Masuk"Ale, aku pergi dulu," pamit Alvino yang sudah bersiap dengan pakaian rapinya. Alesha memperhatikan Alvino dari atas sampai bawah, hidungnya bisa mencium bau parfum khas seorang Alvino, bau vanila yang mampu menenangkan jiwa Alesha. "Mau ke mana, Om?" "Ada urusan.""Urusannya apa, emang?""Bukan urusanmu!""Tentu saja urusanku, aku ini istrimu sekarang jika Om lupa. Nanti siapa tahu mama atau nggak papa dateng ke sini terus nanyain Om, gimana? Apa yang harus aku jawab? Masa iya aku harus jawab Om lagi menulusuri jalan setapak menuju galaxy lain." Alesha menjawab dengan santai, namun matanya mendelik kesal ke arah Alvino. "Aku akan menemui seseorang, Ale. Jangan banyak tanya lagi!""Siapa?""Queen," jawab Alvino yang mampu membungkam mulut Alesha seketika. Ritme jantung Alesha seketika tidak beraturan lagi. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. 'Kenapa rasanya seperti ini? Ada apa denganku? Apa aku cemburu? Ah ... nggak mungkin, untuk apa aku cemburu, toh Queen adalah kekasihnya om, da
Alvino yang tadinya sudah bersiap-siap untuk ke alam mimpinya harus mengurungkan niatnya karena Alesha terus-terusan mengganggunya. Dia meminta Alvino menemaninya memakan bakso yang dibelinya beberapa waktu yang lalu. Dengan terpaksa Alvino akhirnya mengikuti keinginan Alesha. Berakhirlah mereka sekarang duduk bersama di ruang tamu."Kenapa nggak di meja makan aja sih, Ale? Kalau di sini, nanti kamu bisa-bisa mengotori ruang tamu ini.""Berisik!""Istri macam apa kamu ini, diperingati bukannya nurut malah ngebantah. Durhaka kamu sama suami.""Emang Om menginginkan pernikahan ini? Nggak, 'kan? Jadi, diam dan temani saja aku makan."Alesha memilih untuk duduk lesehan di lantai, katanya duduk di lantai lebih enak daripada duduk langsung di sofa. Benar-benar jiwa miskin Alesha sudah mendarah daging. Berbeda dengan Alvino yang hanya memperhatikan mulut indah Alesha mengunyah bakso pedasnya tanpa henti tanpa berminat untuk mencicipinya sedikit pun. Melihatnya saja sudah membuat tenggorokan
"Pokoknya kita harus segera pergi dari sini, Om. Kita harus segera pindah rumah!""Lho, kita kan emang mau pindah hari ini. Kamu lupa?"Tentu saja Alesha tidak melupakan hal itu. Tapi dia ingin sesegera mungkin menjauh dari titisan iblis seperti Asheeqa. Ah ... rasanya hidupnya dipenuhi oleh lingkaran iblis ternyata. "Oh, apa kamu takut dengan Asheeqa, Ale?" tanya Alvino menaikkan sebelah alisnya. Alesha yang tadinya masih membelakangi Alvino pun dengan gerak cepatnya menghadap ke arah Alvino yang tengah menatapnya dengan tatapan ... meremehkan."Hallo! Aku takut sama orang seperti Asheeqa? Nggak mungkin banget, Om. Sama Om saja aku berani, masa sama Asheeqa, nggak?" Alvino mengedikkan bahunya seolah tidak peduli atas ucapan Alesha, toh bukan urusannya juga. Alvino beranjak dari tempat untuk mengembalikan kotak P3K ke tempatnya semula.****Karena hari sudah mulai terik, Alesha dan Alvino berpamitan kepada kedua orang tua mereka untuk berangkat ke rumah baru mereka."Cepet-cepet bu
Ghiska, dia baru saja akan memasuki dapur untuk memeriksa bik Inez apakah sudah menjalankan tugasnya atau tidak, tapi matanya membola sempurna melihat Asheeqa, sang putri, menjambak Alesha dari belakang kemudian membenturkan kepala Alesha ke ujung bar dapur. Dengan sedikit berlari, Ghiska menghampiri Asheeqa yang sudah berbuat kekerasan kepada menantunya. Beruntung Ghiskan datang tepat waktu ketika Asheeqa akan kembali membenturkan kepala belakang Alesha ke bar."Asheeqa!" teriak Ghiska yang mengintruksi kegiatan Asheeqa. Asheeqa yang terkejut melihat kedatangan mamanya pun menghempaskan kasar tangannya yang menjambak rambut Alesha, membuat sang empu jatuh terduduk di lantai.Alvino baru saja keluar dari kamar mandi, tapi suara teriakan melengking mamanya terdengar meneriaki nama sang adik dengan emosi. Alvino sangat tahu kalau mamanya sudah berteriak seperti itu, artinya sesuatu terjadi. Dengan tergesa-gesa Alvino melangkah mencari sumber suara yang ternyata dari arah dapur, bahkan
Setelah menyelesaikan mandinya, Alesha keluar hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dia kesal sendiri karena handuk yang diberikan oleh Alvino terlalu kecil, hingga panjangnya saja hanya sampai di paha atasnya. Betapa terkejutnya Alesha ketika baru saja membuka pintu, Alvino sudah berdiri bersedekap dada di depannya."Kenapa sih Om suka banget ngagetin orang, hah!?" protes Alesha sambil memegangi ujung handuknya yang hampir saja melorot jika tidak ditahan."Lho, memangnya aku mengagetkanmu? Aku hanya berdiri sambil menunggumu di sini. Aku bahkan tidak bersuara untuk mengagetkanmu, Ale. Kamu saja yang terlalu lebay!" Mata Alesha membola tidak terima dikatakan lebay oleh Alvino. Setelah membenarkan posisi handuknya, Alesha sekuat tenaga memukul kepala Alvino kemudian berlari meninggalkannya. "Rasain!""Ale! Ini masih pagi, kamu sudah membuatku emosi saja!" 'Dasar Devil Wife!' batin Alvino kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin segera mandi dan segera pulang ke rumah b
Mata Alesha mengerjap-ngerjap perlahan, maniknya menelisik ke langit-langit kamar, kejadian semalam membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Dia tidak menyangka kalau Alvino akan melakukannya dengan sangat gila. Alesha menutup wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya menahan malu. 'Astaga, aku sudah tidak gadis lagi!' teriak Alesha membatin.Tepat ketika Alesha ingin berbalik menghadap kanan, kedua bola matanya menangkap makhluk yang sudah mengambil ke-gadisannya malam tadi. Bukannya segera mengalihkan tatapannya, tapi Alesha malah mengunci tatapannya tepat di wajah Alvino, dia menelusuri seluruh inci di wajah Alvino tanpa tersisa sedikit pun. Alesha akui kalau Alvino memang pria yang sangat tampan, tapi mengingat kejadian semalam lagi-lagi membuat Alesha ingin membabi-buta Alvino."Kenapa? Aku tampan?" tanya Alvino yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi."Apaan sih, Om!" Alesha membantah ucapan Alvino. Alesha merasa begitu malu karena tercinduk tengah memperhatikan Alvin
Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi







