Se connecterPrana tak bergerak sedikit pun. Dibiarkannya Shanum menangis dalam pelukannya selama yang wanita itu butuhkan. Tangis yang semula pecah keras perlahan berubah menjadi isakan kecil.“Maaf... maafkan aku,” bisik Prana.Napas Shanum yang tadi memburu mulai tenang, meski sesekali masih tersendat. Jari-jarinya tetap mencengkeram erat kemeja Prana. Entah sudah berapa lama mereka berada dalam posisi itu, hingga akhirnya tubuh Shanum perlahan melemas.Kepalanya bersandar di dada Prana, kedua matanya terpejam kelelahan. Bahkan setelah tertidur, alisnya masih berkerut. Sesekali bibir pucat itu bergerak pelan.“Jangan...”Prana langsung menunduk, mendekatkan telinganya ke mulut Shanum.“...jangan pukul aku...”Kalimat lirih itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup membuat dada Prana seperti diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tangannya yang semula mengusap punggung Shanum berhenti sesaat.“Ada aku, sayang... gak ada yang bisa mukul kamu lagi,” bisik Prana.Pelan-pelan diangkatnya tubuh Shanum, dibar
Ponsel di atas pangkuan Shanum terus berkedip. Nama Prana muncul di layar tanpa jeda, bergantian dengan rentetan notifikasi media sosial yang menyembul dari bagian atas bar gawai tersebut.Mas Prana Calling...Shanum melewatkan panggilan itu. Pikirannya tersedot pada notif media sosialnya yang terus bertambah setiap detik. Jempolnya bergerak pelan, membuka unggahan video yang kini memenuhi beranda.Sesaat ia hanya menatap gambar diam di layar. Jemarinya ragu menyentuh kolom komentar. Tapi rasa penasaran akhirnya mengalahkan ketakutannya. Begitu kolom itu terbuka, ribuan komentar langsung memenuhi layar.Komentar teratas berbunyi, “Gini nih kalau rumah tangga pakai duit haram.”Shanum menelan ludah, ia membaca komentar yang lainnya. “Suami istri sama aja. Dua-duanya tukang selingkuh.”“Suami lagi di penjara malah istrinya tinggal serumah sama dokter bedah. Mungkin enak kali ya bisa main bedah-bedahan.”“Jangan gampang percaya perempuan nangis.”Setiap komentar baru terasa seperti seseo
“Kenapa gak ada yang menghubungiku?” tanyanya menatap aplikasi pesan berwarna hijau. “Tiara juga gak pernah datang lagi.”Shanum menatap nama adik kandungnya itu di daftar kontak. Pertemuan terakhir mereka terjadi sebulan lalu, tepat sebelum ia keluar dari rumah sakit. Saat itu, Shanum sendiri yang melarang Tiara datang menemaninya, takut Fadil akan mengendus keberadaannya lewat sang adik. Tapi menghilang tanpa satu pesan pun selama berminggu-minggu jelas bukan tabiat Tiara yang biasanya cerewet dan mudah cemas.Ibu jarinya menyentuh ikon gagang telepon pada nama sang ayah, Bobby. Ponsel ditempelkan ke telinga. Bukan nada sambung yang terdengar, melainkan suara operator yang menyatakan nomor tersebut di luar jangkauan.Shanum memutus sambungan, beralih menekan nomor ibunya, Ani. Hasilnya sama. Kali ini operator menyebutkan nomor yang dituju tak aktif.Cemas mulai bercampur penasaran. Shanum mencoba menghubungi Tiara. Panggilan langsung terputus dengan bunyi sibuk yang pendek.“Kenapa
