MasukSetelah makan siang, Oliver mengantar Serena kembali ke kelasnya. Koridor akademi masih ramai dengan siswa yang berlalu-lalang sambil membawa buku dan bercanda dengan teman-teman mereka.
Oliver berjalan santai di samping Serena, sesekali menguap kecil. “Aku masih heran kenapa orang-orang bisa semangat belajar sampai sore begini,” katanya dengan gerutu.
"Kau sendiri pangeran kerajaan dan malah malas belajar,” jawab Serena. Oliver tertawa puas. “Aku tampan, itu cukup,” katanya dengan bangga.
Serena menatap Oliver datar. “Kau benar-benar tidak tahu malu,” katanya dengan nada datar. Oliver justru tertawa puas mendengar itu.
Untuk sesaat, Serena merasa sedikit lebih ringan. Setidaknya bersama Oliver, ia tidak perlu berpura-pura menjadi bangsawan sempurna yang anggun setiap waktu.
Sesampainya di depan kelas, Oliver melambaikan tangan santai. “Nanti aku jemput lagi,” katanya. “Aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. “Aku tahu, tapi tetap akan kujemput,” kata Oliver dengan senyum.
Sebelum Serena sempat membalas, Oliver sudah berjalan pergi begitu saja. Serena menghela napas kecil lalu masuk ke kelasnya kembali.
Hari itu berjalan jauh lebih normal dibanding yang ia kira. Tidak ada ledakan sihir, tidak ada insiden memalukan, tidak ada guru yang sengaja mempermalukannya di depan kelas. Hanya pelajaran membosankan seperti biasa.
Meski begitu, Serena tetap bisa merasakan beberapa tatapan mengarah padanya setiap kali praktik sihir dimulai. Tatapan merendahkan yang sama, tatapan kasihan yang lebih menyebalkan.
Serena sudah terlalu terbiasa untuk peduli. Ia hanya duduk diam sambil mencatat seperlunya sampai akhirnya bel pulang berbunyi.
Suara siswa yang langsung ribut memenuhi kelas. Beberapa buru-buru keluar, beberapa masih berkumpul dengan teman-teman mereka. Serena memasukkan bukunya ke dalam tas lalu berjalan keluar kelas tanpa terburu-buru.
Namun, baru beberapa langkah keluar koridor, seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya. “Yo,” katanya dengan suara rendah dan santai.
Serena langsung mengenalinya. Rambut perak, kulit gelap khas wilayah gurun, dan mata hitam tajam yang seolah selalu memandang rendah orang lain. Seth Roux Albagard, putra mahkota Kerajaan Albagard. Kerajaan gurun dengan budaya patriarki menjijikkan yang bahkan membuat Serena muak hanya dengan mengingatnya.
Di sana, wanita diperlakukan seperti barang, semakin banyak istri, semakin tinggi kebanggaan pria mereka. Benar-benar budaya sinting.
"Ada perlu dengan saya, Pangeran Albagard?” tanya Serena dingin tanpa repot-repot tersenyum. Seth menyeringai geli. “Kau galak sekali,” katanya. “Itu bukan jawaban,” jawab Serena.
Pria itu malah tertawa kecil lalu melangkah mendekat tanpa izin. Gerakannya santai, terlalu santai untuk ukuran bangsawan. Seolah tata krama belum ditemukan di negaranya.
Tangannya terangkat, berniat merangkul bahu Serena begitu saja. Refleks Serena langsung menepis tangannya. Plak, cukup keras sampai Seth sedikit mengangkat alis. “Aku tidak ingat mengizinkan anda menyentuh saya,” katanya dengan tegas.
Koridor mendadak sedikit lebih sunyi. Beberapa siswa yang lewat mulai melirik ke arah mereka. Namun Serena tidak peduli. Ia terlalu malas melayani tingkah pria menyebalkan seperti ini.
Seth justru terlihat semakin terhibur. “Menarik,” katanya. “Kau yang aneh,” jawab Serena. “Biasanya wanita langsung tersipu kalau aku mendekat,” kata Seth dengan senyum. “Kalau begitu mungkin mereka perlu diperiksa ke tabib,” jawab Serena dengan nada datar.
Seth tertawa kecil mendengar balasan itu. Tatapan hitamnya memperhatikan Serena dari atas sampai bawah tanpa malu-malu. Jelas sekali pria itu tertarik. Dan Serena semakin ingin pergi dari sana.
"Jika tidak ada yang ingin dikatakan, saya permisi,” katanya dengan tegas. Serena langsung berjalan melewati Seth tanpa menunggu jawaban. Namun, saat ia lewat, suara pria itu terdengar lagi dari belakang.
“Kau benar-benar tidak takut padaku, ya?” Serena berhenti sebentar. Lalu menoleh setengah. “Apa saya harus takut?” Senyum Seth sedikit berubah. Bukan lagi santai, lebih seperti tertarik. Dan itu justru membuat Serena semakin tidak nyaman. Ia langsung melanjutkan langkahnya pergi tanpa menunggu balasan lagi.
Di ujung koridor lain, seseorang sejak tadi memperhatikan semuanya dalam diam. Oliver. Tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya.
Ekspresinya yang biasanya santai kini menghilang. Tatapan ambernya tertuju lurus ke arah Seth yang masih berdiri di depan kelas Serena. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak masuk akademi, Oliver merasa ada sesuatu yang mulai bergerak ke arah yang tidak ia sukai sama sekali.
“Lalu aku harus bantu apa?”Serena meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi kecil di depan sofa.“Aku tidak bisa apa-apa kalau itu keputusan paman,” katanya dengan nada santai.Oliver menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gerakan yang agak dramatis. Rambut pirangnya yang ikal terlihat sedikit berantakan sekarang. Benar-benar tidak ada aura pangeran elegan sama sekali.“Kau tahu…” gumam Oliver pelan. “Pernikahan antar sepupu sebenarnya bukan hal aneh di keluarga bangsawan.”Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Serena langsung memotong ucapannya. “Itu konyol, Oliver.”Oliver terdiam. Serena menyilangkan tangannya sambil menatap sepupunya dengan表情 yang datar.“Kita bukan anak-anak lagi,” katanya dengan nada serius. “Kalau kau tidak suka keputusan orang tuamu, bilang saja pada mereka. Jangan malah menyeretku ke dalam masalahmu.”Oliver membuka mulutnya seolah ingin membalas, tapi Serena lebih dulu melanjutkan. “Lagipula aku sudah menganggap
"Yah, cukup untuk hari ini,” kata Lucifer sambil menjauh dari Serena.Tekanan aneh di udara perlahan menghilang, meskipun jantung Serena masih berdetak tidak nyaman. Pria itu kembali terlihat santai, seolah tidak pernah mengancam Serena dengan wajah dingin seperti iblis sungguhan."Mari,” kata Lucifer sambil mengulurkan tangannya. “Aku akan antar kamu kembali ke asrama.” "Hah? Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. Namun Lucifer hanya tersenyum tipis. “Sayangnya aku tidak suka ditolak.”Sebelum Serena sempat membalas, pria itu menjentikkan jarinya. Asap hitam langsung muncul mengelilingi mereka. Serena refleks mundur panik. "Apa ini—"Pandangan Serena mendadak gelap beberapa detik. Tubuhnya terasa ringan, aneh, seperti jatuh dan melayang di waktu bersamaan. Lalu angin dingin menyentuh wajahnya.Serena membelalakkan mata. Mereka sudah berdiri di depan asrama wanita akademi. “Hah?” Serena langsung menoleh cepat ke sekitar. Koridor, lampu sihir, pintu kayu besar asrama - sem
Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor. Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati. Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jant
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm







