แชร์

Bab 82

ผู้เขียน: D.N.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-31 19:18:26

"Pak, saya boleh bersandar? Kepala saya pusing," ujar Kenan sambil meringis pelan.

Sambara hanya diam dan melirik sinis pria berwajah pucat di sampingnya. Tidak ada tanda-tanda pria itu akan membuka suara. Namun, beberapa detik setelah Kenan berucap, bahu Sambara terasa berat. Kenan sudah menyandarkan kepalanya di sana dengan nyaman, seolah tidak peduli dengan sorot mata dingin yang Sambara tunjukkan.

"Heh! Berat!" sentak Sambara sambil menggoyangkan bahunya.

Namun, Kenan tidak bergerak sama se
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
sudahlah jgn bertengkar terus Q, yg baca jg mumet lihat kalian persis kaya tom dan jery sedikit dikit kamu marah salah sedikit kamu marah hanya urusan ranjang saja kalian itu kompak dan hot hehehe
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 235

    Debur ombak di lautan terdengar jelas di telinga. Membuat ketegangan di antara mereka tercipta semakin kuat, tatapan tajam Leonard terlihat menusuk tajam. Seperti predator yang siap menerkam mangsanya, pria itu bersembunyi dengan rapi tanpa suara.Sambara mempertajam sorot matanya. Tubuhnya tetap berdiri di depan Agnira, menutupi hampir seluruh tubuh istrinya."Arsen," ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan."Hm." Pria muda itu terdengar malas saat namanya disebut."Bawa Agnira masuk ke mobil."Arsen menggeleng tipis. "Kalau aku bergerak sekarang, dia punya sudut tembak yang lebih bagus."Sambara memahami maksud itu. Leonard sengaja tidak menembak mereka. Peluru tadi hanyalah peringatan. Sebuah permainan. Permainan yang sangat disukai Leonard.Tiba-tiba suara tawa pelan terdengar dari atas tebing. "Hahaha .... Sudah lama sekali kita tidak berdiri seperti ini, ya, Sambara?"Suara Leonard menggema, terbawa angin laut. "Satu melindungi, dan satu lagi memburu."Sambara tetap diam. Tang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 234

    Decit ban terdengar nyaring, memecahkan kesunyian jalan pesisir. Dua mobil melesat dalam kecepatan tinggi, membelah jalur yang mulai lengang menjelang malam.Arsen melirik kaca spion. Sorot matanya langsung berubah tajam. "Sial!" "Ada apa?" tanya Agnira yang mulai panik.Arsen menunjuk kaca spion dengan dagunya. "Lihat sendiri."Agnira menoleh dengan cepat. Di kejauhan, sepasang lampu putih menyala terang, semakin lama semakin dekat. Mobil hitam milik Sambara melesat begitu cepat ke arah mobil Arsen.Wajah Agnira seketika memucat. "Mas Sambara." Arsen menginjak pedal gas lebih dalam. Jarum speedometer terus merangkak naik, mesin meraung keras. Mobil melesat melewati beberapa kendaraan yang melaju lebih lambat.Di belakang mereka, Sambara sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Tatapan tajamnya hanya tertuju pada satu mobil di depan. Mobil Arsen."Shit!" desis Sambara.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Berani sekali kau membawa istriku pergi

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 233

    Kaki Agnira terasa lemas, setiap kalimat yang Leonard katakan sangat sulit ia terima. Bagaimana bisa, pria yang selama ini terlihat mencintai bertindak seperti itu. Semua pertanyaan itu berdengung di telinganya, membuat ia berhenti melangkah dan merasakan nyeri di bagian perut bawahnya."Kamu baik-baik saja?" tanya Arsen yang tiba-tiba sudah berada di sana. Tangannya meraih bahu Agnira dan membantu wanita itu melangkah.Agnira tidak menjawab, tetapi wajahnya terlihat meringis kesakitan. Tanpa menunggu jawaban, Arsen memangku Agnira dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. "Minum dulu," ucap Arsen, sambil menyodorkan botol air pada Agnira.Agnira menerima botol air mineral itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia membuka tutup botolnya perlahan, lalu menyesap beberapa teguk kecil. Napasnya masih memburu, sementara telapak tangannya tidak pernah lepas dari perut yang sesekali kembali terasa menegang.Arsen menunggu hingga kondisi wanita itu sedikit lebih tenang. Mesin mobil seng

