تسجيل الدخول“Sorry ya, ngerepotin. Aku gak tau kalau supirku gak bisa jemput, anaknya sakit.” Arlan mengantar Renata langsung ke rumahnya, dulu Arlan sering sekali main ke rumah ini. “Oke gak masalah, aku langsung pulang karena besok pagi ada operasi, jadi harus cepat istirahat.” “Hemm oke.” Renata melambaikan tangannya dan melihat kepergian Arlan dari jauh. Meskipun ia dan Arlan bisa ngobrol tapi memang tidak romantis seperti dulu. Arlan sangat dingin, seperti menganggap ia orang asing padahal katanya Arlan belum punya pasangan. Renata pikir Arlan masih sakit hati dan menunggunya. Sambil mengemudikan mobilnya, Arlan menghubungi Karin tapi Karin tidak menjawab ponselnya. Mereka janjian di kamar hotel, meskipun Karin masih datang bulan tapi bukan berarti mereka tidak bisa mesraan apalagi ada kesempatan. “Sayang kamu di hotel?” Karin tidak membalas pesannya, tadi ponsel Karin sempat tidak aktif, sekarang sudah menyala lagi tapi belum dibaca. Arlan hubungi berapa kali, Karin juga tidak membal
Fix punya pacar tiga! Ya ampun, satu saja hidupnya susah sekarang Karin punya tiga pacar. Bagaimana menghadapi hidupnya saat ini? Semua pacarnya mesum dan suka menciumnya. Jujur saja sebagai wanita yang lemah, Karin tidak berdaya untuk menolak. Hanya ciuman! Bunyi kecupan bibir terdengar begitu menggairahkan, Karin dan Diego berciuman mesra di sofa mewah apartemen Diego. Meskipun ponsel Karin berdering tapi Karin tidak ingin menghentikan ciumannya. Karin juga sedang kesal karena Arlan bertemu dengan mantan kekasihnya dan orang itu ternyata sudah janda. Baguslah! Siapa tahu burung Arlan terpuaskan oleh janda itu. Ia juga sedang datang bulan, makanya Arlan lebih memilih mengantar Renata daripada menunggunya di kamar hotel.Salah Arlan sendiri, makanya sekarang Karin bersama dengan Diego. “Enak banget Baby,” bisik Diego dengan suara seraknya di telinga Karin. Sayangnya Karin datang bulan, kalau saja tidak. Mungkin mereka bisa bermain di ranjang. “Sejak istri kamu meninggal, gimana
“Boleh dok, dokter aja yang bawa mobil. Aku duduk di belakang ….” “Eits, jangan dong!” Karin panik bukan main. Silvi membiarkan ia duduk di depan sedangkan ia seperti majikan duduk di belakang. Memang sialan! Punya teman satu tapi brengsek. “Gak apa gak apa, aku di belakang. Tanganku juga lagi sakit.” Bohong sekali! Karin mengumpat dalam hati sambil melirik Silvi dengan tatapan membunuhnya. Kekesalan Karin pada sahabatnya ini sudah memuncak. Silvi selalu punya cara mendekati Diego dengan Karin padahal tahu kalau Karin sudah punya kekasih.“Mau diantar ke mana?” tanya Diego setelah mobil mereka jalan. “Ke-ke apartemen aja,” jawab Silvi. “Lah kok?” Karin bingung, ini mobil Silvi. Ia baru beli mobil. Kenapa sekarang mereka justru di antar ke apartemen. Katanya tadi mau menginap di rumahnya. “Mobilnya baru?” tanya Diego sambil melirik Silvi dari belakang. “I-iya dok.” Jangan-jangan, Silvi membeli mobil ini pakai uang Diego. Wanita ini yang menipu Diego bukan Karin. Apa Karin
“dr. Renata ternyata janda,” bisik Silvi. Ia baru saja mendapatkan kabar itu dari dokter yang mengikuti acara. Jantung Karin rasanya seperti ada yang meremas.Takut tapi harus merelakan. Apa mungkin wanita ini yang bisa memisahkan mereka? “Kayaknya dr. Arlan juga suka banget ngomong dengan dr. Renata, dari tadi juga ia menatap mata kalau ngomong dengan mantannya,” lanjut Silvi membuat Karin panas. Memang itu gosip tapi terdengar seperti kompor di telinga Karin. Namun, Karin tahankan saja mendengar gosip ini untuk mendapatkan semua kisah masa lalu Arlan yang tidak pernah diceritakan pria itu padanya. “dr. Arlan memang gitu gak sih, kalau ngomong sama lawan bicara pasti natap matanya,” sanggah Karin. Karin tidak terima dengan apa yang Silvi katakan, sepertinya itu biasa saja tidak spesial. Karin bahkan ditatap begitu lekat kalau mereka di ranjang. Ah, kenapa jadi cemburu? “Gak ah, mana pernah. Dia kalau ngomong sambil melihat laporan,” jawab Silvi. Tidak terasa acara selesai di
“Katanya ada mantan dr. Arlan di ruangan, kamu lihat gak?” tanya Silvi saat mereka di dalam lift. “Hemm, beneran?” “Kata orang, aku juga gak tau. Kamulah tanya dengan dr. Arlan, bener apa gak?” Karin tidak berani bertanya hal seperti itu. Kecuali kalau Arlan sendiri yang cerita. Selama ini mereka tidak pernah membahas masa lalu atau cinta lalu yang pernah ada. Karin juga tidak kepo terhadap hidup Arlan yang sudah berlalu atau yang saat ini sedang berjalan. “Cantik juga Rin, orangnya ramah banget, senyum terus dan kayaknya lembut. Apa udah nikah?” Karin mengedikkan bahunya, ia juga tidak tahu. Mengingat umur Arlan yang sudah matang, bisa saja mantan kekasihnya sudah menikah. Teman-teman Arlan saja banyak yang sudah menikah. Hanya Arlan yang betah jomblo. Diego saja seorang duda. Makanya banyak yang bergosip kalau dr. Arlan suka sesama jenis padahal hanya Karin yang tahu betapa gagahnya Arlan di ranjang. “Kira-kira mereka putus, kenapa ya?” Karin tidak tahu dan tidak ingin tahu
“Silahkan tanda tangan disini dok, ini bingkisannya. Terima kasih!” Karin dengan ramah membantu para dokter itu mengisi buku tamu dan memberikan souvenir yang sudah disiapkan oleh Panitia. Karin hanya tinggal beres saja, ia tidak tahu apapun. “Eh, itu dr. Renata. Katanya dia baru selesai sekolah di luar negeri, ada yang bilang dia itu cinta pertama dr. Arlan.” Karin yang tadinya fokus membantu dokter mengisi buku tamu jadi teralihkan. Arlan tidak pernah cerita tentang dr. Renata bahkan Karin tidak tahu kalau cinta pertama dr. Arlan juga seorang dokter. Karin mendengar teman koasnya yang sesama panitia bergosip, mereka ditemani Residen dan perawat senior. Karin dan Silvi anak baru jadi tidak diajak. Sampailah dr. Renata yang mengisi buku tamu, wanita ini cantik, punya senyum yang lembut, anggun juga, terlihat dari cara pakaiannya yang sopan, tidak seperti Karin yang selalu ingin terlihat seksi, dr. Renata bahkan menggunakan rok sampai mata kaki. “Ini souvenirnya dokter,” ucap Ka
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert







