Home / Fantasi / TAKDIR KEDUA SANG RATU / Bab 5 Dekrit Raja

Share

Bab 5 Dekrit Raja

Author: Purplelove77
last update publish date: 2026-06-02 13:23:25

“Pelayan! Tuliskan titahku!”

“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina,  dicabut  gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai.  Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun tidak boleh keluar dari sana!” 

Mei Ling panik. 

“Yang Mulia, ampun! Hamba dijebak. Berikan keadilan bagi Hamba, Yang Mulia!” teriak Mei Ling. 

Mei Ling diseret para pengawal ke Paviliun terbengkalai di sebelah selatan Istana Naga. Tempat di mana Li Jing disiksa hingga mati di kehidupan lamanya. 

Pangeran Wang Dong segera meninggalkan halaman Paviliun tersebut. Dan undur diri dengan alasan ada urusan penting. 

Ibu Suri Rong Yue dan Raja Wang Ming kembali ke Aula Utama. Diikuti Li Jing dan Xiao Xing. 

Sejak hari itu, Pangeran Wang Dong semakin sering bertemu dengan mertuanya Menteri Keuangan. 

“Yang Mulia, apakah rencana kita, bisa tetap kita laksanakan?” tanya Bong An pada menantunya pada suatu malam. 

“Tetap kita laksanakan. Aku akan menyuruh pengawal ku memberikan surat pada Paman Pong di Kerajaan Angin,” jawab Pangeran Wang Dong pada mertuanya. 

“Yang Mulia, waktu Raja Wang Ming adakan pesta ulang tahun, bukankah Pong datang?” 

“Iya. Tapi karena insiden memalukan itu, Paman pulang terlebih dahulu. Ada banyak urusan juga yang beliau kerjakan.”

“Tapi apakah Beliau setuju dengan rencana kita?” 

“Selama ini Paman Pong, selalu setuju jika itu usul atau ide Ibu Suri Rong Yue.” 

“Baiklah jika demikian. Maka hamba akan siapkan perbekalan makanan untuk para tentara di perbatasan,” jawab Bong An sambil menyeringai. 

“Lakukan dengan baik, Menteri Bong An?” Cibir Wang Dong dengan seringai penuh arti. 

*****

Di kediaman Li Jing. 

A Chen dan A Xiong datang menghadap. 

“Salam, Yang Mulia Permaisuri. Kami kembali membawa laporan,” ujar kedua pengawal bayangan itu serempak di hadapan Li Jing. 

“Laporkan!”

“Pergerakan Perdana Menteri Pong dan Menteri Keuangan Bong An serta Pangeran Wang Dong telah terlihat. Mereka menyiapkan  pasokan bahan makanan para tentara ke perbatasan.”

“Tapi pasokan itu diberi tanah dan tidak layak dimakan,” lapor A Chen. 

Brak! 

Li Jing menggebrak meja dengan keras. 

“Sungguh berani mereka memberikan makanan tidak layak pada para pasukan!” 

“Lalu, apa rencana Yang Mulia?” tanya A Xiong pada Li Jing. 

“Kau, diam-diam kumpulkan para bandit di pegunungan Celah Utara. Berikan suratku ini pada ketua bandit disana,” perintah Li Jing pada  A Chen. 

“Kau siapkan bahan makanan baru yang harus kita kirim ke pasukan di perbatasan,” perintah Li Jing pada A Xiong. 

“Baik, Yang Mulia.” Jawab keduanya yang langsung melesat pergi. 

Mata indah Li Jing kembali menerawang ke cakrawala malam. 

“Xing, siapkan baju samaran ku. Ada tugas yang harus aku lakukan saat ini!” 

“Yang Mulia mau kemana?”

“Aku akan keluar sebentar,” jawab Li Jing tergesa. 

“Yang Mulia, jika Raja Wang Ming datang bagaimana? Sekarang Selir ehm maksud hamba Pelayan Mei Ling sudah di hukum?” 

“Jangan sampai, Yang Mulia tahu. Cepat matikan semua lilin. Padamkan lentera. Dan berjagalah di depan. Jika Yang Mulia  datang  kau harus katakan bahwa aku sedang tidak enak badan dan sudah tidur,” saran Li Jing pada Xiao Xing.  

Li Jing segera menyelinap di gelapnya malam. Dengan mengenakan pakaian seorang pendekar berwarna hitam. 

Xiao Xing langsung melakukan apa yang telah diperintahkan padanya oleh Li Jing. 

Dengan gerakan gesit dan lincah, Li Jing menggunakan ilmu meringankan badan menyelinap,  mengintai kediaman Bong An. 

Dia tidak hanya mendengar apa yang dilaporkan tapi dia ingin melihat bagaimana bahan makanan di gudang Bong An yang disiapkan oleh Bong An dan Wang Dong untuk dikirim esok hari. 

Tiba di sisi gudang makanan Bong An. Li Jing mengendap-endap membuka pintu gudang yang masih dibuka, menandakan kegiatan untuk menyiapkan bahan makanan itu belum selesai. 

Di dalam gudang makanan itu, Li Jing bersembunyi dan mengamati kegiatan yang dilakukan oleh anak buah Bong An. 

“Gila!  Mereka benar-benar mencampur gandum itu dengan pasir dan kerikil. Bahkan lebih banyak pasir dan kerikilnya daripada gandumnya,” monolog Li Jing dalam hatinya. 

“Mereka juga menaburkan serbuk racun di atas daging kering dan sayuran. Benar-benar tidak punya hati!” geram Li Jing. 

Li Jing mulai menghitung semua karung goni yang digunakan dan mencatat baik-baik dalam ingatannya. 

Dengan hati-hati, Li Jing kemudian keluar dari gudang itu. 

Krak! 

Li Jing tak sengaja menginjak ranting dan kayu yang berserakan di sana membuat banyak orang berteriak dan mulai keluar memburu Li Jing.

“Siapa itu?” 

“Siapa di sana?”

Teriakan itu membuat jantung Li Jing seperti genderang yang ditabuh bertalu-talu. 

“Kejar dia!” 

Li Jing pun berlari dan menyelinap di kegelapan malam. Meninggalkan gudang dan kejaran para pekerja Bong An. 

“Hah, untung sudah sampai. Jika tidak, pasti akan gagal rencana ku?” lirih Li Jing yang sudah masuk ke halaman paviliunnya. 

Di depan pintu paviliunnya terlihat sosok yang sangat familiar, dan terlihat Xiao Xing sangat panik. Benar dugaan Xiao Xing, malam itu Raja Wang Ming akan datang berkunjung ke Paviliunnya. 

“Astaga, dia datang! Aku harus segera menyelinap ke bilik mandiku.” 

“Pelayan! Kau sungguh tidak tahu Permaisuri kemana?” tanya gusar Raja Wang Ming pada semua pelayan di sana. 

“Ampun Yang Mulia, ampun. Hamba tadi telah melihat Yang Mulia sudah tidur, dan Yang Mulia Permaisuri, tidak keluar lagi.” 

“Lancang!” 

Plak! Plak!

“Kalian telah lalai jaga Permaisuri. Jika ada apa-apa pada Permaisuri kepala kalian akan aku pastikan terpajang di alun-alun ibukota!” bentak Wang Ming emosi. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 35 Raja Merasa Malu

    Teriakan demi teriakan yang menuntut keadilan di saat itu membuat Raja Wang Ming benar-benar murka. "Cukup!" "Kita tunda kegiatan kita hari ini. Kegiatan akan kita mulai besok, setelah kami adakan interogasi pada para penyelenggara lomba ini! Mohon para tamu sekalian, mengizinkan kami untuk menyelesaikan urusan kami terlebih dahulu!" tegas Raja Wang Ming. Gemeletuk giginya terdengar bagaikan gesekan logam. Semua tamu undangan di ajak ke meja perjamuan terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka kembali ke tempat masing-masing. "Cih, makanan ini kenapa jadi tidak seenak waktu kita datang pertama ke sini tiga bulan lalu ya?" tanya seorang tamu pada rekannya, mereka adalah tamu dari wilayah Timur. "Benar, apakah koki istana sudah ganti orang? Masakan ini sangat hambar." "Benar, masakan ini amis dan hambar. Apakah mereka seburuk ini? Apakah mereka sengaja menyajikan masakan asal-asalan seperti ini pada kita semua?" provokasi tamu dari wilayah Kerajaan Angin begitu vocal. "Sudah ki

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 34 Sabotase Kedua

    Pagi itu terlihat Selir Mei Ling di panggil ke kediaman Ibu Suri Rong Yue. "Salam Yang Mulia Ibu Suri," salam Mei Ling pada Rong Yue. "Bangunlah," jawab Ibu Suri Rong Yue yang duduk sambil meminum teh yang baru saja diseduhkan oleh Bibi An. "Selir Mei Ling, apakah aku sangat memanjakan kamu? Kau lupa siapa penguasa istana dalam ini hah!" bentak Ibu Suri sambil melemparkan cangkir teh di kaki Mei Ling. Mei Ling langsung tersungkur dan memohon ampun pada Ibu Suri. "Ampun Yang Mulia Ibu Suri, Hamba terlalu emosi," jawab terbata Mei Ling dengan wajah yang sudah tak lagi berani menatap ke arah Ibu Suri. "Oh, jadi kau sudah tahu kesalahan yang kau perbuat?""Semalam, hampir saja beberapa tamu dan mata-mata Li Jing menemukan kesalahan besarmu!" geram Ibu Suri. "Aku sudah peringatkan kau untuk tidak gegabah! Kau itu cantik tapi ceroboh! Kau selalu mudah terpancing emosi dan membuka rahasiamu sendiri! Bodoh! Kini Ratu Li Jing lebih waspada padamu! Ratu Li Jing hanya menunggu kau berbuat

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 33 Pengakuan Selir Yen

    Li Jing di dalam jadi terkejut, ketika tengah malam Selir Yen datang ke kediamannya. "Xiao Xing, ajak masuk Selir Yen kemari.""Selir Yen, silakan masuk." Selir Yen yang masih sembab, jatuh tersungkur di kaki Li Jing. "Ampun Yang Mulia Ratu, Hamba tengah malam menghadap Yang Mulia," salam Selir Yen"Ada apa, kenapa mata kamu sembab begitu?""Ampun Yang Mulia Ratu, Hamba mengaku bersalah dan berbohong pada Ratu selama ini," ucap Selir Yen mantap. "Bohong? Bohong apa?""Hamba sebenarnya disuruh Selir Mei Ling untuk mempermalukan Ratu di acara kegiatan lomba tadi. Hamba disuruh menyabotase bahan milik Hamba sendiri dan Selir Kim, supaya Kerajaan Langit kalah. Nama Ratu akan dihina dan dipermalukan, karena Ratu secara khusus sudah melatih dan memanggilkan Guru Besar Nim secara khusus." Ekspresi Li Ing tidak terkejut sama sekali, bahkan terlihat sangat santai. Seakan dia sudah tahu semuanya. Membuat Selir Yen merasa aneh dan bertanya-tanya dalam hatinya. "Apakah Ratu sudah tahu dari

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 31 Pengumuman Hasil Yang Mengejutkan

    Waktu terus berjalan hingga dupa itu mulai hampir ke pangkalnya dan habis. "Selesai!" teriak seorang pembawa acara saat itu dengan suara lantang. "Kumpulkan semua hasil yang kalian punya di hadapan para Guru Besar yang telah dipilih secara cermat oleh tim acara.""Aduh, bagaimana ini? Sulaman aku hanya jadi bentuk ikan koi warna merah saja?" gumam Selir Yen yang di dengar oleh Selir Kim. "Selir Yen masih bagus, nah aku, cuma bisa buat sulaman kuda perang yang biasa ditunggangi kakek aku dulu," seru Selir Kim penuh kekecewaan. Li Jing di tempatnya dia duduk memperhatikan kedua Selir Rajanya. Kemudian netranya kembali memperhatikan sikap dan gelagat Mei Ling yang memamerkan hasil sulamannya kepada Raja Wang Ming. Namun, Raja Wang Ming hanya pura-pura tidak melihat saja. Mei Ling yang kembali merasa diabaikan oleh Wang Ming akhir-akhir ini hanya bisa cemberut dan menghentakkan kakinya beberapa kali di tempatnya berdiri. Pangeran Sulung Wang Dong, yang mengambil tempat duduk di dep

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 32 Pengorbanan Pelayan setia

    "Juara Ketiga adalah sulaman ikan koi merah dari Kerajaan Langit, sulaman dari Selir Yen." Plok! Plok! Plok! "Hebat, dua pemenangnya hari ini dari tuan rumah, padahal bahan mereka ada yang sabotase," bisik-bisik para tamu undangan. Hari itu, Selir Yen dan Selir Kim secara tak langsung telah mempromosikan bagaimana para Selir Kerajaan Langit yang mereka biat taruhan adalah wanita-wanita hebat yang tak mudah dikalahkan dan dipermainkan begitu saja. "Baiklah, kegiatan kita hari ini sampai disini dulu, aku sudah lelah," ucap Wang Ming pada semua tamu undangan. "Baik, Baginda Raja Wang Ming, sehat selalu dan hidup bahagia selamanya," seru semua tamu undangan di tempat itu menghantarkan Wnag Ming yang sudah meninggalkan tempat itu. Li Jing menghampiri Selir Yen dan Selir Kim dengan bangga. "Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Pelayan berikan hadiahnya!" "Yang Mulia, kami hanya menjalankan apa yang Yang Mulia ajarkan pada kami. Terima kadihbtelah membela kami tadi," ucap

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 30 Bahan Yang Di Sabotase

    A Xiong langsung meninggalkan tempat itu. Membiarkan si penguping dan mata-mata itu kembali pada Tuannya. "Chin, kau ikuti bayangan itu! Cari tahu siapa yuan mereka dan siapa dalang yang kurang kerjaan itu, laporkan segera padaku!" perintah A Xiong pada tangan kanannya Chin An. Chin An adalah pengikut setia A Xiong sejak muda. Dulu dia pernah diselamatkan A Xiong saat keluarganya dibunuh oleh para pembunuh bayaran yang hingga saat ini juga belum diketahui siapa mereka. Sehingga Chin An mengikuti A Xiong supaya dia bisa menyelidiki juga kasus kematian orang tuanya dulu. Bayangan itu lari sangat cepat. Tapi Chin An tidak menyerah, dia mengimbangi si bayangan tersebut. Di Kediaman Ratu Li Jing, Xiao Xing menyiapkan makan malam untuk Li Jing. "Lapor, Yang Mulia Ratu," A Xiong sudah tiba dan langsung menghadap Li Jing. "Katakan!" "Guru Besar Nim sudah kami amankan. Kami tempatkan di salah satu rumah milik Yang Mulia, sesuai dengan Yang Mulia perintahkan pada Hamba," jawab A Xiong.

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 11 Rencana Pangeran Sulung

    Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ad

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 6 Kecurigaan Raja

    “Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 4 Jebakan Yang Menjadi Bumerang

    Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU    Bab 3 Racun di Cawan Anggur

    Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status