LOGINHari itu Geza benar-benar pulang dini hari, sesuai harapan Tala. Interaksi mereka hanya sebatas saat sarapan, itu pun diselingi sindiran dan sarkasme. Geza yang sempat mengaku kalah itu sudah menghilang, berganti kembali menjadi pria menyebalkan yang selalu memancing debat setiap kali Tala berusaha membahas proyek Janitra atau urusan profesional lainnya.Saat muncul kendala, Tala kembali memutuskan semuanya sendiri atau berdiskusi dengan Suwandi. Padahal sebelumnya ia mulai terbiasa melibatkan Geza, menghargai kemampuannya, dan tak ingin pria itu terus membenahi dampak dari keputusan impulsifnya.Tala butuh rehat sejenak dari penatnya urusan di Janitra. Karena itu, ia mengiyakan ajakan Amika dan Jia untuk bertemu di sebuah kafe yang menyatu dengan area playground. Ia membawa Sansa, sementara Jia datang bersama putri semata wayangnya yang baru berusia lima tahun—Aca.Yang tidak Tala duga, Jia juga mengundang Adrian. Sedikit merepotkan kalau sampai Geza tahu, tetapi kali ini Tala memili
Kerumitan itu bernama Geza Ragendra.Pria itu bisa begitu pengertian. Tak banyak komentar, tak melontarkan sarkasme yang biasanya begitu mudah keluar dari mulutnya. Bahkan di malam terakhir sebelum Bude Sinta pulang—malam terakhir mereka berbagi ranjang—Geza benar-benar hanya tidur. Tak ada upaya mengambil kesempatan. Tak ada juga balas dendam seperti yang sempat diperingatkan Amika.Bukan berarti Tala mengharapkan sesuatu terjadi. Justru sebaliknya. Hanya saja kelakuan Geza yang “anteng” perlahan membuat Tala semakin percaya, semakin nyaman.Hari-harinya pun berjalan lebih ringan. Tak ada gangguan dari Raga, tak ada ancaman dari Dharma, dan untuk sementara, tak ada arogansi maupun sinisme Geza meski Tala sering bertemu Adrian di lapangan dan di kantor. Tala sempat mengira fase tenang itu akan bertahan lebih lama.Ternyata tidak.Sore ini, pria itu kembali berulah."Fondasinya tetap pakai bore pile?" tanya Geza, mengulang ucapan Adrian tadi. Suaranya rendah, santai, tapi bergema.Ia s
Malam itu, jam digital di atas nakas sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari, namun Tala masih terjaga sepenuhnya. Ia berbaring miring, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, menyaring suara gemericik air dari dalam sana.Sesuai dugaannya, Geza baru masuk ke kamar lewat tengah malam setelah menyelesaikan pekerjaannya. Namun, tak seperti malam-malam sebelumnya di mana Geza akan mendapati Tala sudah meringkuk tak sadarkan diri di balik selimut, malam ini Tala sengaja menunggu. Informasi dari Amika siang tadi benar-benar menyita seluruh fungsi otaknya.Pintu kamar mandi terbuka. Geza keluar dengan kaus oblong hitam dan celana pendek abu-abu, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Langkah pria itu mendadak terhenti di ujung ranjang saat menyadari sepasang mata Tala sedang bergerak mengikutinya."Belum tidur?" tanya Geza. Ia melirik jam di nakas, lalu kembali menatap Tala dengan kening berkerut halus. "Ini hampir jam dua.""Susah tidur."Tala mengubah posisinya menj
“Geza.” Amika menjawab.Tala menggeleng pelan. "Itu cuma asumsi lo doang kali, Mik.""Nggak kok, orang gue punya bukti.""Mana?"Amika menyandarkan punggungnya ke kursi. "Inget gak proyek Cikarang yang bikin lo kelabakan beberapa bulan lalu? Yang hampir batal gara-gara pemilik lahannya tiba-tiba minta harga naik."Tala mengangguk. Ia masih ingat betul bagaimana proyek itu nyaris membuat kepalanya pecah."Lo pikir kenapa akhirnya pemilik lahan itu balik ke harga awal?""Lah, karena negosiasi tim legal Janitra."Amika menggeleng.“Gue baru tahu belakangan dari konsultan appraisal yang ikut duduk di pertemuan terakhir," lanjut Amika, memajukan tubuhnya sedikit demi memberikan penekanan. "Sebelum Janitra masuk lagi buat negosiasi, Geza ternyata pakai pihak lain buat lebih dulu ketemu pemilik lahannya.”Tatapan Tala membeku."Dia nggak nawar. Nggak maksa juga." tutur Amika."Terus?"“Pihak suruhan Geza cuma bilang kalau Bhuwana nggak akan ikut masuk atau ngerebut lahan itu. Dan menurut dia
"Kamu lagi dapet, Ta?" tanya Geza dengan suara yang luar biasa serak dan tertahan, menuntut penjelasan dari wanita di bawahnya yang sudah berhasil membuatnya gila setengah mati.Di bawah kungkungan tubuh Geza yang menegang kaku, Tala justru menarik napas panjang, menikmati pasokan oksigen sebanyak mungkin. Alih-alih merasa bersalah atau panik karena tertangkap basah, seulas senyum kemenangan terbit di wajahnya yang merona merah.Dengan gerakan lambat, ia mengalungkan kembali kedua lengannya di leher pria itu, sengaja merapatkan tubuh atas mereka yang sama-sama polos tanpa sekat.“Not tonight…You lose Mas Geza.”Geza mendengkus kesal. Kepalanya mendongak ke langit-langit kamar sejenak, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu berantakan. Rasa panas dan berdenyut di bagian bawah tubuhnya benar-benar menyiksa. “Fine,” ujar Geza akhirnya, menatap Tala dengan senyum miring yang menantang balik. “Kamu menang Tala. Puas? Tapi jangan pikir kamu bisa lepas gitu aja.”Dengan gerakan yang s
Pertanyaan Geza menggantung di antara mereka, bergesekan dengan udara kamar yang mendadak terasa gerah. Tala menyunggingkan senyum tipis—sebuah lengkung samar yang penuh arti.Tangannya bergerak menutupi jemari Geza yang masih tertahan di resleting dressnya menuntun tangan pria itu untuk tetap di sana, merasakannya langsung lewat sekat kain gaun yang tipis.“Menyesal?” suara Tala mengalun rendah melebur dengan kesunyian malam. “Pion nggak pernah punya pilihan buat jalan mundur, bukan?”Geza menyentak, menepis tangan Tala yang menutupi jemarinya di atas resleting dress wanita itu. Dalam satu gerakan cepat, tangannya naik ke tengkuk Tala, meremasnya dengan tekanan yang menuntut.“Nggak ada pion yang punya kuasa buat mengacaukan isi kepala saya kayak gini.” balas Geza dengan suara menggeram.Bersamaan dengan kalimat itu, Geza melangkah maju. Dorongan tubuhnya membuat Tala mundur tertatih, kehilangan keseimbangan hingga bagian belakang lututnya membentur tepi ranjang dan di detik berikutn
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b
Satu minggu sudah berlalu sejak perdebatan malam itu. Tala membangun dinding pembatas setinggi mungkin. Setiap informasi mengenai Sansa disampaikan layaknya laporan kerja—dingin, kaku, dan efisien. Tala tak mau terlihat rapuh, apalagi menunjukkan bahwa kalimat Geza berhasil melukainya.Pagi ini, keh
Tidak ada yang benar-benar tidur nyenyak selama satu bulan terakhir. Duka perlahan mengubah ritme hidup mereka tanpa permisi. Tala terbiasa bangun karena tangisan tengah malam, sementara Geza mulai hafal cara menenangkan Sansaya sebelum anak itu benar-benar histeris. Ada kalanya mereka bergantian me







