LOGINSepanjang mengobrol dengan Glen, Kiran terus melirik pada Raka yang sejak tadi sedang mengawasinya dari ruang keluarga. Pandangan pria itu terlihat tajam, dan raut wajahnya kaku. Tidak ada senyuman sama sekali di bibir saat Kiran melemparkan senyuman tipis pada pria itu.Oh, ya. Ngomong-ngomong soal Glen, dia tiba-tiba muncul di rumah orang tua Kiran karena diundang oleh ibu Kiran. Saat Kiran mengirimkan pesan pada Glen, pria itu sudah berada dalam perjalanan menuju rumah orang tua Kiran. Sengaja dia tidak membalas karena ingin memberikan kejutan pada wanita itu."Lama sekali mengobrolnya. Betah ya bicara dengannya?"Kiran yang baru saja memasuki kamar terperanjat mendengar suara Raka dari balik pintu yang sejak tadi terbuka. "Raka, kamu mengagetkanku," ujarnya sembari memegang dada."Di mana dia? Sudah pergi?" tanya Raka sembari berjalan menuju ranjang."Ada di depan, mengobrol dengan Papa."Tadi, saat menyadari Raka sudah tidak
"Kamu sedang apa?"Ketika mendengar suara Kiran dari belakang, Raka seketika menoleh sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku."Baru selesai bicara dengan Doni," Raka, setelah itu dia menghampiri Kiran. "Mandilah. Setelah ini kutemani kamu menemui pria itu.""Tidak perlu," tolak Kiran. "Biar aku temui dia sendiri saja.""Aku tidak izinkan kamu menemuinya sendirian," balas Raka. "Nanti kalian malah lupa waktu."Kiran mengerutkan kening ketika Raka menyodorkan ponsel padanya. "Apa?""Minta rekening pria itu. Langsung transfer dari sini, jadi kamu tidak perlu bertemu dengannya."Meski Kiran memegang salah satu kartu Raka, tapi mobile mbankingnya tetap ada di ponsel pria itu. Kiran hanya bisa menggunakan kartu itu di mesin ATM atau langsung bertransaksi di toko atau mechant lainnya."Raka, aku harus menemuinya. Aku meminjam uang yang jumlahnya besar, tidak enak jika aku mengembalikannya seperti itu."Rasanya tidak sopan. Bagaimanapun, Glen sudah berbaik hati meminjamkan uang padanya, sud
"Kalau begitu, jangan pernah berani memperlakukanku seperti itu lagi." Kiran menunduk, kemudian berkata dengan lirih, "Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi." Melihat wajah menyesal Kiran, raut wajah Raka perlahan melembut. "Kemari." Dengan patuh, Kiran mendekati Raka. Ketika sudah berada tepat di depannya, tiba-tiba saja tangannya ditarik hingga dia terduduk di pangkuan pria itu. Tatapan keduanya bertemu. Refleks Kiran memegang kedua bahu Raka saat pinggangnya ditarik mendekat oleh pria itu. Selama beberapa saat, mereka saling menatap dengan lekat hingga akhirnya Kiran menunduk karena tidak tahan terus ditatapan oleh Raka. "Besok langsung kembalikan uang pria itu," titah Raka. "Gunakan kartu yang aku berikan padamu untuk membayar utangmu." "Iya," jawab Kiran lirih. Karena terus menunduk, Raka akhirnya mencubit pelan dagu Kiran, kemudian mengangkatnya. "Jangan terlalu dekatnya, aku tidak suka." "Kami hanya teman." "Meski begitu, aku tetap tidak suka." Kiran te
"Raka, aku ingin mengembalikan sesuatu padamu." Raka sedang duduk bersandar tanpa mengenakan baju, seketika mendongak ketika mendengar ucapan sang istri. "Mengembalikan apa?" tanyanya setelah Kiran berdiri di sisi kanan depannya. Waktu menunjukkan pukul 10 malam ketika Kiran memasuki kamar. "Ini," ucap Kiran sambil menyodorkan kartu pada Raka. "Kenapa kamu memberikan kartu ini padaku?" tanya Raka lagi tanpa meraih kartu itu. "Kamu masih marah karena foto tadi?" Sebelum Kiran sempat menjawab, Raka sudah menunjukkan layar ponselnya pada Kiran. "Lihat, aku sudah mengganti wallpaper ponselku." Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya usai melihat foto dirinya dijadikan wallpaper oleh Raka. Tidak bisa dipungkiri kalau dia merasa senang karena Raka sudah mengganti wallpapernya dengan foto dirinya. "Kita tidak memiliki foto berdua semenjak menikah, jadi aku pakai fotomu saja." Kiran termenung sambil menatap foto dirinya. 'Dari mana pria itu mendapatkan foto dirinya saat remaja?
"Ayo, Raka masuk," ucap Ibu Kiran setelah membuka pintu rumahnya. "Iya, Ma." Raka membiarkan ayah Kiran mendorong kursi roda ayahnya, baru mengikuti dari belakang. "Maaf, ya kalau rumahnya berantakan, Mama belum sempat membereskan." "Tidak apa-apa, Ma." Ayah Kiran langsung dibawa ke kamar oleh Kiran untuk beristirahat, sementara Raka duduk di ruangan keluarga. "Kamu bersihkan kamar tamu dulu, lalu bawa suamimu untuk istirahat. Dia pasti lelah," ucap Yulia setelah memasuki kamar. "Jangan lupa buatkan makanan," tambahnya lagi sebelum sang putri keluar dari kamar. "Iya, Ma." Sebelum membereskan kamar yang akan ditempati mereka berdua, Kiran terlebih dahulu membuatkan kopi untuk Raka dan membawakannya camilan. "Kamu tunggu di sini, aku mau membereskan kamar dulu." Raka hanya mengangguk. Setelah Kiran pergi, pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu mengecek pekerjaannya. Kurang lebih setengah jam lamanya, Kiran akhirnya kembali dan meminta Raka untuk mengi
Setelah tiba di hotel, Raka langsung pergi ke restoran, di sana masih ada Glen yang duduk di mejanya."Aku akan langsung pada intinya. Jauhi istriku, aku tidak suka kau menempel terus padanya."Meski Raka berbicara dengan wajah tidak ramah, tapi Glen tetap tersenyum tipis. "Setahuku, kamu menikahinya bukan karena cinta, kan?"Kemarin pagi, Glen pergi menemui orang tua Kiran dan bertanya mengenai Raka. Dari sanalah mendapatkan semua informasi mengenai kehidupan Kiran, termasuk pernikahannya dengan pria itu."Itu bukan urusanmu.""Masalah Kiran menabrak calon istrimu, aku percaya bukan dia pelakunya. Akan kucarikan bukti untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, tapi setelah itu kamu harus melepasnya."Ketika mendengar itu, Raka berdecih dengan senyuman mengejek. "Atas dasar apa kamu memintaku untuk melepasnya? Dia istriku, sekalipun aku sudah tidak menginginkannya, aku tetap tidak akan membiarkannya dimiliki orang lain.""Kamu tidak mencintainya, kenapa tidak mau melepasnya?""Kata s
"Maaf, kami tidak bisa mempekerjakan mantan napi di sini," ucap Pria berumur 55 tahun yang sedang duduk di depan Kiran. “Saya bisa melakukan pekerjaan apa saja, Pak. Cleaning service juga boleh,” balas Kiran meyakinkan. Pria itu menggeleng dengan pelan. "Kami tetap tidak bisa menerimamu. Catatan
"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Raka menantang Alfan dengan wajah arogan. "Maka, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini dengan membawanya," jawab Alfan tak kalah arogan. Kiran menjadi panik sekaligus bingung ketika melihat ketegangan di antara keduanya. Dia ing
Melihat dia akan terjatuh ke bawah, Kiran berusaha menggapai pegangan di pinggir tangga. Namun, gagal karena tangannya licin. Sebelum Kiran sempat terjungkal di anak tangga pertama, Stevi dengan cepat maju dan menarik tangan Kiran dan menukar posisinya menjadi terbalik. "Kiran, tolong aku." Ki
Kiran langsung bangun dari tidurnya begitu air membasahi wajahnya. Dia mengusap wajahnya dengan cepat, lalu menatap Raka yang sedang berdiri di samping ranjangnya. "Sudah saatnya bangun. Kamu bukan lagi tuan putri sekarang. Cepat bersihkan tubuhmu, aku tunggu di ruang makan." Setelah Raka pergi,







