MasukAdeline, wanita cantik mungil hidup dalam kehidupan yang hampir sempurna. Namun, dibalik kesempurnaan yang tampak luar dengan status sosial yang tinggi itu rupanya menyimpan kisah kelam yang membuat jalan hidupnya seolah berada dalam bara api. Dalam keputusasaan, ia terjebak dalam pernikahan dengan pria yang menjadi bayang-bayang kegelapan. Rivanno Ganendra, pria dingin dengan identitas rahasia di balik tatapan matanya yang gelap, demi menyelamatkan rahasia keluarga yang bisa menghancurkan segalanya. Apa jadinya jika pernikahan tanpa cinta ini harus Adeline lalui? Akankah cinta datang di tengah kegelapan, atau hanya akan membawa kehancuran?
Lihat lebih banyakRivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d
Rivanno menyeringai. Sementara Adeline diam dengan bibir mengatup rapat."Dia pasti senang karena Nenek lebih membelanya dibanding aku. Oke, sekarang boleh senyum senang, tapi nanti ... kamu akan melihat sendiri, nenek yang tidak akan mendukungmu lagi!" batin Adeline.Rivanno dengan mata menyipit pun sama, hatinya tengah berbicara. "Cihh! Anak itu!" "Kenapa diam? Nenek sedang berbicara denganmu. Mana sopan santun pada suamimu, Nak?!" tegasnya.Adeline sontak sedikit malu begitu Jollanita melontarkan kalimat dengan nada agak tinggi itu. Tak punya pilihan lain, Adeline memilih mengalah dan duduk menemani Rivanno."Sudah berapa kali kamu bolak-balik ke toilet hari ini, sayang?" ungkap Rivanno.Jollanita yang mendengar itu langsung membantingkan wajahnya ke arah Adeline. Pandangan matanya menyapu sekitar perut Adeline dengan mata terbelalak tak percaya. "Oh tuhan, benarkah itu? Apa jangan-jangan kamu hamil!" sontaknya.Pernikahan yang baru terjadi itu membuat Adeline segera membantah d
Pekikan keras itu seakan mengundang sesuatu. Suara langkah kaki bergema dan ayunan kaki semakin terdengar dengan gema pantofel yang memenuhi seisi ruangan kala itu.Namun, tak lama kemudian kembali hening. Sepasang bola mata bertatapan begitu dalam. "Sebenarnya habis dari mana dia? Apa dari tadi dia mendengar apa yang kami bicarakan?" batin Adeline dengan mata menyipit.Rivanno memalingkan wajahnya sebentar dan kembali dengan sikap profesionalnya. Ia berjalan menuju Jollanita dengan senyum tipis di bibirnya."Silakan duduk, Nek! Mau makan apa? Biar pelayan di sini yang menyiapkan semuanya!" Adeline langsung melotot, bibirnya mengerucut tidak senang."Huh! Apa dia ini! Pulang-pulang langsung menawari Nenek makanan, dia tidak melihat apa ... kalau aku lagi masak," batinnya menggerutu kesal.Lantas, Rivanno mendekat ke arah Adeline. Ia memeluk wanita itu dari samping. Sekilas seperti sepasang kekasih yang tampak harmonis dengan sang suami yang seolah begitu mencintai istrinya.Adeline
Hari berganti, namun kabut kian bergelayut pada mentari yang bersinar itu. Seakan menghalangi dan menjadi penghalang kehangatan. Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang ke tempat itu. Bunyinya tak juga berhenti, sampai Adeline yang tengah berdiam diri di sofa dengan pakaian seksinya itu, seketika pergi ke kamar berhenti baju dengan yang lebih sopan. "Siapa di luar? Coba kamu lihat sebentar?" pinta Adeline pada seorang wanita yang tengah melayaninya hari itu.Pelayannya pun berjalan ke pintu, ia mencoba ke pintu dan mengintip dari balik video doorbell camera tersebut. Tak lama kemudian Adeline kembali, ia pun berdiri di pintu dan mencoba mengintip sendiri.Matanya seketika membelalak kala yang datang adalah sang nenek. "Oh, tidak. Nenek kalau sudah datang ke sini artinya ingin memastikan sesuatu."Firasatnya benar bahwa yang datang adalah sang nenek. Adeline berjalan perlahan dan membuka pintu rumah itu. "Nenek?" sapa Adeline sambil tersenyum kaku memandangi wajah Jollanita






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.