เข้าสู่ระบบSandra menahan napasnya ketika Jefri memegang tangannya dengan hati-hati. Ia bisa merasakan jantungnya mulai berdebar kencang.
Mereka masih berdiri di depan kamar Jefri. Tadinya, Sandra pikir Jefri akan mengobatinya di dalam kamarnya. Tapi, nyatanya pria itu tidak melakukannya.Sandra sedikit kecewa dengan hal itu. Tapi, ia buru-buru menepisnya.Padahal dia sudah mendapatkan kesempatan ini. Harusnya Sandra lebih bersyukur.Sandra meringis ketika Jefri mEntah bagaimana situasi yang hangat tadi berubah menjadi menegangkan begini.Hani duduk mengkerut. Kepalanya tertunduk, tidak berani melihat Jefri duduk bersedekap di depannya. Aura tidak mengenakkan menguar dari dirinya, bersamaan dengan tatapan tajamnya yang terus menghujam.Di sebelahnya, Merphilus justru duduk tegak. Posturnya terlihat begitu meyakinkan. Meski nyatanya ia juga tegang seperti Hani. Setelah kejadian terpergok tadi, Jefri dengan cepat menjadikan kamar Hani sebagai ruang interogasi. Hani lagi-lagi harus duduk sebagai pesakitan di depannya. Dipikir-pikir, ini sudah kesekian kalinya ia mengalami hal seperti ini.Tapi, tidak seperti biasanya yang langsung dimulai, dari tadi belum ada sepatah kata pun keluar baik dari Jefri maupun Rara. Keheningan yang menyesakkan menggantung di langit-langit kamar. Hani awalnya menduga kalau ia perlu menunggu sampai Jefri berbicara. Tapi, setelah beberapa saat berlalu, Hani mulai berpikir
Merphilus mengerjapkan mata. Alisnya terangkat, terlihat terkejut dengan ucapan perempuan di hadapannya.“Sekarang?” ulang Merphilus, “Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kamu beristirahat lagi—”“Saya ingin mengetahuinya sekarang,” potong Hani tegas. Merphilus menatap Hani sejenak. Memerhatikan kesungguhan di wajah perempuan itu. Seulas senyum geli kemudian terukir di wajahnya. “Sepertinya saya memang tidak bisa mengalahkanmu,” kekeh Merphilus membuat Hani memerah samar.Tangan Merphilus yang bebas masuk ke bagian dalam jasnya. Merogoh sesuatu di saku dalam. “Hani, kamu masih ingat dengan percakapan kita waktu itu, kan?” buka Merphilus, “Sebagai balasan rahasia kita di bar, kamu bersedia memenuhi permintaan saya apa pun itu.”Hani mengangguk, “Saya masih ingat.”Bagaimana mungkin ia lupa? Pertemuan itu saja masih sangat membekas bagi Hani. Baginya, permintaan Merphilus adalah teka-teki terbesar
Malam sudah sangat larut ketika Hani terbangun dari tidurnya. Kamarnya gelap, padahal seingat Hani lampunya masih menyala ketika ia tidur.Apa Rara yang mematikannya?Hani perlahan bangkit duduk. Tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil botol air di atas nakas lalu segera menegaknya rakus. Usai minum, perempuan itu berusaha mencerna situasinya sejenak.Terakhir yang ia ingat adalah menangis di dekapan Rara. Setelah itu, ia sempat bercerita tentang peristiwa mengerikan tersebut sebelum tertidur karena lelah dan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.Rara dan Leo pasti pergi setelah ia tidur. Apa mereka ikut mengurus Michael?Hani mengambil ponselnya di dekat bantal. Ia menyalakannya dan segera muncul berbagai notifikasi pesan dari Rara dan Jefri. [Maaf meninggalkanmu saat tidur, Hani. Aku dan om Leo perlu membantu Mas Jefri mengurus masalah Michael di kantor polisi. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu.][Ayah sedang di kantor polisi. Hubungi segera kalau ada apa-apa]Itu isi pesan
