MasukSetelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya.
Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.
Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman.
Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.
Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?”
Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri."
"Guru-guru itu berniat mempermalukanku ya?” Serena menggigit rotinya pelan. “Karena aku masuk lewat orang dalam? Paman Donovan?”
Alisa menatap Serena datar beberapa detik. “Tuan putri... Anda tetap membayar biaya akademi.” “Yah, ayah sih yang bayar.” “Itu masih tetap membayar."
Serena mendecih kecil. Tetap saja menyebalkan. Praktik sihir di hari pertama jelas bukan kabar baik untuk seseorang yang bahkan tidak bisa menggunakan mana dengan normal seperti dirinya.
Akademi itu dipenuhi murid berbakat dari berbagai kerajaan. Lalu di tengah mereka... ada Serena Ashworth, putri Grand Duke, keponakan raja, dan bangsawan gagal yang tidak bisa memakai sihir. Benar-benar kombinasi yang suka dijadikan bahan gosip manusia tidak sibuk.
"Awal semester memang lebih fokus ke teori dasar dan praktik sihir,” jelas Alisa sambil meletakkan teh di depan Serena. “Tujuannya untuk mengukur kemampuan siswa supaya lebih mudah menentukan sistem pembelajaran berikutnya.”
Serena berhenti makan sejenak, lalu menatap Alisa. “Lah iya juga.” “Hm?” “Kamu juga lulusan akademi."
Alisa tersenyum kecil. “Tepat sekali.”
Setelah dipikir-pikir, Alisa Laurence memang wanita hebat. Dia bangsawan, cantik, pintar, lulusan akademi bergengsi, dan bahkan punya kemampuan sihir yang bagus. Namun, wanita itu malah memilih tinggal di wilayah utara yang penuh salju demi merawat anak sahabatnya. Serena terkadang masih sulit memahami keputusan itu.
"Kalau dipikir-pikir,” gumam Serena sambil menopang dagunya, “kamu sebenarnya bisa hidup lebih enak.” Alisa mengangkat alis.
“Dan meninggalkan tuan putri sendirian?” Serena langsung diam. “Tidak lucu,” lanjut Alisa santai. Serena mendengus kecil, lalu kembali menggigit rotinya.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya kembali kesal. “Tapi tetap saja! Aku ini putri Grand Duke Ashworth.” Alisa sudah mulai bisa menebak arah omelan Serena. “Keponakan Raja Elarion!” lanjut gadis itu. “Kenapa para bangsawan rendahan itu berani sekali membicarakanku seperti itu?” Nada suaranya terdengar sangat tidak terima. Benar-benar seperti bangsawan manja.
Dan jujur saja... Serena sendiri sadar dirinya berubah. Kalau Serena kehidupan lamanya diperlakukan buruk sedikit saja, pasti langsung minta maaf sambil panik. Sekarang? Ia malah ingin melempar kursi ke kepala orang yang mengganggunya. Lingkungan memang mengerikan.
"Tuan putri,” kata Alisa sambil menahan tawa, “anda benar-benar terdengar seperti nona muda bangsawan sekarang.” “Aku memang bangsawan.” “Dan sangat sadar status.” “Tentu.” Jawaban Serena terlalu cepat sampai Alisa akhirnya benar-benar tertawa kecil.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak punya sihir?” lanjut Serena sambil menyilangkan lengan. “Paman Donovan juga bilang tidak masalah selama aku tumbuh dengan baik.”
“Itu karena yang mulia sangat menyayangi anda.” “Hm.” Serena terdiam sebentar, lalu kembali menggigit rotinya dengan kesal kecil yang belum hilang.
Melihat itu, Alisa tiba-tiba tersenyum lembut. “Kalau begitu tunjukkan saja bakat anda yang lain.” Serena menoleh. “Bakat lain?” “Anda pandai melukis.” Serena sedikit berkedip. “Kenapa tidak ikut kelas seni?” lanjut Alisa. “Anda selalu terlihat paling tenang saat melukis."
Serena terdiam beberapa detik. Melukis... Ia memang menyukainya. Baik di kehidupan sebelumnya maupun sekarang. Saat pikirannya berisik, tangannya selalu terasa lebih ringan kalau memegang kuas.
“Hm...” Serena menyandar ke kursinya. “Kalau dipikir-pikir tidak buruk juga.” “Nah, benar kan?” “Daripada dipaksa praktik sihir lalu mempermalukan diri sendiri." Alisa terkekeh kecil lagi.
Namun, tanpa Serena sadari Lucifer duduk santai di tepi atap dengan satu kaki menggantung. Angin malam membuat rambut peraknya bergerak pelan. Mata merahnya tertuju lurus pada jendela kamar Serena.
Dan sejak tadi... ia mendengar semuanya. “Melukis, ya...” gumamnya pelan. Lalu perlahan... senyum licik muncul di wajah tampannya. Seolah sebuah ide menarik baru saja muncul di kepalanya.
“Lalu aku harus bantu apa?”Serena meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi kecil di depan sofa.“Aku tidak bisa apa-apa kalau itu keputusan paman,” katanya dengan nada santai.Oliver menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gerakan yang agak dramatis. Rambut pirangnya yang ikal terlihat sedikit berantakan sekarang. Benar-benar tidak ada aura pangeran elegan sama sekali.“Kau tahu…” gumam Oliver pelan. “Pernikahan antar sepupu sebenarnya bukan hal aneh di keluarga bangsawan.”Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Serena langsung memotong ucapannya. “Itu konyol, Oliver.”Oliver terdiam. Serena menyilangkan tangannya sambil menatap sepupunya dengan表情 yang datar.“Kita bukan anak-anak lagi,” katanya dengan nada serius. “Kalau kau tidak suka keputusan orang tuamu, bilang saja pada mereka. Jangan malah menyeretku ke dalam masalahmu.”Oliver membuka mulutnya seolah ingin membalas, tapi Serena lebih dulu melanjutkan. “Lagipula aku sudah menganggap
"Yah, cukup untuk hari ini,” kata Lucifer sambil menjauh dari Serena.Tekanan aneh di udara perlahan menghilang, meskipun jantung Serena masih berdetak tidak nyaman. Pria itu kembali terlihat santai, seolah tidak pernah mengancam Serena dengan wajah dingin seperti iblis sungguhan."Mari,” kata Lucifer sambil mengulurkan tangannya. “Aku akan antar kamu kembali ke asrama.” "Hah? Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. Namun Lucifer hanya tersenyum tipis. “Sayangnya aku tidak suka ditolak.”Sebelum Serena sempat membalas, pria itu menjentikkan jarinya. Asap hitam langsung muncul mengelilingi mereka. Serena refleks mundur panik. "Apa ini—"Pandangan Serena mendadak gelap beberapa detik. Tubuhnya terasa ringan, aneh, seperti jatuh dan melayang di waktu bersamaan. Lalu angin dingin menyentuh wajahnya.Serena membelalakkan mata. Mereka sudah berdiri di depan asrama wanita akademi. “Hah?” Serena langsung menoleh cepat ke sekitar. Koridor, lampu sihir, pintu kayu besar asrama - sem
Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor. Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati. Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jant
Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga
Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa
Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm







