Share

CHAPTER 7

Penulis: syffftrly
last update Tanggal publikasi: 2026-06-12 16:13:30

Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.

Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor. 

Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.

Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati. 

Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”

Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jantungnya berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berdegup terlalu cepat. Bumi? Bagaimana dia tahu soal itu? Serena yakin. Sangat yakin. 

Ia tidak pernah mengatakan tentang bumi kepada siapa pun di dunia ini. Tidak pada Alisa. Tidak pada Oliver. Tidak bahkan pada dirinya sendiri dengan suara keras. Karena itu rahasia. Rahasia paling mustahil yang bahkan terdengar gila.

Namun sekarang, pria di depannya mengucapkannya begitu saja. Mata merah Lucifer bertemu dengan mata amber Serena. Tatapannya tenang. Namun terasa terlalu tajam. Seolah sedang melihat jauh melewati tubuh Serena. Melihat sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihat manusia biasa. 

Pria ini jelas tahu sesuatu. Pikiran itu membuat tengkuk Serena merinding. Ia buru-buru membuang muka. “Aku tidak tahu apa maksudmu.” Jawabannya keluar terlalu cepat. Dan Serena sadar itu.

Sial. Jantungnya berdetak semakin tidak nyaman. Lucifer terdiam beberapa detik. Lalu terdengar gumaman pelan darinya. “Begitu…” Nada suaranya terdengar aneh. Tidak kecewa. Tidak marah. Malah seperti seseorang yang baru memastikan dugaannya benar. 

Lucifer mulai berjalan mendekati Serena dengan langkah santai. Sementara Serena refleks mundur setengah langkah.

Pria itu berhenti tepat di dekat meja kanvas Serena. “Mau melukis apa?” tanyanya santai. Seolah pertanyaannya barusan tidak membuat Serena hampir terkena serangan jantung. “Aku... tidak tahu.” Jawaban Serena terdengar jauh lebih lirih dari biasanya. Ia berusaha terlihat normal. Namun pikirannya kacau. Siapa sebenarnya pria ini? Bagaimana dia tahu tentang bumi? Dan kenapa tatapannya terasa begitu menyeramkan sekarang?

Lucifer mengambil salah satu kuas di meja lalu memutarnya pelan di jarinya. “Jangan takut.” Serena langsung menatapnya lagi. “Aku tidak akan membocorkan rahasiamu pada siapa pun.” Nada suara Lucifer rendah. Terlalu tenang. Dan justru itu yang membuat Serena semakin tidak nyaman. 

Pria itu melangkah mendekat lagi. Satu langkah. Dua langkah. Sampai akhirnya Serena refleks menahan napas.

Wajah mereka sekarang hanya berjarak beberapa senti. Serena bisa melihat jelas mata merah Lucifer dari dekat. Indah. Namun dingin. Sangat dingin sampai terasa tidak manusiawi. “Aku hanya ingin kau mengingat satu hal,” bisik Lucifer pelan. 

Suara rendahnya terdengar jauh lebih mengintimidasi dibanding teriakan. “Jika kau mencoba menghindariku…” Tatapan merah itu menatap lurus ke mata Serena. “...atau kabur dariku…” Jari Lucifer perlahan menyentuh ujung rambut hitam Serena. “...aku akan selalu menemukanmu, Serena.”

Dingin. Itu bukan peringatan biasa. Itu ancaman. Ancaman yang entah kenapa terasa sangat nyata. Tubuh Serena membeku. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan napasnya menjadi pendek. Lucifer tersenyum kecil melihat ekspresi Serena. 

Lalu perlahan menjauh seolah tidak terjadi apa-apa. “Aneh sekali,” gumamnya santai sambil mengambil kuas lain. “padahal biasanya manusia langsung pingsan saat melihatku seperti itu.” “Hah?” Lucifer menoleh setengah. Namun kali ini senyumnya terlihat jauh lebih menyeramkan. “Tidak ada.”

Serena mengepalkan tangannya pelan. Naluri dalam dirinya berteriak untuk pergi dari ruangan ini sekarang juga. Namun anehnya, kakinya tidak bergerak sama sekali. Dan saat itu juga, untuk pertama kalinya sejak datang ke akademi, Serena benar-benar merasa dirinya berada dalam bahaya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 9

    “Lalu aku harus bantu apa?”Serena meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi kecil di depan sofa.“Aku tidak bisa apa-apa kalau itu keputusan paman,” katanya dengan nada santai.Oliver menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gerakan yang agak dramatis. Rambut pirangnya yang ikal terlihat sedikit berantakan sekarang. Benar-benar tidak ada aura pangeran elegan sama sekali.“Kau tahu…” gumam Oliver pelan. “Pernikahan antar sepupu sebenarnya bukan hal aneh di keluarga bangsawan.”Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Serena langsung memotong ucapannya. “Itu konyol, Oliver.”Oliver terdiam. Serena menyilangkan tangannya sambil menatap sepupunya dengan表情 yang datar.“Kita bukan anak-anak lagi,” katanya dengan nada serius. “Kalau kau tidak suka keputusan orang tuamu, bilang saja pada mereka. Jangan malah menyeretku ke dalam masalahmu.”Oliver membuka mulutnya seolah ingin membalas, tapi Serena lebih dulu melanjutkan. “Lagipula aku sudah menganggap

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 8

    "Yah, cukup untuk hari ini,” kata Lucifer sambil menjauh dari Serena.Tekanan aneh di udara perlahan menghilang, meskipun jantung Serena masih berdetak tidak nyaman. Pria itu kembali terlihat santai, seolah tidak pernah mengancam Serena dengan wajah dingin seperti iblis sungguhan."Mari,” kata Lucifer sambil mengulurkan tangannya. “Aku akan antar kamu kembali ke asrama.” "Hah? Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. Namun Lucifer hanya tersenyum tipis. “Sayangnya aku tidak suka ditolak.”Sebelum Serena sempat membalas, pria itu menjentikkan jarinya. Asap hitam langsung muncul mengelilingi mereka. Serena refleks mundur panik. "Apa ini—"Pandangan Serena mendadak gelap beberapa detik. Tubuhnya terasa ringan, aneh, seperti jatuh dan melayang di waktu bersamaan. Lalu angin dingin menyentuh wajahnya.Serena membelalakkan mata. Mereka sudah berdiri di depan asrama wanita akademi. “Hah?” Serena langsung menoleh cepat ke sekitar. Koridor, lampu sihir, pintu kayu besar asrama - sem

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 7

    Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor. Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati. Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jant

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 6

    Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 5

    Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 4

    Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status