Home / Romansa / SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS / 189. Keyakinan Reyhan

Share

189. Keyakinan Reyhan

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-04-21 14:10:49

Reyhan refleks menoleh ke Nilna. Wajah Nilna nampak tegang. Garis rahangnya kaku, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan di hadapan siapa pun di ruangan itu.

“Kamu masih ragu?” tanya Reyhan pelan. Hampir tidak terdengar selain oleh Nilna yang duduk tepat di sampingnya.

Nilna menoleh sedikit. Nafasnya belum stabil. Jari-jarinya masih menggenggam kain bajunya sendiri.

“Aku sudah bilang tadi,” lanjut Reyhan, suaranya tetap rendah. “Yang aku bisikkan itu bukan main-main.”

Tatapannya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   220. Setelah melewati semuanya

    “Anaya… jangan takut… ini Daddy…”Suara Reyhan pelan, berusaha menenangkan.Ayaka berdiri beberapa langkah, tangannya menggantung kaku. Wajahnya hancur. Mata yang tadi penuh harap kini hanya menyisakan kepedihan yang nyata.“Dia… takut sama aku…” bisiknya lirih.Tidak ada yang langsung menjawab.Nilna menunduk. Dadanya kembali sesak. Tangannya refleks memegang ujung baju Reyhan, mencari pegangan.“Aku cuma mau gendong…” suara Ayaka bergetar. “Cuma sebentar…”Reyhan tidak menjawab. Ia hanya mengusap punggung Anaya pelan, fokus menenangkan anaknya.Tangis itu benar-benar reda. Namun, wajah kecil itu masih terlihat tegang, seolah menyimpan sisa ketakutan yang belum hilang.Ayaka mundur selangkah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.“Ini… salah aku…” ucapnya pelan. “Semua salah aku…”Nini yang sejak tadi diam, akhirnya maju satu langkah. Wajahnya tidak lagi sekadar tegang. Ada amarah lama yang ikut terangkat.“Sekarang baru sadar?” suaranya tajam.“Nini…” Sammy, suami Nini, mencoba mena

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   219. Mengadu

    Nama itu membuat Nilna ikut menoleh. Dunia seolah berhenti lagi. Pria itu… memang Renji. Masa lalu yang seharusnya sudah selesai.Di sampingnya… Keysha sedang menggendong bayinya.Reyhan melangkah maju tanpa sadar.“Renji.”Suara itu membuat pria tersebut berhenti. Ia menoleh. Mata mereka bertemu. Beberapa detik tidak ada yang bergerak.Keysha ikut menoleh, lalu sedikit terkejut saat melihat siapa yang berdiri di depan mereka.Suasana langsung berubah canggung.Nilna berdiri di belakang Reyhan. Tubuhnya sedikit kaku. Tangannya refleks memegang lengan Reyhan.Nini memandang Rea seolah bertanya.Arjun mengernyit. " Dia Renji yang pernah menikah dengan Nilna." Seolah paham maksud tatapan Nini, Arjun menjelaskan.Reyhan mendekat satu langkah lagi. Tatapannya turun ke bayi di gendongan Keysha. Anak lelaki itu tenang. Matanya yang biru, terbuka, menatap sekitar dengan polos.“Ini…” suara Reyhan serak. “Anak kalian?”Renji tidak langsung menjawab.Keysha mengeratkan tangannya di gendongan ba

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   218. Bahagia atau...

    Kedua wanita itu salin menggenggam tangan sambil tersenyum tanpa sadar, sampai akhirnyaa mereka salin melepaskan diri dan canggung hinggah kendaraan sampai di rumah sakit. “Dok, tolong… istri saya muntah dan lemah,” suara Reyhan terdengar khawatir begitu pintu klinik terbuka. Langkahnya panjang, napasnya belum beraturan. Tubuh Nilna terkulai lemah dalam gendongannya. Kepalanya terayun pelan setiap kali Reyhan bergerak, membuat jantung pria itu semakin tidak tenang. Seorang perawat berlari menghampiri. “Bawa ke ruang periksa, cepat.” Arjun langsung membuka jalan. “Sini, lewat sini!” Kursi roda didorong tergesa. Reyhan menurunkan Nilna dengan hati-hati, meski tangannya masih enggan melepas. Jari-jarinya sempat menahan pipi wanita itu, seolah memastikan ia benar-benar masih bernapas. “Nilna… dengar aku… kita sudah sampai,” bisiknya “Mas… jangan panik… aku masih sadar.” Suara Nilna pelan, hampir tenggelam oleh bunyi roda brankar yang bergerak cepat. Lampu putih UGD berderet di ata

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   217 . Giliran

    .“Ibu sudah belajar bahagia,” lanjut Nilna, napasnya masih belum sepenuhnya stabil. “Sekarang... giliran kalian.”Arjun mengernyit. “Maksud kamu?”Nilna tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Perlahan. Lalu tanpa aba-aba, ia meraih tangan Rea... dan tangan Arjun.Keduanya terkejut.“Nilna...” bisik Rea.Namun Nilna tidak berhenti. Ia menyatukan kedua tangan itu. Menggenggamnya kuat, seolah tidak ingin mereka saling menjauh lagi.“Kalian juga harus bahagia,” ucap Nilna. Kalimat itu sederhana, tapi seperti sesuatu yang berarti di antara mereka.“Jangan hidup setengah-setengah cuma karena masa lalu,” lanjut Nilna. “Daddy... Mommy...”Kata itu membuat Rea tersentak.“Jadilah suami istri yang beneran.”Sunyi mendadak menekan. Tidak ada yang langsung menjawab.Arjun menatap tangan yang kini tergenggam dengan tangan Rea. Jari-jarinya kaku. Seolah belum tahu harus menerima atau melepaskan.Rea menunduk. Air mata jatuh satu per satu. Namun kali ini bukan karena luka lama. Ada r

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   216. Bahagia?

    “Apa yang kamu maksud dengan kalimat barusan, Nini?”Suara Arjun pecah lebih dulu. Serak, bergetar, seperti menahan sesuatu yang terlalu lama dipendam. Tangannya masih mengepal sejak sosok itu muncul. Sorot matanya tak lepas dari perempuan yang berdiri di ambang pintu.Nini.Perempuan itu melangkah masuk perlahan. Wajahnya tidak lagi seperti dulu yang penuh luka. Ada senyum tipis, tenang, bahkan hangat. Di sampingnya, seorang pria muda berdiri tegap, satu tangan memeluk bahunya, seolah menjadi sandaran yang nyata. Dalam gendongannya, seorang bayi laki-laki terlelap, wajahnya merah muda, napasnya halus.Kontras sekali dengan keguncangan Arjun.“Lama ya, Mas,” ucap Nini pelan.Nilna membeku. Kata itu... Mas. Cara menyebut itu terlalu akrab. Terlalu dalam.Reyhan menatap bergantian. Ke Arjun. Ke perempuan itu. Lalu ke bayi dalam gendongan. Ada sesuatu yang mulai ia pahami, tapi belum sepenuhnya jelas.Arjun melangkah satu langkah maju. Kakinya sempat goyah, namun ia paksa berdiri tegak.

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   215.Permintaan maaf

    “Apa maksudnya… kita bisa bersama?”Suara Nilna serak. Tidak keras, tapi memotong keheningan yang sejak tadi menekan dada semua orang. Matanya menatap Arjun tajam. Air mata masih menggantung, belum jatuh, seolah menunggu jawaban yang tepat sebelum akhirnya luruh.“Maksud Daddy apa?” lanjutnya, lebih tegas. “Kami ini… saudara, kan?”Kalimat itu langsung membuat Reyhan menegang.“Nilna... ”“Jangan!” potong Nilna cepat. Tatapannya masih terkunci pada Arjun. “Jelaskan dulu. Jangan bilang hal seperti itu… seolah semuanya baik-baik saja.”Arjun tidak langsung menjawab. Ia menatap Nilna lama. Tatapan yang penuh sesuatu.....penyesalan, rindu, juga kelegaan yang penuh.Rea melangkah satu langkah ke depan.“Sayang.…” Panggilan itu lembut. Hangat. Namun justru membuat Nilna semakin tidak nyaman.“Jangan panggil aku seperti itu dulu,” bisik Nilna.Rea terdiam.“Kalau semua ini benar…” lanjut Nilna, suaranya bergetar lagi, "aku dan dia…” ia melirik Reyhan sekilas, “…itu salah.”Reyhan menutup m

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   180. Tidur bertiga?

    “Anaya… sudah, sayang… sudah…” Suara Nilna serak diantara panik. Tangannya bergerak bingung, menepuk-nepuk punggung kecil itu tanpa ritme yang jelas. Tangisan bayi itu tidak mereda. Justru semakin tinggi, semakin gelisah. Ruangan luas itu terasa terlalu sunyi untuk tangisan sekecil itu. Nilna

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   176. Karena

    "Nilna..." Dada Renji terasa sesak. Panggilan itu hanya tertahan di tenggorokannya. Sesuatu menekan kuat, membuat napasnya berat. Ia ingin masuk, ingin bersuara, tapi tubuhnya tidak bergerak.Matanya mulai memanas. Satu titik air jatuh tanpa izin. Ia mengedip cepat, mengusapnya kasar, lalu menunduk

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   175. Rasa sakit

    "Dua-duanya sudah tidur," suara Nilna pelan, membuat lamunan Reyhan buyar.Reyhan tersadar. Ia mendekat perlahan."Iya," jawabnya singkat.Nilna menatap Anaya. Jemarinya mengusap pipi kecil itu dengan sangat hati-hati, takut membangunkan, takut merusak ketenangan tidurnya."Dia tadi panik," bisik N

  • SAHKAN ATAU CERAIKAN AKU, MAS   174. Niat

    "Daddy mau ngomong apa?" ulang Reyhan.Arjun tersenyum samar. "Sepertinya pikiranmu tak fokus." Arjun membuang pandangannya. "Kamu terlalu memikirkannya.""Apa maksud Daddy?""Kamu tahu maksudku."Reyhan hanya menunduk, lalu membuang pandangannya pada orang-orang yang lewat di depannya.Arjun mengh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status