LOGINKetegangan di dalam rumah makan bersahaja itu kian memuncak saat Malikha menatap lekat logo stempel digital pada draf surat utang. Di ambang pintu masuk, Reyhan berdiri diam dengan tangan mengepal di dalam saku celananya. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dada sang CEO. Instingnya sebagai pria dan mantan pemimpin tertinggi korporasi mendesaknya untuk langsung maju, merebut kertas palsu itu, dan mengusir ibu tiri Malikha dengan ancaman hukum pidana secara instan.
Suasana pagi di rumah lama pinggiran kota terasa begitu menenangkan saat mentari menembus celah jendela. Di meja makan kayu, Malikha baru saja menuangkan teh hangat ke cangkir Reyhan. Namun, ketenangan privat itu mendadak terusik ketika Hendra datang membawa lembaran draf cetakan dari grup komunikasi internal yayasan Al-Fahri."Ada apa, Hendra?" tanya Reyhan, menghentikan gerakannya yang hendak menyesap teh.Hendra menunduk ragu, lalu meletakkan lembaran draf tersebut di atas meja. "Mohon maaf, Pak Reyhan, Bu Malikha. Om Burhan dan tim dewan baru saja memublikasikan narasi resmi mengenai alasan pembekuan jabatan Anda. Pesannya dikemas sangat halus, seolah-olah dewan sedang berusaha menyelamatkan reputasi keluarga."Reyhan mengambil kertas itu dan membacanya. Wajahnya perlahan memerah, rahangnya mengetat menahan amarah yang meletup. Dalam narasi tersebut, Om Burhan tidak menggunakan kata tuduhan kr
Malam beranjak hangat di rumah lama pinggiran kota. Sebuah lampu gantung menyala temaram di atas meja kayu sederhana, menerangi dua piring nasi goreng telur buatan Malikha. Aroma bumbu tumis yang harum memenuhi ruang makan kecil itu, menggantikan atmosfer kaku yang biasa menyelimuti meja rapat Al-Fahri."Mas Reyhan, dicoba dulu," tutur Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk duduk di hadapan suaminya. Ia tetap menjaga jarak dan adab kesantunan yang anggun, menatap Reyhan dengan binar mata yang Teduh.Reyhan memegang sendoknya, lalu menyuapkan porsi kecil ke dalam mulutnya. Sebuah senyuman tulus yang sudah lama menghilang akhirnya terbit di wajah pria itu. "Masakanmu selalu punya cara untuk menenangkan pikiranku, Malikha. Di sini, tanpa gelar CEO dan riuk-piuk kantor pusat, rasa makanannya justru jauh lebih nikmat.""Alhamdulillah jika Mas menyukainya," balas Malikha dengan rona merah tipis
Keheningan malam di rumah lama pinggiran kota terasa semakin menghimpit. Di atas meja kayu, draf surat pencopotan dengan perbedaan selisih empat jam antara jam penandatanganan dan kode registrasi sistem masih terhampar. Malikha sudah beristirahat di kamar setelah seharian menahan lelah dan rasa malu dari penolakan Mbak Laksmi, meninggalkan Reyhan sendirian di ruang tengah.Reyhan menatap gawai di tangannya. Nama Hendra menyala di layar. Sebagai mantan CEO, Reyhan masih memiliki pengaruh terselubung dan jaringan pribadi yang sanggup melacak aliran dokumen tersebut dalam hitungan jam. Ia bisa saja menyuruh Hendra menginterogasi staf sekretariat secara sepihak atau menggunakan koneksi hukumnya untuk membalikkan posisi Om Burhan besok pagi.Namun, jemari Reyhan berhenti di atas layar. Pria itu teringat akan janji dan permintaan Malikha semalam."Jika aku menerobos masuk dengan cara lama, aku hanya aka
Layar gawai di tangan Reyhan masih menyala, menampilkan foto tangkapan layar yang menyudutkan harga dirinya sebagai mantan pimpinan. Rahang pria itu mengeras, jemarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang sempat padam kembali membakar batinnya saat melihat betapa keji cara Om Burhan memutarbalikkan fakta kepindahan mereka."Ini sudah keterlaluan, Malikha," ucap Reyhan, suaranya bergetar menahan geram. Ia langsung berdiri dari kursi kayu, meraih kunci kendaraan di atas meja. "Aku tidak bisa tinggal diam di sini. Aku akan datang ke rumah Om Burhan malam ini juga. Aku akan menuntut penjelasan atas fitnah foto dan kutipan ini sebelum reputasi keluarga kita semakin hancur di mata dewan."Malikha ikut berdiri, namun ia tidak menghalangi langkah suaminya dengan kepanikan fisik. Dengan gerakan yang tenang, Malikha melangkah mendekat, lalu menatap lurus ke dalam manik mata suaminya dengan pandangan yang amat te
Pagi yang dingin menyambut kepindahan mereka ke rumah lama di pinggiran kota. Bangunan beratap rendah itu terasa sangat sepi dibanding apartemen mereka yang modern, namun kehangatan kecil sudah terpancar di dalamnya. Malikha bergerak lincah menata dua cangkir teh hangat di atas meja kayu yang agak kusam, sementara Reyhan sibuk menyapukan sapu ke sudut-sudut lantai yang berdebu."Mas Reyhan, duduk dulu," panggil Malikha lembut sembari menarik kursi kayu untuk suaminya. "Pekerjaan ini bisa dilanjutkan nanti. Mas baru saja menata kardus-kardus berat sejak subuh tadi."Reyhan menghentikan gerakannya, lalu mengusap keringat di dahi dengan ujung lengan bajunya. Pria itu tersenyum tipis, menatap Malikha dengan tatapan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya."Aku hanya ingin rumah ini nyaman untukmu, Malikha," ucap Reyhan sembari menarik kursi di seberang istrinya, menjaga jarak adab yang s
Malam semakin larut di ruang tengah apartemen yang mulai tampak lengang. Kardus-kardus penataan barang untuk kepindahan esok hari sudah menumpuk di dekat pintu. Reyhan terduduk di atas lantai beralaskan kain tipis, jemarinya memegang isolasi perekat dengan gerakan yang terhenti. Di hadapannya, Malikha sedang mengemas beberapa buku agama dan draf catatan pribadi ke dalam wadah yang lebih kecil."Mas Reyhan, tolong tatap saya," panggil Malikha dengan suara yang teratur, amat teduh namun menyimpan ketegasan yang tak bisa ditawar.Reyhan mendongak, mendapati pandangan istrinya yang begitu jernih. "Ada apa, Malikha? Jika kamu merasa lelah, biarkan aku yang menyelesaikan sisa kardus ini. Kamu harus beristirahat untuk kepindahan kita besok pagi.""Bukan masalah kelelahan fisik yang ingin saya bicarakan, Mas," tutur Malikha sembari meletakkan buku di tangannya. Ia memperbaiki posisi duduknya, menjaga jara
Malam kembali turun menaungi kota, membawa sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang pleno yang baru saja ditunda. Manuver agresif Tante Rania untuk menggabungkan paksa aset panti asuhan berhasil ditahan untuk sementara waktu berkat intervensi mendadak dari dewan penasihat hukum senior Al-Fahri. Meski
Malam yang tenang kembali menyelimuti apartemen setelah badai pesan singkat dari Clarissa meredakan tawa kecil mereka. Di atas meja makan, cangkir teh yang mulai mendingin menjadi saksi bisu dua pasang mata yang menatap lurus ke depan, merenungi bayangan konflik baru yang mulai bersemi sebelum lu
"Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda."Saya sadar sepenuhnya,
Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu K







