Home / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Perintah Membakar Gudang

Share

Perintah Membakar Gudang

Author: Falisha Ashia
last update publish date: 2026-05-01 12:40:06

Prang!

Pecahan vas bunga keramik berserakan di lantai ruang tamu. Kepala Desa Tirto membanting apa saja yang bisa diraihnya begitu ia tiba di rumah sore itu.

"Brengsek! Pendatang sombong itu benar-benar menginjak harga diriku di depan seluruh warga!" bentak Tirto dengan urat leher menonjol, napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak.

Ratih berdiri di ambang pintu kamar. Ia menyilangkan lengan di depan dada, menatap suaminya yang sedang mengamuk itu dengan sorot mata yang penuh kejijikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Desa Wanita   Gulungan Kain Pengap

    ​Sari memalingkan wajahnya menahan rasa takut melihat kepalan tangan pria tersebut bersiap melayang. Kepalanya tertunduk menghindari kontak mata dengan sang algojo. Tangan wanita itu gemetar mencengkeram tepi meja potong.​"Kalian menyiksa pekerja wanita hanya demi menghemat biaya produksi linen murah," suara Leo memecah ketegangan di ruangan itu.​Sepatu pantofel Leo melangkah memotong jarak dari arah pintu belakang dalam hitungan detik.​"Siapa kau berani masuk ke area pabrik ini?!" bentak preman itu menoleh ke arah sumber suara dengan dahi berkerut.​"Lepaskan tangan kotor itu dari pakaiannya sekarang!" seru Leo dengan nada datar tanpa menghentikan langkah.​Belum sempat pria itu mengeluarkan makian balasan, lengan kiri Leo menepis tangan preman itu dari kerah Sari. Dua jari kanan Leo melesat cepat dan menancap presisi di sisi kiri leher lawan.​Tekanan tajam mengenai titik saraf radialis memutus aliran darah ke otak pria bertubuh kekar itu secara instan.​Mata preman itu mendelik

  • Rayuan Desa Wanita   Benang Merah Beracun

    Langkah kaki perawat terdengar berlarian menyusuri lorong Puskesmas Elite pagi itu. Bidan Ayu berdiri di ambang pintu bangsal perawatan membawa papan catatan medis dengan wajah tegang.​"Dokter, delapan pasien di bangsal timur mendadak mengalami ruam kulit melepuh secara serentak," lapor Bidan Ayu saat Leo melintas.​Leo memutar arah langkahnya memasuki bangsal perawatan beraroma karbol tersebut. Suara erangan pasien terdengar bersahutan menahan rasa gatal dan perih di permukaan kulit mereka. Beberapa pasien lansia juga menunjukkan gejala batuk kering disertai napas pendek.​Leo menghampiri ranjang terdekat dan mengamati kulit lengan seorang pasien pria paruh baya.​Bercak kemerahan membentuk pola cetakan kain terlihat jelas di sepanjang area punggung dan lengan pasien tersebut.​"Lepaskan semua seprai dan selimut merah dari ranjang pasien sekarang juga," perintah Leo tanpa membuang waktu.​Bidan Ayu dan dua perawat lain segera menarik kain-kain tersebut dari atas kasur. Mereka mengga

  • Rayuan Desa Wanita   Paru-Paru yang Menjerit

    Leo memiringkan kepalanya menghindari bilah celurit yang menembus dinding bambu. Ujung baja berkarat itu hanya berjarak dua sentimeter dari pelipis kirinya. Suara gesekan logam pada bilah bambu terdengar nyaring memekakkan telinga.​Tangan kiri Leo merampas gagang kayu senjata itu dari luar melalui celah robekan dinding. Pria itu menarik celurit beserta lengan preman penyerangnya dengan sentakan keras tak terduga. Tenaga tarikan itu membuat preman di luar kehilangan keseimbangan pijakan pada tanah berlumpur.​Bahu penyerang itu membentur anyaman bambu gubuk sangat kuat. Terdengar suara tulang hidung patah diiringi erangan kesakitan dari balik dinding.​Leo melepaskan gagang celurit itu dan membiarkan tubuh preman di luar merosot jatuh ke genangan lumpur.​"Asap di luar mulai menipis tertiup angin dari arah utara," ucap Leo melepaskan tekanan jarinya dari ulu hati Ratri. "Kita keluar dari gubuk ini sekarang."​Ratri menarik napas panjang mengisi paru-parunya dengan pasokan udara bersih

  • Rayuan Desa Wanita   Kabut Asap di Gubuk Bambu

    Lidah api membesar menyapu barisan batang tanaman tebu sejauh sepuluh meter dalam hitungan detik. Asap hitam berbau karbon merayap naik menutupi jarak pandang secara total di sektor selatan.​Darman menekan ibu jarinya ke atas kertas dokumen itu dengan tangan gemetar. Noda darah dan keringat mengotori bagian bawah surat perjanjian pemindahan hak milik lahan.​"Urusan tanah ini selesai," ucap Leo menarik kertas bermaterai itu dari tanah.​Leo melipat dokumen tersebut dan memasukkannya ke dalam saku kemeja linennya.​Preman-preman bayaran Darman berlarian panik menabrak satu sama lain di tengah kebutaan asap. Mereka terbatuk keras membuang senjata tajam ke tanah berdebu.​Suara derak batang tebu yang hangus mendominasi pendengaran di seluruh area perkebunan. Suhu udara meningkat drastis mengeringkan permukaan kulit dalam sekejap.​Ratri terbatuk hebat menghirup udara beracun di sekitarnya. Mandor wanita itu kehilangan tenaga penyangga di lututnya dan nyaris tersungkur ke depan.​Leo mel

  • Rayuan Desa Wanita   Asap Hitam di Musim Giling

    Leo menggeser tombol merah di layar ponselnya memutus panggilan Sekar secara sepihak. "Kirim pasukan keamanan ke perbatasan," instruksi Leo memasukkan ponsel ke saku celana. "Aku memiliki urusan di sektor lain."​Asap hitam pekat membubung menutupi cerobong Pabrik Gula Mini desa siang itu. Sumber kepulan asap tersebut bukan berasal dari mesin pembakaran tebu yang sedang beroperasi. Titik api merambat dari tengah lahan perkebunan tebu di sektor selatan.​Leo menekan pedal rem Jeep hitamnya memasuki batas lahan perkebunan tebu. Pria itu mematikan mesin kendaraan dan melompat turun membawa tas medisnya.​Lima pria berwajah kasar berdiri melingkar menghalangi akses jalan menuju titik kobaran api. Mereka menggenggam celurit panjang bersiap menyerang.​Bos Darman berdiri di belakang mereka sambil menghisap sebatang rokok kretek murahan. Mafia tanah itu tersenyum meremehkan melihat api menghancurkan suplai gula merah distrik.​Ratri berlari menerobos barikade preman itu membawa dua ember air

  • Rayuan Desa Wanita   Sang Tengkulak Hancur

    Leo menggeser tumpukan karung goni seberat lima puluh kilogram itu menggunakan satu tangan. Debu dedak kembali beterbangan di udara saat barikade buatan tersebut terbuka lebar.Pria itu melangkah keluar dari sudut gelap gudang menuju area bongkar muat. Sepatu pantofelnya menimbulkan suara ketukan tajam di atas lantai semen basah. Lampu jalan menyala menembus celah ventilasi menandakan pergantian malam."Kalian mencari orang yang salah di tempat yang salah," tegur Leo memecah fokus para preman.Tiga preman yang sedang membongkar tumpukan pakan menoleh serentak. Koko berdiri tidak jauh mengawasi dengan wajah merah padam. Urat lehernya menonjol menahan amarah melihat kemunculan sang dokter."Habisi dokter keparat itu sekarang juga! Jangan biarkan dia keluar dari gudang ini bernapas!" perintah Koko menuding lurus ke wajah Leo.Preman-preman itu ragu melangkah maju melihat dua rekan mereka masih terkapar memegangi tangan di lantai.Koko mengumpat kasar melihat kepengecutan anak buahnya. Pr

  • Rayuan Desa Wanita   Anak dan Ibu Sama-sama Menggoda

    Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu

  • Rayuan Desa Wanita   Terjebak Di Desa

    Sebuah motor klasik hitam yang nilainya di pasar barang antik mencapai ratusan juta, membelah jalanan tanah berbatu. Debu tebal mengepul liar di belakangnya, menutupi pandangan.Namun tiba-tiba saja, motor yang dikendarai oleh pria tampan bernama Leonardo Xaverius itu mogok."Sial! Kenapa harus mog

  • Rayuan Desa Wanita   Satu Kasur Bertiga

    Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat sempit dan sunyi. Sinar temaram dari lampu teplok di sudut ruangan menyorot tubuh tiga orang yang berbaring sejajar di atas ranjang kayu tua. Kasur itu sebenarnya hanya muat untuk dua orang, tetapi malam ini, tubuh tegap Leonardo Xaverius ter

  • Rayuan Desa Wanita   Ayo Kita Tidur Bertiga

    Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status