로그인Dua preman di barisan depan merogoh saku celana kargo mereka serentak. Mereka mengeluarkan batang kayu berbalut kain minyak dan menyalakannya menggunakan pemantik besi."Bakar gudang rongsokan ini beserta kucing cacat di dalamnya!" perintah Koko melangkah mundur menjauhi titik api. "Jangan sisakan satu pun karung pakan di sini."Api menyambar kain minyak menghasilkan asap hitam berbau bensin. Risa menjerit tertahan melihat api mulai menyala di ruang penyimpanannya."Hentikan! Ada hewan yang sedang menyusui di dalam sana!" teriak Risa bersiap menerjang maju dengan tangan kosong.Leo melangkah memotong jarak lima meter dalam hitungan kurang dari satu detik.Tangan sang dokter melesat menembus pertahanan kedua preman tanpa peringatan. Dua jari Leo menekan keras saraf radialis di pergelangan tangan mereka beruntun. Mereka membuka mulut tanpa suara menahan kebas yang menjalar ke pangkal lengan.Otot jari mereka lumpuh seketika dan melepaskan genggaman. Dua obor kayu jatuh menghantam
Wanita bersetelan jas putih itu melempar koper kulit berisi uang tunai ke atas ubin lobi balai desa.Leo melangkah turun melewati koper tersebut tanpa menurunkan pandangannya dari anak tangga. Pria itu mengabaikan tatapan meremehkan dari utusan korporat kota tersebut."Urus pelunasan biaya sewa alat berat itu sekarang juga," perintah Leo kepada Laras. "Aku tidak punya waktu meladeni pesuruh yang hanya tahu cara menghamburkan uang bosnya."Laras mengangguk patuh dan memungut koper berat tersebut.Sang Raja Desa telah mengunci sistem keuangan wilayah ini secara mutlak pada siang itu.Namun, roda birokrasi yang baru saja diamankan kembali dihantam masalah keesokan paginya.Puluhan warga berkerumun berdesakan di pelataran aspal Puskesmas Elite membawa berbagai wadah kosong. Terdengar suara ayam berkotek lemah dan kambing yang mengembik kehausan dari bak truk terbuka milik warga.Leo melangkah keluar dari ruang praktiknya menatap kekacauan di halaman depan."Hewan ternak kami mati
Suara gesekan logam pada gagang pintu arsip berhenti total. Langkah kaki berat berbalut sepatu bot itu berderap menjauh menyusuri koridor. Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada Laras secara perlahan."Mereka bergerak menuju sayap barat gedung," ucap Leo. "Tetap di sini sampai aku membersihkan jalur keluar."Laras membuang napas membiarkan punggungnya bersandar penuh pada rak besi berkarat. Wanita itu merapikan kerah kemejanya menggunakan tangan yang masih bergetar. Akal sehat sang bendahara telah runtuh oleh manipulasi fisik siang ini."Biar aku yang mengambil alih pembukuan kas," tawar Laras dengan suara serak.Leo tidak memberikan balasan verbal. Pria itu menendang area dekat engsel pintu kayu menggunakan tumit pantofelnya.Engsel besi berkarat itu patah terpelanting membentur dinding luar. Pintu gudang arsip roboh menghantam lantai keramik menghasilkan suara benturan keras.Leo melangkah keluar dari ruangan pengap itu. Anwar berdiri tegak membelakangi jalur tangga uta
"Seret pria ini keluar dan hancurkan persendiannya!" perintah Anwar menunjuk lurus ke arah Leo.Dua pengawal raksasa itu melangkah maju. Sepatu bot mereka menginjak lantai keramik hingga menimbulkan benturan keras. Tangan berotot pengawal pertama terjulur mencengkeram kerah kemeja Leo.Leo tidak memundurkan langkahnya untuk menghindari serangan tersebut. Pemuda itu hanya memiringkan tubuh sejauh lima sentimeter ke arah kiri. Tangkapan raksasa itu meleset mengenai ruang kosong."Kau terlalu lambat untuk ukuran algojo," ucap Leo datar.Pengawal kedua mengayunkan tinjunya dari arah sisi buta menargetkan rahang sang dokter.Leo menunduk cepat menumpukan berat badannya pada kaki kanan. Tangan kanannya melesat ke atas mengunci ruang serang lawan dalam hitungan kurang dari sedetik.Dua jari Leo menancap presisi di simpul saraf leher kedua pengawal itu secara bersamaan.Tubuh besar mereka kejang sesaat merespons tekanan mematikan dari ujung jari sang dokter. Dua raksasa itu ambruk meng
Suara putaran mesin pengaduk semen berhenti total di tengah area proyek perluasan jalan desa siang itu.Roda rantai baja ekskavator terparkir diam tanpa ada operator yang mengisi ruang kabin kemudi.Proyek pembangunan infrastruktur desa mendadak terhenti karena ketiadaan pasokan alat berat lanjutan.Material batu pecah dan pasir menggunung tidak tersentuh memblokir separuh akses jalan raya.Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya tepat di depan anak tangga gedung balai desa.Pemuda itu mematikan mesin kendaraan dan melangkah turun membawa satu map dokumen logistik.Dana desa yang seharusnya dialokasikan untuk penyewaan mesin hilang disedot oleh birokrasi korup.Laporan dari bagian konstruksi menunjukkan tidak ada satu pun nota pelunasan yang diteruskan ke pihak penyedia jasa kota.Sepatu pantofel Leo menjejak lantai keramik lorong balai desa yang minim pencahayaan dan ventilasi.Lorong gedung pemerintahan itu sepi dari aktivitas pegawai administrasi yang seharusnya melayani warga.Pintu
Suara kokangan senapan angin rakitan kembali terdengar dari arah luar pintu kemudi truk logistik kuning tersebut.Langkah sepatu bot preman bergeser mundur menjauhi bodi kendaraan mencari sudut tembak yang lebih luas.Leo menarik kedua jarinya perlahan dari titik plexus di bawah tulang rusuk Tiara."Formasi tembak mereka sudah terbuka," observasi Leo menatap spion yang pecah sebagian.Tiara melepaskan gigitannya dari bantalan kursi kulit dengan bibir bawah yang sedikit memerah.Dada wanita berseragam kerja biru tua itu masih naik turun mengatur ritme sisa lonjakan endorfin.Keringat membasahi leher jenjangnya yang terekspos menampilkan rona kemerahan gairah yang belum sepenuhnya pudar."J-jangan tinggalkan kabin ini, Dokter," rintih Tiara memegangi pergelangan tangan Leo erat-erat."Tetap di tempatmu dan jangan menyalakan mesin," perintah Leo melepaskan cengkeraman wanita itu.Pemuda itu memutar tubuhnya menghadap pintu pelat baja di sisi kanan kabin truk.Leo menendang pintu kabin
Sinar mentari pagi mengusir sisa-sisa dingin di ruang istirahat klinik darurat. Leonardo Xaverius melangkah keluar dengan kemeja linen yang melekat pas di tubuh kekarnya, memancarkan wibawa absolut seorang penguasa yang baru saja memuaskan hasratnya.Di belakang sang dewa bedah, Ayu menunduk patuh.
Pintu kayu tebal ruang belakang balai desa berderit terbuka, memecah ketegangan yang sejak tadi menyiksa Juragan Darmo. Lintah darat itu langsung terlonjak dari kursi tunggunya, mengabaikan lututnya yang masih bergetar parah akibat ketakutan."Bagaimana hasilnya, Ratna? Katakan padaku kau berhasil
Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter
Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog