LOGINLintang langsung mengakhiri panggilan video dari Orion begitu melihat kakak sepupunya bergerak membalikkan tubuhnya ke arahnya. Stoples pilus yang ada dalam dekapannya terguling begitu saja di atas karpet tebal. Untutng tidak pecah.Lintang gegas mengambil stoples yang berhenti bergulir karena tertahan kaki meja kopi. Dia duduk di sofa samping tempat kakak sepupunya tertidur.Kakak sepupunya bergumam. Sesuatu yang tidak jelas. Tapi terdengar “Bodoh!”Alis Lintang naik sebelah. Kakinya disilangkan. Dia masih mengamati kakak sepupunya dengan diam. Tidak biasanya kakak sepupunya merutuki dirinya sendiri.“Eh?” dia terkejut menatap adik sepupunya yang sedang duduk sambil menyilangkan kakinya, “Sedang apa?”“Sedang mengamati Mbak Rani tidur siang,” Lintang berdiri mengambil box makan siang milik kakak sepu
Lintang membuka kotak makan siang kakak sepupunya yang masih belum tersentuh sama sekali. Makanannya sudah dingin. Tetapi masih sangat layak untuk dimakan. Dan tampilannya masih menggugah selera.Dia menggelengkan kepala lalu menatap sofa. Kakak sepupunya tertidur sambil memeluk stoples cemilan yang sering ia lihat dulu di rumah Om Bagas dan Tante Yumna. Bahkan ia juga melihat cemilan berisi bulat-bulat putih kecil berhiaskan potongan daun kucai di rumah Om Janu dan Tante Desi. Kata Kak Ishaak, cemilan itu adalah pil penambah semangat milik kakak sepupunya itu.Vera menghubunginya saat melihat ada yang tidak beres pada kakak sepupunya. Untuk itu ia kemari. Langsung dari Prisma Glass setelah meeting besar usai ke The Esthetic Jewelry.Tangannya mencoba mengambil stoples cemilan yang masih dipeluk kakak sepupunya itu. Perlahan, menariknya ke bawah. Tapi siapa sangka, kakak se
Notifikasi pesan teksnya berdering, sebuah popup pesan muncul dengan nama Orion.Orion_Di sana pasti sudah masuk waktu makan siang. Kau sudah makan, My Queen?_Maharani_Aku baru saja memesan makanan lewat jasa layanan antar. Bagaimana denganmu?_Orion_ Aku baru saja selesai sarapan. Sedang musim semi di sini. Taman-taman di hotel terlihat luar biasa_Maharani_Tulip?_Orion membuat panggilan video. Wajahnya terlihat segar dengan kemeja putih dengan vest warna navy blue dan dasi bermotif diagonal warna biru dan hijau, tampak serasi dengan warna matanya.Dia tersenyum menatap kamera.“Kau terlihat keren, Orion.”Orion tertawa.“Apakah itu sama dengan kalimat, ‘Kau terlihat tampan, Orion…’?”Dia tertawa dengan pipi bersemu.“Kurang lebih seperti itu,” kepalanya menga
Ananta singgah ke rumah sakit sebelum ke kantornya. Kedua anak laki-lakinya sudah berpakaian rapi dan tengah menikmati sarapan mereka saat Ananta tiba. Dia tidak sendirian. Dia membawa tangan kanannya, Toni.Ananta menarik kursi mendekat ke arah bed pasien.“Bagaimana keadaanmu, Ma?” Ananta memegang punggung tangan istrinya, “Wajahmu sudah tidak terlihat bengkak seperti kemarin. Sepertinya sudah jauh lebih baik.”Ratna memejamkan matanya. Dia muak dengan tingkah Ananta. Bertanya tapi kemudian menyimpulkan sendiri. Mendiagnosa sendiri seperti seorang dokter yang lebih tahu kondisi pasiennya.Matanya membuka, menatap Toni. Toni yang merasa ditatap istri bosnya, membungkukkan diri.“Selamat pagi, Nyonya Ratna. Semoga lekas pulih.”“Mendekatlah, Toni,” Ratna berbicara dengan suara yang terdengar lemah.
Kedua adik Aldi duduk termenung di pinggir bed pasien. Mata mereka menatap ke tubuh Mama mereka yang masih belum sadarkan diri sejak mereka diberitahu oleh Papa mereka bahwa Mama mengalami kecelakaan.Ruangan hening. Hanya terdengar suara nafas teratur Ratna dan suara peralatan medis. Masih terlihat jejak darah di sudut bibirnya. Darah yang mengering. Wajah Ratna bengkak sebelah. Tamparan Arya Surya benar-benar keras. Jejak lima jari tampak di pipinya yang membengkak.Dito tidak tahan lagi. Dia berdiri. Menghampiri bed Mamanya, tangannya meraih tangan yang tidak terpasang jarum infus.“Bangun, Ma. Katakan apa yang terjadi kepada kami. Kami sebisa mungkin akan melindungi Mama.”Ratna masih terdiam. Matanya masih terpejam.Ananta duduk terdiam dengan tatapan menekuri lantai. Dia mendengar ucapan anak keduanya. Menatap Dito sejenak lalu melemparkan tatapannya
GEDUNG SAWIT PERTIWIArya Surya menggebrak meja kerja tempat biasa Ananta bekerja. Kursi kebanggaan Ananta sekarang diduduki oleh Arya Surya. Sementara dia dan istrinya terduduk diam di kursi di depan meja kerjanya. Tertunduk seperti pesakitan. Terdiam tanpa berani membantah ataupun membela diri.“GOBLOK SEKALI KALIAN BERDUA INI! SUDAH KUBILANG UNTUK SEMENTARA JANGAN MENARIK PERHATIAN ORANG DULU. TAPI APA YANG KALIAN PERBUAT??”Arya Surya berdiri, mendekati mereka yang tertunduk menatap lutut. Kedua telunjuknya menonyor kepala Ananta dan Ratna.“BODOH! BODOH!”Arya Surya mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelah tangannya bertolak pinggang.“Aku bekerja dengan orang-orang bodoh yang besar mulut rupanya!” kakinya mendorong pegangan tangan pada kursi yang diduduki Ratna.Roda kursi tertahan oleh karpet di bawahnya. Kursi hanya terd
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu
“Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung







