LOGINNilna hidup dalam pernikahan yang tak pernah benar-benar ada. Namanya tak disebut, keberadaannya tak diakui, tapi tubuh dan waktunya selalu diminta. Bagi Renji, Nilna adalah perempuan yang selalu sama, diam, patuh, dan tak pernah pergi. Sampai suatu hari, sesuatu berubah. Renji mulai menyadari ada jarak yang tak pernah ada sebelumnya. Apa yang terjadi pada istri bayangan ketika ia tak lagi sama?
View More“Uhh … M–Mas?” gumam Nilna setengah sadar ketika merasakan tubuhnya diambil kendali oleh orang lain.
Ranjang bergoyang semakin kencang. Sementara tubuh Nilna juga semakin bergetar hebat, bukan karena rasa nikmat atas sentuhan itu, tapi karena demam di tubuhnya yang sejak pagi ia rasakan hingga kini.
“M–mas … sakit,” rintih Nilna lirih, suaranya parau nyaris hilang karena keringnya tenggorokan.
Namun, Renji, suami Nilna seolah menulikan telinganya. Ia terus bergerak tanpa kenal ampun. Menjamah tiap jengkal tubuh Nilna yang terus meronta.
Tadi, Nilna sedang menunggu Renji pulang kerja. Namun, sampai hampir tengah malam belum juga ada kabar, hingga akhirnya Nilna tertidur karena sebenarnya tubuhnya juga terasa kurang sehat.
“Diamlah, sebentar lagi aku selesai,” kata Renji penuh penekanan, tatapannya hampir kabur karena mabuk, tapi tubuhnya tak berhenti bergerak.
Ranjang kembali berderit pelan setiap kali tubuh Renji bergerak.
Nilna menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan suara rintih yang hampir keluar. Bukan karena ia ingin menahan nikmat, melainkan menahan rasa nyeri yang menjalar sampai ke punggungnya. Pandangannya mulai berkunang, napasnya tidak teratur.
“Aku… lagi sakit, Mas…” bisiknya lagi, kali ini lebih lemah.
Renji berhenti sepersekian detik, bukan untuk memeriksa keadaan Nilna, tapi hanya untuk menghela napas jengkel.
“Itu kewajiban istri. Mau sakit atau tidak tetap harus. Jangan macam-macam, nanti malah jadi dosa.”
Nilna menggeleng kecil. “Tapi aku benar-benar nggak kuat…”
Belum sempat kalimatnya selesai, Renji sudah menarik lengannya dengan paksa, membuat tubuh Nilna bergeser di atas kasur.
Nilna meringis, rasa pusingnya makin menjadi. Kepalanya terasa berputar, pandangannya kabur, air matanya tak bisa lagi dibendung.
Selama ini, ia hanya dinikahi siri oleh Renji. Setiap kali wanita itu meminta pernikahan yang sah dalam mata hukum, Renji selalu mengelak.
Bahkan, dalam keseharian entah sosok Nilna ini benar-benar dianggap sebagai istri atau tidak. Karena nyatanya, Nilna lebih banyak diperintah ini dan itu ketimbang didengarkan dan diperhatikan.
Padahal, dulu ketika Renji mengajak Nilna menikah siri, perilakunya sangat berbeda, Dulu Renji penuh perhatian, sangat menyayangi Nilna.
“Mas … s–sakitt …”
Dan ketika Renji akhirnya berhenti bergerak dengan nada puas yang selalu ia dengar, keheningan jatuh tanpa sisa kehangatan.
Tidak ada kecupan penutup, tidak ada sentuhan lanjutan. Tubuh lelaki itu menjauh begitu saja, seperti selesai menggunakan sesuatu yang tak lagi perlu diperhatikan.
Nilna menatap suaminya dengan getir. Sejujurnya, ia juga ingin dikecup setelah melakukan tugasnya, ia ingin dipeluk dengan aman. Namun, semua itu sama sekali tak pernah ia dapat.
Jika Nilna berani meminta, jelas akan langsung dibalas dengan nada ketus oleh Renji.
Pada akhirnya, Nilna hanya bisa menerima. Ia merasa tak memiliki keluarga lagi, sejak kecil ia hanya hidup di rumah budenya, keluarga yang justru memperlakukan dia dengan tak manusiawi. Jika sekarang ia memilih pergi dari Renji, entah bagaimana nasibnya nanti, tanpa pekerjaan, tanpa rumah, tanpa keluarga yang menyayangi.
***
Ketika pagi datang, cahaya matahari menembus tirai tipis kamar, namun Nilna masih terbaring lemas di ranjang. Tubuhnya terasa panas dingin, keringat tipis membasahi pelipisnya.
Di sisi lain kamar, Renji sudah rapi dengan kemeja kerja, aroma parfum menyengat bercampur dengan suara gesekan ikat pinggangnya.
“Kenapa kamu masih tidur?” tanyanya datar sambil menggoyangkan bahu Nilna sedikit lebih keras dari seharusnya. “Cepat siapkan sarapan. Aku harus ke kantor.”
Nilna mengerjap pelan. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok suaminya. Tenggorokannya terasa kering saat ia berusaha bicara.
“Mas… aku kayaknya beneran sakit. Badanku lemas banget, kepalaku berat…” suaranya serak. “Apa kamu bisa antar aku ke dokter sebelum berangkat?”
Renji menghela napas panjang, jelas tidak sabar. Ia melirik jam tangannya lalu kembali menatap Nilna dengan alis berkerut.
“Ah kamu ini ada-ada aja. Cuma pusing sedikit dibesar-besarin,” gumam Renji ketus. “Pergilah sendiri. Aku sibuk.”
Nilna mencoba bangun, tapi tubuhnya langsung limbung. Ia kembali bersandar di bantal, napasnya pendek. “Tapi Mas… aku takut pingsan di jalan. Badanku benar-benar nggak enak…”
Renji mendecak kesal, mengambil tas kerjanya dengan gerakan cepat. “Sudah kubilang, aku nggak punya waktu ngurus begituan pagi-pagi. Kamu kan bisa naik ojek atau apa kek. Masa hal kecil begitu aja harus nunggu aku?”
Nilna terdiam. Jarinya mencengkeram ujung selimut, seolah mencari sedikit kekuatan dari kain tipis itu. “Aku cuma minta ditemenin sebentar…”
“Sudahlah, gak jadi aku sarapan di rumah,” potong Renji cepat, lalu pergi meninggalkan Nilna begitu saja.
“Anaya… jangan takut… ini Daddy…”Suara Reyhan pelan, berusaha menenangkan.Ayaka berdiri beberapa langkah, tangannya menggantung kaku. Wajahnya hancur. Mata yang tadi penuh harap kini hanya menyisakan kepedihan yang nyata.“Dia… takut sama aku…” bisiknya lirih.Tidak ada yang langsung menjawab.Nilna menunduk. Dadanya kembali sesak. Tangannya refleks memegang ujung baju Reyhan, mencari pegangan.“Aku cuma mau gendong…” suara Ayaka bergetar. “Cuma sebentar…”Reyhan tidak menjawab. Ia hanya mengusap punggung Anaya pelan, fokus menenangkan anaknya.Tangis itu benar-benar reda. Namun, wajah kecil itu masih terlihat tegang, seolah menyimpan sisa ketakutan yang belum hilang.Ayaka mundur selangkah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Ini… salah aku…” ucapnya pelan. “Semua salah aku…”Nini yang sejak tadi diam, akhirnya maju satu langkah. Wajahnya tidak lagi sekadar tegang. Ada amarah lama yang ikut terangkat.“Sekarang baru sadar?” suaranya tajam.“Nini…” Sammy, suami Nini, mencoba mena
Nama itu membuat Nilna ikut menoleh. Dunia seolah berhenti lagi. Pria itu… memang Renji. Masa lalu yang seharusnya sudah selesai.Di sampingnya… Keysha sedang menggendong bayinya.Reyhan melangkah maju tanpa sadar.“Renji.”Suara itu membuat pria tersebut berhenti. Ia menoleh. Mata mereka bertemu. Beberapa detik tidak ada yang bergerak.Keysha ikut menoleh, lalu sedikit terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan mereka.Suasana langsung berubah canggung.Nilna berdiri di belakang Reyhan. Tubuhnya sedikit kaku. Tangannya refleks memegang lengan Reyhan.Nini memandang Rea seolah bertanya.Arjun mengernyit. " Dia Renji yang pernah menikah dengan Nilna." Seolah paham maksud tatapan Nini, Arjun menjelaskan.Reyhan mendekat satu langkah lagi. Tatapannya turun ke bayi di gendongan Keysha. Anak lelaki itu tenang. Matanya yang biru, terbuka, menatap sekitar dengan polos.“Ini…” suara Reyhan serak. “Anak kalian?”Renji tidak langsung menjawab.Keysha mengeratkan tangannya di gendongan ba
Kedua wanita itu salin menggenggam tangan sambil tersenyum tanpa sadar, sampai akhirnyaa mereka salin melepaskan diri dan canggung hinggah kendaraan sampai di rumah sakit. “Dok, tolong… istri saya muntah dan lemah,” suara Reyhan terdengar khawatir begitu pintu klinik terbuka. Langkahnya panjang, napasnya belum beraturan. Tubuh Nilna terkulai lemah dalam gendongannya. Kepalanya terayun pelan setiap kali Reyhan bergerak, membuat jantung pria itu semakin tidak tenang. Seorang perawat berlari menghampiri. “Bawa ke ruang periksa, cepat.” Arjun langsung membuka jalan. “Sini, lewat sini!” Kursi roda didorong tergesa. Reyhan menurunkan Nilna dengan hati-hati, meski tangannya masih enggan melepas. Jari-jarinya sempat menahan pipi wanita itu, seolah memastikan ia benar-benar masih bernapas. “Nilna… dengar aku… kita sudah sampai,” bisiknya “Mas… jangan panik… aku masih sadar.” Suara Nilna pelan, hampir tenggelam oleh bunyi roda brankar yang bergerak cepat. Lampu putih UGD berderet di ata
.“Ibu sudah belajar bahagia,” lanjut Nilna, napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Sekarang... giliran kalian.”Arjun mengernyit. “Maksud kamu?”Nilna tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Perlahan. Lalu tanpa aba-aba, ia meraih tangan Rea... dan tangan Arjun.Keduanya terkejut.“Nilna...” bisik Rea.Namun Nilna tidak berhenti. Ia menyatukan kedua tangan itu. Menggenggamnya kuat, seolah tidak ingin mereka saling menjauh lagi.“Kalian juga harus bahagia,” ucap Nilna. Kalimat itu sederhana, tapi seperti sesuatu yang berarti di antara mereka.“Jangan hidup setengah-setengah cuma karena masa lalu,” lanjut Nilna. “Daddy... Mommy...”Kata itu membuat Rea tersentak.“Jadilah suami istri yang beneran.”Sunyi mendadak menekan. Tidak ada yang langsung menjawab.Arjun menatap tangan yang kini tergenggam dengan tangan Rea. Jari-jarinya kaku. Seolah belum tahu harus menerima atau melepaskan.Rea menunduk. Air mata jatuh satu per satu. Namun kali ini bukan karena luka lama. Ada r
Nilna menatap Raka, tak mengerti maksud perkataannya yang menggantung. Pak Fajar menyeka keringat di dahinya. "Bagaimana sekarang, Pak Kades?"Raka menatap kondisi Renji lagi. Darah masih mengalir tipis dekat pelipis. "Dia perlu dokter. Kita bawa ke Puskesmas."Renji menatap geram. "Puskesmas?" Ia
Terlebih kepada seorang Reyhan.Lelaki yang baik. Lelaki yang memperlakukannya dengan hormat."Aku berdosa." Air mata Nilna hampir jatuh."Seharusnya aku tidak memiliki perasaan ini."Angin malam berhembus lebih dingin. Daun bakau bergesekan lembut. Nilna mengusap perutnya pelan."Aku harus ingat s
Nilna terkejut."Sekarang?"Wanita itu sudah melangkah mundur. "Kita bicara lain waktu.""Nyonya... "Langkah wanita itu semakin cepat. Ia hampir berlari menuju jalan samping.Nilna ikut membuntuti, tapi panggilan membuat Nilna menoleh ke arah sedan putih."Mas Reyhan?"Nilna memanggil pelan saat le
Siang itu. "Mbak Nilna!"Suara penjaga tiket memanggil dari depan loket kayu yang menghadap jalur masuk wahana bakau.Nilna yang sedang menata botol minuman berhenti. Ia menoleh."Ada apa, Riko?""Sudah mggak sibuk, Mbak?""Mggak."Riko menghampiri sambil membawa buku catatan kecil. Napasnya sedik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews