LOGINA Chen langsung menarik tubuh Li Jing mendekat ke dadanya yang sudah dibalut perban dan obat oleh Li Jing. Tubuh Li Jing yang ramping namun berdada besar itu kini menempel di dada bidang A Chen. "Chen, lepaskan aku," ronta Li Jing. "Tidak, kau bohong. Bibirmu yang manis ini menolak, tapi tubuhmu mengkhianatimu sendiri Jing'er," bisik A Chen membuat semua bulu kuduk Li Jing meremang. Nafas Li Jing bagaikan sedang diburu binatang buas di hutan. Naik turun dadanya yang besar langsung bergesekan dengan dada bidang A Chen itu, sontak membangunkan milik A Chen yang sudah lama tertidur dan tak mendapatkan pelepasan. Sibuk dengan urusan negara dan perintah rahasia Li Jing kawan kecilnya yang sudah menarik hatinya sejak awal mereka bertemu dan bersama. "Jing'er, aku tahu kau tidak sepenuhnya suka tinggal di sini. Tapi demi bangsa dan rakyat ini kau bertahan hingga kini, bahkan saat Raja mulai mengabaikan dirimu sejak lama, Raja hanya dekat dan mendengarkan Mei Ling si ganjen itu, kau menco
Li Jing langsung bergegas meninggalkan Raja Wang Ming. Nafasnya memburu, keringat dinginnya keluar begitu saja setelah dia sudah dekat dengan kediaman miliknya. "Hah, hampir saja,hampir saja. Hufffff! Dasar Raja Labil! sebentar marah, sebentar sayang, sebentar benci sebentar perhatian sebentar manja sebentar gilaaaaa!" maki Li Jing dalam hatinya. Tangannya yang putih mulus bak susu, mengipas-kipas dirinya yang sudah kepanasan. "Kau kira, aku akan luluh dengan sandiwara mu itu? Cih! Jika aku masih di kehidupan lalu aku pasti akan berbunga-bunga dan bahagia sekali kau datang dan memperhatikan aku seperti itu, tapi tidak untuk hari ini, setelah kau tega mencabut nyawaku dengan racun ganas itu, bahkan saat aku sekarat pun kau pergi dengan selir ganjen mu itu meninggalkan aku meregang nyawa sendiri, malah kau buang aku di makam dingin tak bertuan itu dan hampir tubuhku dimakan anjing hutan dan serigala, jika aku tidak alami itu semua di kehidupan laluku, aku mungkin bisa kembali tulus d
"Ampun Yang Mulia Baginda Raja, benar itu kotak hadiah yang diberikan pada Hamba, tapi bukan milik Hamba. Hamba hanya menerima kotak hadiah itu sebelumnya dari Selir Mei Ling sendiri, tapi karena bagi Hamba itu terlalu bagus dan mencolok maka Hamba kembalikan lagi. Saat pelayan Hamba kembalikan disuruh letakkan kotak itu di kamar Bibi Fong saja," jawab Li Jing cepat. Bibi Fong yang mulai sadar dari pengaruh serbuk hilang kendali membela diri. "Ampun Yang Mulia, Hamba tidak tahu! Hamba difitnah! Saat hamba bangun dari istirahat siang kotak itu sudah ada di dipan Hamba," jawab Bibi Fong meminta keadilan pada Raja Wang Ming. "Lancang kau Bibu Fong! kau ambil kotak hadiah Ratu! Apakah Selir ini tidak pernah ajarkan tata krama istana? Beraninya kau hanya pelayan rendahan malah berebut kotak hadiah dengan Ratu Li Jing." "Ampun Yang Mulia, hamba pastikan pelayan hamba ini mendapatkan hukuman di kediaman Hamba," mohon Mei Ling yang langsung menjawab dan memarahi pelayannya di depan Raja da
"Pelayan! Pisahkan mereka dan tahan mereka! jangan biarkan mereka saling tampar dan pukul lagi!" bentak Wang Ming. Li Jing ada di dekat pintu masuk memperhatikan semua dalam diam. Li Jing merasa Raja sudah turun tangan, maka dia akan menonton saja. "Tabib Feng periksa mereka berdua, apa yang sebabkan mereka seperti orang gangguan mental seperti itu!" titah Wang Ming. "Tuan San! Apa penjelasanmu?" tanya Wang Ming pada ketua departemen Ritus dan Astronomi istana bisa dikatakan ahli nujum istana. "Ampun Yang Mulia Baginda Raja, setelah saya lihat, ada banyak energi gelap di ruangan ini dan di sebelah sana, seakan ada benda yang tidak kita inginkan ada di sini. Seperti sihir dari wilayah Timur Yang Mulia. Tepatnya sihir kuno dari kaum mistis di Lembah Darah Kuno!" jawab Tuan San ketua departemen Ritus dan ahli Astronomi istana. "Apa! Ilmu sihir itu tidak pernah terdengar lagi! Bagaimana bisa masuk ke istana dalam! Ada kata-kata di Istana dalam," seru tabib Feng dan beberapa orang per
Sore itu di Paviliun Anggrek, tepatnya di sebelah bangunan induk, tempat para pelayan senior dan pelayan kediaman Paviliun Anggrek istirahat. Terlihat seorang pelayan senior yang biasanya semena-mena pada pelayan lainnya merasa dia adalah yang paling lama, paling senior dan telah menjadi kepercayaan Selir Utama Mei Ling selama bertahun-tahun lamanya, sedang merapikan tempat tidurnya karena sudah sore dan dia akan segera melaksanakan tugasnya untuk membawa camilan dan teh seduhan untuk Selir Mei Ling seperti kebiasaan sehari-harinya. "Loh, kok ada kotak kayu dengan ukiran bagus dan unik ya? Dari mana ini datangnya? Oh mungkin bonus aku ya? biasanya ada bonus buat aku setelah aku berhasil melakukan tugasku.""Aduh bagusnya? Apakah isinya?" gumam Bibi Fong dengan mata berbinar. Dengan perlahan Bibi Fong mulai membuka tutup kotak kayu itu, "Wah... bagus sekali, barang bagus dan mahal pasti dari upeti salah satu wilayah yang biasa berikan upeti. Gelang dan kalung ini satu set. Indahn
Li Jing terdiam menatap kotak kayu ukiran antik yang diberikan Mei Ling pada Li Jing. "Xing, coba kau panggil tabib Feng ke sini," titah Li Jing mengejutkan Xiao Xing. "Yang Mulia, apakah Yang mulia sedang tidak enak badan?" tanya Xiao Xing polos membuat Li Jing menjentikkan jarinya pelan ke dahi Xiao Xing. "Agh, ampun Yang Mulia," mohon Xiao Xing langsung berlutut. "Sudah, sudah, kau itu memang sangat polos. Hati-hati kalo ada orang yang memanfaatkan kepolosanmu ini. Sudah sana kau panggil Tabib Feng kesini tanpa siapapun yang tahu," perintah Li Jing kembali pada Xiao Xing. Xiao Xing langsung ke balai Kesehatan dan pengobatan tempat Tabib Feng berada, dengan menjaga langkahnya supaya dia tidak diketahui oleh siapa pun. "Tuan, tolong segera ke kediaman Ratu," mohon Xiao Xing mengejutkan Tabib Feng. Tabib yang dulu pernah ditolong oleh Jenderal Lie Hyun saat mengobati para pasukan yang terluka di perbatasan."Ayo, kita ke sana segera," jawab Tabib Feng mengikuti langkah Xiao Xing de
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,







