로그인Saat Tala benar-benar terbangun, pria itu sudah pergi entah ke mana. Sisi kasur di sebelahnya sudah mendingin, namun sisa pelukan dan kecupan hangat di keningnya subuh tadi masih terasa membekas nyata. Seketika, akal sehat Tala mulai menjerit lagi. Ini tidak benar. Logikanya yang sempat meleleh tadi menuntut untuk dipasang kembali.Ini hari Sabtu, awalnya ia berencana untuk diam di rumah saja menghabiskan waktu bersama Sansa. Namun, saat selesai mandi dan bersiap sarapan, ia mengurungkan niat itu begitu mendengar kalimat Hanum."Om Eja udah berangkat dari jam enam tadi, Tante. Katanya mau tenis dulu, nanti pulang siangan deh kayaknya," ujar Hanum sambil menata piring.Baguslah. Berarti rumah aman sampai siang. Mereka tak perlu pamer keharmonisan di depan Hanum dan Tala tak perlu gelisah saat jarak mereka terlalu dekat.Jika Geza pulang agak siangan dan berangkat hanya untuk tenis, itu artinya sisa hari Sabtu ini pria itu akan berdiam di rumah. Dan menghabiskan waktu seharian penuh den
Setelah obrolan panjang dengan Geza itu, akhirnya Tala memejamkan mata. Namun tidur tak benar-benar memberinya istirahat. Kesunyian kamar justru menyeretnya masuk ke dalam labirin ingatan yang paling ingin ia hindari.Semuanya terasa begitu nyata. Ia seperti kembali menjadi mahasiswi yang baru pulang dari kampus. Maket tugasnya masih dipeluk erat, kardusnya penyok di beberapa sisi. Napasnya memburu ketika langkahnya berhenti di sebuah pemakaman yang tanahnya masih basah oleh hujan.Ia mengenali tempat itu. Perlahan, pandangannya jatuh pada sebuah batu nisan. Nama ayahnya terukir di sana membuat dadanya langsung sesak."Nggak..."Suara itu terdengar seperti miliknya, tetapi begitu jauh. Air matanya mengalir tanpa bisa dibendung. Lututnya melemas hingga seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Sangat hangat dan akrab."Tala..."Jani.Pelukan kakaknya selalu sama. Erat. Menenangkan. Membuatnya merasa semuanya akan baik-baik saja. Namun kehangatan itu hanya bertahan sesaat. Dalam sat
Ujian sekamar dengan Geza masih belum selesai. Ini adalah hari ketiga sekaligus malam terakhir Hanum menginap di rumah mereka. Selama tiga hari ini, Tala sudah cukup tersiksa menghadapi kombinasi mematikan dari seorang Geza. Geza yang anteng, Geza yang bertingkah menggemaskan, Geza yang baru selesai mandi dengan aroma segar yang menguar dalam jarak dekat. Dan malam ini, pria itu punya tambahan pesona baru yang jauh lebih berbahaya—Geza yang terlihat rapuh dan kesepian.Malam ini, mereka duduk bersandar pada headboard ranjang, mengobrol ngalor-ngidul begitu saja. Berawal dari membahas Hanum dan karier barunya yang tengah dirintis di Jakarta, lalu bergeser ke pekerjaan, keluarga, hingga kenangan-kenangan lama yang tanpa sadar membawa mereka pada sosok Jani.Geza tersenyum kecil. "Semua masakan Mbak Jani enak."Tala tersenyum tipis. Masakan kakaknya memang seenak itu. Tala kehilangan ibunya saat masih berusia enam tahun, sementara Jani berusia sebelas tahun. Saat itu, Tala dititipkan pad
Hari pertama, Geza berhasil Tala paksa tidur di kamar Sansa. Mereka tidak boleh lagi sekamar setelah kelakuan Geza yang terang-terangan menjadikan bahu Tala sebagai sandaran saat menonton televisi dan setelah mereka kebablasan malam itu.Hari kedua, Geza bahkan sudah berniat tidur di ruang kerja. Namun menjelang tengah malam, pria itu tetap muncul di ambang pintu kamar."Mau ngapain?" tanya Tala setengah mengantuk."Tidur.""Di sini?""Iya."Tala sudah terlalu lelah untuk berdebat. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang di sisi ranjang."Jaga jarak," peringat Tala."Kamu yang gak jaga jarak, ngabisin jatah tempat tidur saya," balas Geza telak. Tala memang selasak itu saat tidur."Ya udah, sana balik ke ruang kerja," sahut Tala ketus.Geza tak merespons. Pria itu hanya mengulurkan tangan untuk mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur di sudut ruangan yang memancarkan cahaya temaram.Tala memejamkan mata.Lima menit.Sepuluh menit.Lima belas menit.Rasa kantuknya belum
"Tan, pusing nggak sih ngurusin Janitra?" tanya Hanum sambil memasukkan keripik ke mulutnya.Tala mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggung ke sofa. "Banget, Num."Hanum terkekeh kecil."Kebayang, sih. Dulu aku sering denger Papa sama Om Arka ngobrol. Tiap pulang ke Jogja pasti yang dibahas Janitra lagi, Janitra lagi."Tala hanya mengangguk pelan.Janitra memang bukan pengembang papan atas yang rutin masuk berita bisnis. Hampir empat puluh tahun berdiri. Namanya cukup dikenal di industri, tapi laju perusahaan itu seperti tertahan bertahun-tahun. Bukan karena kurang proyek, melainkan menghadapi rapat yang lebih mirip acara kumpul keluarga.Belum sempat percakapan mereka berlanjut, lengan Sansa yang duduk di sebelah Tala tiba-tiba menggoyang-goyangkan bahu Tala."Tata...""Hm?""Singanya loncat." Bocah itu menunjuk layar televisi yang sedang menayangkan dokumenter satwa. Seekor singa tampak menerkam mangsanya di padang savana."Siapa namanya?"Tala bahkan tak sempat melihat
"Om Eja... Yaya mau dianterin Om Eja sekolah." Suara riang Sansa memenuhi ruang makan.Geza mengusap pelan kepala keponakannya. "Siap, Tuan Putri."Setelah hampir dua minggu tak pernah muncul di meja makan saat sarapan, pagi itu akhirnya Geza kembali duduk di sana. Hari pertama mereka sarapan bertiga kembali."Kamu berangkat jam berapa, Ta?" tanya Geza sambil menyeruput kopinya. "Mau bareng?"Tala menggeleng pelan. "Agak siang. Kamu duluan aja."Tidak boleh. Tidak untuk sekarang.Berada dalam satu mobil dengan Geza terasa terlalu berbahaya. Kejadian yang kebablasan belasan hari lalu masih terlalu jelas membekas di kepalanya. Ditambah lagi, wajah Geza yang terlihat menggemaskan itu... entah kenapa masih berhasil mengacaukan kewarasan Tala."Oke.""Oh ya," ujarnya seolah baru teringat. "Nanti sore Hanum mau ke sini. Kayaknya dia bakal nginep."Tangan Tala yang sedang mengoleskan selai ke roti terhenti."Nginep?""Iya." Geza mengangguk. "Dia lagi ada proyek di daerah sini.""Berapa hari?"
Menjaga Sansaya setiap hari ternyata sanggup menguras seluruh kewarasan Tala. Begitu dia terbangun, wajah kuyu dengan lingkaran hitam yang menghias bawah mata langsung menyambutnya.Tala melangkah gontai menuju ruang makan, mengambil segelas air putih, lalu duduk tepat di hadapan Geza. Pria itu suda
Tala tak sanggup mencerna kalimat itu. Menikah dengan adik kakak iparnya? Sebutannya memang masih keluarga, tapi mereka hanya dua orang asing yang kebetulan terhubung karena sebuah pernikahan kedua kakaknya.“Kamu gila?” Tala mendengus, tawa hambar keluar dari bibirnya yang pucat. “Akal sehat kamu k
Tala berdiri memandangi gundukan tanah merah yang masih basah. Rasa sakitnya sama. Sama seperti saat ia kehilangan ibu, lalu nenek, dan terakhir ayahnya. Kehilangan sudah terlalu akrab dalam hidup Tala. Namun kali ini, ia berusaha berdiri lebih tegak—meski sekujur tubuhnya masih gemetar dan kepalan
“Kenapa lagi kalian?” tanya Bastian jengah. Matanya bergantian menatap Geza dan Tala yang sejak tadi hanya saling diam.Di ruang privat restoran sushi itu, ia baru saja menghabiskan hampir tiga puluh menit untuk menjelaskan proses banding Dharma. Sebagian besar istilah hukumnya hanya lewat begitu s







