Share

Bab 232

Author: D.N.A
last update publish date: 2026-07-28 18:39:27

Jalanan terasa sepi saat mobil Arsen melaju dengan cepat. Membelah jalanan lenggang yang berada di pesisir pantai, lautan lepas menjadi satu-satunya objek yang Agnira lihat, tangannya saling meremas, dadanya bergemuruh hebat. Sesekali wanita itu melirik pria muda yang mengemudi dengan wajah serius di sisinya.

"Jangan terlihat panik atau takut, dia tidak akan bertindak gegabah," ujar Arsen mencoba memecahkan keheningan.

Agnira hanya diam. Mobil terus melaju sampai tiba di resort ternama Ravenmar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 232

    Jalanan terasa sepi saat mobil Arsen melaju dengan cepat. Membelah jalanan lenggang yang berada di pesisir pantai, lautan lepas menjadi satu-satunya objek yang Agnira lihat, tangannya saling meremas, dadanya bergemuruh hebat. Sesekali wanita itu melirik pria muda yang mengemudi dengan wajah serius di sisinya."Jangan terlihat panik atau takut, dia tidak akan bertindak gegabah," ujar Arsen mencoba memecahkan keheningan.Agnira hanya diam. Mobil terus melaju sampai tiba di resort ternama Ravenmark. Salah satu dari sekian banyaknya resort milik Sambara, resort yang berada tepat di dekat rumah Kenan. Resort mewah yang membuat usaha resort ayah Agnira bangkrut."Aku hanya mengantar sampai sini." Arsen menatap lurus ke depan, lalu melirik Agnira dengan pandangan seriusnya. "Dia tidak akan menyakiti wanita hamil, itulah salah satu alasan Sambara tidak membiarkanmu pergi." Deg.Kalimat itu membuat Agnira sedikit merasa terganggu. Ungkapan yang membuat hatinya teremas hebat, kenyataan pahit d

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 231

    Hanya kelelahan. Itulah kesimpulan dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Sambara. Tidak ditemukan gangguan serius yang perlu dikhawatirkan. Tekanan darahnya memang sedikit menurun, ditambah kurang tidur dan beban pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir menjadi penyebab tubuhnya akhirnya menyerah.Meski begitu, penjelasan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Agnira. Wanita itu duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Sambara yang masih terpasang infus. Jemarinya mengusap punggung tangan pria itu perlahan, seolah takut melepaskannya walau hanya sesaat. Tatapannya tak pernah berpindah dari wajah suaminya yang tampak pucat."Mas ..." bisiknya lirih.Tak ada jawaban. Sambara masih tertidur akibat obat yang diberikan dokter agar tubuhnya dapat beristirahat dengan baik.Agnira menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Baru pagi tadi pria itu masih sempat menggodanya. Bahkan masih sempat bertanya mengapa ia berdandan sejak subuh. Kini, p

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 230

    Aroma teh chamomile memenuhi sudut ruangan, menghadirkan kehangatan yang lembut di tengah dinginnya malam. Uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang berada di atas meja kecil dekat jendela.Agnira mengangkat cangkir itu perlahan. Ia meniup permukaannya sebentar sebelum menyesap sedikit demi sedikit. Rasa hangatnya mengalir turun ke tenggorokan, sedikit meredakan ketegangan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.Angin malam kembali berembus, menggerakkan tirai putih hingga menari pelan. Tatapan Agnira menerobos pekatnya malam. Taman di luar tampak sunyi. Hanya lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya kekuningan di antara pepohonan."Tenang sekali," gumamnya lirih.Keheningan seperti inilah yang selalu ia sukai. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada tatapan merendahkan, dan tidak ada kepura-puraan yang menguras tenaga.Ia kembali menyesap teh hangatnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Entah mengapa, firasatnya mendadak terasa tidak enak.Agnira mengernyit pelan. Matanya m

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 229

    Prang!Vas bunga terlempar ke arah dinding. Pecahan kacanya berhamburan di lantai marmer, sebagian bahkan meluncur hingga ke kaki sofa. Tubuh Ratih dan Aurelie sama-sama tersentak. Keduanya membeku saat melihat raut murka yang ditunjukkan Surya."Sudah saya katakan, jangan bertindak bodoh!" bentak pria itu lantang.Napasnya memburu. Urat di lehernya menegang, sementara telunjuknya mengarah bergantian kepada istri dan putrinya. "Kalian tahu siapa Sambara!"Tak ada yang menjawab. Ratih menundukkan kepala, sedangkan Aurelie menggigit bibir bawahnya erat."Tapi kalian tetap mencari masalah!" lanjut Surya. "Apa kalian pikir dia masih Sambara yang dulu bisa kalian atur sesuka hati?"Ratih mengangkat wajah perlahan. "Saya hanya ingin mengajarkan etika kepada Agnira.""Etika?" Surya tertawa sinis. "Menurutmu itu etika? Itu penghinaan bagi Sambara!"Suara Surya menggema memenuhi ruang tamu. "Kamu mempermalukan istri pemilik rumah di depan semua orang. Apa yang kamu harapkan? Sambara akan diam?

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 228

    Ketegangan terjadi di halaman rumah Lakeswara. Koper milik keluarga Surya sudah berjejer rapi di teras paviliun. Beberapa kardus berisi dokumen dan barang-barang pribadi ikut ditumpuk di sampingnya.Surya berdiri mematung di depan tumpukan barang itu. Jemarinya saling meremas gelisah, sementara pandangannya berkali-kali beralih ke arah rumah utama. Ratih berdiri di sisi suaminya dengan wajah pucat. Wanita itu sesekali menggigit bibir bawah, berusaha menekan kegelisahan yang terus menghantui pikirannya.Sementara Aurelie hanya menundukkan kepala. Otaknya berputar cepat mencari solusi, agar ia tidak pergi dari kediaman ini. Jika ia pergi dan menjauh dari Sambara, bagaimana bisa ia menjalankan rencananya.Tak lama kemudian, pintu rumah utama terbuka. Sambara keluar dengan langkah tenang. Di belakangnya berjalan Agnira yang menggenggam lengan sang suami. Nayara dan Robi ikut menyusul beberapa langkah di belakang.Tatapan Surya langsung jatuh kepada Sambara. Tanpa menunggu lebih lama, pria

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 227

    Isak tangis Agnira memenuhi ruang kamar. Wanita itu memeluk guling erat, lalu menenggelamkan wajahnya di balik bantal, berusaha meredam suara tangis yang tak kunjung berhenti.Bahu mungilnya berguncang. Semua kalimat Ratih terus berputar di dalam kepalanya."Melihatmu makan saja membuat seleraku hilang. Orang akan mengira keluarga Lakeswara tidak pernah mengajarkan etika.""Jangan sampai orang berpikir Sambara menikahi wanita yang tidak memahami tata krama."Semakin ingin dilupakan, semakin jelas kata-kata itu terdengar. "Aku memang memalukan ..." gumamnya lirih di sela tangis.Ia mengusap air mata dengan kasar, tetapi justru semakin deras mengalir. "Kenapa aku tidak bisa seperti wanita lain?"Pintu kamar terbuka perlahan. Sambara masuk tanpa suara. Di tangannya terdapat segelas susu hangat yang tadi sempat ia minta pada pelayan untuk Agnira. Begitu melihat istrinya menangis hingga tubuhnya bergetar, langkahnya langsung terhenti.Sorot mata dingin yang selama ini selalu ia tunjukkan

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 01

    "Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air. Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. "Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status