LOGINLampu neon di sepanjang lorong Puskesmas Elite berkedip menyala secara otomatis.Cahaya putihnya menyorot halaman depan aspal yang mulai digelayuti kegelapan malam.Sebuah mobil pikap kabin tunggal tanpa plat nomor melaju kencang menerobos gerbang besi yang terbuka.Mesin kendaraan bertenaga besar itu menderu kasar memecah rutinitas petang warga desa.Kaca samping sisi penumpang terbuka setengah menampilkan siluet tangan bertato.Sebuah benda bulat terbungkus karung goni kotor terlempar dari dalam kabin mobil.Benda itu menghantam lantai keramik teras dengan suara debum yang berat.Pikap tersebut langsung memutar kemudi secara paksa menuju jalan keluar.Ban karet kasarnya berdecit bergesekan dengan aspal meninggalkan jejak hitam pekat sebelum menghilang ke arah jalan provinsi.Mobil dobel kabin hitam milik Leo mengerem tajam tepat di belakang jejak ban yang tertinggal.Leo menendang pintu kemudi hingga terbuka dan melangkah turun.Sepatu pantofelnya menapak lantai teras mendekati karu
Pita kuning garis polisi membentang membelah aspal jalan provinsi yang berdebu.Sepatu pantofel Leo menginjak rerumputan basah di tepi tebing curam.Matanya menatap lurus ke dasar jurang sedalam tiga puluh meter di bawahnya."Ruang kemudi hancur total tergencet batang pohon pinus," lapor Kepala Polisi Perbatasan berdiri di samping Leo.Pria berseragam cokelat itu menunjuk bangkai truk boks berlogo logistik herbal desa yang ringsek."Kami menduga pengemudimu kehilangan kendali akibat rem blong."Leo menyalakan senter taktis dari saku celana kargonya.Sorot lampu menembus kegelapan dasar tebing yang tertutup bayangan rimbun pepohonan."Di mana jasad pengemudiku?" tanya Leo datar."Arus sungai di bawah sana sangat deras," jelas sang polisi."Anggota kami meyakini tubuh Jaya terlempar dari kaca dan terseret arus."Leo mematikan senternya dan menyarungkan kembali benda itu."Kesimpulan yang cacat logika," tanggap Leo melangkah melewati pita kuning."Tunggu, Dokter Leo!" cegah polisi itu me
Ujung jari Nida menekan kain celana bahan milik Leo.Leo mencengkeram kedua pergelangan tangan Nida.Dia menghentikan pergerakan tangan wanita itu tanpa menggunakan tenaga berlebih."Kau melakukan ini karena putus asa," ucap Leo datar, memandang lurus ke mata wanita di depannya."Aku tidak menerima penyerahan diri dari wanita yang mencari pelarian sementara."Nida menggeleng cepat.Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi sebagian bahunya."Saya sadar di mana tempat saya seharusnya," bantah Nida dengan suara bergetar namun tegas."Bang Jaya pergi pagi tadi untuk rute seminggu ke depan."Nida menatap mata Leo tanpa berkedip."Saya tersenyum mengantarnya ke truk, tapi hati saya benar-benar kosong."Leo melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Nida.Nida berdiri tegak di depan kursi Leo.Tangan kirinya menarik kemeja dinasnya hingga terlepas dari bahu.Pakaian seragam itu jatuh menumpuk di lantai ubin puskesmas.Pakaian dalam katun putih kini menjadi satu-satunya pembatas."Tun
Ujung laras pistol rakitan itu berjarak kurang dari satu meter dari dada Leo.Jari telunjuk Bardi bertengger di pelatuk besi yang berkarat.Warga desa menjerit ketakutan dan mundur serentak.Lilis menahan napas di belakang punggung Leo, mencengkeram erat ujung kemejanya."Mundur atau peluru ini menembus jantungmu!" ancam Bardi serak.Napas juragan tambak itu memburu cepat, dadanya naik turun.Leo tidak mengubah posisi berdirinya.Matanya menatap lurus ke laras baja tersebut."Tarik pelatuk itu jika lenganmu tidak bergetar," tantang Leo datar.Bardi menggeram marah mendengar tantangan itu.Dia menghirup udara dari mulutnya dalam-dalam.Tarikan napas kasar itu membawa petaka.Serbuk putih pestisida di kerah baju kargonya ikut terhirup masuk.Mata Bardi membelalak lebar.Pria besar itu terbatuk keras menyemburkan cairan ludahnya.Pistol rakitan di tangannya jatuh membentur paving block.Bardi jatuh berlutut sambil mencengkeram lehernya sendiri."Uhuk! Tolong!" rintih Bardi dengan wajah m
