Share

CHAPTER 5

Penulis: syffftrly
last update Tanggal publikasi: 2026-05-31 21:25:57

Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.

Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias.

"Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa.

"Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain.

"Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.

Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.

Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.

Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa samar di udara.

Serena cukup menyukainya. Tidak banyak orang, tidak banyak tatapan menyebalkan, dan tidak banyak bangsawan sok hebat yang merasa hidup mereka menarik hanya karena bisa menyalakan api di ujung jari.

Saat ia sedang berjalan menaiki tangga batu menuju lantai atas, seseorang tiba-tiba menabraknya dari belakang.

"Ah—!” Serena langsung kehilangan keseimbangan. Untung refleksnya cukup cepat untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlalu parah.

"Maaf,” suara pria terdengar tepat di depannya. Serena mendongak dan melihat pria itu dari dekat. Rambut perak, kulit pucat, wajah tampan yang terlalu sempurna sampai terasa tidak manusiawi, dan mata merah gelap yang menatap lurus ke arahnya.

Pria itu mengulurkan tangan. “Tidak terluka?” Serena menatap tangannya beberapa detik sebelum menerima bantuan itu. “Iya, gapapa."

Begitu berdiri, tatapan Serena justru tertuju pada kanvas besar di punggung pria itu. “Kamu dari kelas seni?” Pria itu mengikuti arah pandang Serena lalu tersenyum kecil. “Yah, begitulah."

Senyumnya terlihat sopan, namun anehnya… matanya tetap terasa dingin. Tapi Serena tidak terlalu memikirkannya.

"Kamu juga?” tanya pria itu. “Iya,” jawab Serena santai. “Hari pertamaku.” “Hm,” pria itu mengangguk kecil. “Kalau begitu ayo berangkat bareng."

Serena sedikit ragu, tapi karena mereka menuju tempat yang sama, ia akhirnya mengangguk juga. Mereka berjalan berdampingan melewati lorong gedung seni yang mulai sepi.

Beberapa kali Serena diam-diam melirik pria itu. Aneh, ia merasa pernah melihatnya sebelumnya. Tapi di mana?

"Ngomong-ngomong…” Pria itu akhirnya membuka suara. “Aku Lucifer… dan kamu Serena Ashworth kan?” Langkah Serena sedikit melambat. “Huh? Kamu kenal aku?” Lucifer tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai. “Pangeran Oliver sering membicarakanmu."

Serena langsung mengangguk paham. “Kamu temannya?” “Bukan,” jawaban Lucifer cepat. “Hanya teman sekelas.” “Begitu ya,” Serena tidak terlalu terkejut. Oliver memang tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja.

Dan pria bernama Lucifer ini jelas sedikit aneh. Terlalu tenang, terlalu sulit dibaca. Tapi setidaknya dia tidak menatap Serena dengan kasihan seperti kebanyakan orang di akademi.

"Kamu suka melukis?” tanya Serena lagi. “Lumayan,” jawab Lucifer.

Mereka akhirnya sampai di depan ruang kelas seni. Lucifer melangkah lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Serena. “Silakan.” “Terima kasih."

Begitu masuk, Serena langsung sedikit bingung. Ruangan itu kosong, tidak ada siswa lain. Padahal ukuran kelasnya cukup besar. Kanvas kosong berdiri rapi di beberapa sudut ruangan, sementara cahaya sore masuk lewat jendela tinggi yang memenuhi dinding sebelah kiri.

"Memangnya tidak ada yang minat kelas seni?” gumam Serena pelan. Lucifer masuk setelahnya sambil meletakkan kanvas besarnya ke dekat dinding. “Mungkin mereka punya kelas lain.” “Oh…” Serena mengangguk kecil.

Masuk akal juga. Akademi ini memang lebih terkenal karena kelas sihirnya dibanding seni. Serena berjalan perlahan mengelilingi ruangan sambil melihat beberapa lukisan lama yang dipajang di dinding.

Lukisan pegunungan, laut, hutan, dan monster. “Hm…” Serena berhenti di depan satu lukisan monster bersayap hitam. “Lumayan bagus."

Namun ia tidak menyadari sesuatu. Klik. Suara kecil itu terdengar pelan dari belakangnya. Lucifer baru saja mengunci pintu kelas. Tatapan merah pria itu perlahan tertuju pada punggung Serena.

Dan senyum kecil muncul di wajah tampannya. Karena sebenarnya… sejak awal… semua ini memang bagian dari rencananya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 9

    “Lalu aku harus bantu apa?”Serena meletakkan cangkir tehnya di atas meja kopi kecil di depan sofa.“Aku tidak bisa apa-apa kalau itu keputusan paman,” katanya dengan nada santai.Oliver menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan gerakan yang agak dramatis. Rambut pirangnya yang ikal terlihat sedikit berantakan sekarang. Benar-benar tidak ada aura pangeran elegan sama sekali.“Kau tahu…” gumam Oliver pelan. “Pernikahan antar sepupu sebenarnya bukan hal aneh di keluarga bangsawan.”Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, Serena langsung memotong ucapannya. “Itu konyol, Oliver.”Oliver terdiam. Serena menyilangkan tangannya sambil menatap sepupunya dengan表情 yang datar.“Kita bukan anak-anak lagi,” katanya dengan nada serius. “Kalau kau tidak suka keputusan orang tuamu, bilang saja pada mereka. Jangan malah menyeretku ke dalam masalahmu.”Oliver membuka mulutnya seolah ingin membalas, tapi Serena lebih dulu melanjutkan. “Lagipula aku sudah menganggap

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 8

    "Yah, cukup untuk hari ini,” kata Lucifer sambil menjauh dari Serena.Tekanan aneh di udara perlahan menghilang, meskipun jantung Serena masih berdetak tidak nyaman. Pria itu kembali terlihat santai, seolah tidak pernah mengancam Serena dengan wajah dingin seperti iblis sungguhan."Mari,” kata Lucifer sambil mengulurkan tangannya. “Aku akan antar kamu kembali ke asrama.” "Hah? Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri,” jawab Serena. Namun Lucifer hanya tersenyum tipis. “Sayangnya aku tidak suka ditolak.”Sebelum Serena sempat membalas, pria itu menjentikkan jarinya. Asap hitam langsung muncul mengelilingi mereka. Serena refleks mundur panik. "Apa ini—"Pandangan Serena mendadak gelap beberapa detik. Tubuhnya terasa ringan, aneh, seperti jatuh dan melayang di waktu bersamaan. Lalu angin dingin menyentuh wajahnya.Serena membelalakkan mata. Mereka sudah berdiri di depan asrama wanita akademi. “Hah?” Serena langsung menoleh cepat ke sekitar. Koridor, lampu sihir, pintu kayu besar asrama - sem

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 7

    Suara langkah kaki di luar koridor semakin mendekat. Tok. Tok. Tok. Lalu berhenti tepat di depan pintu kelas seni. Serena refleks menoleh ke arah pintu. Handle pintu bergerak pelan seolah seseorang mencoba membukanya dari luar. Namun pintu itu tidak terbuka. Terkunci.Serena langsung mengernyit kecil. Ia mendengar suara samar seseorang mendecih pelan di luar sebelum langkah kaki itu kembali menjauh dari koridor. Entah orang itu pergi mengambil kunci. Atau menyerah begitu saja. Ruangan kembali sunyi. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk kelas itu, Serena mulai merasa ada yang aneh.Tatapannya perlahan berpindah ke arah Lucifer. Pria itu masih berdiri santai di dekat jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Apa pria ini yang mengunci pintunya? Pikir Serena dalam hati. Namun sebelum ia sempat menanyakannya, Lucifer lebih dulu membuka suara. “Bumi itu…” Suara rendah pria itu membuat Serena refleks menoleh. “...tempat seperti apa?”Dunia seolah langsung membeku. Tubuh Serena menegang. Jant

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 6

    Serena berjalan mendekati salah satu kanvas kosong yang tersusun rapi di sudut ruangan. Ruangan kelas seni itu jauh lebih nyaman dibanding ruang kelas sihir. Tidak ada ledakan mana, tidak ada murid sok jenius, hanya aroma cat, kayu, dan cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi. Serena suka suasana seperti ini, tenang.Ia mengambil satu kanvas baru lalu meletakkannya di atas penyangga kayu. Sementara itu Lucifer duduk santai beberapa meter darinya sambil membuka kain hitam yang membungkus lukisannya. “Ngomong-ngomong...” ucap Serena sambil melirik ke arah pria itu, “apa yang kamu lukis?” Lucifer mengangkat alis, “Hm? Kamu penasaran?” Nada suaranya terdengar sedikit geli, dan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis."Iya,” jawab Serena. Lucifer diam beberapa detik, lalu akhirnya membuka penuh kain penutup kanvasnya. Begitu melihat lukisan itu, mata Serena langsung melebar, “Huh?” Ia tanpa sadar melangkah mendekat, “Itu... ayah?” Di atas kanvas besar itu terga

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 5

    Keesokan harinya, akhirnya lonceng berbunyi menandakan kelas teori selesai. Sebagian besar siswa langsung bergegas menuju aula latihan sihir tambahan begitu lonceng berbunyi.Di koridor akademi, suara langkah kaki dan percakapan para bangsawan muda memenuhi udara. Mereka membahas elemen sihir masing-masing dengan antusias."Api tingkat menengahku hampir berhasil,” kata salah satu siswa."Aku dengar kelas pemanggilan roh tahun ini lebih sulit,” jawab siswa lain."Profesor sihir cahaya benar-benar mengerikan…” kata siswa lainnya.Serena yang berjalan sendirian hanya mendengarkan sambil lalu. Ia merasa bahwa dunia ini terlalu terobsesi dengan sihir.Untungnya hari ini ia punya tujuan lain: kelas seni. Di sana, orang-orang tidak akan memandangnya seperti cacat berjalan hanya karena tidak bisa menggunakan mana.Serena menaiki tangga menuju gedung seni sambil membawa buku kecilnya. Gedung itu jauh lebih sepi dibanding area utama akademi. Lorongnya tenang, bahkan aroma cat dan kayu terasa sa

  • Raja Iblis Itu Terobsesi Padaku   CHAPTER 4

    Setelah duduk minum teh beberapa menit bersama Alisa, Serena akhirnya memutuskan mandi. Hari pertamanya di akademi benar-benar melelahkan. Bukan karena pelajarannya sulit, tapi karena orang-orangnya. Tatapan meremehkan, bisik-bisik, dan para bangsawan yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain seolah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip.Begitu selesai mandi, Serena keluar dengan rambut hitamnya yang masih sedikit basah, lalu berganti memakai gaun tidur berwarna gelap yang nyaman. Ia berjalan santai menuju meja makan kecil di dekat perapian. Makan malam sudah disiapkan: sup hangat, roti panggang, daging asap, dan semur jamur.Serena langsung duduk, lalu mengoleskan semur jamur ke atas rotinya sambil menghela napas panjang. “Padahal ini baru hari pertama,” gerutunya. “Kenapa langsung ada pelajaran dan praktik sihir?” Alisa, yang sedang menuangkan teh herbal, tersenyum kecil mendengar keluhan itu. “Itu memang sistem akademi, tuan putri.""Guru-guru itu berniat memperm

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status