“Kamu gak apa-apa kan?” tanya Kalid, suaranya melunak, tak lagi sedingin saat menghadapi Kartika dan anak-anaknya tadi. “Ada yang terluka?”Kedua lutut Shanum langsung kehilangan tenaga. Ia nyaris jatuh jika tak cepat bersandar pada dinding. Wajahnya mendongak pelan, menangkap kedua mata Kalid yang begitu khawatir.Belum sempat ia menjawab, tiga petugas keamanan berseragam lengkap tiba di depan unit mereka dengan napas terengah-engah.Komandan sekuriti yang memimpin di depan mendekat, bertanya dengan nada siaga, “Selamat sore, dokter. Mana orang yang harus kami amankan?”Raut wajah Kalid seketika berubah santai, seakan ketegangan beberapa menit lalu tak pernah terjadi. Ia melirik ke arah lorong lift barang tempat Kartika, Putri, dan Mega melarikan diri, menatap sang komandan dengan senyum tipis.“Itu, orang-orang yang berpapasan sama Bapak pas keluar dari lift tadi,” jawab Kalid santai sambil menunjuk arah lorong. “Mereka baru lari pakai lift barang. Tolong pastikan mereka keluar dari
“Lepaskan,” ucap pria itu datar penuh otoritas yang menekan.“Dokter Kalid,” bisik Shanum sangat pelan.Kalid menarik tangan Shanum dengan satu gerakan lembut namun tegas, membawa wanita itu mundur dan menyembunyikannya di belakang punggung tegapnya. Memosisikan tubuh besarnya sebagai tameng, memutus segala akses fisik maupun visual dari tiga wanita di hadapan mereka.“Siapa kamu?!” teriak Kartika, suaranya melengking sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah langsung mendongak, matanya melotot tajam. “Jangan ikut campur ya! Dia ini menantu saya!”Kalid tak menjawab. Wajahnya sekaku es, datar tanpa ekspresi, seolah teriakan Kartika hanyalah angin lalu yang tak berarti. Sikap diamnya penuh intimidasi itu justru membuat suasana koridor terasa semakin mencekam.Merasa diabaikan, Kartika menoleh cepat ke arah Mega yang masih memegang ponsel menyorot wajah Kalid. “Mega, Lihat dia! Apa dia pria yang kamu lihat di restoran sama Shanum?”Mega menurunkan ponselnya sedikit, menyipitk
“Mama...”Di hadapannya berdiri Kartika—ibu Fadil—dengan wajah merah padam menahan amarah. Di belakang wanita itu, Putri dan Mega mengekor dengan sorot penuh kebencian. Tanpa menunggu izin, Kartika langsung mendorong tubuh Shanum hingga terhuyung mundur.“Ma... jangan masuk sembarangan!” seru Shanum, mencoba menahan pintu.Kartika tak memedulikan larangan itu. Ia menerobos masuk ke dalam apartemen, disusul oleh Putri, sementara Mega langsung merekam segala penjuru ruangan dengan ponselnya. Mata Kartika menyapu ruang tamu, dapur bersih, hingga koridor menuju kamar.Langkah wanita paruh baya itu mendadak terhenti di dekat rak sepatu kayu di samping konter dapur. Matanya tertuju pada beberapa sepatu pria yang tersusun rapi di sana. Ukurannya jelas bukan milik Shanum.“Ternyata benar banding yang diajukan Fadil,” hardik Kartika sambil menunjuk rak itu dengan telunjuk kasar. “Anak saya ternyata benar, kamu wanita gak tahu malu!”Putri berdecak jijik sambil menyilangkan kedua tangan di depa
Shanum menutup pintu kamar mandi dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Di dalam ruangan kedap suara ini, ia merasa seperti dikurung bersama bayangan-bayangan mengerikan yang baru saja ia tumpahkan di depan Prana.“Apa yang sudah kula
“Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat
Prana membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Shanum, mencium dan menghisap leher Shanum. Tangan Prana yang besar bergerak perlahan, mengusap leher, turun ke bahu, hingga menjelajahi lekukan tubuh lain.“Dalam mimpimu, apa aku melakukan ini?” tanya Prana penuh godaan. Bibirnya menyapu l
“Sekarang cium aku... jadi aku bisa membuktikan kalau aku disini membutuhkanmu, Mas.”Mendengar pengakuan itu, pertahanan Prana runtuh seketika. Ia tak membutuhkan perintah kedua. Bibirnya langsung membungkam bibir Shanum dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan, menenggelamkan semua pertanyaan







