로그인“Porsi bolognese berikutnya sudah siap? Wadahnya hampir kosong!” seorang camiriere–pramusaji–berseru dari balik meja dapur.
“Miri, berapa lama sugo di pomodoro siap?” teriak Chef Dom kepada bawahannya.
Sang kepala koki melempar pandangan ke setiap anak buahnya yang tampak kalang kabut. Ia geram, sembari mengingatkan setiap orang
“Arman, apa tidak masalah kamu membicarakan hal ini denganku? Sepertinya ini hal yang personal,” tegur Miri.“Ini udah jadi rahasia umum, jadi aku nggak keberatan. Lagipula, cepat atau lambat kamu akan mendengarnya dari seseorang, Miri. Daripada mendapat cerita yang salah dari anggota keluarga lain, kamu mendapat info langsung dari sumbernya,” balas Arman, sambil menunjuk dirinya sendiri.Miri telah mengesampingkan piring kuenya yang kosong. Kini jari-jarinya melingkari gelas mocktail yang isinya telah habis separuh. Permukaan gelas mengembun, menyisakan sensasi dingin dan butiran air di kulit Miri.Belum lagi tingkah Arman yang santai saat mengungkit kehidupan keluarganya. Seakan-akan lidahnya tak lagi dapat mengecap rasa. Yang tersisa adalah hambar, mati rasa. Tak perlu bumbu tambahan untuk
“Miri! Ayo, sini, kita dansa!” ajak Sara dari tengah ruangan.“Nggak, dulu, Ma. Aku capek!” Miri terpaksa menolak.Musik yang riang membuat semua orang bersemangat. Mereka saling berpasangan dan berputar, tertawa lepas. Seno telah melepas jaket tuksedonya, menggulung lengan kemeja hingga ke siku. Ia menggandeng tangan Sara, membuatnya berputar dan tergelak di saat yang bersamaan.Lagu ‘I Want You Back’ oleh The Jackson 5 mengiringi langkah mereka yang ringan. Para tamu turut memadati area dansa sambil bernyanyi bersama. Miri mengamati itu semua dari tempat duduknya. Sebuah piring kecil berisi potongan kue pernikahan telah habis setengah. Rasa krim keju dari red velvet masih tersisa di lidah.“Mir, aku sama Kemal mau a
“Nggak ada heels yang lebih pendek lagi, Mir? Kaki Mama pegel,” keluh Sara di ruang ganti.Setelah akad nikah selesai, waktunya gaun pengantin yang panjang dengan model lebih kasual. Dengan alasan tak ingin mengotori gaun yang dipakainya saat upacara, Sara memilih untuk mengenakan desain lain dengan rok sebatas betis.Miri tahu ibunya yang tomboi tidak betah mengenakan gaun. Pekerjaannya di dunia penyiaran memaksa Sara untuk aktif bergerak. Isi lemarinya pun penuh dengan baju kerja, kaus dan celana jins.“Ada flat shoes, Ma. Tapi, masa di hari pernikahan pakai sepatu flat. Nggak cantik, dong,” goda Miri.Ia tahu hal ini akan terjadi. Karenanya, Miri telah menyiapkan beberapa sepatu cadangan jika sewaktu-waktu ibunya merasa pegal. Dan benar saja. S
“Man, laper, nih. Makan, yuk?” bisik Wisnu, mengelus perutnya.“Baru juga nyampe. Kita samperin Seno sama Sara dulu, ya. Abis itu baru makan,” Arman berkata lembut pada seniornya yang terpaut usia dua tahun.Alat indra Arman sibuk menyelami setiap sudut halaman courtyard Alternata yang hidup. Mulai dari alunan musik latar (“L-O-V-E” oleh Nat King Cole) yang diputar lembut. Rangkaian bunga segar menghiasi kolom-kolom beton lantai koridor.“Wow. Nggak nyangka bagian belakang restoran ternyata secakep ini,” gumam Wisnu.Arman setuju.Sebuah area yang ideal untuk acara yang bersifat intim dan personal. Seperti keinginan Seno, hanya keluarga dan teman-teman dekat yang dat
“Jadi, itu kakak-kakaknya Seno?” tanya Jihan sambil memainkan rambut panjang Miri.“Hei, jangan keras-keras,” bisik Miri, menyikut lengan sahabatnya.Mereka menempati salah satu sudut koridor, sambil menunggu persiapan terakhir hingga meja pelaksanaan akad di tengah ruangan siap.Jihan mengintip dari balik bahu Miri, menyipitkan mata pada sekelompok wanita paruh baya yang mengenakan gaun serba biru. Sebagian dari mereka berbagi fitur wajah yang sama dengan Seno. Yang lain memiliki wajah lebih feminin. Empat orang wanita paruh baya duduk pada barisan kursi yang berjejer di halaman tengah.“Memangnya kakak kandung Seno ada berapa?” lanjut tanya Jihan.“Yang aku lihat di ruangannya
2,5 BULAN KEMUDIAN“Gimana, Miri? Mama cantik, nggak?” tanya Sara, sambil berkacak pinggang.“Cantik banget, Ma,” jawab Miri sambil mengacungkan jempol. Bu Sara tersenyum. Ia berbalik, memandang pantulan dirinya di cermin. Sejak matahari masih bersembunyi di balik garis horizon, Sara telah sibuk merias diri.Tangan dari setiap ahli tata rias itu sibuk mengerjakan satu bagian tubuh Sara. Mulai dari rambut, wajah, hingga kuku-kukunya, tak ada yang luput dari sentuhan para seniman itu. Wajah yang biasanya berkerut dan kuyu itu telah bertambah 10 tahun lebih muda. Pesona Sara seakan tak termakan usia.“Ini udah jam berapa, ya? Bentar lagi akadnya harus mulai, kan?” Sara bertanya panik, di antara tangan-tangan yang sedang bekerja untuknya.“Masih ada satu jam, Bu. Udah nggak sabar ya mau married?” goda salah satu penata riasnya.Mereka tertawa bersama, membuat Sara tersipu malu.Sambil menahan kantuk, Miri menemani proses transformasi ibunya pagi ini. Hari ini, Sara akan menikah dengan Se
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







