Home / Romansa / SENDIAKALA / 09 BIMBANG

Share

09 BIMBANG

Author: Lila Oktavia
last update publish date: 2025-12-09 22:11:47

Beberapa malam lalu, mengenai permintaan tidak masuk akal dari mbak Aiza, kian hari canggung selalu melanda. Bahkan jika saja berpapasan dengan mbak aiza di ruangan yang sama aku kerap menghindar. Sungguh, keadaan ini memposisikanku pada kedilemaan besar. Mbak Aiza dengan kesadaran penuh memintaku dengan penuh harab dan keyakinan. Ia katakana bahwa kepercayaannya padaku membuatku pantas untuk mas Risam, lantas bagaimana dengan diriku sendiri? Aku memiliki mimpi untuk diriku sendiri. Tapi aku juga tak ingin penderitaan mbak Aiza.

Apa aku harus mengorbankan diriku dengan menjadi Istri kedua dari majikan ibuku? Menghilangkan banyak mimpi dan dongeng-dongeng yang telah ku ciptakan.

“Mbak Aiza itu baik sekali sama kita, Nduk.” ujar ibu membuang air bekas bilasan baju yang ku jemur. Aku masih setia dengan kediamanku, kemudian dengan pandangan yang kosong ku amati ibu yang menyiramkan air dari pom pada tanah berpasir di belakang rumah kami, musim kemarau dengan ainginnya yang besar membuat belakang rumah kami gersang. Ibu menyiramnya dengan telaten, aku memilih melanjutkan pekerjaanku.

“Nduk…” tiba-tiba saja ibu menyentuh pundakku, membuatku terkejut, tersadar dari lamunan. “kamu enggak ada masalahkan sama mbak Aiza kan?” sebuah kalimat tanya dari ibu membuatku menelan ludah. “Nduk…” ibu meminta jawabanku.

Aku menggeleng.

Ibu mengernyit, alisnya seolah-olah akan bertemu dari ujung ke ujung, “terus kenapa tiba-tiba saja mbak Aiza meminta ibu buat nemenin kamu pulang? Ibu juga memperhatikan, kamu selalu saja menghindari mbak Aiza, nduk.” Helaan nafas panjang terdengar kasar dari ibu. Pertayaan dan pernyataan dari ibu membuatku semakin tertekan. Benar adanya, aku meminta izin kepada mbak Aiza untuk pulang bersama ibu dengan alasan memikirkan jawaban untuk permintaan bodoh yang di berikan oleh mbak Aiza.

“Jujur sama ibu, Nduk. Sebenarnya ada apa? ibu jadi sungkan sama mbak Aiza. Mbak Aiza itu baik lo sama keluarga kita. Kalo ibu nggak ketemu sama mbak Aiza, entah bagaimana hidup kita. Pengobatan bapakmu, dan biaya pendidikanmu. Semua karena kebaikan dari mbak Aiza. Bahkan pengabdian ibu bertahun-tahun lamanya enggak bisa membalas. Jadi, kalo memang ada apa-apa kamu yang ngalah ya Nduk."

Panjang lebar ibu menjelaskan betapa berbudinya mbak Aiza dengan keluarga kami membuatku kian merasa sesak di sini. Aku juga tau bagaimana tidak mampunya kami dahulu, bapak memang bekerja, tapi penghasilan dari bapak hanya cukup untuk makan kami sehari-hari. Aku ingat betul bagaimana genteng rumah kami yang bocor saat hujan melanda yang membuatku terbangun dari tidur pulasku, dan setelahnya ibu mengirim uang untuk membeli genteng baru, tapi ternyata mbak Aiza memberi uang lebih untuk memperbaiki rumah kayu kami menjadi rumah yang lebih dari layak huni.

Setelah bapak sakit-sakitan aku memutuskan pulang dari pondok pesantren untuk merawat bapak sambil menjual gorengan buatanku. Ibu tau, dan tentunya memberi tahu mbak Aiza, dan karena karenanya perawatan serta pengobatan bapak, hingga bapak meninggalpun mbak Aiza yang membiayai, tak biarkan ibu mengeluarkan uangnya yang sekedar cukup untuk semua ini. segala hal mbak Aiza tanggung hingga biaya pendidikanku di pesantren.

Akan tetapi semua ini solah-olah menyodorkankan pada sebuah permasalahan rumit yang tak membiarkanku maju ataupun mundur. Dan pernyataan dari ibu seolah-olah memaksaku harus memilih untuk menerima permintaan dari mbak Aiza, menjadi istri kedua, dan menghilangkan dongeng-dongeng impianku.

Aku terhimpit.Tak tahan lagi untuk menahan tangis yang sudah sedari tadi ingin aku jeritkan. Ibu panik, khawatir melihat air yang mengalir tanpa pamit terlebih dahulu. Bahkan kudengar juga permintaan maaf dari ibu yang merasa bersalah tak dapat memahami anaknya. Berkali-kali aku dengar ibu bertanya mengapa, tapi aku lebih memilih untuk diam, sebab di dalam rasanya terlalu berisik, aku takut jika aku berbicara dan tak bisa mendengarkan suaraku sendiri.

“Kita benar-benar berhutang budi pada mbak Aiza.” Ujarku sayu ditengah puluhan Tanya dari ibu yang belum terjawab. “Tapi apakah Azahra harus mengorbankan kehidupan Azahra untuk membalas budi itu?"

Ibu teridam beribu bahasa. Bahkan matanyapun tak kudapati pergerakan, benar-benar sedang mencoba memahami apa yang sedang ku sampaikan.

“Mbak Aiza meminta Azahra untuk menikah dengan mas Risam, menjadi istri kedua mas Risam.” Aku menatap ibu setelah menyelesaikan kalimatku, ibu tengah menatapku dengan kerutan di keningnya, mulutnya terbuka beberapa mili, dan mataya membulat lebar. Perlahan, ibu menggeleng pelan, seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan. Maka dari itu aku menjelaskan kenapa mbak Aiza selalu saja memohon padaku, serta memperlihatkan padaku berbagai hal tentang masalah kandungannya.

Setelah itu mulut ibu melantunkan kalimat istigfar berkali-kali, dan sesekali meminta maaf padaku. kuperhatikan ibu yang kini menangis, bahkan jika ia tidak mulutnya dengan telpaak tangan mungkin jeritannya akan terdengar lantang. Ada banyak penyesalan dan juga rasa bersalah dari raut wajah ibu.

“Azahra bingung bu, segala pernyataan dari mbak Aiza membuat Azahra semakin terhimpit. Padahal sejak awal, sejak mbak Aiza memberikan permintaan Azahra pastikan untuk menolak, tapi mbak Aiza enggak membiarin Azahra melakukan itu. dan semakin lama rasanya semakin berat, Azahra seolah-olah enggak memiliki kemampuan untuk menolak.”

Ibu mendekap kedua pipiku dengan tangannya yang terasa dingin, “Azahra dengarkan ibu.” Ibu membutaku menatap matanya yang telah merah dan keruh sebab air mata, aku hanya terdiam sambil menatap bagaiana ibu menatapku dengan tajam, “Jangan mengambil langkah yag salah dengan menerima permintaan dari mbak Aiza. Enggak ada wanita yang mau di duakan, Nduk. Entah dirimu sendiri ataupun mbak Aiza. Setelah ini, segera hubungi mbak Aiza untuk menolak permintaan itu.”

Aku hanya terdiam. Dilanda bimbang dengan apa yang ibu katakan. Sebab selama berhari-hari lamanya aku berpikir, selalu saja ada perlawanan dan alasan untuk aku menolak permintaan konyol mbak Aiza. Ibu benar, tidak ada wanita yang mau bahkan rela jika suaminya menjadi milik wanita lain, bahkan aku yakin mbak Aiza juga demikian. Tapi barang kali mbak Aiza memintaku utuk mengurangi rasa sakitnya. Dengan memilih siapa yang akan mendampingi suaminya menjadikannya sedikit lega. Dan diriku sendiri, kasian atas mbak Aiza seperti bagaimana Ia mengasihani kami dahulu.

Kulihat ibu. Barangkali maksud tatapan itu adalah ketidak percayaan, maka sama seperti ibu aku juga tak percaya dengan keputusan otak ataupun hatiku. Mereka kerap berdebat hebat walau akhirnya tak juga mendapatkan keputusan yang selayaknya bisa dijadikan pedoman. Semua ini benar-benar mengguncangku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SENDIAKALA   25 MALAM HUJAN DAN PENUH PERASAAN

    Sejak siang, Mbak Aiza tampak beberapa kali memeriksa ponselnya. Senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya setiap kali layar itu menyala. Aku yang sedang membantu Bu Siti menyusun bunga di ruang tamu hanya memperhatikannya sekilas, hingga akhirnya beliau menghampiriku. "Mas Risam baru saja mengabari Azahra," ujarnya sambil mengangkat ponselnya. "Beliau sudah selesai menangani persidangan dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Insyaallah sebelum Magrib sudah sampai." Aku mengangguk pelan. Entah mengapa, ada rasa gugup yang tiba-tiba memenuhi dada. Sudah beberapa hari Mas Risam berada di luar kota, dan selama itu pula kami hanya sesekali bertukar kabar melalui telepon. Melihat reaksiku, Mbak Aiza terkekeh pelan. "Em... Tapi mbak harus pergi, Azahra." Aku mengernyit. "Pergi?" "Iya. Ada beberapa perlengkapan klinik yang harus Mbak beli. Dan ini kesempatan yang tepat untuk memberi kalian waktu berdua." Aku langsung menggeleng. "Azara ikut saja, Mbak." Beliau justru meraih ked

  • SENDIAKALA   Bab 24 Bimbingan dari Aiza

    Keesokan paginya, saat aku sedang merapikan lemari pakaian, terdengar ketukan pelan di pintu kamar. "Azara, Mbak boleh masuk?" Aku segera membukakan pintu. Mbak Aiza berdiri sambil membawa sebuah kotak penyimpanan, sebuah album foto keluarga, dan beberapa map tipis. Senyumnya masih sama hangatnya seperti biasa, tetapi kali ini ada keseriusan yang tersirat di wajahnya. "Kalau kamu tidak sibuk, Mbak ingin mengajakmu mengobrol." "Tentu, Mbak." Kami duduk berdampingan di sofa dekat jendela. Untuk beberapa saat, Mbak Aiza hanya memandang kedua tangannya sendiri sebelum akhirnya membuka pembicaraan. "Semalam... kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." Aku menoleh heran. "Bahkan menurut Mbak, kamu sudah sangat baik." "Lalu kenapa Mbak terlihat kepikiran?" Beliau tersenyum tipis. "Karena semalam Mbak sadar ada satu hal yang belum sempat Mbak ajarkan." Aku mengernyit pelan. "Apa itu?" Mbak Aiza mengembuskan napas sebelum berkata dengan suara yang tenang. "Keluarga kami." Aku mas

  • SENDIAKALA   23 Dinner

    Minggu pagi itu aku terbangun sedikit lebih awal dari biasanya. Setelah merapikan tempat tidur dan menyelesaikan salat Dhuha, aku duduk di tepi ranjang sambil membaca beberapa lembar Al-Qur'an. Rumah masih terasa tenang. Mas Risam belum juga kembali dari perjalanan dinasnya, sementara Mbak Aiza sejak pagi sudah sibuk menerima beberapa panggilan dari klinik. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk pelan. "Azara, sudah bangun?" suara Mbak Aiza terdengar dari balik pintu. Aku segera membukanya. Mbak Aiza berdiri dengan senyum yang begitu cerah. Beliau mengenakan batik merah marun yang dipadukan dengan hijab berwarna krem. Penampilannya tampak anggun, tetapi raut wajahnya jauh lebih menarik perhatianku karena terlihat begitu bersemangat. "Mbak masuk, ya?" Aku mengangguk sambil mempersilahkannya. Mbak Aiza langsung duduk di sampingku sebelum meraih kedua tanganku. "Hari ini Mama mengundang keluarga besar untuk makan malam di rumah. Sekalian mengenalkan kamu sebagai istri Mas Risam."

  • SENDIAKALA   22 MALAM KE DUA

    Suara azan Subuh dari masjid desa membangunkanku lebih awal. Aku segera mengambil air wudu, lalu kembali ke kamar dengan mengenakan mukena putih yang kubawa dari rumah. Mas Risam sudah menungguku dengan sarung dan baju koko sederhana. Tanpa banyak bicara, beliau hanya mempersilakanku berdiri di belakangnya untuk salat berjemaah. Aku mengangguk pelan. Menjadi makmum bagi suamiku untuk pertama kalinya menghadirkan perasaan yang sulit kujelaskan. Ada rasa asing, gugup, sekaligus haru yang berbaur menjadi satu. Mas Risam mengimami salat dengan bacaan yang tenang dan tartil. Aku mengikuti setiap gerakannya sambil berusaha mengosongkan pikiran dari segala kegelisahan yang sejak kemarin memenuhi hati. Dalam sujud terakhir, aku memanjatkan doa lebih lama dari biasanya. Aku memohon agar Allah melembutkan hatiku untuk menerima kehidupan baru ini, membimbingku menjadi istri yang mampu menjalankan amanah dengan baik, serta menjadikan Mas Risam sebagai imam yang selalu diberi keberkahan dalam seti

