Mag-log in"Ampun Yang Mulia Baginda Raja, benar itu kotak hadiah yang diberikan pada Hamba, tapi bukan milik Hamba. Hamba hanya menerima kotak hadiah itu sebelumnya dari Selir Mei Ling sendiri, tapi karena bagi Hamba itu terlalu bagus dan mencolok maka Hamba kembalikan lagi. Saat pelayan Hamba kembalikan disuruh letakkan kotak itu di kamar Bibi Fong saja," jawab Li Jing cepat. Bibi Fong yang mulai sadar dari pengaruh serbuk hilang kendali membela diri. "Ampun Yang Mulia, Hamba tidak tahu! Hamba difitnah! Saat hamba bangun dari istirahat siang kotak itu sudah ada di dipan Hamba," jawab Bibi Fong meminta keadilan pada Raja Wang Ming. "Lancang kau Bibu Fong! kau ambil kotak hadiah Ratu! Apakah Selir ini tidak pernah ajarkan tata krama istana? Beraninya kau hanya pelayan rendahan malah berebut kotak hadiah dengan Ratu Li Jing." "Ampun Yang Mulia, hamba pastikan pelayan hamba ini mendapatkan hukuman di kediaman Hamba," mohon Mei Ling yang langsung menjawab dan memarahi pelayannya di depan Raja da
"Pelayan! Pisahkan mereka dan tahan mereka! jangan biarkan mereka saling tampar dan pukul lagi!" bentak Wang Ming. Li Jing ada di dekat pintu masuk memperhatikan semua dalam diam. Li Jing merasa Raja sudah turun tangan, maka dia akan menonton saja. "Tabib Feng periksa mereka berdua, apa yang sebabkan mereka seperti orang gangguan mental seperti itu!" titah Wang Ming. "Tuan San! Apa penjelasanmu?" tanya Wang Ming pada ketua departemen Ritus dan Astronomi istana bisa dikatakan ahli nujum istana. "Ampun Yang Mulia Baginda Raja, setelah saya lihat, ada banyak energi gelap di ruangan ini dan di sebelah sana, seakan ada benda yang tidak kita inginkan ada di sini. Seperti sihir dari wilayah Timur Yang Mulia. Tepatnya sihir kuno dari kaum mistis di Lembah Darah Kuno!" jawab Tuan San ketua departemen Ritus dan ahli Astronomi istana. "Apa! Ilmu sihir itu tidak pernah terdengar lagi! Bagaimana bisa masuk ke istana dalam! Ada kata-kata di Istana dalam," seru tabib Feng dan beberapa orang per
Sore itu di Paviliun Anggrek, tepatnya di sebelah bangunan induk, tempat para pelayan senior dan pelayan kediaman Paviliun Anggrek istirahat. Terlihat seorang pelayan senior yang biasanya semena-mena pada pelayan lainnya merasa dia adalah yang paling lama, paling senior dan telah menjadi kepercayaan Selir Utama Mei Ling selama bertahun-tahun lamanya, sedang merapikan tempat tidurnya karena sudah sore dan dia akan segera melaksanakan tugasnya untuk membawa camilan dan teh seduhan untuk Selir Mei Ling seperti kebiasaan sehari-harinya. "Loh, kok ada kotak kayu dengan ukiran bagus dan unik ya? Dari mana ini datangnya? Oh mungkin bonus aku ya? biasanya ada bonus buat aku setelah aku berhasil melakukan tugasku.""Aduh bagusnya? Apakah isinya?" gumam Bibi Fong dengan mata berbinar. Dengan perlahan Bibi Fong mulai membuka tutup kotak kayu itu, "Wah... bagus sekali, barang bagus dan mahal pasti dari upeti salah satu wilayah yang biasa berikan upeti. Gelang dan kalung ini satu set. Indahn
Li Jing terdiam menatap kotak kayu ukiran antik yang diberikan Mei Ling pada Li Jing. "Xing, coba kau panggil tabib Feng ke sini," titah Li Jing mengejutkan Xiao Xing. "Yang Mulia, apakah Yang mulia sedang tidak enak badan?" tanya Xiao Xing polos membuat Li Jing menjentikkan jarinya pelan ke dahi Xiao Xing. "Agh, ampun Yang Mulia," mohon Xiao Xing langsung berlutut. "Sudah, sudah, kau itu memang sangat polos. Hati-hati kalo ada orang yang memanfaatkan kepolosanmu ini. Sudah sana kau panggil Tabib Feng kesini tanpa siapapun yang tahu," perintah Li Jing kembali pada Xiao Xing. Xiao Xing langsung ke balai Kesehatan dan pengobatan tempat Tabib Feng berada, dengan menjaga langkahnya supaya dia tidak diketahui oleh siapa pun. "Tuan, tolong segera ke kediaman Ratu," mohon Xiao Xing mengejutkan Tabib Feng. Tabib yang dulu pernah ditolong oleh Jenderal Lie Hyun saat mengobati para pasukan yang terluka di perbatasan."Ayo, kita ke sana segera," jawab Tabib Feng mengikuti langkah Xiao Xing de
Selir Mei Ling telah tiba di depan kediaman Sutra, dimana Ibu Suri Rong Yue dihukum kurung oleh Raja Wang Ming. Pintu itu segera di buka dari dalam dan segera Mei Ling dan pelayan pribadinya masuk. "Salam Yang Mulia Ibu Suri," salam Mei Ling yang disambut dengan lemparan cangkir porselen hijau giok di bawah kaki Mei Ling. Pyaarrrr!Selir Utama Mei Ling langsung berlutut. "Ampun Yang Mulia Ibu Suri, tenang," ucap Mei Ling dengan tubuh yang sudah gemetar. "Berani melawan titah Ibu Suri ini, Selir Utama kesayangan Baginda Raja hmmm?" sindir Ibu Suri. "Kau tahu apa salahmu?" lanjut Ibu Suri. "Hamba tidak berani," jawab Mei Ling cepat dengan posisi masih berlutut. "Ibu Suri ini tahu jika kau kemari itu memang melanggar titah Raja, tapi kau aku undang untuk membantu Ibu Suri ini beberes kemarin, namun mengapa tidak muncul? Apakah Selir Utama Mei Ling akan cuci tangan setelah kejadian kemarin?" sindir Ibu Suri lagi pada Mei Ling. "Hamba, Hamba, kemarin terpaksa mengikuti Pangeran Su
"Ling'er, maafkan Pangeran ini yang tadi kasar padamu. Tapi ... Pengeran ini memang terlalu cemburu dan rindu padamu. Jadi... maafkan Pangeran ini," ucap Wang Dong pada Selir Mei Ling yang sudah bersiap membuka pintu bangunan sepi di belakang istana Langit tersebut. "Hamba, undur diri, Yang Mulia," jawab Selir Mei Ling cepat diikuti salam dan hormat dari pelayan setia Selir Mei Ling yang sudah menyusul langkah nyonyanya meninggalkan bangunan sepi itu. "Nyonya, apakah Nyonya tidak apa-apa?" "Tidak apa-apa, ayo kita kembali ke paviliun Anggrek saja. Kita ke kediaman Sutra diam-diam, esok hari saja, hari ini mungkin penjagaan akan sangat ketat," ajak Selir Mei Ling pada pelayan barunya karena pelayan lamanya telah dihukum mati oleh Raja Wang Ming beberapa saat lalu. "Rahasiakan apapun yang terjadi hari ini, jika bocor nyawa kamu dan semua keluargamu sembilan turunan akan mati!" tegas Selir Mei Ling memperingatkan keras pelayan barunya. "Ba-baik, Nyonya," jawab pelayan baru itu
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







