LOGINPerjalanan ke pengadilan agama menempuh waktu 45 menit. Mereka memasuki lobby gedung pengadilan agama yang mulai padat pengunjung. Loket pendaftaran gugatan, loket pengambilan akta cerai. Dan loket pendaftaran sidang.
Kedatangan mereka menarik minat perhatian orang-orang di sana. Postur tubuh dan wajah Orion Petralis sebagai warga negara asing juga dua pengawalnya yang berwajah dingin. Juga pengawal dar
Dia dan Lintang mengamati para pekerja yang memasukkan barang-barang pribadi milik Aldi dari ruang kerjanya di The Esthetic. Rencananya barang-barang milik Aldi dari kantor akan disatukan dengan barang-barang pribadi milik Aldi yang ada di rumah untuk kemudian dikirimkan memakai jasa kurir ke rumah keluarga Ananta.Orion Petralis tidak bersama mereka. Orion meminta izin memakai ruang meeting milik The Esthetic untuk melakukan zoom meeting dadakan dengan kantor pusat Petralis di Madrid. Lorenzo selain sebagai pengawal pribadi juga merangkap sebagai asisten Orion selama bepergian di luar negeri.Dia meminta Lintang untuk mengikutinya. Lalu menunjuk pada laci terbawah dari meja kerja Aldi.“Di dalam sana, brankas milik Aldi. Ada uang cash Rp 30 juta dan US$ 3600. Itu yang diincar oleh Ratna, mamanya saat mereka bersikeras untuk masuk ke dalam ruangan ini.”“Mbak akan menyerah
Aldi terlihat pucat. Kantung matanya menghitam. Dia lebih sering menundukkan kepalanya saat matanya bertemu dengan mata perempuan yang sudah ia khianati dari awal pernikahan. Dia kalah. Dia bersalah. Dia pecundang.Tetapi saat matanya melihat Orion Petralis memasuki ruang sidang di barisan keluarga, hatinya terbakar. Matanya menyala dengan segenap ego yang juga terbakar.“Apa yang dia lakukan di sini? Ini bukan tempatnya. Dia bukan keluarga. Ini persidangan tertutup kan?” tangannya menunjuk pada sosok Orion Petralis yang masuk bersama Lintang Herlambang.“Tuan Aldi… duduk dulu,” Seno Nugroho, kuasa hukumnya menenangkan Aldi.Aldi menolak untuk duduk.“Tidak. Dia tidak berkepentingan berada di ruangan ini!” Aldi menatap nyalang pada Orion Petralis yang sedang bercakap dalam suara pelan, “Get out from this
Akhirnya kuasa hukum Aldi datang menjemput Ananta dan Ratna karena orang-orang di ruang tunggu mencemooh pasangan suami istri yang tengah viral di sosial media.“Tuan Arya sudah memperingatkanmu semalam, Ma. Tahan emosimu. Jangan suka main tangan. Jangan berbicara kasar. Jangan marah-marah. Lagi-lagi kau menarik perhatian orang banyak. Aku yakin kejadian tadi banyak yang merekamnya,” Ananta menatap lelah kepada istrinya, “Kau tidak takut dihubungi olehTuan Arya?”“INI SEMUA GARA-GARA PAPA,” teriakan jengkel Ratna mengejutkan kuasa hukum Aldi yang menunggu di ruangan yang sama.“DIAM KAU RATNA,” Ananta berdiri, telunjuknya menunjuk di antara mata istrinya, “Sudah berapa kali aku meminta maaf kepadamu. Aku merendahkan diriku kepadamu! Tapi apa yang kau lakukan?”Kali ini telunjuk Ananta menempel di dahi Ratna.“Kau s
Perjalanan ke pengadilan agama menempuh waktu 45 menit. Mereka memasuki lobby gedung pengadilan agama yang mulai padat pengunjung. Loket pendaftaran gugatan, loket pengambilan akta cerai. Dan loket pendaftaran sidang.Kedatangan mereka menarik minat perhatian orang-orang di sana. Postur tubuh dan wajah Orion Petralis sebagai warga negara asing juga dua pengawalnya yang berwajah dingin. Juga pengawal dari keluarga Herlambang yang diutus untuk mengawalnya.Pak Darwis melambaikan tangannya dari ruang tunggu sidang. Lintang melihatnya.“Di sana,” Lintang menunjuk, “Ayo.”Mereka bergegas ke arah Pak Darwis. Lintang dan Orion menyalami Pak Darwis.“Aku tidak menyangka Anda akan ikut hadir menemani Nona Maharani, Tuan Petralis,” Pak Darwis tersenyum.“Aku ingin menemaninya dalam hari
Lintang mengangguk. Dia berbicara dalam Bahasa Indonesia.“Orion Petralis bukan sekedar Petralis. Dia lebih dari itu. Itu sebabnya di klannya, dia menjadi pemimpin. Istilah mereka adalah sebagai kepala rumah tangga. Bisni skeluarga Petralis bukan hanya tentang shipping cargo saja. Ada banyak cabangnya. Itu sebabnya, Orion punya anak buah yang benar-benar bisa dipercaya untuk mempermudah mengawasi semua bisnis Petralis.”Kak Abdi mengerutkan keningnya.“Lebih terorganisir dari orang-orangku?”Lintang mengangguk.“Lebih profesional dan tahu apa yang harus dilakukan tanpa menunggu perintah detil dari kita.”Kak Abdi mengusap dagunya.“Sepertinya aku harus belajar banyak kepadanya,” Kak Abdi menatap Lintang, “Bagaimana cara timnya bekerja?”“Kakak lihat sendiri nanti saat timnya bekerja sama dengan timnya Kakak. Dia sudah tahu kok Ka
Suara tawa di teras samping membuat suasana pagi itu menjadi tidak biasa. Lintang datang dengan rambut mekar khas bangun tidur, masih dengan celana pendek dan Tshirt santainya.“Wah… tumben, ngumpul pagi-pagi begini,” Lintang masih belum menyadari keberadaan Orion yang duduk di samping papanya.Tangannya langsung mencomot pisang goreng di atas meja. Dengan cueknya duduk di atas lantai dengan dagu diletakkan di atas meja. Wajahnya tersenyum menatap tumpukan pisang goreng di piring datar yang lebar.Semuanya terdiam melihat Lintang. Menahan tawa melihat tingkah polosnya yang seperti anak kecil.“Kamu tidur jam berapa sih?” tangan Kak Ishaak memijati bahu Lintang.Lintang memejamkan matanya menikmati pijatan Kak Ishaak.“Kami pulang malam banget
Usai makan malam, Lintang tampak berbeda. Menuruni tangga dengan berpakain batik slim fit lengan pendek. “Kemana?” tanyanya sambil menyelonjorkan kakinya di sofa. “Ke bandara. Jemput Orion dan rombongannya. Mau ikut?” tanya Lintang.“Jan
Sarapan di rumah utama bersama Om Tara, Tante Laras dan Lintang terasa hening setelah keputusan yang diambil semalam. Semua dengan berat hati menyetujui karena memang tidak ada cara lain untuk memancing Arya Surya keluar dari tirainya.“Kamu serius, Ran?” Om Tara menanyakan lagi.Dia mengangguk.“A
Suasana makan malam di rumah utama meriah dengan adanya Lintang. Kak Ishaak dan Kak Gayatri datang terlambat karena kemacetan lalu lintas akibat hujan deras malam ini.Papan tempat skema yang dibuatnya dikeluarkan lagi dari ruang kerja Om Tara ke ruang tengah. Banyu yang mengawali pembicaraan seri
Piring-piring kotor sudah disingkirkan. Makanan penutup terhidang di hadapan mereka. Musik dengan nada lambat mendayu menjadi latar ruangan.“Mbak Rani,” Lintang memanggilnya saat dirinya tengah serius menatap garnish