“Tu-tukar nyawa?” Michael mengulang dengan gemetar, “Ma-maksudmu … mati?”Jefri tidak menjawab. Tapi, tatapan mengintimidasinya sudah cukup membuat Michael mengerti. Tubuh pria itu gemetar. Wajahnya pias. Ia pelan-pelan menundukkan kepalanya dengan ngeri.Di sebelahnya, Tiara dan Alexander ikut tercekat. Wajah Tiara bahkan sampai putih saking memucatnya. “Je-Jefri, tidakkah kamu berpikir itu berlebihan?” Alexander takut-takut menjawab, “Ha-Hani …. Putrimu … bukankah dia sudah baik-baik saja sekarang? Dia sudah di tempat aman—”“Lalu bagaimana kalau Tuan Merphilus tidak segera datang kesana tadi?” potong Jefri tajam, “Paman tahu hal yang akan terjadi padanya, kan?”Alexander mati kutu. Tidak mampu lagi menjawab. Ia kini ikut menundukkan kepalanya dengan gemetar.Jefri menghela napas berat. “Kalau kalian tidak siap bertukar nyawa, terima saja hukuman penjara itu,” ucapnya dingin. “Lagipula hukuman itu juga masih terlalu ringan untuknya.”Jefri kemudian membuang pandangannya dari mer
“Hani!” Hani yang daritadi melamun di atas kasur, menoleh ke arah pintu. Matanya melebar melihat Rara berlari ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Sebelum ia sempat bereaksi, Rara sudah menubruknya cepat. Memeluknya erat-erat hingga Hani merasa sedikit sesak. Ia meringis. “Ra, pelukanmu terlalu kencang–” “Aku benar-benar khawatir!” potong Rara. Ia melonggarkan pelukannya. Matanya sudah bersimbah air mata. “Tuan Merphilus tiba-tiba saja datang dan bilang Michael hampir memperkosamu! Bagaimana bisa aku tidak cemas?!” seru Rara dengan suara serak. Hani menelan ludah. Ia memang sudah menduga Merphilus melakukannya. Meski ia tidak melihat ketika pria itu pergi ke aula karena sudah lebih dulu ke kamar ini bersama staf hotel. “Untung saja Tuan Merphilus sudah membuat bajingan itu babak belur sebelumnya! Kalau tidak, aku akan—” “Tunggu, kamu bilang apa tadi?” Hani mengernyitkan alisnya, “Michael babak belur? Benarkah? Dan bagaimana kamu bisa tahu?” Rara menghela napas pelan.
“Hani masih belum kembali?”Leo menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jefri. Hal itu membuat wajah Jefri seketika mengerut.“Ini sudah hampir 20 menit. Apa dia kabur lagi?” sungutnya. “Saya tidak yakin soal itu,” balas Leo. Kalau Merphilus ada di sini, ada kemungkinan Hani memang kabur. Mengingat selama ini kaburnya Hani ada sangkut pautnya dengan pria itu. Tapi, Merphilus tidak ada di sini sekarang. Leo juga sangsi pria itu akan muncul mengingat ini adalah acara keluarga Nickelson. Dengan kata lain, Hani mungkin hanya tengah berkeliaran atau mampir di bar lantai atas. ‘Atau pria itu memang tiba-tiba datang dan membawa Hani?’ duga Leo dalam hati yang buru-buru ditepisnya.Dia sudah bertekad untuk tidak memedulikan mereka lagi. Rahasia hubungannya sudah digenggam Merphilus sehingga ia harus berhati-hati agar tidak menyinggung pria itu lagi.Karena jika Leo melakukannya, hubungannya dengan Grace bisa terancam bubar. Ia tidak menginginkannya.“Mungkin ada sesuatu terjadi?” tebak Rara
“Apakah om mau menjadi pasanganku di acara dansa nanti?”“Apa?”Perasaan Hani berubah resah ketika melihat Leo terkejut. Apa pria itu akan menolaknya? Atau ucapannya kurang jelas?Ragu-ragu, Hani kembali berkata, “Aku pingin om jadi pasangan dansaku di acara nanti,”Kali ini, Leo harusnya mendengar
Sandra mengerutkan alis bingung, “Tunggu, Ra. Biar aku cek dulu–”“Tidak usah! Sebaiknya tetap beli untuk jaga-jaga, kan?” potong Rara lagi, “Mencegah itu lebih baik, kan?”Rara lalu menoleh ke Jefri. “Om, tolong bantu kak Sandra benerin atap, ya!”“Apa?” tany
[Aku sudah menemukan informasi kalau om Leo tidak memberitahukan pertemuan kalian ke ayah. Jadi, tidak usah khawatir!]Rara menghela napas lega usai membaca pesan Hani. Tapi, di sisi lain, ia juga merasa penasaran dengan cara Hani mencari tahunya. Sahabatnya itu tidak bertanya langsung, kan?Rara
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?!” bentak Marco penuh amarah, “Kau sudah gila, ya?!”Rachel menghembuskan napas kasar. Ia memijat-mijat kepalanya yang berdenyut pusing.Mereka bertiga sekarang sedang di ruang tunggu kecil untuk menunggu istirahat sidang berakhir. Satu petu







