MasukRuangan kerja CEO terasa begitu sunyi sore itu. Dari balik meja besarnya, Reyhan menatap layar komputer yang menampilkan pembaruan sistem administrasi lantai lima. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada angka-angka kuartal, melainkan pada Malikha. Laporan dari Hendra mengenai insiden di depan meja Laras tadi siang membuat dada Reyhan bergemuruh hebat. Ego prianya berontak, mendesak untuk segera turun tangan dan membungkam mulut-mulut yang merendahkan istrinya.
Di dalam ruang tengah apartemen yang diselimuti keheningan malam, Malikha duduk menekuri lembaran manifes logistik proyek internal. Reyhan berjalan mendekat, membawa dua cangkir teh kamomil hangat yang aromanya perlahan menenangkan ketegangan sisa jam kantor tadi. Pria itu mengambil tempat di lantai, bersila tepat di samping Malikha dengan jarak adab yang senantiasa mereka pelihara secara terhormat."Aku melihat data dari Hendra mengenai komputer Tante Rania, Malikha," buka Reyhan, suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Jaringan keluarga sudah menyusup terlalu jauh ke lantai lima menggunakan akun Laras. Besok pagi, aku tidak akan menahan diri lagi. Aku akan mengonfrontasi Tante Rania secara langsung di depan Ibu Besar."Malikha menghentikan jemarinya di atas kertas, lalu menoleh memandang suaminya. Tatapan matanya jernih, memancarkan keteguhan prinsip yang kokoh. "Mas Reyhan, saya menolak rencana itu. Jika Mas mend
Ruangan kerja CEO terasa begitu sunyi sore itu. Dari balik meja besarnya, Reyhan menatap layar komputer yang menampilkan pembaruan sistem administrasi lantai lima. Pikirannya sama sekali tidak tertuju pada angka-angka kuartal, melainkan pada Malikha. Laporan dari Hendra mengenai insiden di depan meja Laras tadi siang membuat dada Reyhan bergemuruh hebat. Ego prianya berontak, mendesak untuk segera turun tangan dan membungkam mulut-mulut yang merendahkan istrinya.Reyhan tahu, dia memiliki kuasa mutlak untuk memotong masalah ini dalam hitungan menit. Dia bisa memanggil Laras ke ruangannya, menjatuhkan sanksi mutasi, atau menggunakan kewenangannya untuk membersihkan nama Malikha secara paksa. Namun, ingatan akan kalimat tegas Malikha semalam menahan langkahnya. Jika dia melakukannya sekarang, rahasia pernikahan mereka terancam terbuka sebelum waktunya, posisi Malikha sebagai karyawan biasa akan semakin terisolasi, dan harga diri sang istri yang mandiri aka
Kertas ancaman bertinta merah itu tersimpan rapat di dalam saku gamis Malikha saat dia melangkah memasuki apartemen malam itu. Di ruang tengah, Reyhan sudah menunggu dengan guratan cemas yang memenuhi wajahnya. Kabar mengenai desas-desus kedekatan mereka di koridor belakang lantai lima ternyata telah sampai ke lantai atas melalui laporan Hendra."Malikha, Laras mulai menyebarkan cerita yang tidak-tidak tentang pertemuan kita kemarin siang," ucap Reyhan, langsung berdiri dari sofanya dengan napas tertahan. "Aku tidak bisa diam saja melihat reputasimu diinjak-injak lagi oleh bisikan para karyawan itu. Besok pagi aku akan memindahkan Laras ke divisi luar agar dia tidak punya ruang untuk memelintir fakta."Malikha mengembuskan napas panjang, meletakkan tas kerjanya dengan perlahan. Dia menatap Reyhan dengan pandangan mata yang jernih namun sarat akan ketegasan prinsip. "Mas Reyhan, saya menolak keputusan sepihak Mas yang emosiona
Malam itu, kehangatan mengalir tanpa sekat di dalam apartemen. Malikha berdiri di dekat meja makan, menyendokkan nasi ke piring Reyhan dengan gerakan yang luwes. Setelah rangkaian ujian berat yang mereka lalui, momen sederhana seperti makan malam bersama ini terasa begitu mahal. Kedekatan emosional mereka tumbuh subur di atas landasan musyawarah yang setara."Laporan triwulan lantai lima sudah hampir selesai, Mas Reyhan," ucap Malikha, memecah keheningan dengan nada suara yang ringan. "Saya merapikan kembali sistem penomoran berkas fisik agar tidak ada lagi celah manipulasi seperti kemarin."Reyhan menerima piring itu dengan senyuman hangat, matanya memancarkan rasa lega yang tulus. "Alhamdulillah. Terima kasih, Malikha. Di kantor tadi, aku harus menahan diri setengah mati untuk tidak mengirim pesan pendek kepadamu. Menjaga batasan di depan karyawan lain ternyata membutuhkan kekuatan batin yang luar biasa."
Malam harinya, ruang tengah apartemen tidak lagi terasa mencekam seperti saat mereka pertama kali merobek kertas kontrak. Kehadiran Tante Rania di kantor sore tadi membawa pulang beban pikiran yang berat bagi Reyhan. Dia duduk di tepi sofa dengan kepala tertunduk, memilin jemarinya sendiri. Malikha datang dari arah dapur, meletakkan secangkir wedang jahe hangat di atas meja, lalu mengambil tempat duduk di seberang suaminya dengan batasan adab yang anggun."Tante Rania mengancam posisi CEO-mu, Mas?" tanya Malikha lembut, memecah keheningan dengan intonasi yang menenangkan batin.Reyhan mengangkat wajahnya, menatap Malikha dengan gurat penyesalan yang mendalam. "Iya. Dia membawa cetakan foto cincin itu dan menuntutku untuk menjauhkanmu dari kantor. Aku hampir saja mengumumkan pernikahan kita di depannya tadi, Malikha. Aku hanya ingin melindungimu dari intimidasi keluarga yang tidak berdasar ini."Ma
Masa skorsing yang panjang akhirnya berlalu, meninggalkan kedewasaan baru di dalam ruang tengah apartemen mereka. Pagi itu, Malikha merapikan bros jilbabnya di depan cermin kecil kamar utama dengan gerakan tenang. Di dekat meja makan, Reyhan memperhatikan istrinya dengan segelas susu hangat yang sudah dia siapkan. Kehangatan harian ini terasa jauh lebih nyata setelah badai yang sempat meretakkan kepercayaan mereka beberapa pekan lalu."Kamu benar-benar siap kembali ke kantor hari ini, Malikha?" tanya Reyhan, melangkah mendekat dengan jarak adab yang sewajarnya. Tatapan matanya memancarkan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan."Insya Allah, saya siap, Mas Reyhan," jawab Malikha, membalikkan tubuh dan menatap suaminya dengan senyuman teduh. "Dua minggu di rumah sudah cukup bagi saya untuk menata niat kembali. Saya kembali bekerja ke lantai lima untuk menuntaskan kewajiban secara jujur, bukan untuk melarikan diri dari pandang







