MasukPOV Naura
Pagi itu, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya.Naura menuruni anak tangga mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan blazer putih. Riasannya tipis, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat anggun dan elegan.Saat tiba di ruang keluarga, Noel yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepalanya.Noel tersenyum bangga."Wah.""Mau ke mana? Kok cantik sekali?"Naura tertawa kecil.POV NauraPagi itu, suasana rumah terasa lebih hangat dari biasanya.Naura menuruni anak tangga mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda dipadukan dengan blazer putih. Riasannya tipis, tetapi cukup membuat penampilannya terlihat anggun dan elegan.Saat tiba di ruang keluarga, Noel yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepalanya.Noel tersenyum bangga."Wah.""Mau ke mana? Kok cantik sekali?"Naura tertawa kecil."Mau ke acara reuni SMA, Yah."Noel mengangguk sambil tersenyum."Sudah lama juga kamu tidak bertemu teman-temanmu."Tak lama kemudian, Jolina keluar dari dapur sambil membawa segelas jus.Ia memperhatikan putrinya dari ujung kepala hingga kaki."Cantik sekali."Naura tersenyum."Terima kasih, Bu."Namun, senyum Jolina perlahan memudar."Ibu jadi kepikiran."Naura mengernyit."Kepikiran apa?"
POV NauraTiga bulan berlalu.Proyek kerja sama antara perusahaan Naura dan perusahaan Mahendra berjalan sesuai target.Berkat kerja sama seluruh tim, proyek tahap pertama berhasil diselesaikan tepat waktu.Keberhasilan itu menjadi titik balik bagi perusahaan.Kepercayaan investor kembali meningkat.Beberapa proyek baru mulai berdatangan.Nama perusahaan keluarga Noel pun perlahan kembali dikenal sebagai perusahaan yang profesional dan berintegritas.---Malam itu.Naura, Noel, dan Jolina berkumpul di ruang keluarga.Di atas meja terdapat laporan keuangan perusahaan yang baru saja selesai diperiksa.Noel menutup map tersebut sambil tersenyum bangga."Hasilnya sangat baik.""Kamu berhasil mengembalikan kepercayaan banyak orang."Naura tersenyum kecil."Ini bukan karena aku saja, Yah.""Semua karyawan juga bekerja keras."Jol
POV NauraKeesokan paginya.Naura kembali disibukkan dengan aktivitas di perusahaan.Sejak kerja sama dengan perusahaan Mahendra resmi dimulai, hampir setiap hari ada rapat, peninjauan proyek, hingga pertemuan dengan investor."Selamat pagi, Bu Naura.""Selamat pagi."Naura membalas sapaan para karyawan sambil berjalan menuju ruang kerjanya.Baru saja ia duduk, sekretarisnya masuk membawa beberapa map."Bu, ini jadwal Ibu hari ini."Naura membukanya satu per satu."Pukul sembilan rapat evaluasi proyek.""Pukul sebelas bertemu calon investor.""Setelah makan siang ada penandatanganan kontrak."Naura mengangguk pelan."Baik.""Tolong jadwalkan juga kunjungan ke lokasi proyek minggu depan.""Baik, Bu."Setelah sekretaris keluar, Naura menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi.Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari
POV NauraPagi itu, ruang rapat utama dipenuhi oleh jajaran arahan dari kedua perusahaan.Naura hadir bersama sekretaris perusahaan dan asistennya.Sementara Mahendra datang mewakili perusahaannya beserta tim.Hari itu menjadi awal kerja sama resmi antara kedua perusahaan dalam proyek pembangunan kawasan bisnis.Setelah seluruh pembahasan selesai, kedua pihak menandatangani dokumen kerja sama.Mahendra menutup peta di hadapannya lalu tersenyum."Semoga kerja sama proyek ini berjalan lancar.""Dan semoga tidak ada lagi kejadian seperti yang pernah kita alami sebelumnya."Naura mengangguk.“Amin.”"Kali ini kita akan mengawalinya bersama."Seluruh peserta rapat ikutkan menganggukkan kepala.“Amin.”Tepuk tangan pun terdengar memenuhi ruangan.---Penggunaan rapat, sebagian besar diarahkan kembali ke kantor masing-masing.Mahendra meno
POV MahendraFitri memandang putranya dengan sorot mata yang sulit diartikan.Ia kemudian mengembuskan napas panjang."Sudahlah, Mahendra.""Mama mengenalmu sejak kamu kecil."Mahendra hanya diam.Fitri melanjutkan dengan suara lembut."Mama melihat.""Naura memang memiliki beberapa kemiripan dengan Rosa.""Cara bicaranya.""Sikapnya.""Dan cara dia menghormati orang lain.""Tapi Mama takut.""Kamu hanya sedang mencari pengganti Rosa."Mahendra langsung menggeleng tegas."Tidak, Ma."Fitri menatap putranya."Yakin?""Jangan sampai kamu menyukai Naura hanya karena dia mengingatkanmu pada Rosa.""Itu tidak adil untuk Naura."Mahendra terdiam beberapa saat.Ia mengingat kembali setiap momen bersama Naura.Saat pertama kali melihat perempuan itu menangis karena pengkhianatan Farhan.
POV NauraPukul sembilan pagi.Ruang rapat utama mulai dipenuhi para kepala divisi.Naura memasuki ruangan bersama Mahendra dan sekretaris perusahaan.Seluruh peserta rapat berdiri memberikan salam."Selamat pagi, Bu Direktur."Naura tersenyum ramah."Selamat pagi.""Silakan duduk."Setelah semua kembali duduk, Naura membuka rapat."Hari ini kita akan membahas proyek pembangunan kawasan bisnis di Surabaya.""Proyek ini sempat tertunda akibat masalah hukum yang terjadi beberapa waktu lalu.""Tetapi sekarang investor telah memberikan kepercayaan kembali kepada kita.""Saya ingin proyek ini menjadi bukti bahwa perusahaan kita benar-benar berubah."Seluruh peserta mengangguk.Kepala Divisi Operasional mulai memaparkan perkembangan proyek."Lahan sudah siap.""Perizinan juga telah selesai.""Yang masih menjadi kendala hanya jadw
“Aku kenal seseorang detektif swasta,” lanjut Iris pelan. “Dia profesional. Tidak sembarangan. Kalau memang ada sesuatu, dia pasti bisa menemukan jejaknya.” Kata detektif swasta membuat jantung Naura berdegup lebih cepat. Selama ini, perselingkuhan itu masih berupa potongan adegan di rooftop,
Naura sudah duduk di sudut kafe dengan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan uapnya. Tatapannya kosong, menembus kaca jendela tanpa benar - benar melihat apa pun. Pikirannya berputar pada satu pertanyaan yang sejak tadi tak berhenti menghantuinya. Apa kurangnya aku??? Ia menikah muda atas
Wanita itu sudah menghilang. "Sayang, kamu ke mana saja dari tadi? Aku mencarimu," tanya Farhan sambil mendekat, nadanya terdengar wajar. Naura menatapnya lekat - lekat. Wajah yang ia hafal setiap garisnya. Wajah yang baru saja ia lihat mencium wanita lain. "Aku dari tadi di sini," jawabnya t
Naura telah mempersiapkan malam itu jauh - jauh hari. Perayaan lima tahun pernikahannya dengan Farhan bukan hanya sekedar sebuah acara makan malam biasa ini adalah simbol perjalanan cinta mereka, bukti bahwa badai kecil yang pernah datang tak mampu meruntuhkan rumah tangga yang ia bangun sepenuh ha







