nusantara" yang mulai berdiri megah ternyata tidak hanya mendatangkan kekaguman, tetapi juga menyulut kembali bara dendam kesumat dari masa lalu. Kelompok preman sisa-sisa sindikat Badri yang belum sepenuhnya tumpas tidak terima melihat kekaisaran bisnis Bono berkembang pesat di luar kendali mereka.​Malam itu, ketika kabut tebal turun menyelimuti desa dan suasana di sekitar ruko kelontong Madun mulai sunyi, gerombolan orang tak dikenal berjumlah belasan orang bersenjata tajam menyelinap masuk secara brutal. Mereka dipimpin oleh seorang eksekutor kejam bertato naga, kaki tangan utama Badri yang baru keluar dari penjara.​Sarah berdiri di ruang tengah ruko saat suara kaca jendela pecah berhamburan. Mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang naik-turun karena hantaman adrenalin mendadak, ia terpaku ngeri. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya saat ia be

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 304: Ekspansi Kerajaan Lopis

    ​Matahari pagi baru saja sepenuhnya naik, menghangatkan pelataran ruko kelontong Madun dan Kedai "Lopis Sakti" yang kini sudah menjadi ikon kebanggaan warga desa. Suasana damai dan makmur itu membuat siapa pun yang singgah merasakan ketenangan.​Sarah berdiri anggun di teras ruko sambil memegang secangkir teh hangat, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari yang cerah.​Madun berdiri tegar menjulang di samping istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak berwibawa, menatap ke arah Bono dan Rini yang tengah berdiskusi serius di depan meja kedai.​Bono, yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi pengusaha jajanan tradisional yang sukses, melangkah

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 303: Pesta Kemenangan di Pelataran Ruko

    ​Musnahnya ancaman dari sindikat Badri malam itu langsung mengubah suasana desa menjadi lautan suka cita. Pelataran ruko kelontong Madun yang tadinya tegang kini mendadak disulap menjadi arena perayaan dadakan yang meriah, dipenuhi sorak-sorai gembira dan gelak tawa warga yang merasa bebas dari rasa takut.​Sarah berdiri anggun di tengah kerumunan, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena napas kelegaan yang membuncah. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot lampu gantung ruko yang bersinar terang.​Madun berdiri tegar menjulang di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tersenyum hangat, menikmati kedamaian yang berhasil ia pulihkan bersama sahabat setianya.​Bono dan Rini berjalan keliling membagikan porsi ekstra

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 302: Membongkar Sindikat Badri: Akhir dari Teror Gula Aren

    ​Kejadian penyerangan pagi itu oleh preman bayaran suruhan Badri meninggalkan bekas amarah yang mendalam di hati warga desa, terutama bagi Bono dan Rini. Meskipun gerombolan preman tersebut berhasil dihancurkan dalam hitungan menit berkat ketangguhan Madun dan keberanian Bono, ancaman nyata dari Badri selaku pengusaha pesaing yang bangkrut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Badri dikenal sebagai pengusaha licik yang kerap menghalalkan segala cara untuk memonopoli pasar jajanan tradisional di wilayah kecamatan. Jika dibiarkan bebas, keselamatan Kedai "Lopis Sakti" dan kedamaian desa akan terus berada di ujung tanduk.​Siang hari menjelang, suasana di pelataran ruko kelontong Madun tampak serius. Sarah berdiri anggun di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena ketegangan yang masih tersisa. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status