"Aku tidak bisa melakukan itu, Dokter," tolak Lilis melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu."Bardi memiliki banyak anak buah di seluruh desa. Suamiku akan menguliti tubuhku hidup-hidup di depan warga jika aku berkhianat."Leo berhenti di ambang pintu gubuk.Dia menoleh menatap Lilis dengan sorot mata datar."Kau sudah berkhianat sejak menyerahkan buku itu ke tanganku."Lilis menelan ludahnya yang terasa kering."Aku bisa menghancurkan kerajaan suamimu dalam hitungan jam," ucap Leo mengancingkan kembali kerah kemejanya."Pilihanmu hanya dua. Tetap menjadi samsak hidup Bardi, atau menjadi informanku dengan jaminan perlindungan mutlak."Lilis menatap ujung sepatunya sendiri.Sensasi sentuhan Leo di bawah dipan tadi masih berbekas jelas di sekujur sarafnya.Logika dan ketakutannya pada Bardi kalah telak oleh dominasi sang dokter."Aku bersaksi siang ini," putus Lilis mengangkat wajahnya. "Pastikan nyawaku aman, Dokter Leo."Leo mengangguk sekali tanpa memberikan janji v
Pintu gubuk digedor dari luar dengan kepalan tangan."Lilis! Keluar kau perempuan pemalas!" teriak suara serak pria dari balik papan kayu.Tubuh Lilis tersentak keras mendengar suara suaminya.Buku catatan di pelukannya nyaris terjatuh akibat tremor di kedua tangannya yang semakin menjadi-jadi.Leo menarik kembali jari telunjuknya dari leher wanita itu.Dia memperhatikan postur bahu Lilis yang membungkuk tidak wajar saat ketakutan melanda."Tulang belakangmu melengkung menekan saraf servikal," diagnosis Leo cepat.Pria itu menunjuk area pundak kiri Lilis."Itu alasan kenapa tanganmu terus gemetar dan kesulitan bernapas setiap kali mendengar bentakan.""Pergi dari sini, Dokter," usir Lilis menahan air matanya."Bardi akan membunuh kita berdua jika melihat ada pria asing di gubuk ini.""Buka pintunya, Lilis!" bentakan Bardi terdengar semakin dekat bersamaan dengan suara tendangan ke dinding gubuk.Leo tidak mempedulikan ancaman di luar.Tangannya dengan cepat menyambar pinggang Lilis."
Tatapan memuja dari sepasang mata sayu Sekar meruntuhkan sisa-sisa pertahanan rasionalitas Leonardo. Sebagai seorang dokter, ia terbiasa mengendalikan kehidupan dan kematian di meja operasi. Namun malam ini, di dalam gudang kayu yang pengap dan temaram, ia akan mengendalikan tubuh dan jiwa wanita
Gedoran di pintu kayu itu bagaikan dentuman meriam yang menghancurkan kabut gairah di dalam gudang.Maya tersentak mundur, wajahnya yang tadi merah merona karena nafsu kini seputih kertas. Tangannya gemetar hebat, buru-buru menarik naik kemben batiknya dan merapikan rambutnya yang berantakan.Di ba
Hujan turun semakin deras, bagaikan tirai air yang menutupi pekarangan belakang rumah. Kilat menyambar membelah langit malam, menyinari sesosok pria gemuk yang sedang mengamuk layaknya kesetanan.“Buka pintunya, Kania! Di mana ibumu menyembunyikan istriku?!” raung Suroto, tangannya yang kekar terus
Tangan besar Leonardo bergerak secepat kilat. Dengan kecekatan seorang ahli bedah yang tak membiarkan satu milimeter pun kesalahan, ia menarik selimut tebal dari ujung ranjang dan menutupi tubuh Sekar yang setengah telanjang.“Sembunyi di bawah selimut, meringkuk ke arah dinding. Jangan bernapas te







