Se connecter"Aman dari mana?!" protes Bianca, langsung mendelik tajam ke arah Damian sambil memukul pelan dada bidang pria itu. "Kamu sih, ngapain pake nyuruh aku masuk kamar kamu segala malam ini, udah tau ada Velove?! Hampir aja tadi aku serangan jantung waktu dia mau narik selimut! Kalau sampai ketahuan, mau ditaruh di mana muka aku di depan sahabat sendiri, ish?!" Damian tidak menjawab omelan panjang lebar Bianca. Ia justru gerakan tenang dan santai, tanpa ekspresi, menarik tubuh Bianca mendekat ke dalam pelukannya. "Dia sudah pergi," ucap Damian datar, seakan apa yang baru saja terjadi bukanlah masalah besar. "Lanjutkan yang tertunda.." pintanya, suaranya rendah namun penuh tuntutan. Bianca membelalakkan matanya, menatap tak percaya ke arah pria di depannya. "Lanjut?! Gak mau ahh! Tubuh ku udah lemes nyaris jantungan, Damian. Rasanya aku mau pingsan tadi!" elak Bianca, meski pipiny
‘Mampus gue! Kalau Velove tau kucing di balik selimut itu gue, dia pasti pingsan! Jangan kesini, please.. Jangan.. Aduh mana tanggung banget nih!’ batin Bianca. Di balik selimut tebal itu, Bianca yang mendengar suara Velove sudah melangkah mendekat, sangat ketakutan setengah mati. Ia ingin menarik napas saja tidak berani, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Namun sialnya, karena terlalu panik dan tegang mendengar suara sahabatnya berada tepat di samping ranjang, tanpa sengaja gigi Bianca mengatupkan mulutnya terlalu kencang dan menggigit kecil pusaka premium milik Damian yang masih berada di dalam mulutnya. ”NNGGHH...!" Sebuah erangan berat dan tertahan meluncur begitu saja dari bibir Damian. Pria itu spontan menutup matanya rapat-rapat sambil meremas seprai kasur dengan jari tangannya yang mengerat menahan sensasi ngilu bercampur sensasi nikmat yang mendadak. Velove yang berdiri kurang dari satu
‘Wahh.. Gue ketemu lagi sama tongkat premiumnya,’ gumam Bianca, menyimpan senyum mesumnya dalam hati. Tanpa ragu, tangan Bianca bergerak turun menyusup ke dalam celana Damian, membebaskan aset premium pria itu dengan gerakan lembut. Perlahan meraba ujung kepala, batang hingga akarnya. ‘Bersih, panjang, kokoh dan besar..’ otak liarnya mulai berputar liar. “Masukkan mulu..” pintar Damian dengan mata berkabut gairah. Bianca tidak protes, ia merangkak ke bawah, tangannya tidak melepaskan aset Damian sedetikpun. Pria itu menarik selimut menutupi tubuh Bianca hingga hanya tampak kepala gadis itu di depannya yang kini sibuk melumat miliknya. “Sshhh.. Nnggg.. Kamu semakin pintar.. Aahhh..” desah Damian, ia mendongak menikmati permainan Bianca dibawah sana. 'Duh, ampun deh! Kenapa rasanya jantung gue mau copot setiap kali ngelakuin hal senekat ini?! Apalagi sekarang Velove juga disini..Kalau sampai dia tahu sahab
Suasana di dalam kamar mendadak terasa jauh lebih intim dan menyesakkan bagi Bianca. "Kamu ini beneran ya! Suka banget nyulik aku diam-diam kayak gini! Kalau Velove curiga gimana?!" omel Bianca, meluapkan rasa gugupnya. Damian melepaskan pegangan tangannya, lalu bersandar santai di tepi meja kerja dengan kedua tangan melipat di dada. Ia menatap tajam ke arah Bianca yang berdiri gelisah di tengah ruangan. "Dia tidak akan curiga kalau kamu tidak berteriak," jawab Damian datar. Bianca mendengus kesal, memutar bola matanya malas. "Ya ampun, kamu nih ya! Tadi di ruang makan kamu sengaja banget kasih kode mau tunggu aku di kamar.. Emangnya mau ngapain suruh aku ke sini malam-malam begini? Besok kamu kan mau ke luar negeri, harusnya istirahat di penthouse kamu sendiri!" Damian menggeser posisinya, berjalan perlahan mendekati Bianca dengan langkah tenang. "Aku butuh kamu ditemani
‘Astaga, dia kasih kode di depan Velove. Dan beneran minta gue dateng malem-malem?! Ampun deh! Gue harus gimana?! Kalau gak dateng pasti dia yang dateng, kayak kemarin..’ batin Bianca dalam lamunannya. “Bi, lo ngapain masih ngelamun disana?! Ayo makan, gue laper nih!” suara teriakan Velove membuyarkan lamunannya. "E-eh... Nggak! Siapa juga yang melamun!" Bianca mengelak salah tingkah, buru-buru melangkah ke arah meja. “I-iya, makan yuk..!”Damian menarik kursi tepat di sampingnya, memberikan tempat pada gadis itu. “Duduk di sini,” perintahnya tanpa ingin penolakan.“Tapi—”"Tidak ada tapi, duduk dan makanlah yang banyak," ucap Damian singkat, lalu menatap lekat ke arah Bianca."Besok aku harus pergi ke luar negeri, pastikan kamu makan teratur selama aku tidak ada."Mendengar ucapan perhatian dari Damian, pipi Bianca kembali merona panas. Ia menundukkan kepalanya, pura-pura fokus mengambil makanan. "Iya... Iya tahu
"Udah ah, stop! Jangan dibahas lagi! Lo beneran mau nguliti gue hidup-hidup ya?! Mau bikin gue malu nyindir gituan terus?! Gue gak mau denger lo lahi, ahh!"Bianca menutup kedua telinganya dengan telapak tangan, berusaha menghentikan suara Velove yang memberondongnya dengan pertanyaan tabu. "Iya deh, iya, gak usah ditutup donk kupingnya! Males banget ngomong sama cewek yang lagi kasmaran tapi sok jaim," ledek Velove sambil tertawa renyah.Tepat saat Velove hendak melayangkan pertanyaan usil lainnya, tiba-tiba terdengar suara bel apartemen berbunyi nyaring dari arah pintu depan.Ting... Tong...!Mata Bianca langsung berbinar cerah, ia merasa mendapat penyelamat di detik-detik interogasi maut sahabatnya."Nah! Tuh denger! Pasti pesanan makanan kakak lo yang datang!" seru Bianca penuh semangat sambil langsung bangkit berdiri dari sofa. "Biar aku aja yang buka pintunya!"Velove mendengus sebal, melipat kedua tanganny
“Nngghhh!” Bianca terbangun dengan mata yang masih setengah tertutup, ia menggeliat, mengucek matanya, lalu sadar bahwa dirinya sedang bersandar di bahu Damian. "Ehh.. Pak Damian, maaf! Saya tadi tidur sampai nyender ya? Makanya kok tidur saya nyaman.." Bianca langsung menjauhkan diri, wajahnya
"Aduh, Pak Damian! Jalannya jangan kayak atlet lari dong, pelan-pelan sedikit! Ini barang saya banyak banget, tangan saya cuma dua, bukan gurita!" seru Bianca, napasnya tersengal-sengal di koridor menuju lift penthouse.Kedua tangannya benar-benar penuh. Tangan kanan menenteng travelin
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema







