تسجيل الدخولQin Yushuo melarikan diri sepanjang malam.Kakinya hampir tidak bisa berdiri ketika akhirnya ia melewati gerbang besar Keluarga Qin di Kota Merak. Fajar baru saja merekah, udara masih dingin dan basah, namun keringat membasahi sekujur tubuhnya.Ia jatuh terduduk tepat di tengah halaman.Batu yang dingin menyentuh lututnya. Baru saat itulah ia benar-benar bisa menarik napas.Para pelayan dan penjaga yang melihatnya langsung bergerak cepat. Kabar menyebar ke seluruh kediaman Keluarga Qin dalam hitungan menit, Qin Yushuo kembali, seorang diri. Tidak ada yang lain.Dari empat keluarga yang berangkat ke Kota Awan, tidak satu pun kembali hidup.Aula utama mendadak penuh. Para tetua dan pemuda Keluarga Qin berdiri dengan wajah pucat. Tidak ada yang berani membuka mulut.Pintu di sisi dalam aula terbuka perlahan.Seorang lelaki tua melangkah masuk dengan bantuan tangan seorang perempuan muda. Langkahnya lambat namun tegap. Wajahnya penuh kerutan, rambutnya seputih kapas, namun matanya masih t
Tuan Wang masih memandangi pintu yang baru saja dilewati Qin Yushuo. Kerutan di dahinya semakin dalam."Orang seperti dia tidak layak dipercaya," ucapnya pelan. "Saya khawatir dia hanya berpura-pura tunduk."Bau darah masih memenuhi ruangan. Mayat-mayat tergeletak di berbagai sudut, sementara anak buah Keluarga Wang mulai bergerak membersihkan kekacauan yang tersisa.Namun Li Mingzi hanya tersenyum santai."Dia memang tidak bisa dipercaya sepenuhnya."Tuan Wang sedikit terkejut."Lalu kenapa Tuan Muda membiarkannya hidup?"Li Mingzi melirik ke arah pintu."Karena dia orang yang haus kekuasaan." Ia berhenti sejenak. "Orang seperti itu lebih mudah dikendalikan daripada orang yang fanatik."Tuan Wang terdiam.Li Mingzi melanjutkan dengan tenang."Begitu dia mengetahui seberapa besar jarak antara dirinya dan aku, dia akan terus memilih berpihak kepadaku."Tuan Wang akhirnya mengangguk. Ia sadar dirinya tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang sudah diperhitungkan oleh Li Mingzi.Setelah m
Mata Wen Long memerah karena emosi."Dia murid pendeta tua itu! Menurut kalian menyerah akan menyelamatkan nyawa? Kalian semua sudah terlibat terlalu jauh!"Kata-kata itu membuat Qin Yushuo membeku.Benar.Jika Li Mingzi memang berniat membunuh mereka, berlutut pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa.Ekspresinya berubah drastis.Seolah sebuah keputusan telah dibuat dalam benaknya.Tiba-tiba ia mencabut pistol dari balik jas.Klik!"Qin Yushuo!" teriak Lu Jiyan.Bang! Bang! Bang! Bang!Rentetan peluru langsung melesat ke arah Li Mingzi.Bai Yumeng sampai berdiri dari tempat duduknya, sementara Tuan Wang menyipitkan mata.Namun Li Mingzi tetap tidak bergerak. Ia hanya mengibaskan lengan bajunya.Wuuung!Pemandangan yang terjadi setelahnya membuat semua orang kehilangan kemampuan berbicara.Satu demi satu peluru berhenti di udara.Benar-benar berhenti.Seolah waktu membeku di sekitar tubuh Li Mingzi.Mata Qin Yushuo membelalak lebar."Aku... aku..."Ting! Ting! Ting!Peluru-peluru itu
Pendekar pengguna Telapak Pemecah Karang itu langsung memerah karena marah. Urat-urat di lehernya menonjol jelas, sementara sorot matanya dipenuhi amarah. Sebagai praktisi bela diri yang cukup terkenal di kalangannya, belum pernah ada orang yang berani menghina jurus andalannya secara terang-terangan seperti itu."Kau cari mati!" bentaknya.Di saat yang sama, empat pendekar berbaju hitam lainnya saling bertukar pandang. Setelah menyaksikan rekan mereka dipermalukan, mereka tidak lagi berani meremehkan Li Mingzi. Tanpa perlu berkomunikasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak dari berbagai arah."Serang bersama!""Jangan beri dia kesempatan!"Dua orang menyerbu dari samping, satu dari belakang, sementara seorang lainnya mengangkat tangan dan diam-diam menyiapkan senjata rahasia. Serangan mereka datang hampir bersamaan, menutup seluruh jalur mundur Li Mingzi.Namun Li Mingzi sama sekali tidak terlihat panik. Tubuhnya hanya bergeser setengah langkah dengan gerakan yang begitu ringan hi
"Bukan kau, juga bukan pendeta tua itu, lalu siapa?" Lu Jiyan mendengus, matanya menyapu ruangan dengan curiga.Qin Yushuo mengernyitkan dahi. "Jangan-jangan kau sengaja membuang waktu?"Wen Long tidak menunggu jawaban. Rahangnya mengeras, dan dengan gerakan tangan kecil ia memberi isyarat."Bunuh dia."Seorang pendekar berbaju hitam melesat dari sudut ruangan, gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. Jari-jarinya mencengkeram ke arah tenggorokan Tuan Wang seperti cakar elang yang menukik.Tidak ada yang sempat bergerak.Tiba-tiba sesosok bayangan biru menghadang di depan Tuan Wang. Satu tangan terangkat, menangkap pergelangan pendekar itu di udara, lalu dengan gerakan pelan yang hampir terasa santai, "krak", tulangnya patah.Jeritan kesakitan membelah ruangan.Si pendekar menyentak mundur, tangan kirinya melempar tiga pisau terbang dalam kepanikan. Li Mingzi hanya mengibaskan lengan bajunya. Tiga pisau itu berbalik, menembus punggung pelemparnya sendiri. Tubuh pendekar itu roboh tanpa s
Qin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le
Tuan Gong memutar tubuhnya perlahan, tatapannya jatuh pada Bai Yumeng seolah meminta izin tanpa kata. “Boleh?” tanyanya singkat.Bai Yumeng tampak ragu. Ia melirik Li Mingzi sekilas, lalu kembali pada Tuan Gong. Dalam benaknya, bukan Li Mingzi yang ia khawatirkan, justru sebaliknya.“Kalau hanya a
Master Ken mendelik tajam. Ia menatap sosok yang menghalangi jalan dengan penuh amarah."Menyingkir!" bentaknya keras.Li Mingzi berdiri di ambang pintu dengan santai. Ia bahkan tersenyum tipis."Oh? Kau mau pergi?" tanyanya polos.Master Ken menggertakkan gigi. Ia langsung mengenali wajah itu. Inf
Mo Yan tertawa canggung. "Tidak ada apa-apa, Kakak Li. Aku cuma ingin membantu."Lift berhenti di lantai kantor Bai Yumeng. Pintu terbuka. Li Mingzi melangkah keluar, tapi sebelum Mo Yan ikut turun, ia menahan pintu lift dengan tangan."Ngomong-ngomong, kau masih menentang hubunganku dengan Bai Yum
Orang itu adalah Yun Shen, guru Li Mingzi.Li Mingzi mengenal betul sifat gurunya. Pria itu suka berpura-pura dingin dan serius, padahal dalam hati mungkin sedang tersenyum. Maka, alih-alih ikut berlutut seperti Tuan Wang, Li Mingzi justru membungkuk setengah hati sambil nyengir."Halo, Guru Tersay







