LOGINMathius banyak sekali mendapatkan informasi setelah kembali berkunjung dari kediaman kerabatnya. Dan semua kabar itu, membuatnya murung. Duke sudah berjanji akan memperlakukan Tesa dengan pantas. namun kejadian penembakan di halaman telah menggores kepercayaan Mathius.
"Di mana Duke sekarang?" tanya Mathius tanpa repot menyembunyikan nada sinis dalam suaranya.Pelayan meringis. "Beliau sedang pergi untuk memeriksa pabrik mekanik milik keluarga Veldam di kota, Tuan."Tesa duduk di perpustakaan bersemangat untuk membaca balasan surat yang dikirimkan Elias, sampai membuat Duke menggeleng kecil. "Dia membalas suratku hanya dengan selembar tulisan ringkas. Tapi denganmu dia bisa mengirim berlembar-lembar kertas. Apa saja sebenarnya yang kalian bicarakan?" Tesa menyunggingkan senyum lebar kemudian mengedipkan mata. "Rahasia." Ia menceritakan pada Elias bahwa dirinya sedang mengandung anak kedua. Sementara Elias membalas bahwa dia sudah menikah dengan seorang wanita pilihannya yang bernama Angela. Elias menceritakan wanita itu sebagai seorang malaikat berhati lembut. Mereka bertemu saat Elias bekerja di bagian administrasi tambang dan Angela adalah seorang pengacara. Bagaimana kisah romantis hubungan mereka menjadi dongeng bagi Tesa setiap kali surat itu dikirimkan. "Aku akan ke Breda," tulis Elias kali ini di dalam suratnya. "Dan aku sudah tidak
Gabriel tahu istrinya mengandung.Dua bulan berlalu sejak kematian Lady Jasmine. Saat itu musim gugur mulai datang, pohon-pohon mulai menguning. Kemudian berguguran, membuat kastil Veldam tampak seperti lukisan.Gabriel sudah mengurung diri selama berhari-hari di ruang kantornya mengurus bisnis perkereta apian dan perkapalan miliknya bersama Chole ketika tiba-tiba Ragnar masuk kemudian memberikan pengumuman."Duchess sedang mengandung, Duke."Pena modern yang sudah dilapisi dengan tinta di dalamnya yang sedang Gabriel genggam mendadak berhenti. Ia mengangkat kepala dari dokumen di atas meja dan mengerutkan alis.Ragnar melanjutkan. "Pagi ini Duchess memilih sarapan di kamar karena mengeluh kepalanya sakit. Dia hampir tidak bepergian beberapa hari terakhir karena sibuk mengajarkan Garret membaca serta menolak semua jadwal minum teh perkumpulan para ibu bangsawan. Itu menimbulkan gosip yang panas. Mereka menyebut Duchess sangat angkuh, jadi
"Aku rindu dengan Helena."Suara calon Duke membuat tidur Tesa di kereta kuda agak terganggu. Tetapi ia tetap menggeliat, kemudian membuka mata. Melihat kedua pria yang ia cinta sedang mengobrol dengan serius."Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya. Aku ingin bermain dan memanjat pohon bersamanya."Gabriel menahan diri untuk tidak segera merangkul anak itu dan mencubiti pipinya gemas. Sejak dalam perjalanan. Garret tidak pernah berhenti makan, mulutnya selalu mengunyah apa saja. Tesa benar kalau putranya ini memang menyukai semua jenis makanan."Menurutku, setelah ini mungkin kita bisa melakukan perjalanan ke Loma.""Tidak."Tesa mendelik dengan jawaban cepat Gabriel bahkan tanpa berpikir. Tesa tahu suaminya enggan ke Loma karena tidak ingin bertemu Mathius.Gabriel meringis kemudian mengulangi dengan lebih santai. "Kenapa tidak kau kirimkan saja surat untuk Helena?""Aku belum lancar menulis.
