LOGINPertanyaan itu Tala jawab bukan dengan kata-kata. Ia hanya berjinjit sedikit, lalu mengecup bibir Geza dengan begitu pelan.Begitu lembut.Begitu hati-hati.Persis seperti kecupan yang pernah Geza bagi di depan pintu rumah saat mereka pulang naik busway dua bulan lalu.Astaga.Sudah dua bulan ternyata. Dua bulan tanpa saling menyentuh. Tanpa cumbu. Tanpa kecupan. Tak ada interaksi fisik sama sekali, yang perlahan tumbuh justru kebiasaan-kebiasaan kecil.Hampir setiap malam setelah Sansa tidur, Tala dan Geza akan duduk sejenak di kitchen island. Tala membereskan dapur, sementara Geza menemaninya dengan segelas kopi atau air putih sambil menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Mereka saling bertukar cerita tentang hari yang baru saja berlalu.Kalau Tala membawa pekerjaan Janitra ke rumah, Geza akan ikut bergabung begitu saja. Kadang mengoreksi, kadang menawarkan sudut pandang lain, meski sebenarnya semua itu sudah berkali-kali ia ajarkan sejak Tala pertama kali duduk di jajaran komisaris J
Apartemen Geza berada di kawasan Senopati, hanya beberapa menit dari SCBD. Terletak di lantai tiga puluh dua sebuah gedung eksklusif, tempat itu menawarkan pemandangan kota Jakarta dari balik jendela kaca tinggi.Begitu masuk, Tala langsung tahu satu hal. Apartemen itu lebih mirip kantor pribadi daripada tempat tinggal. Meja kerja besar dipenuhi dokumen proyek yang tersusun rapi, laptop, dan catatan dengan label yang bahkan masih tertata sempurna. Rak di dinding berisi buku tentang konstruksi, bisnis, dan manajemen.Tempat itu luas, full furnitur. Tidak ada barang yang diletakkan tanpa alasan. Semuanya punya tempat. Elegan, mahal, tapi terasa seperti ruang kerja yang kebetulan memiliki sofa dan tempat tidur. Tala bisa membayangkan Geza yang dulu pulang hanya untuk berganti suasana sebelum kembali membuka laptop."Za, workaholic kamu tuh bener-bener gila. Sesuai reputasinya," komentar Tala sambil menjatuhkan diri ke salah satu kursi.Geza terkekeh pelan.Ia melepaskan jasnya, lalu meng
Begitu memasuki ballroom tempat resepsi berlangsung, beberapa pria dan seorang wanita yang tengah berbincang di dekat meja cocktail spontan menoleh."Geza?" Salah satu dari mereka langsung tertawa lebar. "Anjir... akhirnya nongol juga!"Geza menyambut uluran tangan mereka satu per satu."Lama nggak ketemu.""Parah, Bro." Pria berkacamata menepuk bahunya. "Masih aja sibuk.""Lama banget ngilang.""Masih kerja terus?"Komentar-komentar itu saling tumpang tindih.Geza hanya mengangkat bahu. "Masih hidup juga, kan." Jawaban sedatar itu ternyata bisa menyulut gelak tawa teman-temannya.Baru kemudian perhatian mereka beralih pada Tala yang berdiri setengah langkah di belakang Geza. Malam itu, dengan gaun satinnya dan sanggul rendah yang rapi, Tala memang sulit luput dari perhatian.Salah seorang pria berjas abu tersenyum ramah pada Tala. ”Hai.”Tala hanya mengangguk dan membalas dengan senyum."Wah, Za..." pria lain di sebelah pra berjas abu melirik teman-temannya sebentar sebelum kembali
Tala sedang memulas lipstik merah gelap di bibirnya ketika terdengar ketukan di pintu kamar."Bentar.""Boleh saya masuk?" tanya Geza dari balik pintu."Iya, masuk aja."Tala buru-buru merapikan polesan terakhirnya. Karena terlalu tergesa, sedikit warna lipstik justru melewati garis bibirnya.Saat ia menoleh, Geza sudah berdiri di ambang pintu. Sebuah paper bag eksklusif dengan logo brand perhiasan ternama menggantung di tangannya."Bentar lagi selesai," ujar Tala sambil kembali menghadap cermin.Malam ini mereka akan menghadiri resepsi pernikahan salah satu teman Geza semasa kuliah magister.Tak ada jawaban.Tala menangkap bayangan Geza di cermin. Pria itu hanya berdiri beberapa langkah di belakangnya, diam tanpa sepatah kata. Tatapannya tertahan lama pada pantulan Tala di cermin full body. Gaun deep emerald yang menjuntai anggun hingga menyapu lantai membingkai siluet tubuhnya dengan elegan. Keheningan itu justru membuat Tala ikut salah tingkah."Kenapa?" tanyanya pelan.Geza tidak
Mereka baru keluar dari bistro setelah tanpa sadar menghabiskan waktu cukup lama membahas setiap sudut kampus yang sama-sama pernah mereka lewati.Kini keduanya menyusuri koridor mal yang masih dipenuhi pengunjung akhir pekan.“Saya nggak bawa mobil. Kamu juga,” ujar Geza santai. “Pak Parman nggak bisa dipanggil, lagi ada urusan. Istrinya sakit. Jadi kita pulang naik taksi aja.”“Naik transum aja.”Geza menoleh.“Busway.”Pria itu menatap Tala beberapa detik, “Kamu serius?”“Iya.” Tala mengangguk ringan. “Pengen nostalgia. Dulu ke mana-mana aku naik busway.”Ia lalu melirik Geza dari ujung kepala sampai ujung kaki."Tapi kayaknya kamu gak bakal mau.""Kenapa?""Soalnya..." Tala terkekeh kecil. "Kamu kelihatan kayak orang yang dari lahir udah duduk di jok kulit mobil."Geza mengembuskan napas pendek, nyaris seperti tertawa. "Itu penghinaan atau pujian?""Terserah kamu nangkepnya gimana.""Tapi kamu yakin saya nggak pernah naik bus?"Tala mengangguk mantap. "Yakin. Soalnya kamu tuh vibe
Kini Tala dan Geza duduk bersebelahan di kursi bioskop. Menatap layar yang menampilkan film komedi romantis pilihan Amika.Sesuatu yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Tala. Menonton film bersama Geza.Sekali lagi, film komedi romantis. Bersama. Geza.Dulu, saat Arka dan Jani baru menikah, Tala pernah berada di situasi yang hampir sama. Jani mengajaknya menonton, sementara Arka mengajak Geza ikut bergabung. Namun saat itu, Geza bahkan langsung menolak mentah-mentah film setipe ini. Pria itu justru melipir memilih film lain.Katanya, ia tidak tertarik menonton film yang konflik tiga tahunnya bisa selesai kalau dua orang dewasa itu belajar komunikasi. Katanya, ia malas melihat pria yang tidak punya keberanian menyatakan perasaan. Tidak efisien. Lambat. Menghabiskan waktu untuk sesuatu yang seharusnya bisa diselesaikan dengan satu keputusan.Dan sekarang...Pria yang sama duduk di sebelahnya. Dengan setangkup popcorn ukuran besar di tangannya dan cup soda besar serta sedotan di
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari saat Tala akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah. Dia benar-benar tidak bisa tidur. Bukan karena ini adalah malam pertamanya dengan status sebagai istri Geza.Bukan.Tidak akan ada yang berbeda karena mereka bukan pasangan nyata. Alarm tubuhnya saja yang
Geza tidak terkejut saat Tala menuntut penjelasan dengan tatapan menghunus. Pria itu memutar tubuh untuk menghadap Tala sepenuhnya."Kita enggak sedang membohongi anak kecil, Tala." jawab Geza rendah, terlampau tenang. "Keluarga saya, kolega bisnis saya dan Arka, sampai pengadilan—ada terlalu banyak
Malam itu jadi malam paling panjang untuk semua sesi perdebatan yang pernah mereka lewati selama enam tahun terakhir. Geza harus mendapatkan kesepakatannya malam ini juga.“Semuanya sudah saya atur di dokumen resmi,” Geza kembali bicara, memecah keheningan. “Saya gak akan ambil sepeser pun yang jadi
Tala terkunci di antara kedua lengan Geza yang bertumpu pada pinggiran meja mahoni. Jantungnya berdentum liar, namun rasa terpojok itu justru membakar keberaniannya. Ia mendongak, menantang sepasang manik gelap di depannya.“Melindungi Sansa, itu yang mau kamu bilang?” Tala tertawa miris, suaranya b







