LOGINEntah bagaimana situasi yang hangat tadi berubah menjadi menegangkan begini.
Hani duduk mengkerut. Kepalanya tertunduk, tidak berani melihat Jefri duduk bersedekap di depannya. Aura tidak mengenakkan menguar dari dirinya, bersamaan dengan tatapan tajamnya yang terus menghujam.Di sebelahnya, Merphilus justru duduk tegak. Posturnya terlihat begitu meyakinkan. Meski nyatanya ia juga tegang seperti Hani.Setelah kejadian terpergok tadi, Jefri dengan cepat menjadikan kEntah bagaimana situasi yang hangat tadi berubah menjadi menegangkan begini.Hani duduk mengkerut. Kepalanya tertunduk, tidak berani melihat Jefri duduk bersedekap di depannya. Aura tidak mengenakkan menguar dari dirinya, bersamaan dengan tatapan tajamnya yang terus menghujam.Di sebelahnya, Merphilus justru duduk tegak. Posturnya terlihat begitu meyakinkan. Meski nyatanya ia juga tegang seperti Hani. Setelah kejadian terpergok tadi, Jefri dengan cepat menjadikan kamar Hani sebagai ruang interogasi. Hani lagi-lagi harus duduk sebagai pesakitan di depannya. Dipikir-pikir, ini sudah kesekian kalinya ia mengalami hal seperti ini.Tapi, tidak seperti biasanya yang langsung dimulai, dari tadi belum ada sepatah kata pun keluar baik dari Jefri maupun Rara. Keheningan yang menyesakkan menggantung di langit-langit kamar. Hani awalnya menduga kalau ia perlu menunggu sampai Jefri berbicara. Tapi, setelah beberapa saat berlalu, Hani mulai berpikir
Merphilus mengerjapkan mata. Alisnya terangkat, terlihat terkejut dengan ucapan perempuan di hadapannya.“Sekarang?” ulang Merphilus, “Sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Sebaiknya kamu beristirahat lagi—”“Saya ingin mengetahuinya sekarang,” potong Hani tegas. Merphilus menatap Hani sejenak. Memerhatikan kesungguhan di wajah perempuan itu. Seulas senyum geli kemudian terukir di wajahnya. “Sepertinya saya memang tidak bisa mengalahkanmu,” kekeh Merphilus membuat Hani memerah samar.Tangan Merphilus yang bebas masuk ke bagian dalam jasnya. Merogoh sesuatu di saku dalam. “Hani, kamu masih ingat dengan percakapan kita waktu itu, kan?” buka Merphilus, “Sebagai balasan rahasia kita di bar, kamu bersedia memenuhi permintaan saya apa pun itu.”Hani mengangguk, “Saya masih ingat.”Bagaimana mungkin ia lupa? Pertemuan itu saja masih sangat membekas bagi Hani. Baginya, permintaan Merphilus adalah teka-teki terbesar
Malam sudah sangat larut ketika Hani terbangun dari tidurnya. Kamarnya gelap, padahal seingat Hani lampunya masih menyala ketika ia tidur.Apa Rara yang mematikannya?Hani perlahan bangkit duduk. Tenggorokannya terasa kering. Ia mengambil botol air di atas nakas lalu segera menegaknya rakus. Usai minum, perempuan itu berusaha mencerna situasinya sejenak.Terakhir yang ia ingat adalah menangis di dekapan Rara. Setelah itu, ia sempat bercerita tentang peristiwa mengerikan tersebut sebelum tertidur karena lelah dan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.Rara dan Leo pasti pergi setelah ia tidur. Apa mereka ikut mengurus Michael?Hani mengambil ponselnya di dekat bantal. Ia menyalakannya dan segera muncul berbagai notifikasi pesan dari Rara dan Jefri. [Maaf meninggalkanmu saat tidur, Hani. Aku dan om Leo perlu membantu Mas Jefri mengurus masalah Michael di kantor polisi. Segera hubungi aku kalau terjadi sesuatu.][Ayah sedang di kantor polisi. Hubungi segera kalau ada apa-apa]Itu isi pesan
“Tu-tukar nyawa?” Michael mengulang dengan gemetar, “Ma-maksudmu … mati?”Jefri tidak menjawab. Tapi, tatapan mengintimidasinya sudah cukup membuat Michael mengerti. Tubuh pria itu gemetar. Wajahnya pias. Ia pelan-pelan menundukkan kepalanya dengan ngeri.Di sebelahnya, Tiara dan Alexander ikut tercekat. Wajah Tiara bahkan sampai putih saking memucatnya. “Je-Jefri, tidakkah kamu berpikir itu berlebihan?” Alexander takut-takut menjawab, “Ha-Hani …. Putrimu … bukankah dia sudah baik-baik saja sekarang? Dia sudah di tempat aman—”“Lalu bagaimana kalau Tuan Merphilus tidak segera datang kesana tadi?” potong Jefri tajam, “Paman tahu hal yang akan terjadi padanya, kan?”Alexander mati kutu. Tidak mampu lagi menjawab. Ia kini ikut menundukkan kepalanya dengan gemetar.Jefri menghela napas berat. “Kalau kalian tidak siap bertukar nyawa, terima saja hukuman penjara itu,” ucapnya dingin. “Lagipula hukuman itu juga masih terlalu ringan untuknya.”Jefri kemudian membuang pandangannya dari mer
“Hani!” Hani yang daritadi melamun di atas kasur, menoleh ke arah pintu. Matanya melebar melihat Rara berlari ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Sebelum ia sempat bereaksi, Rara sudah menubruknya cepat. Memeluknya erat-erat hingga Hani merasa sedikit sesak. Ia meringis. “Ra, pelukanmu terlalu kencang–” “Aku benar-benar khawatir!” potong Rara. Ia melonggarkan pelukannya. Matanya sudah bersimbah air mata. “Tuan Merphilus tiba-tiba saja datang dan bilang Michael hampir memperkosamu! Bagaimana bisa aku tidak cemas?!” seru Rara dengan suara serak. Hani menelan ludah. Ia memang sudah menduga Merphilus melakukannya. Meski ia tidak melihat ketika pria itu pergi ke aula karena sudah lebih dulu ke kamar ini bersama staf hotel. “Untung saja Tuan Merphilus sudah membuat bajingan itu babak belur sebelumnya! Kalau tidak, aku akan—” “Tunggu, kamu bilang apa tadi?” Hani mengernyitkan alisnya, “Michael babak belur? Benarkah? Dan bagaimana kamu bisa tahu?” Rara menghela napas pelan.
“Hani masih belum kembali?”Leo menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jefri. Hal itu membuat wajah Jefri seketika mengerut.“Ini sudah hampir 20 menit. Apa dia kabur lagi?” sungutnya. “Saya tidak yakin soal itu,” balas Leo. Kalau Merphilus ada di sini, ada kemungkinan Hani memang kabur. Mengingat selama ini kaburnya Hani ada sangkut pautnya dengan pria itu. Tapi, Merphilus tidak ada di sini sekarang. Leo juga sangsi pria itu akan muncul mengingat ini adalah acara keluarga Nickelson. Dengan kata lain, Hani mungkin hanya tengah berkeliaran atau mampir di bar lantai atas. ‘Atau pria itu memang tiba-tiba datang dan membawa Hani?’ duga Leo dalam hati yang buru-buru ditepisnya.Dia sudah bertekad untuk tidak memedulikan mereka lagi. Rahasia hubungannya sudah digenggam Merphilus sehingga ia harus berhati-hati agar tidak menyinggung pria itu lagi.Karena jika Leo melakukannya, hubungannya dengan Grace bisa terancam bubar. Ia tidak menginginkannya.“Mungkin ada sesuatu terjadi?” tebak Rara
Rara memang seharusnya menjelaskan dengan benar perkataannya semalam ke Jefri sebelum mereka mulai tadi. Bukan karena sekarang tubuhnya remuk meski kenyataannya begitu, tapi ia menjadi kecanduan dengan ‘kelas’ mereka sekarang! Rara duduk terbengong di atas mobil Jefri. Dua jam sebelumnya terasa b
Pikiran Rara masih terus terngiang dengan ucapan pria itu pada keesokan harinya. Padahal, itu hanya ucapan biasa yang mungkin juga doa Jefri agar Rara bisa dekat dengan lelaki seumurannya, setelah kejadian dengan Satrio. Tapi, entah kenapa rasanya aneh. Seolah terasa ada … makna lain di dalamnya.
“Kok lama dibuka sih, Ra?” sungut Hani sambil memayunkan bibirnya.Rara meringis, “Maaf. Tadi habis beres-beres di kamar,”
Pesta akhirnya berakhir. Meskipun begitu, suasana di aula masih riuh. Banyak tamu yang belum pulang dan masih mengobrol dengan sesama.Karena Rara bagian mengembalikan piring-piring kotor ke dapur, ia sudah mulai bergerak untuk bekerja meski aula masih ramai. Bersama beberapa staf lainnya, mereka b







