로그인Pintu kamar hotel bintang lima itu terbuka dengan kasar. Ivan masuk dengan wajah merah padam karena kesal. Dia melempar kunci mobil sedan abu-abunya ke atas meja kaca sampai berbunyi keras.Igor yang sedang membersihkan laras senapannya hanya melirik sekilas. Boris tertawa mengejek dari arah sofa sambil melempar kacang ke udara dan menangkapnya dengan mulut."Gagal total ya Van? Dikerjain sama kacung lokal?" sindir Boris santai."Tutup mulutmu Boris. Orang ini bukan kacung biasa. Insting mengemudinya gila. Dia tahu celah jalan tikus yang bahkan tidak ada di peta GPS kita," gerutu Ivan sambil menuangkan air es ke dalam gelas lalu meminumnya rakus.Igor meletakkan senapannya di atas meja. Wajah pria bule berbekas luka itu terlihat semakin serius."Sudah saya bilang, target kita punya latar belakang militer. Dia sengaja memancing kamu masuk ke gang sempit buat memastikan kalau kamu benar-benar mengikutinya," kata Igor tenang. "Mulai sekarang kita tidak bisa pakai cara standar. Kita pakai
Malam harinya, Satria tiba di kediaman mewah Vera dengan membawa sebuah tas ransel berukuran sedang. Isinya cuma beberapa potong pakaian ganti dan perlengkapan pribadinya. Bi Imah, asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja untuk keluarga Hadiwinata, menyambutnya dengan ramah."Den Satria, kamarnya sudah Bibi siapkan di ujung lorong dekat taman belakang. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil Bibi saja ya," kata Bi Imah sambil menunjuk sebuah pintu kayu."Makasih banyak Bi. Maaf ya Satria jadi ngerepotin Bibi malam-malam begini," jawab Satria sopan.Vera yang sedang duduk di ruang keluarga tersenyum melihat interaksi mereka. Dia merasa suasananya jadi lebih hidup dengan kehadiran Satria di rumah sebesar ini. Biasanya dia cuma berdua dengan Bi Imah setelah pulang kerja.Sementara itu, di sebuah kamar hotel bintang lima di kawasan Thamrin, Igor sedang membuka sebuah koper hitam besar yang baru saja diantarkan oleh kurir suruhan Surya Aryatama.Klik. Koper itu terbuka.Di dalamnya tersusun
Tiga orang pria asing berjalan keluar dari pintu kedatangan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Penampilan mereka sangat mencolok. Tubuh mereka tinggi besar, mengenakan kacamata hitam, dan membawa tas ransel besar khas turis backpacker. Namun cara berjalan dan sorot mata mereka sama sekali tidak mencerminkan orang yang sedang liburan.Igor berjalan paling depan. Di belakangnya ada Boris si ahli penembak jitu dan Ivan yang merupakan spesialis bahan peledak dan pertarungan jarak dekat.Ponsel di saku jaket Igor bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal. Isinya berupa alamat sebuah hotel mewah di pusat kota Jakarta beserta nomor kamar yang sudah dipesan."Bos, kita langsung menemui klien tua itu?" tanya Boris sambil mengunyah permen karet. Bahasa Indonesianya sangat fasih meski logat Eropanya masih kental.Igor menggeleng pelan. "Tidak usah. Surya Aryatama sudah menyiapkan semuanya di hotel. Kita ambil senjata dan pelajari rute pelarian dulu. Target kita kali ini bukan p
Pagi itu suasana kantor Hadiwinata Group terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Berita tentang ditangkapnya Victor dan klarifikasi resmi perusahaan sukses mengembalikan kepercayaan publik. Laras bahkan masuk ke ruangan Vera sambil bersenandung kecil membawa map laporan progres proyek."Lapor Nona Vera. Pagi ini dana dari investor Singapura sudah masuk sepenuhnya ke rekening proyek. Pak Candra juga sudah menambah dua alat berat lagi di lokasi," lapor Laras dengan wajah berseri-seri.Vera yang sedang membaca email tersenyum puas. "Bagus. Kamu tolong atur jadwal rapat mingguan sama Pak Seno buat besok ya Ras. Kita harus pastikan jadwal pengecoran tidak meleset."Laras mengangguk cepat lalu keluar ruangan. Vera kemudian menoleh ke arah Satria yang seperti biasa sedang duduk santai di sofa sudut sambil memakan camilan."Nasi goreng kambing semalam benar-benar ampuh ya Sat. Pusing saya hilang, bangun tidur juga rasanya segar banget," kata Vera membuka obrolan.Satria tertawa pelan. "Itu kar
Jam di dinding ruang kerja Vera sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Suasana kantor Hadiwinata Group perlahan mulai sepi. Karyawan sudah banyak yang pulang.Vera merapikan tumpukan dokumen di atas mejanya, lalu menatap Satria yang sedang duduk santai di sofa sudut ruangan. Pria itu asyik membolak-balik majalah otomotif."Sat, kamu belum lapar?" tanya Vera memecah keheningan.Satria menutup majalahnya dan menoleh. "Lumayan Non. Kebetulan tadi siang cuma makan roti dari pantri. Mau saya pesankan makanan dari luar atau Nona mau langsung pulang?"Vera tersenyum tipis. "Temani saya makan di luar saja malam ini. Hitung-hitung syukuran kecil-kecilan karena masalah proyek dan investor hari ini sudah beres."Satria berdiri dari sofa. "Boleh. Nona mau makan di restoran mana malam ini? Biar saya siapkan mobil di bawah.""Tidak usah pakai mobil, kita naik motor kamu saja," jawab Vera mengejutkan. "Saya lagi malas makan di tempat mewah yang kaku. Tiba-tiba pengen banget makan nasi goreng kambing K
Ruang serbaguna di lantai dasar gedung Hadiwinata Group penuh sesak oleh kilatan lampu kamera. Puluhan jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik berkumpul untuk meliput konferensi pers darurat yang digelar siang itu.Vera berdiri di balik mimbar dengan sangat percaya diri. Setelan jas kerjanya terlihat rapi dan elegan. Di layar proyektor raksasa di belakangnya, terpampang jelas salinan dokumen mutasi rekening dan akta pendirian PT Bumi Makmur Sejahtera yang dibawa Satria tadi.Dengan suara tenang dan tegas, Vera mematahkan semua tuduhan palsu yang beredar sejak pagi. Dia menjelaskan secara rinci kelengkapan dokumen AMDAL milik perusahaannya dan membeberkan bukti aliran dana kotor yang mendanai aksi demonstrasi tersebut.Para wartawan sibuk mencatat dan merekam. Opini publik yang awalnya menyudutkan Hadiwinata Group kini berbalik seratus delapan puluh derajat. Sorotan tajam kini tertuju pada Aryatama Group sebagai pihak yang bermain kotor.Di sudut ruangan, Satria berdiri bersa







