MasukSelama 2 tahun bertunangan dan 6 tahun menikah Xieran selalu bersikap dingin ke istrinya, Senian, meskipun Xieran memperlakukannya dengan baik dan memanjakannya. Dan Senian anggap itu adalah cinta. Sampai pada akhirnya Senian melihat Xieran tersenyum manis dan menatap lembut ke seseorang tapi wanita itu bukan dirinya. Awalnya, Senian mencoba menguatkan diri. “Aku istri sah. Aku punya hak. Aku punya tempat,” bisiknya pada hati yang terluka. Tapi perlahan, dunia seakan bersekongkol melawannya. Suaminya makin menjauh, keluarga suaminya tak lagi mendengar, bahkan mereka pun mulai berjarak. Dan ketika Xieran berkata “Mungkin… sudah saatnya kita berpisah.” Kata-kata itu menghantam jiwanya lebih keras daripada apa pun. itu bukan sekadar suara suaminya, itu gema dari bisikan Yuilan yang berhasil merebut tempatnya. Hingga dirinya sekarat ditangan Yuilan, rahasia 6 tahun bersama suaminya terkuak yang menimbulkan dendam ke kehidupan dirinya yang terlahir kembali. Bertekad untuk menuntut balas pada semua orang yang menyakitinya.
Lihat lebih banyak“Bagus gelangnya, apakah aku boleh memakainya?”
“Jangan! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu memakai perhiasan ini. Bisa saja hilang dijambret orang. Aku tidak mau hasil kerja kerasku ini sia-sia.” Satu kotak berisi beberapa perhiasan tampak berkilau di dalamnya. Aku Arindi, menatap benda tersebut begitu takjub. Ingin sekali aku memakai salah satu dari perhiasan tersebut. Namun, aku hanya bisa berangan-angan tanpa bisa terwujud. “Kamu jangan salah paham dulu. Maksud aku, semua perhiasan ini cukup disimpan saja sebagai tabungan kita biar lebih aman. Aku tidak ingin hasil kerja kerasku hilang begitu saja. Aku ingin masa tua kita ada bekal, tidak perlu lagi capek-capek kerja sama orang. Cukup menikmati hidup saja dengan buka usaha mandiri!” Aku hanya bisa tersenyum getir, saat suamiku, mas Raka, melarangku untuk memakai perhiasan tersebut. “Ya sudah, tidak apa-apa, Mas. Aku paham maksud kamu baik. Aku mau masak, tapi bahan makanan sudah habis. Aku minta uang belanja,” ucapku, menengadahkan tangan ke arahnya. Mas Raka mengeluarkan uang sebanyak sepuluh ribu lalu memberikannya padaku. Aku yang biasa disapa Arin, menerima uang tersebut. Sambil berjalan, aku menatap uang itu dengan kebingungan yang setiap hari aku alami. “Uang segini aku harus beli apa? Sedangkan mas Raka nggak suka kalau teman nasinya hanya satu jenis,” gumamku. Aku terus berjalan hingga aku telah tiba di tempat penjual sayuran. “Hanya itu, Rin? Saya perhatikan, tiap hari kamu belanja hanya sepuluh ribu saja. Apa kamu lagi mengikuti trend tikotok?” tanya salah satu tetanggaku, yang kebetulan sedang membeli sayuran. “Ehem … suami saya sedang menunggu di rumah. Saya permisi!” pamitku, aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu dengan tatapan heran para tetangga ke arahku. Aku menghela napas panjang. Sepertinya mereka menganggapku sedang mengikuti tren sepuluh ribu di tangan istri yang tepat. Tidak, mereka belum tahu saja, keadaan yang memaksa diriku untuk hidup irit seperti ini. Sesampainya di rumah, aku segera mengolah sayuran itu. Namun, saat aku menghidupkan kompor, beberapa kali apinya tidak kunjung menyala. “Gasnya habis,” gumamku. Aku bergegas menghampiri mas Raka yang berada di dalam kamar, tiduran sambil memainkan ponsel. “Gas habis, aku minta uang untuk beli gas,” pintaku. Mas Raka menoleh ke arahku. “Perkara gas saja kamu sampai menggangguku? Kamu punya otak, kamu bisa berpikir bagaimana cara mengatasinya,” celetuk mas Raka. Ucapan mas Raka cukup tidak mengenakan di hati. Dalam situasi seperti ini, aku dipaksa untuk berpikir bagaimana mengatasi masalah yang aku hadapi. Aku tidak memiliki uang, semua tabungan, mas Raka yang menyimpan. “Baiklah!” Aku pun kembali ke dapur, aku tahu maksud mas Raka baik, ingin masa tua kami bahagia. Namun, jika ditanya apakah nafkah sepuluh ribu untuk satu hari cukup? Jawabannya tentu saja tidak. Di era modern ini, apa pun serba mahal. Aku menatap tabung gas cukup lama. Mencari jalan keluar supaya aku tetap bisa menyajikan makanan. Aku mendekati pintu belakang, mengedarkan pandangan menyisir lokasi belakang rumah. Lokasi rumah yang kami tempati banyak ditumbuhi pepohonan di sekitarnya. Aku menyunggingkan senyuman kecil, saat sebuah ide terlintas di dalam kepalaku. “Kenapa aku baru kepikiran?” Aku menjentikkan kedua jariku. Aku mengambil beberapa batu yang tergeletak di belakang rumah. Lantas menyusunnya hingga terbentuklah sebuah tungku darurat walaupun bentuknya sedikit aneh. Namun, tidak apa-apa, sebagai wanita aku harus serba bisa. Setelah tungku itu jadi, aku memungut patahan dahan dan ranting kayu. Aku mulai memasak dengan bahan bakar seadanya. “Masakannya sudah matang, Mas. Mari makan!” seruku, membangunkan mas Raka yang masih berkutat dengan ponselnya. “Ya!” sahut mas Raka, ia keluar dari dalam kamar, lantas pergi menuju ruang makan. “Mas, apa nggak sebaiknya aku saja yang menyimpan tabungan kita? Em … maksud aku … aku juga bisa kok kamu percaya,” ujarku. Aku mulai menyantap masakanku, duduk bersebelahan dengan mas Raka. Tak kusangka, mas Raka tiba-tiba menghentikan makannya. Ia menoleh ke arahku, tatapannya sungguh membuatku merasa tidak nyaman. “Maaf, aku percaya kok sama kamu. Tapi lebih aman jika aku yang menyimpannya.” Aku menghela napas panjang, aku pikir mas Raka akan marah padaku. Namun, ternyata tidak. Nada bicaranya lembut, sungguh menenangkan hati walaupun aku merasa keiritan di dalam rumah tangga kami membuatku cukup menguras pikiran. “Iya, Mas. Aku paham, tidak apa-apa, kamu saja yang menyimpannya,” sahutku. Siang ini aku tengah sibuk menjahit baju robekku dengan tangan di teras rumah. Lumayan, walaupun robek, masih bisa dijahit dan bisa dipakai. Kalaupun ingin membeli yang baru, aku harus menunggu lebaran tiba, itu pun jika mas Raka mendapatkan THR dari tempat kerjanya. Sementara mas Raka, ia menghabiskan waktu libur kerjanya hanya di rumah. “Aw!” pekikku. Untuk yang kedua kalinya tanganku tertusuk jarum. Namun, aku terus melanjutkan aktivitas menjahitku, karena besok aku harus pergi ke kondangan pernikahan temanku. “Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, membuka kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung. Seorang wanita berdiri di hadapanku. Membawa tas jinjing, dan beberapa kali ia mengusap kedua matanya. “Gita!” Aku menyimpan bajuku di atas meja. Berdiri lalu menghampiri wanita yang ternyata adalah temanku. Menjatuhkan tasnya, Gita berhambur memelukku. Menangis sesenggukan di dalam pelukanku. “Kenapa? Ada masalah?” tanyaku. “Aku diusir dari rumah, ibu tiriku menguasai rumahku, dan ayahku hanya diam saja.” Gita menumpahkan tangisannya. Aku berusaha menenangkan. Kami mengurai pelukan, wajah Gita basah dan kemerahan. Kulihat dia sangat terluka atas perlakuan keluarganya. Aku bisa memahami kesakitan yang Gita rasakan. “Kamu yang sabar, Git. Sebaiknya kita masuk ke dalam, kamu terlihat sangat lelah,” ajakku. Aku meraih tas Gita yang tergeletak di teras, membawanya masuk sambil menuntun wanita itu. “Kamu duduk dulu, aku ambil minum dulu di dapur!” ujarku, Gita menurut, ia duduk di ruang tamu. “Ada tamu? Siapa?” Mas Raka baru saja keluar dari kamar mandi, kami berpapasan saat aku pergi ke dapur. “Gita, temanku. Dia diusir dari rumah, aku mau buatkan minum untuknya,” jawabku. “Oh!” Mas Raka berlalu dari hadapanku. Aku segera membuatkan minum. “Diminum dulu. Jangan terlalu banyak pikiran.” Aku menaruh segelas teh di atas meja. “Terima kasih, Rin. Aku minta solusi, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus tidur di kolong jembatan, di jalanan? Aku tidak punya uang untuk mengontrak rumah,” ucap Gita. “Aku tidak tahu, Git. Nanti aku minta pendapat suamiku. Sekarang kamu istirahat saja dulu di sini,” jawabku. “Kamu tunggu sebentar, aku mau ambil bajuku dulu di teras,” lanjutku. “Em … Rin. Boleh aku numpang ke kamar mandi?” tanya Gita, yang kubalas dengan anggukan. Aku mengambil baju yang telah selesai kujahit. Aku kembali ke dalam, kudengar suara ponsel mas Raka berdering di dalam kamar. Namun, aku tidak menemukan suamiku di dalam sana. “Dari bos,” gumamku. Aku mencari mas Raka sambil membawa ponselnya. Langkah kakiku terhenti saat kulihat mas Raka berdiri di depan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.Pesawat mendarat tanpa jejak administratif yang bisa ditelusuri, nama Senian tidak tercatat di mana pun. Dia dibawa melalui jalur khusus menuju fasilitas medis yang berada jauh dari sorotan, dijaga oleh orang-orang yang bahkan tidak memakai seragam.Di ruang perawatan intensif itu, Senian terbaring dengan wajah pucat, napasnya teratur berkat alat bantu. Luka bakar ringan telah ditangani, asap yang menggerogoti paru-parunya dibersihkan perlahan. Dokter berbicara pelan, seolah takut dunia luar mendengar bahwa dia selamat.Keputusan diambil saat itu juga, keberadaan Senian dirahasiakan. Jalur medis disamarkan dan semua akses dibatasi.Dunia boleh mengira Senian telah mati terbakar. Biarlah Lucien tenggelam dalam kehilangan.Biarlah Yuilan percaya pada “kemenangan”-nya.Di balik dinding steril rumah sakit itu, sebuah keluarga yang hampir hancur menyatukan diri kembali pelan, rapuh, tapi utuh.Dan di ranjang putih itu, Senian tanpa tahu sedang dijaga oleh cinta yang tidak lagi akan membiar
Garis polisi terpasang mengelilingi puing-puing villa yang menghitam.Tim forensik bergerak di antara sisa-sisa kebakaran, mengukur, memotret, mengumpulkan selongsong peluru yang tertinggal di lantai dan dinding yang runtuh. Bekas tembakan terlihat jelas, beberapa bahkan tidak tersentuh api.Laporan demi laporan disusun. Ada pertempuran, bukan satu pihak.Di ruang sementara yang dijadikan pos komando, Lucien berdiri kaku menatap papan analisis. Foto-foto diperbesar, arah tembakan, sudut benturan, jejak sepatu, waktu kejadian.Ruang investigasi dipenuhi bau asap yang masih tertinggal di pakaian para petugas.“Serangan terjadi sebelum kebakaran,” ujar salah satu analis pelan. “Api kemungkinan besar disengaja… sebagai penutup.”Peta denah villa terpampang di layar besar. Tanda merah menyala terkonsentrasi di sisi kanan bangunan, zona dengan kerusakan paling parah, nyaris tidak bersisa.Seorang petugas forensik menunjuk area itu. “Dari analisis pola bakar dan arah penyebaran api, sumber u
Lucien hancur.Dia tidak tahu siapa yang harus dia salahkan selain dirinya sendiri.Lucien berdiri di tengah reruntuhan, matanya merah, napasnya terengah karena kehilangan yang menggerogoti dari dalam.“Thomas,” suaranya serak namun tajam, memaksa diri kembali ke nada perintah, “periksa semua sudut. Setiap puing. Setiap abu. Aku ingin tahu semuanya.”Thomas mengangguk cepat, dia memberi isyarat.Para pengawal dan tim bergerak menyebar, membalikkan balok hangus, menggeser potongan dinding yang runtuh, menyisir sisa-sisa kebakaran dengan ketelitian yang dingin. Kantong-kantong bukti dibuka, lampu sorot dinyalakan. Bau arang dan logam panas masih menggantung di udara.Satu demi satu temuan dilaporkan, beberapa sosok yang tidak lagi dikenali, korban kekacauan malam itu. Wajah-wajah yang tidak bisa dipastikan karena Identitasnya menguap bersama api.Tidak ada yang berkata keras-keras, tapi pikiran itu menggantung berat di antara mereka “Senian bisa saja salah satu dari mereka.”Lucien mena
Dia melangkah mendekat, menatap Senian di pelukan Nathan. Pandangannya lembut, penuh rasa bersalah yang tidak terucap.“Kamu berutang hidup padanya,” ucapnya pelan entah pada Senian, entah pada dirinya sendiri.Nathan mengangguk tanpa menatapnya. “Aku tahu.”Tim medis segera bergerak, membantu menstabilkan Senian sebelum dibawa ke kendaraan evakuasi. Selimut darurat menutup tubuhnya, oksigen dipasang perlahan.Saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan lokasi, Nathan duduk di samping Senian, tidak melepaskan genggamannya sedetik pun.Xieran menatap sisa villa Lucien yang masih menyala dengan sebagian atap yang sudah runtuh dan api yang perlahan padam.Malam itu berakhir bukan dengan kemenangan sempurna melainkan dengan satu hal yang jauh lebih berartiSenian hidup!***Kendaraan konvoi itu akhirnya memasuki area aman.Gerbang tertutup rapat di belakang mereka, memutuskan kekacauan yang tertinggal di luar. Lampu-lampu putih menyala terang, menyorot wajah-wajah yang kelelahan, terluka n
Senian menutup matanya.Putus asa menyelimuti dirinya seperti selimut dingin. Tidak ada lagi tenaga untuk melawan dan tidak ada lagi amarah. Hanya kelelahan yang dalam, kelelahan hidup yang terasa berulang dan kejam.“Jadi begini akhirnya” pikirnya “Sama seperti dulu.”Bayangan-bayangan muncul satu
Di saat yang sama, jauh dari villa itu dua sinyal masuk bersamaan. Bukan kebetulan, melainkan satu pola yang akhirnya terbaca jelas.Di kendaraan taktis yang melaju kencang di jalan pesisir, layar di depan Nathan menyala merah.“Konfirmasi masuk,” lapor salah satu anggota timnya cepat.“Pergerakan
Xieran menoleh tajam.“Kita tidak punya waktu.”Nathan mengangguk, lalu menghantam pintu itu dengan bahunya sekuat tenaga.Sekali gagal, dua kali retak. Api menyambar lebih besar dari dalam.“Sekali lagi!” teriak Xieran.Nathan dan Xieran berteriak sekuat tenaga menghantamnya lagi. Pintu kamar itu a
Pesawat pribadi Nathan lepas landas beberapa jam setelah Yuilan tiba. Di dalam kabin, Xieran duduk berhadapan dengannya, wajahnya lebih dewasa dari sebelumnya, tidak lagi ada sisa ragu.“Aku sudah mengaktifkan timku di Eropa,” kata Xieran. “Mereka bukan dari jalur Muller, identitas bersih.”Nathan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan