LOGINRaka menatap Kiran dengan lekat selama beberapa detik, kemudian berkata dengan wajah serius, "Jadilah milikku, maka aku akan memaafkanmu." "Apa?" Takut dia salah dengar, makanya Kiran ingin memastikan kembali dengan bertanya lagi pada pria itu. Melihat wajah bingung Kiran, Raka alkhirnya merubah ekspresinya. "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa," ralatnya. "Kamu sudah memaafkanku?" Raka hanya mengangguk ringan sebagai jawaban. "Kalau begitu, biar aku bantu obati wajahmu." Tanpa menunggu persetujuan Raka, Kiran menarik tangan pria itu menuju ranjang dan memintanya duduk di ranjang, sementara dia berjalan menuju kulkas kecil yang berada di dekat meja. Dari dalam sana, dia mengambil alat kompres. Sebelum kembali ke hotel, Kiran sempat membeli alat kompres terlebih dahulu karena teringat dengan bekas tamparan di wajah Raka. "Aku bantu kompres wajahmu." Setelah duduk di tepi ranjang, dan berhadapan dengan pria itu, Kiran mulai mengompres wajahnya dengan hati-hati. Raka sen
Pukul 11 malam, ponsel Kiran berbunyi. Ada sebuah pesan masuk. Kiran yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil menonton televisi langsung meraih ponselnya yang berada di atas nakas. [Kiran, berikan alamat barumu. Rencananya, aku akan pulang lusa ke Indonesia.] Itu adalah pesan dari Glen. Bersamaan dengan masuknya pesan itu, pintu kamar terbuka, detik selanjutnya muncul Raka dari balik pintu. Tatapan keduanya bertemu. Namun, Raka langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Kiran sedang duduk di ranjang, tampak menatap penampilan Raka dengan dahi berkerut. Kemejanya tampak kusut, lengan kemejanya di gulung dengan asal, rambutnya dibiarkan berantakan, dan wajah sebelah kirinya terlihat memerah. Jarang sekali dia melihat penampilan Raka yang berantakan seperti itu. "Kamu dari mana?" tanya Kiran, kemudian turun dari ranjang, lalu menghampiri pria itu. "Aku menunggumu sejak tadi." Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja Kiran mengerutkan
Kiran merenung dengan kepala tertunduk. Ingatan saat dia menampar Raka tadi, kembali melintas di benaknya, membuatnya merasa bersalah. Jika benar bukan pria itu yang melakukanya, jadi siapa pelakunya? Apa itu murni kecelakaan? Atau jangan-jangan .... "Ma, apa mungkin orang yang menabrak Papa itu orang suruhan Pak Hutomo?" "Kita tidak memiliki bukti, jadi tidak bisa menuduhnya sembarangan." Meski tidak memiliki bukti, tapi Yulia sangat yakin kalau memang Hutomolah yang ada dibalik semua teror dan kejadian yang menimpa keluarganya. Kalaupun mereka memiliki bukti, dengan latar belakang keluarga Pak Hutomo, mereka tetap tidak akan bisa menang melawannya. "Lalu, bagaimana keluarga kita menjadi miskin, apa itu ulah Pak Hutomo juga?" Yulia mengangguk dengan wajah lesu. "Iya." Selain gugatan pidana, ayah Mia juga melakukan gugatan perdata pada keluarga Kiran. Dia meminta ganti rugi yang sangat besar hingga menghabiskan seluruh harta keluarga Kiran. Saat itu, ayah Kiran menyanggupi memb
"Bagaimana dengan Raka? Kamu mau meninggalkannya?" Jika tidak terpaksa, dia juga tidak akan meninggalkan pria itu sebelum selesai menebus kesalahannya. Namun, keselamatan orang tuanya lebih penting. "Ma, sebenarnya aku berencana untuk bercerai dengan Raka. Aku tidak sanggup hidup bersamanya lagi." "Kenapa?" tanya Yulia heran. Selama ini, dia tidak pernah mendengar dari mulut putrinya kalau mereka memiliki masalah atau sedang bertengkar. Itu sebabnya dia merasa terkejut usai mendengar ucapan sang putri. "Apa Raka tidak memperlakukanmu dengan baik?" tebaknya. Kiran menggeleng lemah. "Tidak, Ma." Meski dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan semenjak keluar dari penjara, tapi Kiran memilih untuk merahasiakan dari sang ibu agar ibunya tidak khawatir. "Hanya saja, aku curiga kalau Raka yang sudah menyuruh orang untuk mencelakai Papa dan meneror keluarga kita." Dia masih ingat dengan jelas, Raka sering kali mengatakan kalau pria itu tidak segan menargetkan keluarganya
Pukul 1 siang, pesawat yang ditumpangi Raka dan Kiran akhirnya lepas landas. Mereka melakukan perjalanan udara kurang lebih 1.5 jam. Pukul 3 sore, mereka akhirnya keluar dari pintu kedatangan. Keduanya langsung menaiki taksi begitu tiba di luar. Saat taksi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah hotel ternama di kota itu, Kiran mengernyitkan dahi. "Kenapa kita ke sini?" Padahal, dia sudah bilang pada Raka sebelumnya kalau dia ingin langsung menemui orang tuanya yang sedang berada di rumah sakit. "Kita akan menginap di sini. Letakkan barang dulu, baru ke rumah sakit." Kiran segera menggeleng. Dia tidak mau menginap di sana. Tujuannya datang ke kota itu adalah menemui orang tuanya. Kalau mereka menginap di sana, itu artinya dia tidak bisa bertemu dengan orangtuanya setiap saat. "Aku ingin menginap di rumah orang tuaku." "Rumah orang tuamu jauh dari sini. Mereka tinggal di pinggir kota. Lebih dekat ke rumah sakit jika kita menginap di sini." Setelah menimang selama beberap
"Raka, tunggu." Kiran memegang ujung lengan baju pria itu untuk menghentikan langkahnya menuju kamar mandi. Baru saja mereka tiba di rumah beberapa menit yang lalu. Begitu turun dari mobil, Raka langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kiran yang baru membuka pintu mobil. Sejak dalam perjalanan dari kantor sampai rumah, Raka hanya diam. Kiran juga tidak berani mengeluarkan suara, takut Raka akan marah dan kehilangan konsentrasi saat menyetir dan itu bisa membahayakan mereka berdua. "Aku ingin menjelaskan sesuatu," lanjut Kiran lagi usai Raka menoleh padanya. "Tadi itu, aku—" "Nanti saja jika ingin bicara, aku mau mandi." Melihat raut wajah Raka yang sedang tidak ingin diganggu, Kiran pun segera menarik tangannya, kemudian mengangguk. Setelah Raka masuk ke kamar mandi, Kiran pergi menyiapkan pakaian ganti untuk pria itu. Sambil menunggunya selesai mandi, Kiran memainkan ponselnya, kemudian kembali mencari lowongan pekerjaan untuknya. Kurang dari 15 menit, Raka keluar
"Ada apa?" "Aku membawa makan malam untukmu." Raka melirik nampan yang berada di tangan Kiran sekilas, kemudian berkata dengan dingin, "Aku tidak lapar, bawa kembali makanan itu." "Tapi kamu belum—" "Pergi," potong Raka tegas. "Jangan mengangguku." Braaak! Pintu tertutup sebelum Kiran sempat
"Bagaimana?" tanya Raka tidak sabar usai Gery berbicara dengan pamannya di telpon."Pamanku setuju, tapi kita hanya diizinkan melihat rekaman CCTV yang berada di setiap titik pintu rumah sakit."Tadinya paman Gery tidak memberikan izin untk memeriksa rekaman CCTV rumah sakit, tapi dengan segala buj
"Kiran, sebaiknya kamu pergi dari kota ini. Aku akan membantumu pergi dari sini jika kamu ingin bebas dari anakku." Tanpa basa-basi, Hannah langsung menyampaikan hal itu setelah keduanya berdiri berhadapan di taman samping rumah sakit."Aku memang ingin pergi dari sini, tapi aku tidak bi
Belum sempat Raka menjawab, terdengar suara dari samping kanan keduanya. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Keduanya menoleh bersamaan. Ketika Raka melihat adik dan ibunya sedang berjalan ke arahnya, dia segera menarik diri dan berdiri tegak. “Kenapa Mama di sini?” Bukannya menjawab pertany