  • SENDIAKALA   21 Malam Pertama

    Mobil melaju pelan di jalan raya yang mulai terjal saat menjauh dari kota. Aku duduk di kursi belakang, menyimpan kalung bintang dari Mbak Aiza dengan hati-hati ke dalam tas kecil yang selalu kubawa. Mas Abrisam diam di kursi depan bersama sopirnya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia sering melihat ke arahku melalui cermin spion. Lanskap berubah dari pemukiman padat menjadi hamparan sawah hijau yang luas, dengan pepohonan kelapa yang berdiri tegak di sekelilingnya, pemandangan yang dulu kubayangkan sebagai tempat tinggal yang damai, tapi kini rasanya seperti dunia yang benar-benar baru dan asing bagiku. Kita tidak bicara banyak selama perjalanan. Setelah hampir dua jam perjalanan, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan tembok berwarna putih pucat. Taman depan tidak terlalu luas, tapi ditanami berbagai jenis tanaman sayuran dan bunga kamboja kuning yang sedang mekar indah. Di dekat pintu utama, ada sebuah gazebo kecil dengan kursi kayu yang sudah dipoles rapi. “Ini rumah kita

  • SENDIAKALA   20 PERNIKAHAN

    Aku duduk di sudut kamar rias, ruangan kecil yang dulu jadi kamar baca Bapak, sekarang diubah sebentar untuk hari ini. Matanya merah karena menahan air mata, tapi wajahnya tetap penuh cinta saat melihat aku yang sedang memakai gaun putih sederhana yang dijahit sendiri oleh tetangga. Saat aku menyusun jilbab dengan hati-hati di depan cermin bekas yang selalu ada di kamar itu, ibu mendekat dan mengambil tanganku dengan lembut.Kulit tangannya yang kasar akibat kerja keras merawat kebun dan menjahit untuk menutupi kebutuhan keluarga menyentuh kulit aku yang lembut. Ibu menatapku, lalu melihat ke arah sebuah vas bunga mawar yang hanya ada satu kuntumnya, berdiri sendirian di atas meja rias. “Bunga cantik harus tumbuh di tanah yang subur, dengan akar yang kuat dan ruang yang cukup untuk berkembang,” ucap ibu perlahan, sambil menyentuh kelopak bunga itu dengan lembut. Aku mengerti makna yang tersirat, setiap bunga layak mendapatkan tempatnya sendiri, bukan harus berbagi ruang dengan yang la

  • SENDIAKALA   15 MENJAWAB USTADZ ALIF

    Ruang ndalem sudah terisi oleh Abah dan Umi yang duduk bersamaku. Kami menunggu kedatangan Ustadz Alif. Tanganku saling menggenggam di pangkuan, dingin dan kaku. Sejak tadi dadaku terasa sempit. Firasatku tidak baik, namun bukan tentang penolakan yang hendak ku sampaikan. Ada rasa lain yang menggan

  • SENDIAKALA   14 PULANG

    Aku pulang pagi ini. Di antarkan oleh Mbak Aiza dan Mas Risam yang sangat bersikeras untuk mengantarku pulang, meski sejak awal aku menolak. Aku merasa mampu pulang sendiri, dan lebih dari itu aku merasa perlu. Namun mereka selalu memiliki alasan yang tak sanggup ku tepis, dan kekhawatiran dari ibu

  • SENDIAKALA   13 TANGIS DUA PIHAK

    Malam itu, setelah acara pertemuan keluarga besar Mba Aiza dan Mas Risam. Ibu mendadak berubah menjadi ruang yang asing dan dingin. Ibu hanya duduk mematung di pinggir tempat tidur, menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya pucat, guratan lelahnya tampak lebih dalam dari biasanya. Aku mendekat denga

  • SENDIAKALA   12 BERTEMU DENGAN KELUARGA

    "Tujuan kami mengundang kalian ke mari untuk memberitahukan jika Mas Risam akan menikah dengan Azahra." Suara Mbak Aiza terdengar lantang, bergema di antara pilar-pilar ruang tamu yang megah itu. Di sampingnya, aku hanya bisa tertunduk dalam-dalam. Rasanya seperti seluruh berat atap rumah ini mendad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status