MasukDi teras panti asuhan, Vera segera memberi isyarat kepada Satria. Pemuda itu mengangguk paham dan berjalan santai menuju mobil untuk mengambil sabak digital atau tablet yang sudah disiapkan oleh Laras sebelumnya.Tidak sampai lima menit, Satria kembali dan meletakkan tablet itu di atas meja kayu di depan Pak Seno. Layarnya sudah menampilkan peta topografi dan kontur lahan seluas dua hektar di kawasan Jakarta Timur.Pak Seno mengambil kacamata bacanya dari kantong kemeja. Mata tuanya yang tajam langsung mengamati garis-garis rumit di layar tersebut. Jari telunjuknya menggeser dan memperbesar gambar peta dengan sangat teliti. Suasana di teras itu mendadak hening selama beberapa saat."Lahan ini lumayan merepotkan," gumam Pak Seno memecah kesunyian. "Daerah ini dulunya bekas resapan air. Kalau kalian mau bangun mal dengan tiga lantai basemen ke bawah, risiko air tanah merembes sangat tinggi. Ditambah lagi, struktur tanah aslinya agak gembur di sisi utara."Vera sedikit terkejut mendengar
Mendengar pertanyaan Pak Seno, Satria tidak langsung menjawab. Dia malah tertawa kecil sambil mengelap tangannya yang kotor ke celana bahan yang dia pakai."Saya? Saya cuma kuli serabutan yang kebetulan lagi kerja jadi asistennya bos yang di bawah sana, Pak," jawab Satria santai sambil menunjuk ke arah Vera yang masih berdiri menengadah di halaman panti.Pak Seno menundukkan pandangannya. Dia mengamati sosok perempuan muda berkaos putih dan celana jeans itu. Kening arsitek senior itu berkerut."Bos? Perempuan muda itu bos kamu? Dari perusahaan mana?" tanya Pak Seno heran."Hadiwinata Group, Pak. Namanya Nona Vera," sahut Satria tenang.Raut wajah Pak Seno langsung berubah kaget, tapi sedetik kemudian kembali waspada. Dia jelas tahu nama besar Hadiwinata Group. Tapi dia bingung melihat seorang CEO perusahaan raksasa datang dengan pakaian sesederhana itu, tanpa iring-iringan mobil mewah, dan tanpa rombongan wartawan.Melihat kecurigaan di mata pria tua itu, Satria buru-buru menambahkan.
Pagi itu, suasana di ruang kerja Vera di lantai paling atas gedung Hadiwinata Group terasa sangat tenang. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela besar, menerangi meja kerja tempat Vera dan Satria sedang duduk berhadapan.Laras, sekretaris Vera yang selalu bisa diandalkan, masuk ke ruangan membawa sebuah map berwarna biru. Dia meletakkan map itu di atas meja."Ini profil lengkap Pak Seno dan Yayasan Panti Asuhan Pelangi yang Nona minta semalam," kata Laras sambil membetulkan letak kacamatanya. "Informasinya lumayan susah dicari karena beliau benar-benar menutup diri dari media selama lima tahun terakhir."Vera membuka map itu dan mulai membaca lembar demi lembar dengan teliti. Satria ikut mencondongkan badannya untuk melihat sekilas."Jadi, apa kelemahan arsitek jenius ini?" tanya Satria penasaran.Vera menghela napas pelan lalu mengetuk salah satu foto di dalam map itu. Foto itu menampilkan sebuah bangunan panti asuhan yang terlihat cukup tua dan sederhana."Panti asuhannya sedang
Begitu pintu mobil SUV hitam itu tertutup rapat, Vera langsung menyandarkan punggungnya ke jok kulit dan menghembuskan napas panjang. Sedetik kemudian, tawa puas pecah dari bibirnya."Gila, kamu lihat tidak wajah Natasha tadi?" kata Vera sambil menggelengkan kepala. "Pucat banget! Aku rasa dia sampai lupa cara bernapas waktu lihat foto-foto preman sewaannya lagi tiduran di aspal."Satria yang baru saja menyalakan mesin mobil ikut terkekeh. Dia memutar kemudi dan membawa mobil keluar dari pelataran parkir hotel mewah tersebut."Lihat dong," jawab Satria santai. "Wajahnya langsung kayak orang habis lihat hantu di siang bolong. Biar saja, biar dia tahu rasanya dikasih kejutan balik."Vera menatap Satria dari samping. Mata cantiknya berbinar penuh rasa terima kasih. Kalau bukan karena Satria yang bergerak cepat mematikan langkah para preman itu paginya, proyek lahan di Jakarta Timur pasti sudah tertunda dan menjadi masalah panjang di media.Belum sempat Vera mengucapkan terima kasih lagi,
Malam harinya, ballroom sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat tampak sangat mewah. Aryatama Group sedang mengadakan pesta perayaan ulang tahun perusahaan. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit, dan alunan musik mengiringi para tamu undangan yang asyik mengobrol.Natasha Aryatama berdiri di tengah ruangan dengan gaun merah menyala yang sangat mencolok. Dia memegang segelas sampanye, tertawa puas saat mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya. Dalam hati, dia merasa sangat menang hari ini. Dia yakin puluhan preman yang dia sewa berhasil membuat proyek Vera berantakan dan tertunda lama."Permisi, Nona Natasha," bisik asisten pribadinya yang tiba-tiba datang dengan wajah panik. "Ada tamu tak diundang masuk ke depan."Natasha menoleh ke arah pintu masuk utama. Senyum di wajahnya langsung kaku.Vera Hadiwinata melangkah masuk dengan sangat elegan. Dia memakai gaun malam berwarna hitam pekat yang pas di badan, membuatnya terlihat anggun tapi juga sangat berwibawa. Di sebelahn
Belasan preman itu menerjang maju bak sekawanan serigala kelaparan. Mereka mengayunkan berbagai macam senjata tumpul dan tajam ke arah Satria secara bersamaan. Jika itu orang biasa, nyawanya pasti sudah melayang dalam hitungan detik.Namun bagi Satria, gerakan mereka semua terlihat lambat dan penuh celah.Seorang preman berbadan gempal yang berada di posisi paling depan mengayunkan balok kayu ke arah kepala Satria. Sambil menghela napas bosan, Satria hanya memiringkan kepalanya sedikit. Balok kayu itu lewat hanya beberapa sentimeter dari telinganya. Tanpa buang waktu, tangan kanan Satria melesat meninju perut pria itu dengan kecepatan kilat.Bugh!Pria gempal itu langsung memuntahkan cairan dari mulutnya dan roboh dengan mata berputar ke atas.Serangan tidak berhenti di situ. Dua orang preman menyabetkan pipa besi dari sisi kiri dan kanan. Satria merunduk cepat, membiarkan kedua pipa besi itu saling berbenturan satu sama lain di udara. Memanfaatkan momen keterkejutan mereka, Satria me







