Share

Bab 120

Author: MISTERIOUS
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-20 18:42:02

Keesokan harinya, tepat saat matahari berada di puncaknya, Li Mingzi memenuhi undangan Qin Yushuo untuk bertemu di Kafe Mentari.

Begitu masuk, dia langsung melihat tiga orang sudah menunggunya di meja sudut dekat jendela besar yang menghadap jalan utama. Orang-orang berlalu-lalang di luar, sementara aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan.

"Saudara Li, akhirnya datang juga."

Qin Yushuo tersenyum sambil berdiri menyambutnya.

Li Mingzi hanya mengangguk lalu duduk.

Sebuah cangkir kopi segera
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 129

    Qin Yushuo melarikan diri sepanjang malam.Kakinya hampir tidak bisa berdiri ketika akhirnya ia melewati gerbang besar Keluarga Qin di Kota Merak. Fajar baru saja merekah, udara masih dingin dan basah, namun keringat membasahi sekujur tubuhnya.Ia jatuh terduduk tepat di tengah halaman.Batu yang dingin menyentuh lututnya. Baru saat itulah ia benar-benar bisa menarik napas.Para pelayan dan penjaga yang melihatnya langsung bergerak cepat. Kabar menyebar ke seluruh kediaman Keluarga Qin dalam hitungan menit, Qin Yushuo kembali, seorang diri. Tidak ada yang lain.Dari empat keluarga yang berangkat ke Kota Awan, tidak satu pun kembali hidup.Aula utama mendadak penuh. Para tetua dan pemuda Keluarga Qin berdiri dengan wajah pucat. Tidak ada yang berani membuka mulut.Pintu di sisi dalam aula terbuka perlahan.Seorang lelaki tua melangkah masuk dengan bantuan tangan seorang perempuan muda. Langkahnya lambat namun tegap. Wajahnya penuh kerutan, rambutnya seputih kapas, namun matanya masih t

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 128

    Tuan Wang masih memandangi pintu yang baru saja dilewati Qin Yushuo. Kerutan di dahinya semakin dalam."Orang seperti dia tidak layak dipercaya," ucapnya pelan. "Saya khawatir dia hanya berpura-pura tunduk."Bau darah masih memenuhi ruangan. Mayat-mayat tergeletak di berbagai sudut, sementara anak buah Keluarga Wang mulai bergerak membersihkan kekacauan yang tersisa.Namun Li Mingzi hanya tersenyum santai."Dia memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya."Tuan Wang sedikit terkejut."Lalu kenapa Tuan Muda membiarkannya hidup?"Li Mingzi melirik ke arah pintu."Karena dia orang yang haus kekuasaan." Ia berhenti sejenak. "Orang seperti itu lebih mudah dikendalikan daripada orang yang fanatik."Tuan Wang terdiam.Li Mingzi melanjutkan dengan tenang."Begitu dia mengetahui seberapa besar jarak antara dirinya dan aku, dia akan terus memilih berpihak kepadaku."Tuan Wang akhirnya mengangguk. Ia sadar dirinya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang sudah diperhitungkan oleh Li Mingzi.Setelah m

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 127

    Mata Wen Long memerah karena emosi."Dia murid pendeta tua itu! Menurut kalian menyerah akan menyelamatkan nyawa? Kalian semua sudah terlibat terlalu jauh!"Kata-kata itu membuat Qin Yushuo membeku.Benar.Jika Li Mingzi memang berniat membunuh mereka, berlutut pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa.Ekspresinya berubah drastis.Seolah sebuah keputusan telah dibuat dalam benaknya.Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jas.Klik!"Qin Yushuo!" teriak Lu Jiyan.Bang! Bang! Bang! Bang!Rentetan peluru langsung melesat ke arah Li Mingzi.Bai Yumeng sampai berdiri dari tempat duduknya, sementara Tuan Wang menyipitkan mata.Namun Li Mingzi tetap tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya.Wuuung!Pemandangan yang terjadi setelahnya membuat semua orang kehilangan kemampuan berbicara.Satu demi satu peluru berhenti di udara.Benar-benar berhenti.Seolah waktu membeku di sekitar tubuh Li Mingzi.Mata Qin Yushuo membelalak lebar."Aku... aku..."Ting! Ting! Ting!Peluru-peluru itu

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 126

    Pendekar pengguna Telapak Pemecah Karang itu langsung memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, sementara sorot matanya dipenuhi amarah. Sebagai praktisi bela diri yang cukup terkenal di kalangannya, belum pernah ada orang yang berani menghina jurus andalannya secara terang-terangan seperti itu."Kau cari mati!" bentaknya.Di saat yang sama, empat pendekar berbaju hitam lainnya saling bertukar pandang. Setelah menyaksikan rekan mereka dipermalukan, mereka tidak lagi berani meremehkan Li Mingzi. Tanpa perlu berkomunikasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak dari berbagai arah."Serang bersama!""Jangan beri dia kesempatan!"Dua orang menyerbu dari samping, satu dari belakang, sementara seorang lainnya mengangkat tangan dan diam-diam menyiapkan senjata rahasia. Serangan mereka datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur mundur Li Mingzi.Namun Li Mingzi sama sekali tidak terlihat panik. Tubuhnya hanya bergeser setengah langkah dengan gerakan yang begitu ringan hi

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 125

    "Bukan kau, juga bukan pendeta tua itu, lalu siapa?" Lu Jiyan mendengus, matanya menyapu ruangan dengan curiga.Qin Yushuo mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sengaja membuang waktu?"Wen Long tidak menunggu jawaban. Rahangnya mengeras, dan dengan gerakan tangan kecil ia memberi isyarat."Bunuh dia."Seorang pendekar berbaju hitam melesat dari sudut ruangan, gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Jari-jarinya mencengkeram ke arah tenggorokan Tuan Wang seperti cakar elang yang menukik.Tidak ada yang sempat bergerak.Tiba-tiba sesosok bayangan biru menghadang di depan Tuan Wang. Satu tangan terangkat, menangkap pergelangan pendekar itu di udara, lalu dengan gerakan pelan yang hampir terasa santai, "krak", tulangnya patah.Jeritan kesakitan membelah ruangan.Si pendekar menyentak mundur, tangan kirinya melempar tiga pisau terbang dalam kepanikan. Li Mingzi hanya mengibaskan lengan bajunya. Tiga pisau itu berbalik, menembus punggung pelemparnya sendiri. Tubuh pendekar itu roboh tanpa s

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 124

    Qin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 25

    Tabib Su terdiam beberapa saat. Wajah tuanya menegang, lalu perlahan berubah getir. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menunduk.“Jika dibandingkan… aku bahkan tidak layak disebut murid di hadapannya,” ucapnya pelan, namun cukup jelas untuk didengar semua orang.Kata-kata itu seperti palu y

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 20

    Di kediaman keluarga Ruan, Malam itu, pukul sembilan, Li Mingzi sudah berbaring di ranjang. Selimut tebal ditariknya hingga dada. "Yin Yin, waktunya kita tidur," panggilnya dengan nada riang. Tidak ada jawaban. Ruan Yin masih duduk di meja kerja kecil dekat jendela, sibuk dengan laptop dan tum

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 19

    "Bukan keluarga kami," bantah Ruan Yin. Suaranya sedikit bergetar meski berusaha terdengar tenang. "Zhang Wu punya banyak musuh. Bisa saja yang lain." Ruan Yin takut keluarganya terseret ke dalam bahaya, lebih takut lagi kalau keterlibatan Li Mingzi terbongkar. Bai Yumeng menaikkan sebelah alis.

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 17

    Sikap Mo Yan berubah seratus delapan puluh derajat saat Bai Yumeng memasuki ruangan. Ia langsung bangkit dengan wajah penuh sanjungan."Sepupuku yang cantik!" serunya sambil melangkah mendekat. "Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu sejak...""Duduk," potong Bai Yumeng datar.Mo Yan terpak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status