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 232

    Jalanan terasa sepi saat mobil Arsen melaju dengan cepat. Membelah jalanan lenggang yang berada di pesisir pantai, lautan lepas menjadi satu-satunya objek yang Agnira lihat, tangannya saling meremas, dadanya bergemuruh hebat. Sesekali wanita itu melirik pria muda yang mengemudi dengan wajah serius di sisinya."Jangan terlihat panik atau takut, dia tidak akan bertindak gegabah," ujar Arsen mencoba memecahkan keheningan.Agnira hanya diam. Mobil terus melaju sampai tiba di resort ternama Ravenmark. Salah satu dari sekian banyaknya resort milik Sambara, resort yang berada tepat di dekat rumah Kenan. Resort mewah yang membuat usaha resort ayah Agnira bangkrut."Aku hanya mengantar sampai sini." Arsen menatap lurus ke depan, lalu melirik Agnira dengan pandangan seriusnya. "Dia tidak akan menyakiti wanita hamil, itulah salah satu alasan Sambara tidak membiarkanmu pergi." Deg.Kalimat itu membuat Agnira sedikit merasa terganggu. Ungkapan yang membuat hatinya teremas hebat, kenyataan pahit d

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 231

    Hanya kelelahan. Itulah kesimpulan dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Sambara. Tidak ditemukan gangguan serius yang perlu dikhawatirkan. Tekanan darahnya memang sedikit menurun, ditambah kurang tidur dan beban pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir menjadi penyebab tubuhnya akhirnya menyerah.Meski begitu, penjelasan itu sama sekali tidak mampu menenangkan hati Agnira. Wanita itu duduk di sisi ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Sambara yang masih terpasang infus. Jemarinya mengusap punggung tangan pria itu perlahan, seolah takut melepaskannya walau hanya sesaat. Tatapannya tak pernah berpindah dari wajah suaminya yang tampak pucat."Mas ..." bisiknya lirih.Tak ada jawaban. Sambara masih tertidur akibat obat yang diberikan dokter agar tubuhnya dapat beristirahat dengan baik.Agnira menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Baru pagi tadi pria itu masih sempat menggodanya. Bahkan masih sempat bertanya mengapa ia berdandan sejak subuh. Kini, p

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 230

    Aroma teh chamomile memenuhi sudut ruangan, menghadirkan kehangatan yang lembut di tengah dinginnya malam. Uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang berada di atas meja kecil dekat jendela.Agnira mengangkat cangkir itu perlahan. Ia meniup permukaannya sebentar sebelum menyesap sedikit demi sedikit. Rasa hangatnya mengalir turun ke tenggorokan, sedikit meredakan ketegangan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.Angin malam kembali berembus, menggerakkan tirai putih hingga menari pelan. Tatapan Agnira menerobos pekatnya malam. Taman di luar tampak sunyi. Hanya lampu-lampu taman yang memancarkan cahaya kekuningan di antara pepohonan."Tenang sekali," gumamnya lirih.Keheningan seperti inilah yang selalu ia sukai. Tidak ada suara pertengkaran, tidak ada tatapan merendahkan, dan tidak ada kepura-puraan yang menguras tenaga.Ia kembali menyesap teh hangatnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Entah mengapa, firasatnya mendadak terasa tidak enak.Agnira mengernyit pelan. Matanya m

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 05

    "Buka matamu, Agnira. Tatap saya," perintah Sambara rendah.Agnira membuka mata perlahan dan satu-satunya objek yang ia lihat adalah suaminya. Orang yang selama tiga tahun ini membersamai dirinya dalam hening, orang yang bahkan selalu tampak acuh dan tidak perduli akan hadirnya.Tangan Agnira menge

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 04

    Malam merambat perlahan, membawa keheningan lembut yang terasa tidak nyaman. Di balik pintu kamar, Agnira terdiam menatap dirinya sendiri di depan cermin besar. "Ayo, Agnira ... ini tidak akan lama," bisik Agnira, pelan, nyaris tidak terdengar.Kaki jenjang yang terbalut sandal bulu itu bergerak

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 03

    Keesokan paginya. Ruang makan yang selalu di isi keheningan mendadak terasa lebih berat dari sebelumnya. Agnira terus menerus melirik kecil pada Sambara yang berjarak cukup jauh dengannya, sudah biasa dan memang itu aturan awalnya.Wangi aroma masakan menguar. Namun di antara mereka belum ada yang

  • Ranjang Panas Suamiku   Bab 02

    Agnira terdiam, memproses segalanya dengan cepat. Ia kembali melirik Sambara, lalu berdiri perlahan dari duduknya."Hanya tiga puluh hari, 'kan?" tanya Agnira, singkat.Sambara yang sudah kembali duduk santai hanya mengangguk. "Iya.""Baiklah. Jika itu maumu, akan aku lakukan," putus Agnira tanpa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status