"Ikutlah dengan kami," pinta Tesa saat seluruh peti-peti mereka dikumpulkan.Tesa tidak pernah terlibat langsung dengan masalah 'Tupai' yang menjadi urusan suaminya dan Romeo. Ia hanya mendengar kabar terbaru secara berkala tentang situasi pria itu dan apa yang telah mereka lakukan padanya.Bagi Tesa keputusan Duke pastilah tepat dan bijaksana. Oleh sebab itu ia hanya menghormati dan mendukungnya. Lagipula ancaman nyawa bukanlah sesuatu yang sepele terlebih bila itu menyangkut putra mereka, Garret.Namun hal ini berbeda dengan Diana, meski pipinya mulai memunculkan rona, dan matanya sudah kembali cerah setelah tiga hari berlalu sejak kematian Lady Jasmine, tapi tidak bisa dipungkiri kepergian mereka membuat Diana lesu. Tesa sudah merasa terbiasa dengannya, dan pengalaman seminggu lebih di mansion membentuk persahabatan yang tidak mungkin bisa diabaikan."Aku membutuhkan pelayan pribadi tambahan untuk membantu Rose. Kau orang yang rapi dan cekatan,
Kematian Lady Jasmine yang mendadak ternyata membawa duka bukan hanya pada Diana tapi masyarakat di Hila.Mereka sempat mendengar tentang berita penembakan tetapi tidak berani mendekat karena ada Duke. Saat pengumuman Lady Jasmine meninggal disampaikan. Berbondong-bondong orang datang untuk melayat. Namun yang Tesa sadari adalah cerita mereka tentang sang Lady selalu sama."Lady Jasmine adalah orang yang perhatian." Selama menjadi tahanan rumah, beliau banyak membantu para janda, manula dan anak-anak untuk berkegiatan membaca dan menulis. "My Lady terima kasih atas jasamu.""My Lady pergilah dalam damai.""Aku akan merindukanmu My Lady.""Kami akan menjaga buku-buku yang kau berikan dan akan terus belajar membaca dan menulis. Terima kasih karena sudah bersama kami My Lady."Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mereka ucapkan saat melayat. Hal itu membuat tangisan Diana sulit berhenti. Di antara semua orang, dialah
"Aku bermimpi Lord Veldam." Lady Jasmine suaranya sangat lemah. Tiga hari telah berlalu sejak penembakan. Tesa mengetahui dari suaminya bahwa si penembak sudah tertangkap. Dan pria itu berasal dari ibu kota Kirk yang sengaja dikirim untuk membunuh keturunan mantan komandan. Saat ini Lady Jasmine masih kesulitan, ia tertidur dengan posisi tengkurap dengan kain yang melintang di punggungnya. Tesa duduk di pinggir ranjang, mendengarkan dia bicara. "Kurasa dia sangat dendam padaku, bertahun-tahun aku selingkuh. Dia tidak pernah tahu apapun, katakanlah bahwa aku sangat pintar atau justru dia sebenarnya tidak peduli padaku." Tesa diam menyimak. "Tapi Veldam adalah pria yang baik, meski sepanjang hidupnya dia sibuk bekerja, dia tidak pernah luput dari tugasnya sebagai seorang suami. Pria sepertinya tidak akan kutemukan lagi sekalipun aku sangat cantik." Ia terbatuk kecil, lamanya tidur dengan posisi seperti itu membuat pernafasan Lady Jasmine sedikit terganggu. Beliau menarik nafas
Gabriel tidak bisa menahan diri.Rencana pernikahan mereka bergeser, entah apa yang ada di pikirannya. Tiba-tiba saat sedang menikmati dinner di salah satu restoran kalangan kelas atas. Gabriel meminta mereka untuk secepatnya menikah di Kirk."Perjalanan ke Breda sangat jauh, it
"Kau tahu siapa yang sedang kau sentuh?" tanya Duke kasar.Serta merta Tesa berjengit kemudian melepaskan diri. "Duke ini..."Gabriel segera mengangkat tangan, tidak ingin mendengar apapun dari Tesa. "Aku sedang bicara pada Elias."Sinting.Duke berjalan mendek
Elias menjejakkan kakinya di atas karpet, pakaiannya telah tersingkap hanya dilapisi jubah tidur, kemudian dia bangkit perlahan. Di luar lonceng jam berbunyi yang berarti menunjukkan waktu tengah malam. Namun ia sama sekali tidak mampu terlelap. Bayangan Tesa–Tesanya yang manis men
Tesa masih terjaga saat merasakan embusan napas Duke yang teratur, sementara lengan pria itu merangkul pinggangnya dengan ringan. Wanita itu beringsut sedikit, berhati-hati agar tidak membangunkan Duke. Lalu perlahan memijakkan kakinya di atas karpet bludru. Tesa kemudia







