Share

100

last update publish date: 2026-04-03 14:53:00

Felly tidak tenggelam dalam pikirannya. Ia meraih ponselnya, lalu bangkit dari duduknya dengan gerakan yang tenang. Langkahnya tidak tergesa, tapi juga tidak ragu. Seolah ia sudah tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.

Di luar kamar, suara televisi terdengar pelan. Bu Dyas tampak duduk santai di sofa, sesekali menyesap teh yang tadi sempat mereka tinggalkan.

Felly berhenti sejenak di ambang pintu. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan.

Ia berjalan mendekat ke arah mertuan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Simpanan Dosen Tampan   194 (Ending Scene)

    Hiruk-pikuk syukuran kecil-kecilan di hari itu akhirnya surut. Setelah mengantar kepulangan Bu Dyas, Olivia, Oliver, Kevin, Devan, dan Gista, suasana rumah baru Marvin dan Felly kembali menyepi. Keheningan malam menyelimuti setiap sudut ruangan berdesain modern tersebut, membawa ketenangan yang selama ini selalu mereka damba.Marvin melangkah keluar ke area balkon kamar utama, membawa dua cangkir teh hangat di tangannya. Di sana, Felly sudah berdiri bersandar pada pagar pembatas kaca, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang membentang indah di kejauhan sana.Melihat istrinya termenung, Marvin mendekat, menyampirkan jaket rajut miliknya ke bahu mungil Felly, lalu merangkul pinggang wanita itu dari samping. Felly mendongak, menyunggingkan senyum tipis sebelum menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami."Ramai banget ya tadi," gumam Felly pelan, suaranya terdengar lembut memecah angin malam."Tapi menyenangkan, kan?" balas Marvin sambil mengecup puncak kepala istrinya. "Rumah ini akh

  • Simpanan Dosen Tampan   193

    Marvin mengerjap perlahan, merasakan sisi ranjang di sebelah kirinya kosong dan dingin. Tidak ada lagi tubuh mungil Felly yang biasa mendekat dalam tidurnya. Hanya ada aroma samar sabun mandi vanila yang masih tertinggal di bantal, serta cahaya matahari pagi yang menyusup malu-malu dari balik tirai kamar utama mereka yang cozy.Pria itu beranjak dengan langkah tenang menuruni tangga rumah. Suasana pagi di rumah baru mereka terasa begitu sunyi dan privat, mengingat mereka sengaja belum menggunakan jasa ART demi menikmati momen-momen awal menempati rumah baru ini berdua saja.Begitu mendekati area lantai dasar, indra penciumannya langsung disergap oleh aroma harum masakan yang berpadu dengan wangi kopi. Marvin membelokkan langkahnya ke arah open kitchen dengan island marmer putih yang menjadi pusat area dapur.Di sana, Felly berdiri membelakanginya. Istrinya itu tampak sibuk memotong beberapa sayuran segar di atas talenan. Yang membuat napas Marvin seketika tercekat adalah penampilan Fe

  • Simpanan Dosen Tampan   192

    Mobil SUV hitam Marvin melambat, lalu berbelok mulus memasuki gerbang sebuah kawasan pemukiman eksklusif yang asri dan tenang. Setelah menepi sejenak di sisi jalan untuk melilitkan dasi sutra hitam menutupi mata Felly, Marvin kembali melajukan kendaraannya pelan-pelan sampai akhirnya mesin mobil itu mati sepenuhnya."Udah sampai?" tanya Felly penasaran, jemarinya meraba kain dasi di wajahnya dengan napas yang sedikit tertahan."Belum dilepas kok udah nanya," bisik Marvin lembut di dekat telinganya. Pria itu sudah keluar lebih dulu dari balik kemudi, memutari mobil, membukakan pintu untuk Felly, dan menuntun tubuh mungil istrinya keluar dengan hati-hati.Langkah Felly tertatih pelan di atas undakan teras, mengandalkan sepenuhnya genggaman tangan besar Marvin yang hangat. Begitu tubuh mereka berhenti, Marvin menangkup kedua bahu Felly dari belakang, sementara tangan kanannya terulur melepas ikatan dasi di kepala istrinya."Buka matanya perlahan, sayang."

  • Simpanan Dosen Tampan   191

    Suasana kediaman keluarga pagi itu terasa begitu lengang dan damai. Olivia, Oliver, Kevin, dan Devan sudah pamit pulang sejak tengah malam kemarin karena kelelahan setelah aksi kejar-kejaran spanduk di bandara. Sementara Bu Dyas, seperti biasa, sudah berangkat ke kantor sejak pagi-pagi sekali sebelum Felly dan Marvin membuka mata.Felly terbangun tanpa rasa cemas yang biasa menghantui tidurnya. Tidak ada alarm pukul tiga pagi, tidak ada bayang-bayang revisi bab akhir, dan tidak ada layar ponsel yang harus ia tatap untuk melepas rindu. Ia sepenuhnya berada di sini, dalam dekap hangat Marvin.Selesai membersihkan diri, keduanya memutuskan untuk menghabiskan pagi dengan santai di area taman belakang rumah, tepat di samping kolam ikan hias yang gemercik airnya menenangkan. Sambil mengenakan pakaian santai rumahan, Marvin duduk bersandar di kursi panjang kayu sambil membaca sebuah buku tebal, sementara Felly duduk bersila di sampi

  • Simpanan Dosen Tampan   190

    Suasana Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta sore itu begitu padat. Di tengah lautan manusia yang lalu-lalang menarik koper, langkah kaki Felly dan Marvin terhenti seketika begitu mereka keluar dari pintu pemeriksaan bea cukai.Bukannya disambut kesunyian atau supir jemputan yang tenang, mata Felly justru menangkap selembar kain putih berukuran besar yang dibentangkan di atas kepala dua orang pemuda tengil.“SELAMAT DATANG KEMBALI PENGANTIN BARU! SELAMAT TINGGAL LDR, SELAMAT DATANG TUKANG ANGKUT KOPER!”Tulisan mencolok dengan spidol hitam besar itu terpampang nyata, lengkap dengan gambar karikatur wajah Marvin yang dibuat jelek.Seketika itu juga, Marvin yang berdiri di sebelah Felly spontan menepuk jidatnya sendiri. Pria berpostur tinggi 189 cm itu langsung menarik tubuh Felly ya

  • Simpanan Dosen Tampan   189

    Langit Maladewa di penghujung sore memancarkan gradasi warna spektakuler—perpaduan antara jingga terang, merah muda keunguan, dan biru gelap yang perlahan merayap naik. Di tepi pantai privat dekat overwater villa mereka, sebuah meja makan kayu telah ditata begitu apik, dikelilingi puluhan lilin aromaterapi dalam tabung kaca yang berpendar lembut menerpa pasir putih.Felly melangkah keluar mengenakan maxi dress satin berpotongan off-shoulder berwarna emerald yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, membuat Marvin yang sudah menunggunya dengan kemeja linen putih spontan terpaku beberapa detik. Sorot mata sang suami memancarkan pemujaan yang begitu telanjang, membuat pipi Felly merona hangat di bawah temaram senja."Cantik," bisik Marvin serak begitu Felly tiba di sisinya, menarik kursi untuk sang istri dengan gestur penuh kelembutan.Makan malam romantis itu berjalan dengan hidangan laut segar khas Samudra Hindia yang lezat, diselingi candaan ringan dan tawa kecil. Namun, momen paling

  • Simpanan Dosen Tampan   4

    “Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu. Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khus

  • Simpanan Dosen Tampan   3

    Di ruang kelas yang ramai.Felly sudah mengetap kursi di sampingnya, berada di pojok ruangan sementara Gista belum juga datang."Katanya dosennya killer, tapi masih saja terlambat." Gumam Felly sembari menatap nanar pada kursi di sampingnya.Dap dap dap.Bunyi pantofel mengetuk lorong kampus yang s

  • Simpanan Dosen Tampan   2

    Tangan besar laki-laki itu mulai melucuti kancing baju Felly perlahan, melemparkan pakaian gadis itu ke sembarang arah. Sentuhan yang entah sengaja atau tak sengaja dari jemari kasar itu membuat bulu kuduk Felly meremang hebat. Tanpa sadar, tubuh atas Felly sudah terekspos dengan jelasnya. Kemejan

  • Simpanan Dosen Tampan   1

    "Kalau mau mati, setidaknya jangan tinggalkan beban padaku, Ayah."Gadis itu bersuara lirih, penuh dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.Felly Armany, seorang gadis cantik yang malang. Sejak usia empat belas sudah ditinggal mati ibunya, kini di usianya yang menginjak dua puluh satu, ayah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status